
Teruskan
Fauzan menggeser duduknya lebih dekat pada Nadia dan secara perlahan menundukkan kepala untuk melihat wajah Nadia lebih dekat lalu, tersenyum lebar. Seketika gadis itu memundurkan lehernya menghindari interaksi yang terlalu dekat dengan pria yang belum halal baginya.
Seandainya mereka sudah halal, mungkin Fauzan akan melakukan hal yang lebih intens atau Nadia akan menyambut sikap hangat itu dengan hangat pula. Akan tetapi semua itu tidak bisa mereka lakukan, apalagi di kamar perawatan itu bukanlah ranah pribadi mereka.
“Aku tidak punya uang dan aku nggak mau kamu pulang sekarang.” Fauzan menjawab dengan wajah yang menunjukkan kesungguhan. Akan tetapi Nadia sama sekali tidak percaya sebab, Fauzan bukan lagi anak kost pengangguran, semua kedoknya sudah terbongkar.
“Kenapa?”
“Aku bilang nggak ya, nggak!”
“Kamu pikir enak apa semalaman aku harus pakai baju seperti ini?”
“Memangnya baju itu kenapa, bagus, kan?”
“Ya, memang bagus, tapi, kan nggak enak buat tidur, lagian kamu ini bukan pengangguran, kan? Bohong kalau kamu nggak punya uang!”
“Oh, jadi kamu mulai matre, kayak perempuan lain yang di luar sana yang suka sama aku hanya karena uang?”
Mendengar ucapan Fauzan, Nadia tertegun dan berpikir heran, bagaimana bisa dia disamakan dengan perempuan lain yang tidak dia tahu siapa mereka? Ini keterlaluan.
‘Oh, apa karena ini dia menyamar jadi orang pengangguran yang miskin? Akh yang benar saja! Tapi, setidak-tidaknya aku tahu kalau ternyata dia ini playboy dan semua perempuan yang suka dengan dirinya adalah wanita materialistis. Ah ... kasihan sekali dia’ batin Nadia sambil mengernyitkan alisnya.
“Oh, iya. Lupa!” Fauzan berkata sambil menepuk keningnya cukup kuat hingga terdengar suaranya yang keras dari bertemunya dua kulit dan kulit.
“Lupa, lupa apa maksudnya, sih?” tanya Nadia.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, Nadia membuka mata saat mendengar azan subuh, dia tertidur tadi malam karena sudah sangat mengantuk. Dia tidak menemukan tempat untuk merebahkan diri selain sofa, meskipun tidak nyaman, tapi dia tetap harus memakainya untuk beristirahat.
Sudah selama satu jam lebih Nadia mengajak Arfan bicara dan memberikan semangat untuk sembuh, serta kata-kata positif sampai dia lelah bicara sendiri. Namun, reaksi pasien yang koma itu masih sama, hanya satu yang berbeda yaitu Nadia merasakan jari tangan Arfan bergerak sedikit.
Bergeraknya jari tangan Arfan itu hanya satu kali, saat Nadia berkata bahwa cinta tidak akan bisa tumbuh kalau dibiarkan begitu saja, cinta juga harus dirawat agar tumbuh dengan baik. Kalau memang ingin cinta itu tetap utuh, maka, dia harus bangun dan menemukan kembali menyalakan perasaannya!
Sementara Fauzan, entah ada di mana pria itu tadi malam, sebab setelah dia sholat isya berjamaah dan makan malam dengan Nadia, dia tidak kembali lagi ke bangsal kakaknya. Sebenarnya gadis itu kesal karena dia seperti di manfaatkan oleh Fauzan, padahal dia sama sekali bukan pegawainya lagi. Akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap berada di sana.
‘Memangnya aku bisa pergi ke mana, selain bertahan di sini? Astaghfirullah, lemahnya aku’ batin Nadia sambil mengeluarkan ponsel.
Dia menghubungi ibunya dan mengatakan bahwa dia saat ini ada di Jakarta. Nadia hanya bisa meminta maaf pada ibu dan ayahnya karena seperti anak durhaka yang tidak tahu sopan santun, pergi dengan seorang pria tanpa berpamitan.
Salima dan Maulana, sempat bingung mencari Nadia, tapi, kedua orang tua itu tetap tenang karena yakin, anak perempuan mereka baik-baik saja selama bersama Fauzan. Mereka percaya jika pria itu tidak akan pernah berbuat macam-macam.
