
Sementara itu, Hadian mengabaikan rasa lelah dan lemas di badannya setelah dia berhasil melakukan pelepasan sekaligus melayani wanita itu sampai pengaruh obat di tubuhnya hilang. Dia memakai kembali pakaiannya dan pulang untuk menemui dan memenuhi janji pada istrinya, tak lupa dia meninggalkan sebuah kartu nama di atas bantal tempat wanita itu membaringkan diri dan tertidur pulas.
Kisah Hadian yang terjerumus minat sesaat itu tetap dia simpan rapat sampai sekarang. Dia tidak menceritakan pada siapa pun termasuk anaknya sendiri. Begitu pula sang istri, Leana, tidak menceritakan kejadian itu pada orang lain, sampai ajal menjemputnya saat melahirkan Fauzan ke dunia.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, sebuah nomor asing menghubungi telepon genggam Hadian, di kantor tempatnya bekerja. Ternyata telepon itu dari wanita yang sudah memaksa dirinya, Leana. Dia meminta pertanggungjawaban demi anaknya.
Sebenarnya dia tidak ingin meminta pertanggungjawaban Hadian atas perbuatannya, dia tidak menyangka percintaan sesaat itu bisa membuatnya hamil. Lalu, dia bertekad akan merawat sendiri anak dari hubungan terlarang mereka. Dia akan pergi jauh dan tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota itu lagi.
Akan tetapi nasib berkata lain, dia menderita tumor ganas di rahim yang akan beresiko k
ematian bila dia meneruskan kehamilan. Sayangnya dia baru mengetahui penyakitnya, saat bayi dalam kandungan itu sudah berusia enam bulan. Tidak mungkin akan digugurkan begitu saja, mengingat dia sudah berbuat dosa dan tidak akan menjadi pembunuh lagi dengan menggugurkan bayi yang sudah bernyawa dalam rahimnya.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk bertahan dan melahirkan anaknya dengan selamat. Dia meminta Hadian untuk merawat bayi itu dengan baik, karena biar bagaimanapun juga bayi itu adalah anaknya.
Hadian pria yang baik, hingga dia menyetujui keinginan Leana, dia menikahi perempuan itu begitu dia tahu di mana keberadaannya. Dia tinggal di desa terpencil dan jauh dari keramaian kota, di sanalah dia tinggal sampai usia kandungannya genap sembilan bulan. Dia hidup tanpa kasih sayang dari Hadian. Akan tetapi, janji pria itu untuk menjaga anaknya, sudah lebih dari cukup baginya.
Waktu terus berlalu hingg tak lama setelah Leana berhasil melahirkan, dia sempat menyusui bayi laki-laki yang tampan itu serta menjadi ibu walau cuma sehari semalam saja. Wanita itu menghembuskan napas terakhirnya. Pendarahan terus menerus yang tidak bisa dihentikan adalah penyebab terbesar kematiannya.
Hadian menyaksikan semua kejadian yang menimpa istri keduanya itu bahkan dia sempat berfoto bersama untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Setelah pemakaman selesai, pria itu membawa bayi kecil yang masih merah pulang. Dia menyewa seorang pengasuh untuk merawatnya.
Begitu Rahima, istri pertama Hadian tahu tentang anak itu, Hadian meminta maaf padanya dan meminta agar Rahima mau merawatnya.
__ADS_1
“Ima ... namamu Rahima, artinya adalah wanita yang penyayang, maka aku mohon, terimalah dan rawat anak itu seperti anakmu sendiri,” kata Hadian saat itu.
“Aku memberinya nama Fauzan, aku mohon, rawatlah dia ... maafkanlah aku. Sungguh aku tidak mencintai wanita itu, aku dalam pengaruh obat waktu itu ada yang ingin berbuat jahat padaku.” Hadian berbohong pada Rahima agar wanita itu tidak membenci Fauzan, karena wanita itu akan menilai bahwa kehadiran Fauzan adalah karena sebuah keterpaksaan dan kesalahannya.
“Benarkah? Laki-laki tidak bisa dipercaya! Kamu bilang tidak cinta, bagaimana mungkin ada anak kalau bukan atas nama cinta?”
“Kenapa tidak, banyak anak yang lahir bukan karena cinta!”
“Haha! Hubungan yang menghasilkan anak saja sudah dinamakan hubungan percintaan, atau orang mengistilahkannya dengan bercinta, iya kan?”
“Tapi sungguh aku tidak mencintainya, Ima, apalagi sekarang wanita itu sudah tiada!”
Begitulah akhirnya Fauzan pun berada dalam perawatan Rahima sampai dia dewasa. Wanita itu mengatakan secara jujur bahwa dia bukanlah ibunya dan tidak tahu di mana ibu kandung Fauzan dikuburkan karena Hadian--ayahnya, tidak pernah mengatakannya. Menurut ayahnya itu sesuatu yang tidak perlu karena dia sudah memiliki Ibu yaitu Rahima.
