
Asisiten Fauzan
Wanita itu tidak mengulangi pertanyaannya, padahal, Nadia masih bingung dengan maksudnya yang meminta untuk mengulang. Jadi, sebenarnya apa yang harus dia ulangi dalam hal ini?
Nadia segera merapikan kembali selimut Arfan yang tadi sempat dia sibakkan begitu saja. Gadis itu sangat malu sudah bertingkah begitu memalukan, marah dan kesal sebagai ungkapan kecewa pada dirinya sendiri, tapi dia lampiaskan pada orang yang tidak punya kesadaran seperti Arfan ini.
‘Apa wanita ini melihat semua kelakuanku? Astaghfirullah, aku nggak tahu, aku pikir Cuma sendiri tapi, aku nggak tahu dia jalan ke sini, tadi’ batin Nadia sambil mencuri-curi pandang pada Wanita yang rambutnya sudah memutih itu.
Memang Nadia benar-benar tidak menyadari saat wanita itu masuk, dia sengaja melangkah secara perlahan tanpa mengeluarkan suara dari sepatu yang dipakainya. Wanita itu tampak ramah dan berwajah teduh, dan tenang.
Wanita itu adalah Fatimah, dia kakak dari Imma, yang berjanji akan menjenguk keponakannya pagi itu. Akan tetapi, saat ingin masuk bangsal perawatan, dia melihat pemandangan yang tidak biasa di kamar Arfan.
Semula dia sempat curiga jika Nadia hendak berbuat buruk pada keponakannya, bahkan dia sempat membuat rekaman untuk dijadikan bukti bila sewaktu-waktu diperlukan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Arfan terlihat mengalami perkembangan yang bagus. Mungkin itu merupakan efek dari kata-kata positif yang sempat di dengar saat Nadia bicara.
Bagaimana tidak, mempunyai efek, jika yang Nadia katakan berupa ajakan, semangat, sekaligus ancaman dan keluhan yang benar-benar memancing emosi jika manusia normal yang mendengarnya.
“Siapa kamu? Aku belum pernah lihat kamu sebelumnya. Apa kamu asisten Zan, yang dia suruh buat menggantikan tugasnya?” tanya Fatimah dengan tenangnya.
“Saya Nadia.”
“Oh, Jadi, benar kamu asisten Zan?”
Nadia bingung harus menjawab apa, sebab dia tidak mungkin untuk menjawab jika dia di culik dan sekarang dia tidak tahu di mana keberadaan si penculik yang tidak tahu diri itu. Kalau saja dia bisa pergi dari tempat itu, dia tidak akan bertemu dengan hal yang menyebalkan.
“Ya.” Nadia menyahut dengan jujur, dia dulu memang pernah menjadi asisten dari Hadian di kantor untuk membersihkan ruang rahasia. Sementara Fauzan adalah anak dari pria itu, mungkin bisa disebut sama saja jika dirinya menyebut diri sebagai asisten yang membantu memudahkan pekerjaan dua pria itu.
__ADS_1
Nadia mengangkat bahunya lalu, kembali berkata, “Tapi, itu dulu, Nonya. Kebetulan hari ini saya ada di sini menunggu Pak Fauzan datang.”
“Oh,” Kata wanita itu sambil menganggukkan kepalanya, dia tahu pria cerewet macam Fauzan, mana ada asisten yang betah dengannya, kecuali Jali. Mungkin kalau bukan karena butuh uang, laki-laki itu juga akan meninggalkannya.
Lalu, Fatima melihat ke sekeliling dan pandangannya tertuju pada beberapa paper bag yang di bawa Ella kemarin hingga dia kembali berkata, “Apa itu oleh-oleh dari kamu, buat Arfan? Wah, hadiah sebanyak ini pasti keponakanku suka sekali!”
Nadia tercengang, dia tidak tahu sama sekali bingkisan apa itu, bahkan dia tidak menyentuh sama sekali karena sadar semua barang itu bukanlah miliknya. Akan tetapi, sekarang apa yang bisa dia lakukan selain diam.
Fatima mengambil dan melihat-lihat semua isinya lalu tersenyum manis pada Nadia seraya mengambil satu buah pir dari dalam paper bag berwarna biru.
“Kamu tahu banget ya kesukaan ponakanku ini? Ayo, kupas!” perintah Fatimah, sambil memberikan buah itu pada Nadia yang masih bengong.
