
Hati Sedalam Samudra
“Masa Nona nggak tahu, sih?” Suti heran mengapa Nadia bertanya seperti itu padanya, sebab seharusnya Nadia lebih tahu ketimbang dirinya.
Nadia menggeleng mantap.
Dengan penuh keyakinan, Suti berkata, “Itu, baju Nona yang dipilih Den Zan buat Nona. Masih nggak percaya?”
Nadia mengangguk.
“Non, percaya sama saya, Den Zan belum pernah seperti ini sebelumnya sama perempuan lain! Memang banyak yang suka sama dia, tapi kebanyakan orang yang salah!”
“Maksudnya?”
“Ya, para perempuan itu menyangka Den Zan itu Den Arfan. Jadi, dia mengira kalau tidak ada yang menyukainya hanya karena dia bukan anak kandung Nyonya Imma. Dia baik dan ramah, sedikit usil, sih, kalau banyak perempuan tapi, tidak pernah spesial seperti sekarang.”
Nadia kembali mengangguk, sebab seperti itu memang selama ini Fauzan pada dirinya. Ramah, usil, dan sedikit sombong. Menyebalkan! Akan tetapi, itulah sifat aslinya dan dia tidak menutupinya, dia bersikap apa adanya.
Nadia heran dengan ucapan Suti, sebab setahu dia Fauzan adalah pria pemain wanita sesuai penuturan Imma, Fatima dan juga Ella. Ketiga wanita itu mengatakan hal yang sama jika Fauzan adalah seorang yang, suka bergonta ganti pasangan dan memiliki banyak kekasih.
Hanya Suti saja yang mengatakan jika Fauzan adalah pria yang berbeda. Kalau memang demikian, apa alasannya Fauzan menutup wajah serta menyembunyikan identitasnya sebagai anak dari keturunan Hadian?
“Masa sih, Bi? Bukannya Pak Fauzan itu play boy, ya?”
“Kata siapa, Non? Jangan bilang Nona nggak mau jadi pacar Den Zan karena tahunya dia play boy?”
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Suti jika alasan Nadia tidak menerima Fauzan dengan segala perasaannya itu karena dia seorang pemain.
Dia sudah kapok saat mencintai Antoni dulu, bagaimana tidak, dia sudah menunggu pria itu hampir enam tahun lamanya, tapi, dia tetap mencintainya. Namun, yang dia dapatkan dari penyanyi selama itu adalah pengkhianatan dan rasa malu yang mungkin harus ia pikul seumur hidup.
Walau akhirnya mereka bertemu dan kemudian terjadi lamaran, tapi mereka tidak jadi menikah karena ternyata, Antoni pria payah yang menyembunyikan hubungan lain di belakangnya. Tidak! Dia tidak akan menjadi korban lagi untuk yang kedua kali.
Sudah saatnya Nadia berpikir untuk mulai menata hati demi masa depannya. Dia tidak akan melajang seumur hidup meskipun, dia ingin. Tapi agama melarang seseorang menjauhi pernikahan.
__ADS_1
Pernikahan adalah sunah, menjaganya dan mempertahankannya adalah ibadah, dan mencintai pasangan seperti mencintai dirinya sendiri dengan memenuhi semua kebutuhan serta memberinya nafkah adalah wajib, bagi seorang laki-laki.
*****
Keesokan harinya, Nadia baru saja selesai membuat sarapan dengan Suti di dapur, dua wanita itu memasak dan membersihkan ruangan sambil membicarakan banyak hal. Keakraban terjalin begitu cepat, mengingat mereka hanya tinggal berdua.
Baru saja mereka menikmati hasil masakan di meja makan, terdengar suara ketukan keras di pintu. Namun, belum sempat Suti membukanya, seorang pria sudah berhasil memasukinya begitu saja. Siapa lagi yang bisa berbuat seperti itu kalau bukan si pemilik rumah, yaitu Fauzan.
Sejak mulai melangkah dari pintu, sampai dia mendekati meja makan, tatapan matanya tak lepas dari Nadia. Sorot mata sipit itu entah menyiratkan apa, tapi, begitu dalam, seolah menunjukkan hatinya yang sedalam samudera.
Bukankah mata adalah jendela hati dan jembatan terpanjang menuju lautan perasaan manusia? Jarak antara mata dan dada di mana jantung berada memang dekat, tapi, jembatan yang harus dilalui menuju arti sebuah rasa yang terpancar melalui mata, merupakan jembatan terjauh di dunia.
Fauzan duduk di kursi yang tadi di duduki Suti, tepat di hadapan Nadia, membuat perempuan itu segera menarik piringnya dan mengganti dengan piring bersih.
“Den Zan, pasti belum sarapan, kan?” tanya Suti, sambil mengambilkan nasi goreng buatan Nadia di piringnya.
Nadia menjadi serba salah menghadapi tatapan mata Fauzan yang sedemikian lekat, padanya. Dia memang belum mandi dan mungkin penampilannya acak-acakan, pikirnya.
Namun, sejenak kemudian perempuan itu menyadari sesuatu, yang membuatnya menghentikan suapan ke mulutnya secara tiba-tiba.
