
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi bodoh!” kata Zan terlihat panik dan hampir meninju lagi wajah Anthony, seandainya tidak dihalangi oleh Jali, yang memisahkan mereka dan tetap memegang pundak mereka dari tadi, mungkin sudah kembali berkelahi dengan sengit.
“Kenapa kau tidak tanya, bodoh!”
“Ya! Mana aku tahu kalau dia ke sini, bodoh!”
Mereka saling mengumpat hingga Jali kembali memisahkan lalu, setelah tenang dan merapikan pakaian, mereka duduk lesehan seperti semula. Wajah keduanya terlihat memar karena terkena beberapa pukulan. Sementara Jali masih duduk di antara mereka berdua dengan waspada, menjaga agar mereka tidak kembali berbaku hantam.
“Aku tidak menyangka kalau kamulah orang yang sudah menghianatinya!”
Mendengar ucapan Zan, Antoni menjadi heran, bagaimana bisa mengetahuinya, apakah dia sudah menyelidiki masa lalu Nadia selama ini? Akan tetapi, mengingat kedudukan pria itu Antoni menjadi maklum karena orang seperti Zan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.
“Hah? Aku juga tidak menyangka kalau kamu sudah menipunya!” sahut Antoni kemudian.
“Memangnya siapa yang menipu? Justru aku jujur apa adanya tidak seperti dirimu berlagak setia, padahal kau menduakan cintanya!”
“Kamu menutupi identitas, berpura-pura miskin di depannya pasti dia mengasihimu, kan, apa bukan penipu namanya? Hah!”
“Jangan sok tahu aku tidak meminta belas kasihan darinya!”
Mendengar ucapan Zan, Anthony mencibir, dia tahu bagaimana Nadia bersikap selama ini. Dia perempuan yang senang mengasihani orang lain dan siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dia berpikir pasti Zan akan memanfaatkannya dan dengan senang hati menerima kebaikan Nadia.
‘Dasar! Tidak tahu malu !’ batin Antoni sambil mencebik
Sementara Zan masih saja tak percaya dan berpikir bahwa mana mungkin temannya itu bisa menghianati wanita seperti Nadia. Dia selama ini mengenalnya sebagai pria yang berkepribadian baik.
Dia akhirnya mengerti imbas dari perbuatan laki-laki itu yang membuat Nadia begitu menjaga diri dan acuh tak acuh, seolah tidak ada harapan apa pun pada setiap pria.
Akan tetapi, akhir-akhir ini Zan curiga apabila Nadia sudah mengetahui identitas yang sebenarnya. Namun, yang membuatnya heran, Nadia seperti abai, tidak mempermasalahkan siapa dirinya.
Tentu saja tidak masalah identitas apa pun yang dimiliki Zan bagi Nadia. Sebab mereka tidak memiliki hubungan apa-apa atau semua lelaki di sekitarnya, terlebih lagi dia pernah mengecewakan wanita itu dengan menukar pekerjaannya, seandainya semua terbongkar mungkin dia akan menjadi salah satu pria yang dibencinya.
__ADS_1
“Sejujurnya memang Aku memanggilmu kemari, hanya untuk menanyakan masa lalumu itu dengan Nadia.” Zan berkata sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu melepaskan pandangan ke segala arah keruangan tempat kosnya yang kosong.
“Apa lagi yang bisa kamu akui sekarang, apakah tentang penipuanmu? Kau bisa menipu Nadia tapi, kau tidak bisa menipuku!” kata Anthony sebelum merapikan rambutnya.
“Sebenarnya aku tidak berniat menipu siapa pun, aku cuma mencari pendamping yang benar-benar tulus, tidak melihat harta pangkat dan jabatan dan aku sekarang sudah menemukannya.”
“Bisa kutebak ... orang itu adalah Nadia, iya, kan? Tapi sama saja itu penipuan, bodoh!”
“Terserah apa penilaianmu tapi, aku benar-benar tidak berniat untuk menipu.”
“Jadi, kurasa pertemuan kita kali ini cukup, apa kau akan datang reuni malam nanti?”
“Mungkin, asal kau juga membawa istrimu datang ke sana, sehingga aku bisa melihat wanita yang sudah turut andil menghancurkan hati Nadia!”
“Kalau begitu, Aku tidak akan membawanya dan mungkin aku juga tidak akan hadir di sana, persetan dengan itu!” ucap Antonius sambil berdiri lalu dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu tanpa peduli dengan Zan lagi.
“Gimana keadaan kamu, Nak? Hari ini waktunya buka perban yang terakhir di pundak, kan?” kata Salima saat membawa secangkir teh ginseng ke atas meja di hadapan Nadia.
“Alhamdulillah Bu sekarang sudah berkurang sakitnya.” Nadia berkata sambil merubah posisi duduknya, yang sedikit miring menghadap ke jendela. Kini dua orang ibu dan anak itu berada di sofa ruang tamu rumah yang sederhana.
