
Tidak Mungkin
Nadia menoleh sebentar demi mendengar Anthony yang menyapanya kemudian mengangguk pelan menunjukkan kesopanan seolah-olah mereka orang yang tidak saling mengenal, lalu, tersenyum ramah.
Melihat senyum Nadia itu, tiba-tiba saja hati Anthony seperti dipukuli berulang kali. Sakit rasanya melihat orang yang dicintai sudah tidak peduli bahkan menganggapnya sebagai orang yang tidak pernah kenal sama sekali.
Kalau saja dia tidak ingat di mana berada, mungkin dia sudah menitikkan air mata, ketika melihat gadis itu menghilang dari balik pintu mobil lalu, kendaraan pun bergerak menjauhinya, meninggalkan semua luka dan dirinya dalam keadaan hampa.
Banyak pertanyaan yang ada di kepala lenyap begitu saja ditelan rasa kecewa. Ya, kecewa pada sendiri yang akhirnya justru membuatnya begitu tak berarti.
Keluarga kecil itu pergi ke kampung halaman menggunakan mobil travel yang dipesan melalui ponsel milik Maulana. Saat mobil yang ditumpangi melewati rumah kontrakan, mereka berpapasan dengan sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di luar area tempat kostnya.
Nadia merasa heran karena selama dia berada di sana belum pernah melihat mobil itu sebelumnya. Memang, tidak ada tempat untuk parkir mobil di area itu karena jalan masuknya tidak bisa dilalui kendaraan beroda empat. Kebanyakan penghuni kost menggunakan motor ataupun sepeda jika keluar rumah. Seperti dirinya, yang hanya berjalan kaki kemudian naik kendaraan umum, untuk pergi dan pulang dari tempatnya bekerja.
Ada rasa penasaran di hati Nadia ketika mobil itu terbuka dan ingin melihat siapa yang keluar, dari dalamnya tetapi di menoleh karena Ibunya memanggil di saat yang bersamaan, dengan seorang pria yang tampan dan terlihat ramah membuka pintu kendaraan mewahnya lalu, berjalan ke tempat kost.
“Nad, ada yang jualan apa itu?” tanya Salimah sambil menunjuk ke arah sebuah toko oleh-oleh khas Surabaya yang tengah dibuka. Toko itu memang terletak di jalan samping menuju tempat kost-nya.
“Oh, itu toko oleh-oleh apa Ibu mau beli?” tanya Nadia.
“Boleh juga ... Ayo!”
Nadia memerintahkan sang sopir untuk berhenti sebentar di depan toko oleh-oleh yang diinginkan ibunya. Mereka turun secara perlahan lalu masuk ke dalam toko dan memilih beberapa makanan yang mereka pikir enak.
Salima membeli dalam jumlah banyak dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk dibagikan kepada tetangga kiri kanan rumah, serta saudara. Mengingat mereka pergi cukup lama meninggalkan desa, sedikit oleh-oleh mungkin akan membuat orang lain senang, yang sama nilainya dengan bersedekah.
Setelah cukup puas berbelanja akhirnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di kampung halaman.
*****
Sementara itu di tempat yang berbeda. Tampak kedua orang pria bercakap-cakap di sebuah rumah kost dengan santai seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi. Mereka berdua adalah dua orang sahabat yang terpisah cukup jauh dan lama setelah mereka lulus dari kampus yang sama, lalu sama-sama merintis usahanya masing-masing.
__ADS_1
Mereka berencana mengadakan reuni nanti malam bersama teman-teman yang lainnya akan tetapi hari ini Zan, salah satu dari kedua orang itu meminta Antoni untuk datang karena ada hal yang ingin mereka bicarakan.
Pernah suatu ketika Zan meminta seseorang untuk menyelidiki latar belakang kehidupan Nadia begitu juga masa lalunya. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa gadis itu pernah gagal menikah karena teman yang ada di hadapannya ini.
Setahu Zan, Antoni adalah seorang pria yang baik dan bekerja keras, dia merantau ke daerah, yang belum memiliki usaha seperti yang dia rintis saat ini sehingga usahanya itu menjadi besar. Bahkan dia mendengar bahwa Antoni membangun sebuah sekolah yang cukup bagus di kawasan itu. Namun, dia tidak tahu bagaimana dia akhirnya meneruskan hidup. Lalu, dia mendengar sebuah berita dari seorang kepercayaan yang dia minta untuk menyelidiki kehidupan Nadia, bahwa Anthony telah menghancurkan seorang wanita dan itu adalah Nadia.
Zan hampir tidak percaya ketika mengetahui bahwa, Nadia hampir saja menjadi istri kedua karena Antoni sebelumnya sudah menikah dengan wanita yang dijodohkan ibunya. Temannya itu melakukan pernikahan keduanya dengan sadar, hanya karena dia bertemu kembali dengan cinta lama yang belum bisa dia lupakan sepenuhnya.
