
Kamu Ketahuan
Kedua orang yang tengah berbincang itu tampak diam sejenak, masing-masing berpikir bahwa lawan bicara mereka sama-sama menyebalkan.
“Pikir aja sendiri!” Kata Nadia kemudian. Setelah berkat, gadis itu tidak menatap Fauzan lagi dan dia mencoba untuk bangkit.
Fauzan melihat hal itu tapi, tidak melakukan apa pun karena perasaannya masih kesal dengan tuduhan Nadia, yang mengatakan bahwa dirinya tidak punya hati. Laki-laki itu berpikir bahwa dia sudah banyak melakukan hal untuk Nadia, termasuk menemaninya dan juga memberikan kamar perawatan VIP . Akan tetapi, dia tidak tahu apa yang menyebabkan perempuan itu tiba-tiba bersikap ketus padanya.
“Gimana kalau aku tidak bisa berpikir?” kata Fauzan sambil membantu Nadia bangkit. Akhirnya dia memiliki rasa kasihan juga melihat perempuan itu beranjak dengan susah payah.
“Ya. Kamu memang menurutku orang yang nggak punya empati!” Nadia berkata, sambil mendengus kasar, setelah dia berhasil duduk.
“Kamu ini, aku sudah bantu kamu seperti ini tapi, masih aja kamu bilang aku nggak punya empati, nggak punya hati lalu, aku nggak punya apa lagi?” kata Fauzan sambil terus membantu Nadia yang hendak pergi ke kamar mandi.
“Sudah sana pergi aku bisa sendiri!” Nadia berkata sambil mendorong dada pemuda itu dengan tangan kanannya hingga menjauh dari dirinya dan berjalan berjalan secara perlahan memasuki toilet.
“Kenapa si, kok kamu tiba-tiba berubah begini, Nad? Ngomong kalau memang aku salah!” teriak Fauzan saat Nadia tengah melakukan keperluannya di dalam, sementara Fauzan berdiri dan menunggu di luar pintu kamar mandi.
Rupanya pria itu tidak bisa menerima bila orang lain bersikap kasar padanya, padahal dia sendiri lebih sering berbuat ketus pula. Seperti kebanyakan manusia yang sering berbuat zolim dan buruk pada orang lain sedangkan, dia sendiri tidak mau jika orang lain berbuat hal yang sama dengan dirinya.
Nadia diam, cukup lama dia di sana, sebab membuang hajat dan membersihkan beberapa area tubuh tertentu hanya dengan satu tangan sangat sulit. Setelah dia selesai dia kembali melangkah dengan perlahan menuju tempat tidur.
Dia tidak ada masalah dengan kakinya, hanya saja tetap tidak bisa bergerak dengan cepat yang sempurna. Biar bagaimanapun juga kaki, pinggang dan punggung serta seluruh bagian badannya tetap saling berhubungan, apabila dia menggerakkan kaki dengan cepat atau bergerak Semaunya maka, tubuh, terutama punggungnya yang terluka akan terasa sakit.
Aktivis yang lain pun tetap bisa dilakukan walau, tidak bisa semuanya karena tangan kanannya hanya terluka sebagian tidak seperti tangan kiri yang terluka secara seluruhnya.
Kini mereka saling berhadapan dan Nadia menatap tajam ke arah pria yang masih setia dengan menggunakan masker dan kacamata hitamnya ini. Ditatap seperti itu, membuat Fauzan merinding, dia seperti seorang tentara yang kalah dan tertangkap serta dilucuti seluruh senjatanya di medan pertempuran oleh pihak lawan.
__ADS_1
‘Memangnya mau sampai kapan dia menutupi identitas aslinya dariku?’ pikir Nadia dengan wajah serius, alisnya naik dan sinar matanya berubah lebih tajam tepat di wajah Fauzan seolah bisa menembus ke balik kacamata yang berwarna hitam.
Nadia sudah berpikir cukup keras saat dia berada di dalam, ingin sekali dia memastikan bahwa Fauzan adalah orang yang dia kenal. Akan tetapi, Gadis itu juga tahu bahwa, semua orang pasti punya alasan untuk berbuat sesuatu, termasuk menutup diri atas identitas asli. Apalagi, Fauzan sudah berbuat begitu banyak untuk dirinya. Kemungkinan dia akan malu bila Nadia menguak semuanya saat ini juga.
