AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 14


__ADS_3

Hutang Budi


 


Seketika Fauzan menoleh ke belakang di mana pria itu berdiri kaku di dekat pintu.


Fauzan beranjak dari duduknya di samping tempat tidur lalu, dia menyadari akan terjadi kesalahpahaman nanti, bila Nadia mengenali orang ini.


“Sia! Pergi sana!” Kata Fauzan sambil merampas bungkusan itu dari tangannya.


“Baik, saya permisi, Tuan Muda!” Pria paruh baya itu kembali memanggil Fauzan tuan muda lalu, membungkuk hormat hingga membuat Fauzan kesal setengah mati.


“Ahk! Sial sekali aku,” gunam Fauzan dari balik pintu yang setengah terbuka.


Fauzan menutup pintu bangsal setelah lelaki itu keluar, dengan kesal. Akan tetapi, saat dia berbalik menuju tempat duduk di sebelah tempat tidur Nadia, wajahnya berubah lembut dan, senyumnya mengembang sempurna walau tidak terlihat.


“Gimana, mana yang terasa sakit?” tanya Fauzan sambil menutupi kepala Nadia bagian atasnya dengan satu kerudung. Dia tidak bisa memakaikan kerudung itu secara asal karena bagian dagu dan juga leher terdapat perban yang menempel cukup besar.


Nadia diam saja saat Fauzan memperlakukannya demikian, dia pasrah karena tidak bisa menggerakkan badannya sedikit pun. Serasa remuk, ngilu di seluruh persendian, seolah ribuan jarum menusuk bagian pundak, punggung, tangan, kaki dan beberapa bagian yang terluka lainnya.


Saat ini, menggerakkan bibir untuk bicara saja dia tidak sanggup. Akhirnya, dia hanya mampu menggelengkan kepala sedikit, demi merespon pertanyaan Fauzan padanya, walaupun, dia sangat ingin menanyakan perihal pria yang tadi dilihatnya.


Nadia melihat pria yang berdiri di pintu dan memberikan sebuah bungkusan pada Fauzan tadi, adalah pria yang sama saat beberapa hari yang lalu mereka bertemu di depan kamar kosnya. Pria itu sedang mencari orang yang bernama Zan. Tiba-tiba muncul kecurigaan bahwa sebenarnya Fauzan melakukan sebuah persekongkolan tengah dijalankan untuk menipunya dan semua orang.


Pertama kali bertemu, Nadia merasa penampilan pria paruh baya itu lucu tapi, sesaat tadi, dilihatnya pria itu sangat rapi dengan setelan jas dan sepatu yang cocok dengan pakaiannya.


‘Siapa dia? Apa aku salah lihat? Apa maksudnya dia bisa ada di sini?’ batin Nadia.


Nadia menggerakkan jarinya, memberi isyarat pada Fauzan dan bertanya siapa pria yang tadi dilihatnya tapi, yang ditanya hanya menggeleng.


“Sudahlah, jangan banyak berpikir, yang penting kamu sembuh dulu,” kata Fauzan sambil tersenyum. Dalam hati dia kesal karena pria suruhannya itu masuk ke dalam bangsal  perawatan tanpa permisi.


Fauzan memanggil dokter yang menangani Nadia, memberi kabar bahwa pasien sudah siuman. Setelah para dokter yang ada melakukan beberapa tes, pemeriksaan dan memberi pertanyaan, Nadia bisa merespon dengan baik sehingga dinyatakan tidak ada masalah kecuali menunggunya sampai masa pemulihan.


Fauzan dan Nadia pun merasa lega. Tak lama setelah para dokter pergi, kecanggungan pun terjadi antara dua orang yang berlainan jenis itu karena berada dalam satu kamar yang sama. Meskipun itu adalah kamar perawatan, tetap saja tidak nyaman, terutama bagi Nadia sebab, Fauzan bukan siapa-siapa baginya.


Setelah sekian lamanya mereka hanya diam membiarkan suasana kaku, Nadia memulai sebuah percakapan.

__ADS_1


“Sebaiknya Anda pulang,” kata Nadia dengan suara lemah juga serak. Dia melihat sepertinya Fauzan sangat tidak nyaman, dia masih memakai kaca mata dan masker, meskipun sekarang sudah malam.


“Tidak masalah aku di sini menemanimu.”


“Tidak perlu.”


“Kenapa? Apa kamu bosan?”


“Tidak bosan ... tapi kasihan.”


Nadia berkata jujur, dia kasihan sekaligus tidak enak, bila Fauzan yang sebenarnya termasuk salah satu atasannya itu, menemaninya di rumah sakit, padahal dia hanyalah pegawai rendahan. Apalagi, tingkah pria ini aneh dan sedikit menyebalkan.