Mereka adalah dua pria dewasa yang sangat akrab dan saling sayang menyayangi satu sama lain. Selama ini belum pernah terjadi percekcokan atau perkelahian besar yang menyebabkan permusuhan atau kebencian, tidak! Mereka memiliki perbedaan usia yang sangat dekat, kurang dari satu tahun saja. Itulah yang menyebabkan mereka seperti anak kembar dan lahir dari rahim yang sama.
Pada saat itu Arfan, Kakak Fauzan ingin melompat dari sebuah ketinggian yang sengaja dibangun di kolam renang pribadi rumah mereka, sambil saling bercanda untuk mengadu keberanian seperti biasanya. Namun, tidak diduga saat kaki Arfan berjalan pada tangga tempat untuk melompat, dia tergelincir hingga terjatuh pada saat dia belum siap sepenuhnya. Salah satu kakinya keseleo hingga dia berteriak sangat keras dan lompatannya tidak tepat di mana seharusnya. Akibatnya, kepala Arfan terbentur pada sisi tembok kolam renang.
Fauzan yang melihatnya tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya berteriak minta tolong dan tidak melakukan apa-apa, dia panik melihat darah yang banyak keluar dari kepala kakaknya. Sementara Rahima yang berada di kamar mendengar teriakan itu dia keluar dari kamar dan begitu terkejut melihat anaknya yang dia dapatkan dengan susah payah, jatuh di sisi kolam renang dengan bersimbah darah.
Ya, kejadian itulah yang membuat Rahima, akhirnya selalu menyalahkan Fauzan atas hal yang terjadi pada Arfan. Tentu saja sebagai seorang ibu dia akan selalu menyayangi anaknya, dan tidak rela anak semata wayangnya itu harus menderita bahkan sampai saat ini masih terbaring, di rumah sakit.
__ADS_1
Semua karena Fauzan! Semua adalah salahnya. Kenapa dia tidak segera membawa saudaranya ke rumah sakit ataupun mendudukkan tubuhnya sehingga tidak terjadi pendarahan yang terlalu banyak pada Arfan. Rahima terus menerus menyesali Fauzan lalu, mengusirnya dari rumah. Dia dilarang mengenalkan diri pada orang luar atas identitas asli, sampai Arfan siuman dan sadar dari koma.
“Kamu licik, Fauzan! Licik! Kamu memang mau membunuh Kakakmu, kan?”
“Tidak, Bu. Tidak! Maafkan aku ... Aku tidak tahu harus berbuat apa!” sahut Fauzan sungguh-sungguh.
Akan tetapi, Rahima tidak bisa mempercayainya sekeras apa pun Fauzan berusaha. Kasih sayangnya pada ibu sambungnya itu seperti sayangnya seorang anak kandung pada ibunya. Arfan begitu menurut padanya, walau hukuman yang diberikan itu sangat lucu.
Banyak anak buah, pegawai, kerabat dan rekan-rekannya yang mengenal dia di mana-mana, sedang kan dia harus mengasingkan diri. Oleh sebab itu dia kini tinggal entah di mana dan hanya muncul di perusahaan secara sembunyi-sembunyi bila Rahima sedang pergi keluar kota atau jalan-jalan menikmati hari-harinya.
Saat dia berkunjung pun awalnya hanya beberapa pegawai saja yang tahu jika ada orang yang memakai masker dan berkaca mata hitam itu adalah Fauzan, tapi lama kelamaan dia menjadi terkenal dengan sendirinya.
Desas desus jika Fauzan sekarang sudah miskin dan tidak punya apa-apa karena diasingkan ibu tirinya, dianggap oleh banyak orang sebagai kewajaran karena hukuman atas perbuatan jahatnya yang sudah berusaha mencelakai saudaranya sendiri. Seperti itulah cerita simpang siur yang beredar di perusahaannya.
Waktu istirahat makan siang seolah berakhir dengan cepat dan jam kerja sudah kembali di mulai, baik para pegawai siap atau tidak siap, mau atau segan. Tanpa pengecualian. Begitu pula dengan Nadia yang kini bertugas membersihkan kaca bagian luar mulai dari lantai atas menggunakan gondola.
Ada dua orang yang bertugas di sana, Nadia dan seorang rekan kerja pria, Dodi namanya yang terkenal sudah cukup mahir melakukannya tugas yang sedikit beresiko dan berbahaya.
“Gimana, Nad. Kamu siap?” tanya Dodi sambil memasangkan tali pengaman pada tubuhnya begitu pula Nadia.
“Oke, siapa takut. Bismilah!” sahut Nadia sambil menaiki gondola. Itu adalah benda berupa kotak baja yang biasa digunakan para pekerja untuk membersihkan tempat dan gedung yang tinggi, juga bisa bergerak naik turun secara otomatis bila sedang digunakan.
__ADS_1
Tiba-tiba ... Bum!
Bersambung