AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 30 Orang Aneh


__ADS_3

Orang Aneh


 


“Kamu?” Kata Fauzan geram. Tanpa terasa dia mencengkeram kuat piring yang berisi makanan di tangannya. Seandainya tidak banyak orang yang memperhatikan mereka, mungkin saja Fauzan bisa menghancurkan piring itu hingga berkeping-keping. Dia sendiri tidak tahu mengapa demikian emosi hanya karena pakaian Nadia yang kotor.


“Maaf, Pak! Saya nggak sengaja!” Kata Naina sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Setelah selesai bicara, dia melangkah dengan cepat keluar dari area pesta.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Fauzan, masih mempertahankan sikap wibawanya, sambil menyimpan piring makanan di atas kursi kosong di sebelah Nadia. Lalu, dia mengusap pakaian gadis itu dengan sapu tangan yang menjadi hiasan di saku jas.


“Sudah, tidak perlu,” Kata Nadia sambil menahan tangan Fauzan agar tidak lagi menyentuhnya.


“Ganti saja pakaian yang aku belikan untukmu!”


Fauzan meminta seorang pengawal mengambil baju Nadia di mobil, untuk menggantikan pakaian yang basah. Nadia sebenarnya enggan, akan tetapi mau tidak mau dia harus memakainya, kalau nanti pulang, dia khawatir akan membasahi dan merusak jok mobil Fauzan.


Nadia menumpang di salah satu kamar tuan rumah penyelenggara pesta, untuk mengganti pakaiannya yang basah. Dia sempat melihat dirinya di cermin yang ada di kamar itu, dengan tidak percaya karena dia seolah dirinya menjadi pribadi yang berbeda.


Pakaian yang dikenakan Nadia adalah long dress, berlengan lebar diujungnya, kancingnya terletak di bagian depan hingga mudah saat digunakan, dengan taburan payet juga batu mulia yang dihancurkan di bagian bawahnya.


Seperti sengaja dirancang untuk memudahkannya, apalagi warnanya sama persis dengan setelan jas yang dipakai oleh Fauzan membuat mereka seolah-olah pasangan suami istri saja, membuat media kembali salah tingkah.


Entah semua itu disebabkan oleh pakaiannya yang tidak biasa atau karena perasaannya, yang begitu tersanjung mendapatkan perlakuan yang istimewa dari Fauzan di hadapan banyak orang.


Setelah cukup lama berada di kamar karena harus memakai pakaian seorang diri, akhirnya Nadia pun keluar juga. Dia begitu kerepotan harus memakai pakaian dengan satu tangan sebab, biasanya dia melakukan semua itu dibantu oleh ibunya.


“Apa kamu kerepotan memakai bajunya sendirian?” katanya Fauzan begitu Nadia keluar dari kamar dan mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah.


“Ya. Sedikit.” Nadia berkilah, dia hanya tidak ingin orang lain merasa kasihan padanya. Padahal dia sedikit kerepotan saat harus memasang gips kembali di pundaknya.


“Sakit nggak tangannya?”


“Nggak.”


Fauzan menuntun Nadia untuk duduk di kursinya kembali kemudian menikmati makanan, yang tadi sudah diambilnya untuk dinikmati mereka berdua. Tentu saja pemandangan ini tidak lepas dari perhatian banyak orang yang ada di sana, di sela-sela aktivitas mereka masing-masing dan nyanyian serta musik yang terdengar.


Makanan yang ada di piring mereka pun kini sudah habis, setelah mereka menikmatinya dengan perlahan sambil menikmati hiburan yang disediakan oleh penyelenggara pesta. Dengan perlahan pula mereka menyimpan piring itu di kursi kemudian pergi meninggalkan area pesta, setelah berpamitan dengan kedua mempelai.


Para pengawal membukakan pintu untuk Fauzan dan Nadia, begitu kedua orang itu mendekat ke arah mobil. Tidak ada satu pun di antara pengawal itu, yang ikut menikmati makanan di sana karena selama kedua majikan mereka menikmati pesta pernikahan itu, mereka hanya berdiri dan menjaga dengan waspada.

__ADS_1


Fauzan kembali melajukan mobilnya sendiri, mengingat yang dikendarai mereka adalah mobil sport satu pintu yang, hanya biasa dinaiki oleh dua orang. Tentu saja mobil seperti itu, hampir tidak pernah lewat di kampung Nadia sehingga wajar apabila mereka menjadi pusat perhatian.


Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang kedua orang itu kembali berbincang-bincang.


“Gimana, apa kamu senang di pesta tadi, kan, sudah aku temani?” Fauzan berkata dengan pongah, kembali pada kepribadian sebelumnya yang ditunjukkan pada Nadia, sejak pertama kali mereka bertemu.


“Biasa saja.” Nadia menyangkut sambil memalingkan pandangan ke luar jendela yang ada di sampingnya.


Dia menutupi kebahagiaan yang sebenarnya ada dalam benaknya. Dikarenakan perlakuan Fauzan yang begitu mengistimewakan dirinya, di hadapan semua orang. Termasuk beberapa teman yang tadi menyaksikan semuanya sehingga bisa membungkam mulut mereka yang menggunjingkan Nadia dalam grup chat.