Gadis itu segera berdiri dengan kikuk dan berlari ke arah kamar untuk mengambil kerudungnya. Dia baru menyadari kenapa Fauzan menatapnya begitu terpenah karena dia tidak menutupi auratnya, sungguh dia lupa. Lagi pula tidak terpikirkan oleh Nadia sebelumnya jika Fauzan akan datang sepagi itu dan duduk di hadapannya.
Tentu saja pemandangan indah yang ada di hadapan lelaki itu membuatnya susah memalingkan muka. Nadia tampak begitu alami walau hanya mengikat rambutnya secara asal dan masih memakai piama tidur.
Fauzan pikir, Nadia memang sengaja melakukannya hingga pria itu tidak menegur dan membiarkannya.
“Habiskan, makananmu!” kata Fauzan, saat akhirnya Nadia keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi.
Gadis itu duduk kembali di kursinya semula, dia tidak berani menatap Fauzan dan hanya menunduk sambil menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit lagi.
Sementara Fauzan sudah selesai makan, dia berkata sambil menyimpan sendoknya, “Apa obatmu sudah kamu minum semalam?”
__ADS_1
“Ya.” Nadia mengangguk sambil melirik obat di meja yang disediakan Suti dekat gelas minumnya.
Nadia tahu, obat dan suplemen itu sengaja Fauzan beli untuk dirinya. Memang Nadia tidak membawa obat-obatan saat dia diculik Fauzan sampai di kota. Sebenarnya menyebalkan, tapi, dia tetap tidak berdaya untuk menghindar dari keinginan pria itu padanya.
“Kalau sudah minum obat, kita ke rumah sakit lagi, Mama mau kamu ke sana pagi ini.”
“Buat apa, Pak? Kan saya bukan bagian dari keluarga Bapak. Lagi pula Kakak Anda itu sudah sadar.”
Betapa terlukanya hati Fauzan sebenarnya, saat mendengar Nadia bicara. Seandainya saja dia bisa menolak kehendak Imma, mungkin dia akan menyetujui ucapan gadis di hadapannya.
Dia memang tidak menginginkan Nadia kembali ke bangsal rumah sakit itu karena memang tidak memiliki sangkut paut sama sekali. Apalagi saat ini Ella ada di sana sudah sejak tadi malam.
Keberadaan dua wanita itu dalam satu ruangan mungkin akan menambah runyam keadaan yang bukan lebih baik tapi justru bisa lebih buruk dari sekarang.
“Aku juga tidak tahu. Maaf, sudah melibatkanmu, ya?”
Nadia terperangah mendengar ucapan Fauzan yang kembali mengucqpkan kata maaf. Eentah sudah ke sekian kalinya pria itu mengatakannya, hal ini membuat Nadia sedikit menilainya berbeda. Ternyata dia memiliki sikap lembut yang tersembunyi jika sudah berkaitan dengan ibunya.
Nadia tahu jika pria itu tidak menyukai permintaan Imma dan Fatimah dengan perjodohan Nadia dan Arfan, tapi sebagai anak yang menyadari posisi dan hormat kepada orang tua membuatnya mengesampingkan perasaannya pada dirinya.
Kemungkinan Fauzan tidak bisa jika harus menyakiti Imma dan lebih baik membiarkan dirinya sendiri terluka. Walaupun, baru kali ini dia merasakan gejolak hati yang luar biasa pada seorang gadis. Akan tetapi, dengan berat hati pula dia harus merelakannya jika Imma tidak menyetujuinya.
Apakah itu artinya dia pria lemah yang melepaskan cintanya begitu saja? Tidak, justru dia lelaki kuat yang sesungguhnya, lebih mengutamakan kebahagiaan orang tua ketimbang dirinya sendiri.
Gadis itu tersenyum menanggapinya dan kembali berkata, “Baiklah kalau begitu, aku mau mandi dulu, tunggu ya?”
Fauzan mengangguk, sementara menunggu Nadia berbenah diri, Fauzan menyibukkan diri dengan ponselnya.
Suti melihat bagaimana interaksi dari kedua manusia berlawanan jenis itu berkomunikasi, dan membuatnya heran sebab dia melihat perubahan yang besar pada diri Fauzan. Pria itu biasanya selalu bersikap ceria, ramah, dan seenaknya. Akan tetapi sekarang, laki-laki itu begitu pendiam dan acuh tak acuh pada sekelilingnya.
Wanita paruh baya itu melanjutkan pekerjaannya membereskan meja makan saat Fauzan duduk di sofa depan televisi yang dibiarkan mati, sambil memainkan ponselnya. Dia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan majikannya.
Setelah beberapa waktu berlalu, terasa begitu lama dan saat itu Fauzan berharap Nadia berada di kamar lebih lama, tidak masalah baginya selama wanita itu tidak segera ke rumah sakit untuk menemui ibu, ayah dan juga kakaknya. Ini menyakitkan, bagaimana dia kuat melihat wanita yang dicintainya akan dijodohkan dengan kakaknya sendiri?
__ADS_1
Bersambung