
Pakaian dari Imma
Nadia menghentikan langkahnya dan berbalik, tapi Fauzan tidak melepaskan pegangan tangannya kemudian, laki-laki itu menyeringai lucu kepadanya. Gadis itu menoleh dengan ekspresi wajah kesal.
“Jangan salah sangka, memangnya kamu mau tidur di mana? Kamu nggak kebagian kamar tamu!”
Nadia justru mengernyitkan dahi karena dia tidak percaya apabila di rumah sebesar dan semewah itu, tidak ada kamar tamu yang bisa dia tempati.
“Kamu becanda, kan, Zan?”
“Bercanda gimana?”
“Terus ... Kamu mau nyuruh aku tidur di kamar kamu, memangnya di sini gak ada kamar tamu lain, apa?”
“Oh, kalau soal kamar tamu ada dua di sini, pasti mau di pake sama Jali, satu lagi buat Ella.”
Nadia bersungut-sungut karena keadaan tidak memihak padanya da memaksanya harus mengikuti keinginan Fauzan, lalu, mereka melangkah ke kamar itu.
Sebenarnya mereka bisa memaksakan diri pergi ke apartemen pribadi Fauzan yang selama ini digunakan Nadia, tapi, sekarang sudah larut malam hingga Fauzan dan Jali, merasa enggan ke tempat itu hanya untuk tidur. Apalagi kondisi Nadia yang sudah lelah juga. Jadi, tidak masalah kalau hanya semalam saja dia tidur di kamar seorang pria yang bakal menjadi atasannya.
“Maaf, ya, berantakan! Maklum kamar cowok!” kata Fauzan sambil mematikan laptop yang sedari tadi menyala dan akan di bawanya ke ruang kerja, dia akan tidur di tempat itu.
“Iya, Pak. Nggak masalah, saya bisa maklum, kok!”
“Oh,.ya, kamu bisa pake kaus atau piyamaku, pilih aja di lemari, bebas buat kamu, mah!”
“Hmm ....” sahut Nadia dalam gumaman sambil melihat ke sekeliling ruang yang benar-benar bernuansa manly. Dari semua perabot yang ada dan juga warna perlengkapan yang digunakan Fauzan, semuanya serba minimalis dan terkesan praktis.
“Pak! Ada barang yang berharga di sini, nggak? Takutnya nanti ada yang hilang, saya nggak mau di salahkan!”
Fauzan sejenak berpikir jika bisa dia akan menjawab bahwa, sekarang yang paling berharga ada di dalam kamarnya adalah Nadia karena selain itu, benda berharga yang lain hampir tidak ada, kecuali dompet yang ia tinggalkan begitu saja.
“Tidak!” jawabnya singkat.
__ADS_1
Demi menjaga perasaan, serta jantungnya yang mulai berdebar-debar, Fauzan segera melangkah pergi dari sana, sambil menggelengkan kepala. Dia tidak mungkin berlama-lama di kamar pribadinya sendiri, sedangkan ada seorang wanita yang dia cintai berada di dalamnya. Dia masih laki-laki normal yang memiliki keinginan dan nafsu yang bisa saja tidak terkendali.
Sebelum sempat Fauzan menutup pintunya Nadia kembali memanggil, dengan cepat laki-laki itu menoleh.
“Ya, ada apa lagi? Tidur sana!”
“Nggak apa-apa kan Pak kalau pintunya saya kunci?”
“Tentu!” Java hujan singkat. “Oh, ya. Kamu bisa pake perlengkapan mandi yang ada di laci itu,” Kata Fauzan lagi sambil menunjuk sebuah laci yang ada di dekat pintu kamar mandi.
Nadia mengangguk, tanda dia mengerti.
Setelah itu, Fauzan pun membalikkan badan hingga bayangannya menghilang dari balik pintu. Tentu saja Nadia harus mengunci pintunya rapat-rapat, demi keamanannya sendiri dan seharusnya dia tidak perlu meminta izin, pada si pemilik kamar karena pria itu pun menginginkan agar orang berharganya, aman di kamarnya.
Nadia membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dalam kamar dan, tentu saja semua perlengkapan mandi yang ada di sana adalah milik seorang pria. Namun, dia tetap saja menggunakan perlengkapan yang di maksud Fauzan, ada handuk dan sikat gigi yang masih baru dan gadis itu bisa menggunakannya dengan leluasa.
