AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 6


__ADS_3

Pria itu memang salah satu pimpinan perusahaan, begitu pikir Nadia bila dilihat dari penampilan dan pakaian yang dikenakannya, membuat gadis itu takut bila pria itu menyakitinya. Apalagi tempat ini termasuk sepi walaupun masih ada beberapa orang yang bekerja. Akan tetapi bila dia dianiaya, apa yang bisa dia lakukan?


“Hei! Kenapa diam saja, ayo ikut! Sini ke ruanganku!” ajak pria itu lagi. Mau tidak mau, Nadia mengikutinya dengan terpaksa, dia melangkah masuk setelah pria itu ke dalam ruangannya. Mata Nadia menangkap sebuah papan nama dimeja besar tempat pria itu biasa bekerja, dengan jelas tertulis di sana, “Hadian Adam direktur utama”


‘Oh. Jadi dia bos besar di rupanya’ bagian Nadia sambil mengangguk-anggukkan kepala membuat Hadian, pria itu, kembali menatap Nadia dengan alis berkerut, tadi dia menggeleng-geleng sekarang menganggu-angguk.


Kini dua orang berlawanan jenis itu berdiri saling berhadapan yang pria berdiri dengan tegap menunjukkan kewibawaan, sedangkan si wanita berdiri dengan menunduk hormat, menunjukkan rasa ketakutan.


“Apa kamu bisa saya percaya?” tanya Hadian.


“Apa maksud, Bapak? Apa yang bisa saya lakukan?”


Ruangan kerja Hadian, adalah ruangan yang banyak menyimpan berkas penting dan, bersifat rahasia juga beberapa benda pribadi miliknya. Tidak sembarang orang bisa memasuki dan membersihkan tempat itu kecuali, beberapa orang tertentu. Akan tetapi salah seorang yang biasa dia percaya untuk membersihkannya, beberapa hari lalu meninggal dunia. Dia adalah seorang cleaning service senior yang sudah sangat lama bekerja pada dirinya.


Sudah hampir seminggu tempat itu tidak dibersihkan dan dia belum menemukan seseorang yang bisa dia percaya sehingga malam ini, dia melihat Nadia satu-satunya dia memang belum pernah melihatnya, salah satu cleaning service yang menutup auratnya.


Setelah Hadian menjelaskan semuanya, dia kembali bertanya, “Saya tanya sama kamu sekali lagi apa kamu bisa saya percaya.?”


Nadia tetap diam dan mantap seluruh isi kantor dengan saksama.


Hadian melanjutkan, “Kalau kamu sanggup, kerjaan kamu akan saya lihat selama satu bulan ke depan, bersihkan tempat ini sepekan dua kali saja, setiap kali kamu akan membersihkannya kamu harus laporan kepada saya, tempat ini tidak boleh dibersihkan sembarangan dan, harus malam hari ketika para pegawai kantor sudah pada pulang, apa kamu mengerti?”


“Baik, Pak. Insya Allah saya akan menjaga amanah bapak sebaik-baiknya.”


Setelah Nadia berkata seperti itu Hadian meminta nomor ponsel Nadia dan mereka pun bertukar nomor ponsel yang berguna untuk saling memberi kabar apabila Nadia akan membersihkan ruangan.


Hadian menunjukkan tempat rahasia yang tersembunyi di belakang rak buku besar yang ada di sana. Pre itu berjanji akan memberi tips kepada Nadia apabila dia mengerjakan tugas tanpa kurang sedikitpun juga serta tidak merusak barang yang ada.

__ADS_1


Malam ini Nadia bekerja membersihkan semuanya di bawah pengawasan Hadian sendiri, sampai selesai dan hal itu memakan waktu yang cukup lama.


Banyak sekali berkas-berkas penting di dalam sana dan itu sudah cukup berdebu mengingat sudah seminggu tempat itu tidak dibersihkan.