“Gimana bajunya, pas kan ukurannya?” tanya Fauzan, sepertinya pria itu masih berusaha dengan keras, untuk mendapatkan komentar atau pujian dari Nadia.


Ucapan Fauzan itu menyadarkan Nadia apabila dia memang terlihat begitu berbeda dengan pakaian yang dikenakannya. Memang dress itu memiliki model yang sederhana tapi, begitu elegan. Lagi pula bahannya berbeda, sangat lembut dan berkilau. Baik Nadia atau rang-orang yang ada di pesta, tidak tahu bila bajunya adalah rancangan desainer yang dipesan terlebih dahulu.


Nadia menoleh pada Fauzan sekilas selalu menjawab, “Ya ini pas sekali dengan saya, kok, Bapak bisa tahu berapa ukuran saya?”


“Itu soal gampang.”


“Segampang Bapak mempermainkan perasaan orang?”


Tiba-tiba Fauzan mengingat kembali percakapannya dengan Anthony waktu itu, yang memintanya untuk tidak mempermainkan Nadia, seperti dia mempermainkan wanita-wanita sebelumnya. Lalu, saat ini dia berusaha keras untuk menutupi, kan, tidak ada yang tahu bagaimana dia dulu menjadi seorang yang sering gonta-ganti pacar.


“Memangnya siapa yang aku permainkan? Mana buktinya kalau aku pernah berbuat seperti itu?”


“Ya, memang nggak sih, tapi aku yang pengen diurusin ... emangnya kamu nggak penasaran gitu, sama aku?”


Sebenarnya Nadia bukannya tidak penasaran pada Fauzan, hanya saja dka bersikap hati-hati karena tidak ingin kecewa lagi. Seandainya bisa sejak dulu dia ingin mengkonfirmasi isu yang beredar di kalangan karyawan, tentang pria di sebelahnya itu. Agar jelas saja bagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya.


“Kamu ini perempuan bukan sih, Nad?”


“Memangnya saya kenapa?” tanya Nadia datar.


“Kamu nggak kayak perempuan lain, ya ... biasanya perempuan itu suka penasaran, banyak tanya, senang ngomongin orang ... kamu nggak seneng gitu ngomongin aku?”


Mendengar ucapan pria di sampingnya tiba-tiba Nadia tertawa geli, suara tertawa terdengar cukup renyah di telinga Fauzan. Laki-laki itu merasakan hangat di hatinya karena tertawanya Nadia begitu murni, dia seperti gelas kosong yang baru diisi oleh air jernih  dari pegunungan.


“Nah, malah ketawa. Gak lucu!” Fauzan mengomentari sikap Nadia.


“Pak, dari dulu sampai sekarang, saya masih menganggap kalau kita ini nggak punya hubungan apa-apa, selain pimpinan dan karyawan. Jadi, kalau mau tanya-tanya tentang atasan gimana, itu nggak pantes, nggak sopan!”

__ADS_1


“Kamu pertama kenal aku ini siapa?”


“Siapa maksud Bapak, orang aneh yang di tempat kost dulu bukan?”


“Sudah aku bilang jangan panggil aku Bapak!”


“Terus saya harus panggil apa?”


Fauzan diam menahan geram, ada rasa sesal sekaligus heran, apa benar Nadia mempunyai kepribadian sepolos ini? Atau dia hanya pura-pura saja dan memang seperti inilah caranya menjaga jarak dengannya?


Apalagi saat tadi dia mendengar Nadia mengatakan dirinya adalah orang aneh di tempat kos, geramnya semakin menjadi-jadi.


“Memangnya aku seaneh apa?”


Nadia kembali tertawa lalu menjawab, “Gimana nggak aneh sih, Pak ... kan ngakunya udah tinggal lama di tempat kost tapi, nggak bisa ngisi token listrik.”


“Kamu gak curiga waktu itu?”


Nadia kembali diam sejenak, akhirnya dia mengatakan semua yang dia curigai saat itu. Dari keanehan-keanehan yang dilihatnya, dari waktu ke waktu, membuatnya curiga jika Zan adalah orang yang sebenarnya tidak kekurangan atau bahkan pengangguran.


Pertama kali Nadia menyimpulkan bahwa Fauzan dan Zan adalah orang yang sama yaitu, ketika dia melihat Jali—asistennya. Dari orang yang bernama Jalilah kecurigaan yang bermula. Pria itu pernah muncul di tempat kost, di mana Zan tinggal menjadi tetangganya. Lalu, berulang kali muncul di saat Fauzan sedang tidak ada.


Selain itu, benda-benda yang mereka gunakan, terlihat begitu mencolok memperlihatkan apabila mereka hanya berpura-pura menjadi miskin. Naif sekali bagi Nadia.


“Bapak masih tinggal di tempat kos itu?” tanya Nadia. Dia sudah selesai menceritakan semua bagaimana kecurigaannya, dia mengatakan semuanya kecuali saat mencoba membuka kacamata Fauzan saat dia tertidur di brankar rumah sakit.


 


Bersambung


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2