“Ayo! Pisaunya ada di laci! Kamu kasih aja Arfan sedikit di piring, biar dia mencium aromanya, biar dia cepat buka mata lagi! Cepat!” kata Fatima lagi. Sementara Nadia mulai berjalan mengambil pisau dan mengupas buah itu.
Selama mengupas buah, Fatima banyak bercerita dan Nadia menjadi pendengar saja. Wanita tua itu berbicara seolah-olah Arfan ikut andil dalam pembicaraan. Bahkan kata-katanya menjurus pada memuji Nadia yang jelas-jelas tidak mengerti apa maksud pujiannya.
Apalagi Nadia sibuk memikirkan ucapan Fatima tentang Arfan agar membuka mata lagi, apa pernah pria itu membuka mata sebelumnya? Nadia merasa belum pernah sekali pun melihat Arfan membuka mata sejak dia tiba di sana. Ini aneh, kan?
Dari obrolan itu, Nadia tahu jika Fatima adalah seorang wanita yang tidak memiliki anak dan sangat menyayangi anak-anak Imma—adiknya, dia sering datang menengok Arfan dan mengikuti perkembangannya. Kemarin dia sempat bertemu Imma di sebuah Mall dan wanita itu bercerita tentang perkembangan yang menunjukkan kebaikan walaupun, hanya sedikit.
Dia berharap bila dialah orang yang pertama melihat keponakannya itu siuman, dan keinginannya menjadi kenyataan. Dia segera menghampiri Arfan saat melihat mata pria itu terbuka sedikit, tapi, saat dia mendekat, keponakannya sudah memejamkan matanya lagi.
Fatima meminta agar Nadia mengulangi perbuatannya karena ingin melihat Arfan kembali membuka mata, tapi sampai saat ini, tidak ada hal lain yang terjadi lagi.
Baru saja mereka menghabiskan buah pir yang kedua, Imma datang dengan membawa buah yang sama. Saat itu juga Fatima berkata, “Arfan! Bangunlah, lihat Mamamu datang, semua orang menyayangimu, mereka membawakan buah kesukaanmu, ayolah!”
__ADS_1
Imma menatap heran pada kakak perempuannya yang bertingkah aneh, sebab biasanya wanita itu selalu berkata lemah lembut dan tenang, jarang bercanda, dan lebih banyak bersikap serius walaupun, ramah dan baik hati. Dia melirik Nadia yang tampak tersenyum, kecurigaannya semakin bertambah. Seketika dia berpikir buruk jika Nadia yang sudah menularkan kebiasaan orang kampung kepada kakaknya. Bagaimana tidak curiga, sebab biasanya kalau Fatima bicara dengan Arfan pun selalu lemah lembut sambil mengusap kepala dan tangan, tapi, yang dilihatnya kali ini, Fatima berkata sambil berkacak pinggang.
Nadia tersenyum karena dia heran bagaimana wanita tua itu bisa mengikuti gayanya saat bicara dengan Arfan, itu cara yang menyulut emosi dan sekaligus lucu, jika dilakukan orang tua seperti Fatima.
“Mbakyu!” sapa Imma sambil mencolek tangan kakak perempuannya, “kenapa sih, kok, ngomong seperti itu?”
“Memangnya kenapa, ada yang salah sama omonganku?”
Fatima menoleh pada Nadia dan Imma secara bergantian, lalu, dia beranjak dari duduknya, sambil menyambar tas tangannya, lalu, dia berkata, “Ayo! Ikut aku belanja ke City Mall! Ada barang diskon di sana!”
“Mbakyu! Aku baru saja datang.” Imma menolak secara halus.
“Halah, ayo ikut saja! Nadia, titip ponakanku, ya!” kata Fatima saat melewati pintu.
“Baik Bude ....”
Nadia mengangguk, dia menyebut nama Fatima dengan sebutan yang sama seperti Fauzan serta Arfan jika menyebut dirinya. Mereka sudah sepakat tadi, jika wanita tua itu tidak mau di panggil Nyonya. Sejak mulai mengupas dan makan buah pir bersama, kedua wanita itu tampak akrab. Hal ini pula yang membuat Imma heran dengan keakraban yang tiba-tiba saja dia rasakan.
“Aku mau bicara sama kamu?” kata Fatima begitu mereka berada di luar ruangan dan menutup pintunya.
“Soal apa, Mbak?”
“Soal Nadia!”
“Kenapa dengan gadis kampung itu?”
__ADS_1
Bersambung