AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 40 Jadilah Muhrimku


__ADS_3

Jadilah Muhrimku


 


Nadia berjalan ke arah pintu, setelah selesai bicara, tanpa menoleh lagi pada Imma, sedangkan wanita itu hanya meliriknya lalu, kembali melihat pada anak lelakinya yang kembali memejamkan mata.


“Nak, apa kamu mendengar Mama?” Tanya Imma sambil mengusap lembut kepala Arfan lembut.


Nadia melirik, ingin melihat reaksi pria itu seperti apa pada ibunya. Akan tetapi pria itu kembali seperti semula, diam dan tak merespon permintaan Imma. Tiba-tiba gadis itu menjadi gemas, dia memijit ibu jari kaki Arfan dengan kuat, di mana pada hari itu terdapat syaraf yang langsung menuju ke kepala.


“Bangun, Tuan Arfan, kamu harus menuruti perintah Ibu Anda! Ingat kita di perintahkan untuk berbakti pada Ibu, kan?”


Tanpa di duga, Prie yang tergolek lemah di atas pembaringan itu membuka mata dan bibirnya, melihat ke arah Imma dan Nadia. Bahkan, kini kedua matanya terbuka sempurna.


“Apa Anda butuh minum?” Nadia mengerti isyarat lemah bibir yang kering milik Arfan, gadis itu segera memberi air mineral menggunakan sedotan sisanya semalam. Lalu membasahi bibir pria itu dengan air dengan ujung jarinya, membuat Imma melotot.


“Air apa yang kamu berikan padanya?” tanya Imma menahan tangan Nadia dari bibir Arfan yang kering.


“Air sisa minum saya, Nyonya!”


“Apa?” Imma terdengar frustrasi karena anak kesayangan diberi air minum sisa orang yang baru saja di kenal.


“Maaf, Nyonya, karena tidak ada persediaan air, hanya air minum saya sisa tadi malam yang ada, sedangkan Tuan kehausan apalagi bibirnya kering, saya mohon maaf,” kata Nadia penuh permohonan walaupun, yang dia lakukan tidak salah, dia hanya melakukan yang dia bisa. Apalagi ini keadaan darurat.


Selama ini pasien tidak sadarkan diri hingga pihak keluarga dan orang yang menengok tidak pernah menyediakan air minum untuk pasien kecuali untuk diri mereka sendiri. Akhirnya Imma dengan terpaksa memaklumi.


“Mmama... “ Lirih Arfan. Suaranya serak dan lemah sekali hingga Imma harus mendekatkan telinganya.


“Iya, Sayang ... Mama di sini.” Imma berkata sambil mengecup kening anaknya, tak terasa air mata menetes di wajahnya, dia  begitu bahagia karena Arfan sudah sadar setelah berbulan-bulan lamanya. Nadia pun meneteskan air mata haru, melihat pemandangan itu.


“Mama bersyukur, kamu sudah sadar dan ingat sama Mama, kamu tidak amnesia! Alhamdulillah!”


Nadia tidak bermaksud mengganggu suasana intim antara ibu dan anak itu, dia berniat keluar dan sekaligus kabur. Dengan langkah perlahan dan hati-hati dia menuju pintu, menutupnya tapi tidak rapat, lalu segera bergegas.


Baru saja dia berjalan beberapa langkah menuju lift, seseorang sudah menghentikannya, dari arah koridor yang lain, orang itu berteriak cukup keras, memanggilnya. Sepertinya orang itu menangkap gelagat yang mencurigakan dari Nadia karena gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gusar.


“Kamu mau ke mana? Hah!” kata Fauzan sambil memegang tangan Nadia yang sebelah kiri membuat Nadia secara spontan meringis kesakitan, bibirnya reflek berteriak.


“Ahk!”

__ADS_1


Seketika Fauzan melepaskan tangannya dan mengatupkan ya di depan dadanya seraya memohon maaf.


“Maaf, maaf, aku lupa. Kamu mau ke mana?”


“Bukan urusanmu!”


“Itu, urusanku, Nadia! Aku yang bawa kamu ke sini!”


“Ya, sudah, biarkan aku pulang sekarang, Pak!”


“Jangan panggil aku, Pak! Sikapmu ini nggak pantas kalo manggil aku Bapak tapi, nggak sopan.”


“Masa?”


“Ayo! Ikut aku!” Fauzan berjalan sambil menarik tas yang ada di tangan Nadia.


Sementara Jali yang dari tadi bersama dengan Fauzan, hanya diam dan tetap berdiri tegap di dekat Fauzan seperti siap siaga menerima perintah selanjutnya.


“Mau di bawa ke mana lagi, aku? Zan! Aku mau pulang!” Nadia mengikuti langkah kaki Fauzan dengan malas, mereka berdua seperti tarik menarik tas.


“Maaf, Tuan, Nona ...!” akhirnya Jali bicara karena tidak enak melihat pemandangan yang lucu di hadapannya.


“Wah, kalian. Kompak sekali!” kata pria itu sambil tertawa kecil. “Jadi, begini Nona. Tuan Zan sudah menyiapkan pakaian dan juga apartemen untuk Nona tinggal di sini, maafkan Tuan yang tidak memberitahu Nona lebih dulu, sekarang Tuan mau mengajak Nona ke sana, biar Nona bisa mandi dan istirahat. Silakan!”


