
Asisten Pribadi 1
Nadia spontan menjauhkan badannya dari pelukan Fauzan dan, tersadar di mana saat ini mereka berada, begitu Fauzan berhenti bicara.
Sementara suara ramai terdengar di luar karena pada saat itu banyak orang keluar dari kendaraan mereka, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu suara dari klakson yang bersahutan pun semakin menambah kegaduhan.
Nadia menengok ke kanan dan kiri lalu, melepaskan diri dari pelukan Fauzan dengan kasar. Dia kesal karena laki-laki itu mengambil kesempatan dalam ketidak sasarannya.
“Kayaknya ada kecelakaan ya?” Katanya setelah menenangkan diri dan bisa menetralisir rasa sakit di pundaknya yang datang secara tiba-tiba. Dia meringis saat bicara.
“Iya.” Fauzan menyahut dengan malas.
“Ayo! Lihat!”
“Tidak usah, kan pundakmu.sakit lagi, nanti kalau kesenggol orang, gimana?”
Nadia termasuk orang yang penasaran, jadi, dia ingin melihat. Dia keluar dengan hati-hati tanpa mempedulikan larangan Fauzan. Namun, ketika dia sampai di tempat kejadian dan melihat kondisi korban yang terluka parah, dia justru tidak tega, miris dan kasihan, bahkan mual melihat darah di mana-mana.
Buru-buru dia masuk lagi, sementara Fauzan yang mengikutinya keluar sejak tadi, hanya menggelengkan kepalanya.
“Gimana, masih penasaran?” kata Fauzan saat masuk sambil menutup pintu mobilnya kembali. Nadia hanya menggelengkan kepala, lalu duduk bersandar sambil memejamkan mata.
“Udah tahu kecelakaan, ya, pasti mengerikan, iya, kan?” kata Fauzan lagi.
“Ya, namanya aja pengin tahu, apa salahnya gitu?” Nadia menjawab dengan malas.
Jali dan Fauzan hanya tersenyum, mereka tahu kalau percuma saja membantah, karena dia pasti akan punya jawaban lainnya.
Fauzan meliriknya sekilas dan membiarkan wanita itu mengistirahatkan dirinya, dengan bersandar seperti itu.
__ADS_1
Pria itu melihat sekelilingnya dan merasa jika kondisi seperti ini tidak akan sebentar. Ini jalan tol. Jadi, tidak ada kendaraan lain seperti motor ojek yang bisa membawanya keluar dari kemacetan. Dia mulai menghubungi beberapa orang yang memiliki agenda sama dengan dirinya hari ini untuk membicarakan proyek, tidak di sangka jika beberapa orang di antaranya mengalami hal yang sama. Terjebak kemacetan karena kecelakaan.
Selain itu dia juga menginstruksikan beberapa tugas kepada para karyawan puncak di perusahaan cabang yang dikelolanya. Dengan sigap, dia mulai membuka laptopnya, untuk mengerjakan beberapa draf yang tertunda. Tentu saja dia melakukan itu sambil sesekali menerima panggilan lain di ponselnya.
Dalam sekejap, kesibukan yang seharusnya dilakukan di ruangan kantor, kini beralih di dalam mobil itu, selama beberapa waktu lamanya, pria itu seperti tidak sadar jika bukan hanya dirinya yang ada di sana, melainkan ada seorang gadis yang jiwanya masih patah dan menatapnya dalam ketakjuban.
Jadi, mungkin benar kata orang, jika seorang pria akan tampak lebih gagah, saat dia sedang dalam kesibukan yang menghasilkan uang. Dan bukannya seorang pria yang sibuk menyenangkan dirinya sendiri dengan uang.
Sementara Jali, justru memanfaatkan waktu luang itu untuk tidur, dia akan sibuk jika di kantor, karena Fauzan akan selalu membutuhkan dirinya, untuk beberapa hal, apalagi jika mereka tengah meninjau lokasi proyek, ada saja yang harus dia kerjakan. Namun, sekarang dia santai, sambil menunggu kemacetan teruraikan.