Sementara untuk tidur, Nadia membuka lemari pakaian Fauzan yang ada di ruangan walk in closed-nya. Dia hampir memilih sebuah kaus polos yang longgar dan celana training. Namun, di saat yang bersamaan pintu kamarnya diketuk.
Nadia bergegas membuka pintu, setelah tahu seorang asisten rumah tangga datang untuk memberikan pakaian tidur, perlengkapan ibadah dan juga, pakaian lainnya. Saat gadis itu bertanya, si pelayan hanya mengatakan bahwa semua yang dibawanya adalah pemberian dari Imma, untuk dikenakan malam ini dan besok, saat Nadia hendak pergi bekerja.
******
Keesokan harinya, Nadia bangun lebih pagi, dia menyucikan diri dengan berwudhu, kemudian melaksanakan ibadah seperti biasanya. Setelah itu, dia membereskan tempat tidur dengan cekatan dan hasilnya pun sangat rapi, bahkan beberapa benda dan peralatan yang ada di atas meja, tak luput untuk dibersihkan. Tentu saja dia sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini dia memilah-milah mana barang yang masih bisa digunakan dan tidak.
Sekali lagi, itu adalah kamar seorang pria hampir tidak ada hiasan dan benda yang aneh, membuat Nadia tersenyum. Dia puas setelah selesai membereskan semuanya, lalu, dia kembali membersihkan diri.
Nadia melibatkan diri di dapur setelah selesai mengganti pakaiannya. Walaupun, para asisten rumah itu melarang, tapi dia tetap mengerjakan sesuatu yang dia bisa.
Tak lama setelah masakan siap, seluruh keluarga dan juga tamu termasuk Nadia, ikut serta menikmati makanan yang sudah tersedia. Setiap orang menempati tempat duduknya masing-masing dalam satu meja makan besar di ruangan yang berdekatan dengan dapur dan ruang tengah itu.
“Kamu ikut masak, Nad?” Tanya Ella, yang juga sudah berpakaian rapi, sepertinya dia sudah terbiasa.
__ADS_1
Nadia mengangguk menanggapi pertanyaan kekasih Arfan itu, dia yang memilih duduk paling pinggir di sebelah Ella.
“Kamu Piter masak, ya, Nad?” tanya Ella lagi.
“Ah, nggak! Paling masak biasa saja!” Nadia berkata dengan rendah hati.
“Kalo aku, nggak bisa masak, jujur saja! Tapi, nggak masalah buat Arfan.”
Nadia kembali mengangguk.
Sementara Jali memilih menikmati sarapan di meja makan bagian belakang bersama para asisten lainnya.
Nadia bisa ada di sana karena permintaan Fauzan. Gadis itu selalu menunduk saat makan sarapannya. Saat menjawab pertanyaan Ella pun dia tetap menundukkan kepalanya.
Tuan dan nyonya rumah menerima Nadia dengan baik, terlepas dari apa yang sudah dia lakukan baik pada Arfan dan juga kepercayaan Hadian padanya, gadis itu memang baik sejak mulai berinteraksi dengan Fauzan.
Setelah sarapan selesai, mereka masih duduk di tempat masing-masing. Hadian menjelaskan pada Nadia dan Fauzan tentang agenda yang harus mereka lakukan hari ini. Sementara dirinya dan istrinya, akan mengajak Arfan dan Ella pergi ke suatu tempat, untuk bersilaturahmi dengan seseorang juga meminta nasehat untuk kebaikan anak sulungnya itu.
Keluarga Hadian pergi dengan dua rombongan kecil, satu mobil untuk Hadian, satu kendaraan lain di pakai oleh Fauzan dengan Jali dan Nadia.
“Eh, mau duduk di mana, kamu?” tanya Fauzan saat Nadia hendak duduk di samping Jali yang saat itu kembali posisikan dirinya sebagai sopir pribadi.
“Pak! Saya duduk di sini saja!” kata Nadia sambil melepaskan pegangan Fauzan dari pergelangan tangannya.
Fauzan tidak menjawab Dia hanya membuka pintu dan, mendorong tubuh Nadia duduk di kursi belakang bersebelahan dengannya.
“Kalau kamu sudah bisa dan tahu gimana jadi asistenku, pasti kita kerjanya enak, bisa lebih cepat,” kata Fauzan setelah mereka berada di mobil dan, Jali sudah menjalankan kendaraan itu secara perlahan keluar dari pintu gerbang.
Dua orang itu, terus bercakap-cakap di tempat duduknya, sementara mobil terus melaju, di jalanan ke arah kantor cabang perusahaan Hadian berada.
Bersambung
__ADS_1