Setelah selesai berkata, Jali mengulurkan tangan agar Nadia melanjutkan langkahnya. Tentu saja ucapan Jali membuatnya tercengang, tidak percaya jika Fauzan selama tidak muncul ternyata dia menyiapkan apartemen untuk dirinya, tapi, untuk apa? Dia hanya ingin pulang.


“Untuk apa kamu menyiapkan itu, tidak perlu ... Aku Cuma mau pulang.”


“Ya, anggap saja itu rumahmu! Setidak-tidaknya tinggallah di sana sampai tanganmu benar-benar pulih, baru setelah itu pulang, dan jangan coba-coba kabur lagi!”


Fauzan berkata sambil melirik Jali kesal, seolah tatapan matanya itu mengancam karena sudah membocorkan rahasia kejutan untuk Nadia.


Sementara Jali beranggapan bahwa akan lebih baik mengatakan secara jujur, mengingat penolakan Nadia terhadap keinginan Fauzan. Seandainya di bicarakan baik-baik tentu hasilnya akan berbeda. Seperti sekarang Nadia terlihat lebih tenang, meskipun dia tetap tidak setuju untuk tinggal di apartemen Fauzan.


“Mau kabur ke mana, aku nggak punya uang untuk pulang, kerja apa pun nggak bisa karena tanganku sakit!” Nadia berkata dengan kesal, kalau saja boleh, dia akan mengumpat seenaknya pada pria yang juga bersikap seenaknya itu.


“Makanya, kita tinggal di apartemen, ya?” Fauzan berkata dengan lembut.


“Aku nggak mau tinggal sama kamu, Zan! Kita bukan muhrim!”

__ADS_1


“Ya, sudah ... kalau begitu, kita menikah, biar jadi muhrim!”


“Siapa yang mau menikah sama kamu, Zan?” kata Nadia sambil berlalu.


“Aku!” kata Fauzan mengikuti langkah kaki Nadia.


“Tapi, aku nggak! Eh, iya, ngomong-ngomong, Kakakmu sudah sadar, kamu nggak mau lihat?” Nadia berkata seperti itu untuk mengalihkan perhatian Fauzan agar dia bisa segera pergi.


“Aku tahu!”


“Zan!” tiba-tiba terdengar suara dari depan alift yang baru saja terbuka. Tampak seorang wanita berjalan mendekati mereka sambil membawa bungkusan.


“Mau ke mana kalian! Jangan bawa Nadia ke mana-mana!” kata wanita itu sambil berjalan, dia tidak lain adalah Fatima.


“Bude? Kenapa aku nggak boleh bawa Nadia? Dia temanku!” tanya Zan heran.


Fatima segera meraih tangan kanan Nadia, dia tahu kalau tangan kiri Nadia sakit karena mereka mengobrol dengan akrab, beberapa waktu lalu saat menemani Arfan. Nadia sudah banyak bercerita pada Fatima tentang dirinya, begitu pula sebaliknya Fatima banyak bercerita tentang dirinya juga Arfan, keponakannya.


“Ayo! Makan siang, dulu. Bude bawain makanan enak buat kamu!” kata wanita itu sambil mengangkat bingkisan kotak besar di tangannya.


Fatima datang dari pagi tadi, hingga dia tahu jika Nadia belum makan dan dia membawakannya sekaligus sebagai ucapan terima kasih padanya.


Sementara Fauzan hanya bengong tak berdaya, dia heran bagaimana bisa dia wanita itu bisa tampak akrab begitu saja. Dia menduga jika tidak mungkin Nadia bisa dengan cepat akrab pada Budenya yang terkenal jutek dan cuek.


 Sebenarnya Fauzan juga sudah menyiapkan makan siang berdua di apartemen dengan Nadia. Dari semalam dia bekerja keras mengerahkan beberapa orang kepercayaannya untuk membersihkan apartemen lama, menggantikan beberapa perabot rumah tangga, menyiapkan pakaian dan makanan lainnya. Akan tetapi, Kini semua rencana yang sudah dia susun rapi, gagal seketika.


Akhirnya Fauzan hanya bisa kembali ke bangsal perawatan kakaknya dengan terpaksa, dia bukannya tidak peduli pada saudara tirinya, tapi, dia sudah yakin jika suatu saat Arfan pasti sadar, itu hanya soal waktu.


Pria itu berhenti sejenak, menyisir rambutnya kasar dengan jari tangan sebelum masuk ke ruangan, lalu, melirik Jali dengan ketus, menyalahkan pria yang sama sekali tidak bersalah. Asisten pribadinya itu tahu jika Fauzan hanya melampiaskan kekesalannya pada keadaan karena semua rencananya gagal.


Setelah Fauzan berhasil mengkondisikan perasaan kesalnya pada Fatimah, barulah dia melangkah lebih dekat ke arah pintu. Dia berdiri di sana dan apa yang di dengarnya saat pintu itu terbuka, sangat membuatnya terkejut.


“Jadi, bagaimana, kamu setuju, kan, kalau Bude jodohkan kamu sama Nadia?” Fatima berkata sambil memegang tangan Arfan yang masih lemas.


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2