‘Ya. Mungkin belum waktunya, akan aku tunggu sikapnya akan seperti apa?’ batin Nadia lagi.
“Nggak, kamu nggak salah ... aku saja yang sensi, maaf ya,” kata Nadia.
“Yang benar? Aku suka kok sama orang jujur.” Zan berusaha meyakinkan Nadia, agar berkata jujur tentang kesalahan dirinya atau keinginannya.
“Kamu nggak marah kalau aku salahkan karena kamu salah ngasih aku pekerjaan padahal, waktu itu kita sudah kenal? Apa kamu sengaja ngerjain aku?”
“Nggak! Aku nggak kenal sama kamu waktu itu, aku juga nggak mau ngerjain perempuan secantik kamu!”
Mendengar ucapan Fauzan, hati Nadia seperti digelitiki, seolah ada kupu-kupu di dalamnya yang hinggap lalu membelai dengan sayapnya. Dia tidak percaya jika Fauzan baru saja memujinya.
“Kamu seharusnya tahu kalau ada seorang atasan salah menempatkan pegawainya itu, menggelikan sekali.”
Sikapnya yang lucu menurut Nadia adalah sengaja memberinya pekerjaan yang salah, padahal dia tahu bahwa Nadia adalah seorang sarjana, mereka sudah berkenalan sebelumnya. Akan tetapi, justru memperkerjakannya sebagai cleaning servis di kantornya sendiri. Apa itu namanya kalau bukan menggelikan? Apa itu bukan mengerjai? Nadia merasa kesal sekali.
“Ah, tidak ada... lupakan saja,” Nadia berkata sambil kembali beranjak naik ke tepat tidurnya. Dia nampak kesulitan untuk melakukannya, dia harus berusaha dengan susah payah. Tiba-tiba Fauzan mengangkat tubuhnya dengan perlahan dan membaringkan cukup hati-hati dan penuh kelembutan menyelimutinya kembali.
“Lalu, kamu mau menuntutku, nanti? Atau kamu ingin berhenti dari pekerjaan cleaning servis itu? Aku akan bilang nanti sama Ayah,” kata Fauzan setelah Nadia kembali berbaring dengan posisi yang nyaman.
“Terima kasih,” kata Nadia lirih, dia tidak menjawab ucapan Fauzan, tapi justru matanya dia pejamkan.
“Nad, Nadia! Nadia ....!” kata Fauzan sebelum goyang-goyangkan kakinya seolah-olah tengah membangunkan Nadia yang sedang tidur.
“Hmm ....” sahut Nadia perlahan dengan gumaman sementara matanya masih terpejam.
__ADS_1
“Kamu mau kerja di bagian apa memangnya?” tanya Fauzan dengan wajah yang serius.
“Aku mau berhenti saja. Aku mau mengundurkan diri dari pekerjaan di kantormu itu.”
“Kenapa?” Fauzan bertanya dengan panik.
Nadia berpikir bahwa penyakit yang dia alami akibat kecelakaan itu, membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Tidak mungkin bisa dalam satu ataupun dua bulan pemulihan tulang yang patah bisa berjalan sempurna, sebab biasanya minimal waktu yang dibutuhkan tidak kurang dari lima bulan. Bahkan tidak bisa ditentukan waktunya karena bagian tulang selangkanya retak begitu juga dengan tulang rusuknya dinyatakan mengalami keretakan meski tidak seluruhnya.
Pertumbuhan sel tulang, bila terluka membutuhkan waktu untuk masa penyembuhannya sebab, tulang adalah salah satu organ pada tubuh manusia selain syaraf, yang apabila terluka maka, akan membutuhkan pemulihan paling lama. Lalu, mana ada perusahaan yang mau memperkerjakan kembali karyawan mereka setelah sekian lama berhenti bekerja?
Apalagi kecelakaan yang terjadi, bukan karena perusahaan tempat dia bekerja, melainkan akibat kecerobohan pihak pengembang gedung sebelah yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kantor di mana Nadia bekerja.
“Itu yang terbaik, tidak mungkin pegawai yang sudah lama tidak bekerja karena sakit akan kembali bekerja ... apalagi aku kan pegawai baru. Jadi, lebih baik berhenti saja.” Kata Nadia sungguh-sungguh.
“Tapi, kamu beda, Nadia.”
“Apa bedanya?”
“Itu ....”
Bersambung
__ADS_1