
Antara Dimiliki Dan Memiliki
Sementara itu, Nadia sudah rapi dan segar, dia memakai pakaian yang menurutnya paling sederhana di antara pakaian lainnya yang ada dalam lemari itu. Dia melihat dirinya di cermin lalu duduk sebentar sambil mengangkat telepon genggam dan menghubungi Salima—ibunya.
Wanita itu meminta pertimbangan apa yang harus dia lakukan dengan keadaan yang dihadapinya kali ini, dia tidak menemukan tempat lain untuk mengadu selain ibunya itu. Nadia berkata jujur jika ada orang yang baru saja dikenal dan ingin menjodohkan dirinya dengan Arfan.
“Terus, kamu mau?” tanya Salima, suaranya terdengar gusar diseberang sana.
“Ya, nggak, lah, Bu ... masa sih dijodohkan begitu saja. Memangnya Nadia siapa mereka coba? Kenal aja baru kemarin!”
“Bilang dulu, sama Ibu. Suruh mereka ke sini, enak saja mereka jodoh-jodohin anakku!”
Nadia terkekeh mendengar ibunya yang terlihat emosi dan tidak suka dengan keputusan orang lain yang melibatkan anaknya. Itu sama artinya melibatkan dirinya juga.
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Salima dan mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan ibu dan ayahnya, Nadia keluar kamar dengan perasaan tidak menentu karena rasa gamang yang menyertai langkahnya kali ini.
Seandainya disuruh untuk memilih antara Fauzan dan Arkan, maka Nadia tidak memilih siapa pun di antara mereka berdua. Dikarenakan hatinya belum siap untuk memiliki sebuah rasa lain yang sama dengan rasa saat mencintai Antoni. Bukan karena kedua pria itu tidak tampan atau kaya, tidak. Akan tetapi, ini murni masalah hati.
Nadia belum mempersiapkan diri lagi untuk dimiliki dan memiliki. Hatinya masih patah dan saat ini berusaha menyambungnya kembali dengan segala cara. Walaupun kelak ia tidak akan pernah pulih seperti sedia kala, tapi, bisa sembuh dari luka adalah hal yang luar biasa.
Nadia berdiri di sisi Fauzan dan melihat pria itu bengong melihat entah ke arah mana matanya tertuju, membuat Nadia mengerutkan alisnya.
“Pak ...” panggil Nadia
Tidak ada jawaban.
“Zan! Apa kamu baik-baik saja?”
Setelah suara itu keluar cukup keras dari bibir Nadia, barulah Fauzan menoleh dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Hmm.”
“Ayo!” ajak Nadia.
“Kemana?”
__ADS_1
“Kamu ini gimana, sih? Katanya mau ke rumah sakit.”
“Oh, jadi kamu mau, ya?”
Nadia kembali terdiam mencerna ucapan Fauzan, dia mengira jika keputusan perintah pergi ke rumah sakit itu mungkin mutlak berada di tangannya, sehingga apabila Nadia tidak mau pun Fauzan akan menurutinya.
Sementara Nadia semula menganggap jika Fauzan tidak akan membantah permintaan Imma hingga wanita itu menghargai ajakannya.
“Apa nggak masalah kalau aku nggak ke sana? Kalau bisa nolak, ya, aku nggak mau!” kata Nadia seraya duduk di hadapan Fauzan tapi pandangannya tertuju ke arah lain.
Fauzan menatap Nadia dengan mata berbinar karena senang jika gadis itu menolak. Dia tidak perlu susah mencari alasan demi dirinya sendiri dan hanya butuh satu jawaban saat Imma bertanya.
“Nggak masalah kalau kamu nggak mau.”
“Ya, sudah—“ ucapan Nadia terputus oleh suara dari telepon genggam milik Fauzan. Pria itu segera mengangkatnya.
“Ya, halo, Ma?”
Fauzan berkata setelah menempelkan benda pipih itu ke telinga lalu dia diam mendengarkan orang di balik telepon itu bicara.
“Dia tidak mau, Ma,” kata Fauzan sambil melirik Nadia yang tengah sibuk juga dengan ponselnya.
Gafis itu menerima telepon dari tangan Fauzan, lalu, mulai bicara.
Nadia tampak basa basi, mengobrol hal santai dengan Imma, orang yang menghubungi Fauzan dan sekarang sedang berbicara dengannya, hingga kemudian Imma mulai membicarakan hal inti padanya.
“Apa nemar, kata Fauzan, kamu nggak mau ke sini?”
“Iya, Nyonya, maaf. Saya tidak bisa ke sana untuk hari ini.”
“Kenapa?” tanya suara di seberang telepon genggam yang sengaja dikeraskan agar semua bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Saya lagi tidak sehat rasanya, Nyonya, mungkin saya terlalu capek.”
“Artinya kamu bisa ke sini lain hari?”
“Maaf, Nyonya ... tidak bisa juga.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Saya mau pulang kampung, kalau sudah sehat.”
“Kamu nggak boleh pulang sekarang, kamu belum jawab pertanyaan kami.”
“Pertanyaan yang mana, Nyonya?”
“Kamu, mau kan di jodohkan dengan Arfan! Biarlah Fauzan nikah sama Ella!”
Fauzan mengepalkan kedua tangannya mendengar hal seperti itu keluar dari mulut ibu yang dia percaya dan dia sayangi sepenuh hati, tapi kini, dia seolah tidak lagi memiliki hak apa pun lagi pada keluarganya sendiri.
Nadia melihat perubahan raut wajah Fauzan, hingga sudut bibirnya berkedut ingin rasanya berteriak kalau saja bisa, maka dia tidak seharusnya terlibat dengan urusan orang-orang seperti mereka.
Baik Fauzan, Arfan ataupun Ella tidak ada hubungannya dengan dirinya, mereka tidak harus saling merelakan pasangan.
“Nyonya, maafkan saya, bukannya saya tidak menyukai Tuan Arfan, atau Pak Fauzan, tapi, saya belum mau menikah dalam waktu dekat ini.”
Nadia berhenti sejenak memberi jeda untuk sekedar bernafas.
“Saya masih ingin menyembuhkan, baik luka fisik dan hati. Jadi, saya menolak perjodohan ini. Apalagi kedua orang tua saya, tidak mengizinkan saya karena mereka tidak mengenal Tuan Arfan apalagi keluarga Anda.”
Fauzan hanya diam tapi, menyunggingkan senyum manis di sudut bibirnya saat mendengar ucapan Nadia. Dia merasa puas sebab hal yang diutarakan gadis itu terdengar cukup adil untuk semua orang termasuk dirinya.
“Kamu, bisa saja bilang begitu, tidak perlu terburu-buru... Coba kamu ke sini. Kenali anakku lebih jauh, kamu pasti akan suka sama dia, nggak ada wanita yang selama ini menolak anakku.”
‘’Kecuali saya!” batin Nadia miris.
“Baik, Nyonya ... tapi, tidak sekarang, saya mohon maaf.”
“Nggak masalah, jadi kami ada waktu buat ketemu sama kedua orang tuamu, Nadia!” kata Imma dari balik telepon.
“Apa, Nyonya serius mau ke rumah orang tua saya, memangnya Anda tahu di mana rumah Ayah dan Ibu?”
“Itu, soal gampang.”
Bersambung
__ADS_1