Selain itu ada benda-benda kenangan dengan berbagai macam dan warna dari berbagai perusahaan lain dan juga beberapa penghargaan yang bersifat sangat pribadi dan juga terbuat dari bahan yang langka membuat orang yang membersihkan  harus sangat berhati-hati.


Bahkan tubuh Nadia sudah berkeringat dua kali lebih banyak dari biasanya. Tentu saja hari ini dia lebih lelah dari hari sebelumnya.


Pekerjaan Nadia selesai sudah pada akhirnya dan dia sangat senang karena tips yang diberikan Hadian padanya lumayan besar. Apabila dia berhemat maka, dia bisa mengirimi ibunya uang, hanya dengan tips yang diberikan oleh pimpinannya itu.


Selama masa training satu bulan membersihkan ruangan bosnya, Nadia tetap harus bekerja di bawah pengawasannya. Akan tetapi, bila dia sudah berhasil lulus maka, dia bebas membersihkan ruangan itu tanpa pengawasan dan, Hadian akan memberikan kode kunci ruangan kepadanya.


Ini luar biasa. Nadia memang hanya seorang cleaning servis tapi, siapa menyangka kalau dia mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari pimpinan perusahaannya. Bukankah itu artinya pimpinan perusahaan itu, mempercayainya seperti percaya kepada asisten pribadinya ataupun orang-orang terdekatnya?


Nadia terlihat girang bahkan, ketika dia memesan taksi untuk sampai ke depan rumah kosnya. Dia terus saja tersenyum-senyum sendiri menghitung berapa jumlah tips yang akan dia dapatkan setiap kali dia membersihkan ruangan.


 


 


Di akhir pekan, Nadia memasak sendiri dengan peralatan sederhana yang dia beli hari ini di pasar. Dia memasak laksa yaitu sayur yang dibuat dari bahan tauge dicampur dengan daun kemangi dan oncom lalu, diberi kuah santan kental. Ibunya dulu sangat suka memasak seperti ini. Dia menikmatinya dengan nasi, kerupuk, sedikit sambal dan lalap mentimun.


Ini adalah pengalaman pertamanya memasak sendiri di tempat kos hari-hari biasanya, Nadia selalu makan di warung atau membeli dengan take away dan dimakan di kamarnya seorang diri.


Baru saja dia hendak makan, saat dia melihat Zan yang berjalan mondar mandir dari arah pintunya yang terbuka. Rasa penasaran, membuat Nadia keluar dan melihat dengan jelas wajah pria itu panik sambil meringis menahan sakit.


“Kamu, kenapa?” tanya Nadia.

__ADS_1


“Sakit perut!” jawab Zan ketus.


“Oh, sudah diobati?”


“Cerewet! Tanya melulu, jawabnya Cuma oh, doang. Kamu punya obatnya nggak?”


“Nggak!”


“Tuh, kan! Udah dijawab capek-capek ... tapi, jawabnya nggak punya obat, buat apa coba tanya-tanya segala, makanya, jadi perempuan itu jangan cerewet!”


“Kamu itu yang aneh, cowok tapi bawel!”


“Sudah, banyak omong kamu, bikin aku tambah sakit perut aja, mending kalo punya obatnya!”


“Perutmu udah dikasih makan belum? Siapa tahu belum makan, makanya sakit.” Nadia berkata untuk memberi solusi.


“Memangnya kamu punya makanan, kamu nawarin aku makan atau kamu mau ngajak aku makan, kok, tanya-tanya aku udah makan apa belum, apa urusan kamu?”


Nadia stok kesabarannya masih banyak sehingga dia tidak harus melempar sendal, ke arah laki-laki yang sedang berbicara ngawur, seolah menganggap dirinya wanita yang tidak peduli dan tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa memberikan sesuatu kepada Zan.


“Ayo! Aku punya nasi, kalau kamu mau.”


“Cuma nasi doang? Kalau itu mah aku juga punya. Heh! Nasi doang, apa enaknya?”


“Ya sudah kalau kamu nggak mau!” Nadia berkata sambil melangkah untuk menutup pintu.


“Tunggu!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2