Pagi itu adalah pagi yang ke sekian kali dinikmati oleh Nadia di kampung halaman penuh dengan kemanjaan dan kasih sayang ibunya.
Semenjak dua bulan dia melakukan perawatan secara berkala di rumah sakit dekat kediaman orang tuanya, beberapa luka sudah sedikit sembuh namun, di bagian pundak masih memerlukan perawatan lagi karena di situlah luka yang paling parah.
Setelah tiba di rumah Gadis itu tidak melakukan aktivitas berat dan juga, tidak keluar rumah kecuali hanya berjemur di dekat jendela dan juga berjalan-jalan di dalam ruangan. Ibunya selalu melarang, membantu pekerjaannya walaupun hanya sekedar menyapu halaman saja.
Oleh karena itu dalam 2 bulan saja dia sudah terlihat sedikit lebih montok. Akan tetapi wajahnya justru terlihat lebih manis pipinya sedikit tembam dan apabila dia tertawa, hidung dan pipinya lebih cepat memerah serta bibirnya terlihat lebih penuh.
__ADS_1
Nadia menyeruput teh buatan ibunya selama dia berada dalam perawatan, Salimah selalu memberikan makanan dan minuman terbaik untuk anaknya. Semua wanita itu lakukan, agar Nadua cepat pulih dari kondisi sakitnya dan bisa kembali beraktivitas seperti semula.
Ketika Nadia menceritakan bagaimana dia mendapatkan luka yang begitu parah, Salima menangis. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya saat itu anaknya meringkuk di dalam sebuah kotak yang sempit, sedangkan di sekitarnya dipenuhi dengan benda-benda berat menimpa tubuhnya. Akibatnya, selama dua bulan ini dia tidak bisa bergerak secara bebas, untuk memutar tubuh saja dia harus dengan pelan-pelan dan hati-hati agar tidak terlalu banyak pergerakan pada pundak dan punggungnya. Tentu hal ini sangat menyiksa.
Diam-diam ketika tidak diperhatikan oleh Nadia, beberapa titik air mata Selima selalu saja keluar tanpa disengaja, seolah-olah apa yang diderita oleh anaknya itu dirasakannya juga.
Kedua wanita itu saling berbincang sambil menghabiskan teh mereka. Setelah itu Salimah berniat membersihkan diri sebelum mengantarkan anaknya kembali ke rumah sakit. Hari itu adalah jadwal Nadia untuk memeriksa kondisi lukanya. Dia akan melakukan rontgen untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan sel beberapa tulang yang patah terutama tulang selangka dan tulang belikatnya.
Sementara menunggu ibunya bersiap-siap, Nadia pergi ke kamar dan meraih tas dengan tangannya yang sehat. Dia mencari ponsel yang sudah lama mati karena dia biarkan begitu saja.
Dia berniat memutuskan untuk sementara dengan dunia luar, teman dan tetangga, untuk sementara dia benar-benar menutup diri, tidak ingin diketahui oleh orang lain dengan apa yang dialaminya selama ini. Dia berniat menyimpan segala dukanya sendiri, apalagi tidak ingin orang lain ramai membicarakannya lagi, untuk yang kedua kali.
Dia pun tidak ingin orang kemudian menilai kehidupannya begitu sengsara. Bagaimana tidak, beberapa bulan yang lalu pernikahannya hancur dan dikhianati pergi oleh orang yang dicintai lalu, sekarang mendapatkan kemalangan kecelakaan hingga membuatnya harus pulang kembali setelah berniat untuk pergi.
Nadia mengurung diri di rumah, demi menghindari dan melupakan semuanya namun sepertinya semua sia-sia. Beberapa kenangan tentang Antoni masih tersimpan di sana, di sudut rumah dan juga di jalan-jalan desa, di mana mereka pernah melalui semuanya berdua.
Nadia menyalakan ponsel yang sudah dua bulan ini dalam keadaan mati. Betapa terkejutnya dia, setelah ponsel menyala dan menemukan begitu banyak panggilan dari Hadian, Dodi, temannya yang mengalami nasib isama dengannya, juga banyak sekali pesan yang menanyakan keadaannya baik dari beberapa teman, tetangga, dan juga Zan.
Untuk yang terakhir kali dia pun mengernyit dan heran, bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui nomor ponselnya bahkan menelepon sampai puluhan kali. Dia mengiriminya pesan yang menanyakan bagaimana keadaannya pun ada setiap hari. Sepertinya laki-laki ini tidak bosan mengirimnya pesan yang sama.
Nadia menarik napas panjang, sebelum dia mengusap layar ponsel, lalu menghubungi sebuah nama.
“Halo, assalamualaikum!” katanya begitu hubungan telepon tersambung.
Bersambung
__ADS_1