Nadia mengisi daya ponsel yang hampir habis lalu melakukan sholat subuh seorang diri, berzikir, lalu, kembali menghampiri bangsal dan berbicara dengan Arfan, sambil memijit telapak tangannya guna melancarkan peredaran darah.
Setelah semuanya selesai mereka kemudian membersihkan tubuh pasien, mengganti pakaian dan kembali membaringkan pasien ke tempat semula dengan nyaman.
Saat para perawat laki-laki itu melakukan tugasnya, Nadia berada di luar kamar perawatan, dia duduk menunggu sambil membaca Alquran yang dia temukan di balik bantal Arfan, waktu itu.
Nadia merasa bosan saat duduk di luar, dia sudah selesai membaca dua lembar dari kitab suci itu, hingga dia masuk kembali ke dalam bangsal yang sudah di bersihkan, bahkan vas bunganya pun sudah di ganti dengan bunga segar yang berbeda.
Gadis itu mengeluh sendiri karena hanya bajunya yang belum di ganti sejak kemarin. Dia masuk sambil berdiri di sisi bangsal Arfan sambil berkacak pinggang.
“Lihat Arfan! Heh ... enak ya, sudah ganti baju tapi, aku belum, tahu? Kamu di urusin orang, tapi aku nggak!”
Nadia diam sebentar seolah dia sedang menunggu reaksi orang yang bicara di hadapannya.
“Lihat, nih! Aku bau! Walaupun aku mandi tapi, nggak ganti baju! Adik kamu mana, sih? Aku kesel, tahu nggak? Dia itu sudah menculikku, eh, aku di sini di suruh nungguin kamu... Memangnya siapa sih kita, saudarakah kita? Temankah kita? Apalagi kekasih? Bukan! Sama sekali bukan!”
Nadia berkata sambil menyibakkan selimut di bagian kaki dan memijit bagian telapak ya guna melakukan sedikit pijatan refleksi. Dia bukan ahli atau orang yang punya kemampuan, tapi dia pernah melihat seseorang yang lumpuh di terapi dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Nadia terus saja bicara, seolah marah-marah dan menumpahkan uneg-uneg pada Arfan. Tanpa dia sadari ada sepasang mata yang mengawasi di luar ruangan.
“Heh, Kamu namanya Arfan, ya? Bangun, sini! Kalau kamu mau marah sama aku, bangun sekarang juga! Lihat nih, kakimu aku pencet, kata orang kalau di pencet seperti ini sakit, jadi, ayo bangun!”
Nadia kembali berkacak pinggang sambil mengusap peluhnya, lalu kembali berteriak.
“Cepat bangun sekarang, aku nggak mau nungguin kamu terus di sini!”
Nadia melepas penyangga bahu dan meletakkannya di atas meja. Dia selama ini beraktivitas dengan satu tangan saja dan hal itu lebih melelahkan.
Di luar dugaan, semua ucapan Nadia itu rupanya memicu sebuah emosi jiwa, yang luar biasa besar dari dalam tubuh Arfan, walaupun dia dalam keadaan koma tapi, dia bisa mendengar semua perkataan siapa pun yang bicara padanya dan apa yang di lakukan pada dirinya.
Nadia tidak memperhatikan jika kedua mata Arfan sedikit terbuka, tapi kemudian kembali tertutup.
Sementara orang yang ada di luar kamar, sangat jelas memperhatikan pergerakan mata yang terbuka dan tertutup dengan sangat lemah itu.
Orang itu maklum jika kesadaran dan kemampuan Arfan untuk melakukan satu gerakan saja, akan sangat berat mengingat dia sudah terbujur di atas pembaringan tanpa melakukan apa pun, hampir satu tahun lamanya.
Hal ini tentu saja membuat semua organ vital, sendi, organ gerak dan kemampuan lainnya menjadi kaku dan keras. Oleh karena itu, wajar jika hanya untuk sekedar membuka mata saja akan terasa sulit.
Perempuan itu melangkah masuk dengan tenang, dia duduk di kursi yang tadi di duduki Nadia. Menatap Nadia intens dia tersenyum tipis.
“Teruskan!” kata wanita itu lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Maaf, teruskan apanya, ya?” tanya Nadia malu-malu.
Bersambung
__ADS_1