Jadi, dia tidak ingin berhutang budi, ada pula rasa khawatir apabila dia harus membayar semua yang telah dia dapatkan kali ini. Nadia tahu kamar yang dia tempati adalah untuk kalangan VIP, melihat adanya sofa, kulkas kecil, tempat tidur yang bagus, meja kecil dengan hiasan vas bunga cantik, semua ada di ruangan yang tentunya tidak murah.


“Tidak perlu kasihan padaku.” Kata Fauzan lagi masih duduk di kursi dekat tempat tidur membuat Nadia semakin risi.


“Saya tidak ingin berhutang budi.”


“Ini juga sebagai balas Budi.”


Mendengar pernyataan Fauzan, bahwa apa yang dilakukannya sebagai bentuk balas budi, membuat Nadia heran atas budi apa yang pernah dia berikan? Dia merasa hanya sebagai pekerja yang mendapatkan ini imbalan, dan itu tidak memerlukan balasan.


Awalnya, Nadia hendak mencoba menipu Fauzan hanya karena ingin melihat wajahnya, siapa yang tahu bila dirinya pura-pura tertidur maka pria itu akan membuka maskernya hingga dia melihat wajah aslinya. Akan tetapi sampai wanita itu benar-benar terlelap, harapannya sia-sia belaka sebab pria itu bertahan agar identitas aslinya tidak ketahuan.


Setelah Fauzan memastikan Nadia sudah tertidur dengan nyenyak, dia membuka masker dan kaca mata hitamnya, berjalan menuju lift dan keluar untuk pergi ke penginapan yang tidak jauh dari rumah sakit itu berada. Banyak penginapan seperti itu di sana karena sengaja disiapkan untuk memudahkan para keluarga pasien bila harus menunggu kerabatnya yang dalam perawatan dalam waktu lama.


Di sana Fauzan membersihkan diri dan mengganti pakaian santai yang sudah di siapkan oleh asisten pribadinya, Jali, yang tadi sempat dia umpat karena kecerobohannya. Mereka hampir saja ketahuan.


“Sudah aku bilang, jangan menampakkan diri kecuali aku izinkan!” kata Fauzan sambil merapikan pakaian, sementara Jali hanya menunduk pasrah.


‘Nggak tahu terima kasih banget nih, orang’ keluh Jali.


“Baik, lain kali saya akan hati-hati.”


“Jangan muncul lagi di sekitarku, Pak Jali istirahat saja di rumah.”


“Saya tidak dipecat, kan, Tuan?”

__ADS_1


“Tidak. Pak Jali akan tetap saya butuhkan di luar tempat pribadi saya.”


“Baik.”


Kalau bukan karena mereka sudah berteman cukup lama, mungkin kemarahan Fauzan bisa lebih parah lagi, apalagi Jali usianya terpaut jauh lebih tua darinya hingga Fauzan lebih menghormati. kalau sekedar umpatan seperti tadi, itu karena Fauzan sudah sangat kesal disertai kekhawatiran. Dia belum mencapai apa yang dia inginkan hingga harus membuka identitas diri yang sebenarnya.


 


*****


 


Keesokan harinya, Nadia terbangun dengan rasa pusing dikepala dan perutnya juga mual, akibat bau rumah sakit serta obat yang ada di atas meja, dekat tempat tidurnya. Asam lambungnya juga naik karena sejak kejadian dia belum lagi makan.


Seperti biasa, dia mengedarkan pandangannya sambil mengembalikan separuh nyawanya yang terbang saat dia tertidur. Bukan kah demikian, setiap saat manusia itu tidur maka sama saja nyawanya pun melayang?


Akan tetapi, bagaimana mungkin manusia bisa bermimpi jika benar nyawanya hilang? Ini sungguh teori yang membingungkan. Pada kenyataan bukan nyawa melainkan kesadaran dirinya yang terbang entah ke mana, padahal otak masih saja bekerja apalagi bila seseorang tertidur dalam keadaan lampu masih menyala.


Nadia menoleh ke samping di mana Fauzan tengah tertidur dengan kepala bertumpu pada kedua tangan. Gadis itu mencoba mengangjat tangannya yang bebas dari kain kasa, karena Pria itu tertidur hingga dia bisa menjangkau kaca mata hitamnya.


Hati Nadia berdebar saat mencoba menggerakkan tangan yang mulai terasa basah, dia seperti seorang pencuri yang tertangkap sedang melakukan aksinya, atau seperti rubah yang menghadapi seekor singa besar dan siap menerkamnya. Takut ketahuan.


Sedikit demi sedikit dia mengarahkan tangan untuk membuka dan mengintip dari balik kaca mata hitam melihat wajah asli pria yang sedang tertidur dalam keadaan duduk di sisi pembaringannya.


Setelah beberapa kali gagal mencoba, sedikit lagi ... akhirnya dia berhasil membuka bagian atas kaca mata.


Deg! Seolah jantungnya kehilangan satu detakan.


 


Bersambung


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2