Sungguh sesuatu prinsip yang salah apabila melakukan pernikahan dua kali tanpa kejujuran di dalamnya. Dengan kata lain melakukan poligami secara sembunyi-sembunyi. Sebab seorang laki-laki sama saja akan menghancurkan harga dirinya bila bersikap demikian.
Prinsip sebuah pernikahan memang tentang harga diri tapi, harga diri tidak harus diperoleh dengan cara berpoligami. Memiliki istri lebih dari satu apabila tidak sesuai dengan kemampuan, sama saja menghancurkan martabat laki-laki di hadapan manusia, bahkan di hadapan Tuhan.
“Ceritakan bagaimana kamu menikah dengan wanita untuk yang kedua kali ....” tanya Zan pada Anthony, ketika mereka sudah selesai berbasa-basi serta bersalaman.
Mereka duduk lesehan, beralaskan karpet tipis, dengan santai di dalam sebuah rumah kost yang terletak tepat di samping rumah yang Antoni lihat tadi dimasuki oleh Nadia dan keluarganya. Saat itu Anthony berpikir mungkin bisa menanyakan sesuatu tentang Nadia kepada Zan.
“Apa kamu secara khusus datang mengundangku hanya untuk bertanya tentang ini? Ah yang benar saja, Zan!” sahut Anthony sambil memalingkan muka dan mengusap rambutnya kasar.
“Kalau soal itu bukan urusanmu ini adalah kehidupanku kalau aku bangkrut, apa kau mau menolongku dan memberikan perusahaanmu padaku?” ucapan Zaan terdengar sarkasme di telinga Anthony sehingga pria itu tersenyum miring.
“Kalau tidak mau mengatakan alasannya Jadi untuk apa aku juga menceritakan masa lalu dan pernikahanku?”
Mendengar ucapan Anthony, seketika Zan bergerak cepat mendorong tubuh temannya itu sehingga dalam posisi berbaring terlentang. Zan berada di atasnya menekan dada dan mencengkram kerah kemeja, pandangannya membara seolah ada nyala api yang menjalar di hatinya.
“Apa bener perempuan yang kamu khianati itu adalah Nadia? Dasar kurang ajar kau!”
“Apa? Apa kau kenal dengan Nadia?”
“Ya, tentu saja! Dia tinggal di sini dan aku menyukainya!”
“Apa? Kau tidak boleh menyukainya dia akan hidup sengsara bila menikah denganmu, lihat saja keadaanmu sekarang! Dasar bodoh untuk apa kau mengancamku? Itu hanya di masa lalu!”
__ADS_1
“Hanya masa lalu kau bilang?” teriak Zan, lalu ....
Buk! Tinju Zan melayang ke pipi Antoni.
“Kenapa kau memukulku? Sialan!” Antoni merkata sambil memegang pipinya.
“Kurang ajar, kau!”
Zan kembali meninju rahang Anthony keras sehingga membuat Antoni marah dia pun kembali bangkit dan membalas tinju dari Zan. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan.
Dari ucapan Anthony, Zan bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya laki-laki itu masih menyimpan rasa pada Nadia dan ini tidak boleh terjadi. Biar bagaimanapun caranya Anthony harus melupakan dan meninggalkan wanita yang sudah dikhianatinya.
Zan tidak bisa membayangkan bagaimana hancur hati Nadia saat dis tengah berbangga dengan memakai gaun pengantinnya tapi, justru seorang wanita tiba-tiba datang dan mengaku sebagai istri dari suami yang akan dinikahinya, bahkan sudah membawa seorang anak.
Tentu saja Zan marah dengan kejadian itu karena menurut orang kepercayaannya bahwa, kemungkinan Nadia menjadi trauma dengan sebuah pernikahan ataupun mengenal, serata kembali mencintai seorang laki-laki. Dia begitu merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping siapa pun. Setelah dikhianati sedalam itu.
Hal yang wajar jika Nadia kapok jatuh cinta, sehingga Zan pun mengerti mengapa sikap wanita itu begitu dingin kepada dirinya hingga membuatnya begitu frustrasi. Dia ingin sekali memiliki hati wanita itu tetapi, mengingat masa lalunya, dia menjadi sangat membenci Antoni.
“Hai! Kalian berhenti berkelahi! Kalian sudah dewasa tapi tidak bisa bicara baik-baik? Seperti anak kecil saja!” teriak seseorang sambil melerai perkelahian itu.
“Jali! Apa kamu menemukan Nadia?” tanya Zan, sambil berdiri dan menyeka darah dari sudut bibirnya.
“Jadi, kau mencari Nadia?” tanya Antoni sambil melakukan hal yang sama.
“Ya! Kenapa?” tanya Zan sinis.
“Dia baru saja dari sini, tadi!”
“Apa?”
Bersambung
__ADS_1