Fauzan tengah menyalin draf diagram dalam bentuk file ke dalam sebuah flash disk saat dia sadar, jika Nadia tengah menatapnya. Pria itu menoleh sambil mengerutkan keningnya saat bicara.
“Kenapa kamu, Nad? Serius amat, sih?”
Nadia salah tingkah, dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain lalu, kembali memejamkan mata. Dia berusaha meredam gejolak perasaannya, yang sebenarnya tidak ingin terus tersakiti karena patahan hatinya sendiri. Saat melihat Fauzan tadi dia merasa seperti ada angin sejuk mengalir di bekas lukanya hingga hampir kering.
“Hai Nad! Jawab pertanyaanku, jangan tidur kayak Jali!”
“Aku nggak tidur, kok. Cuma liatin kamu, memangnya salah, gak ada yang bisa di lihat di sini!”
Fauzan mendengus kasar, dia selalu saja tersudut dengan jawaban Nadia. Mungkin hatinya masih beku atau dia memang tidak punya kesempatan untuk mencintainya hingga gadis itu selalu bersikap ketus padanya.
Sementara file sudah selesai di salin. Fauzan melepaskan napasnya secara kasar, tapi sejenak kemudian dia tersenyum.
“Nih, kamu bisa lihat beberapa file ini ....” kata Fauzan sambil menggeser duduknya lebih dekat ke arah Nadia.
Nadia membuka mata dan tatapannya langsung tertuju ke arah laptop yang ada di paha Fauzan. Dia terlihat antusias dan mendengar penjelasan tanpa memikirkan posisi duduk mereka yang hampir menempel.
Fauzan memperlihatkan skala dari pembangunan proyek yang tengah perusahaannya lakukan. Lalu menunjukkan draf yang baru saja dia selesaikan sebagai laporan pada ayahnya.
__ADS_1
“Jadi, nanti, kalau mau memberi laporan ke Ayah, ada tiga skema yang dipakai, dalam bentuk draf, diagram dan juga tabel pengeluaran dan pemasukan dari semua jenis produksi dan keuangan,” Kata Fauzan sambil menggerakkan kursor pada layar.
“Hmm ...” Nadia mengangguk-angguk tanda dia mengerti walaupun belum bisa sepenuhnya memahami.
Sementara itu di luar sudah terdengar suara dari peluit beberapa polisi yang mencoba mengurai kemacetan. Hingga tak lama kemudian, mobil mereka bisa kembali berjalan.
Sesampainya di gedung kantor cabang itu, Nadia turun dari mobil seorang diri, tanpa harus menunggu Jali membukakan pintunya. Itu bangunan kantor yang biasa saja tidak terlalu besar dan juga tidak bertingkat hanya seperti ruko yang terdiri dari dua ruangan besar dengan dinding kaca di depannya. Ada tempat parkir yang cukup luas dan juga seorang security yang siap selalu sebagai penjaga.
Di dalam ruangan itu hanya terdapat beberapa sekat yang tidak terlalu tinggi. Sebagai cubicle yang hanya berfungsi sebagai pembatas, serta membuat para karyawan bisa konsentrasi, dalam melakukan tugas dan pekerjaannya masing-masing.
Nadia diperkenalkan kepada beberapa karyawan yang sudah hadir di sana Dan kemudian mereka menuju ke ruangan yang lebih besar dari ruangan lainnya dan tertutup tidak seperti ruangan para karyawannya.
“Di sana tempo duduk dan mejamu!” kata Fauzan menunjuk satu meja yang terletak tidak jauh dari mejanya, di atas meja itu sudah dilengkapi dengan berbagai macam alat tulis dan juga komputer dengan monitor berlayar datar yang siap digunakan kapan saja.
“Baik, Pak!”
“Kalau nggak ada orang panggil aku, Zan saja nggak usah pakai Pak, Pak!”
“Baik, Pak!”
Bersambung
__ADS_1