
Menjaga Rahasia Seseorang
Hadian kembali ke bangsal perawatan Arfan, setelah berbincang dengan Fauzan. Dia ingat harus kembali ke kantor sedangkan tas laptopnya tertinggal di ruang anak pertamanya. Dalam hatinya masih berkecamuk banyak pertanyaan pada Nadia, tapi dia tidak tahu bagaimana harus mengatakan jika dia ingin bicara empat mata saja tanpa membuat orang lain merasa curiga.
Mungkin keberuntungan saat ini masih berpihak pada Hadian, saat pria itu masuk ke dalam ruangan, ternyata Nadia tengah sendiri sedangkan Arfan tampak memejamkan mata yang menandakan jika laki-laki itu baru saja tertidur.
“Ke mana Istriku?” tanya Hadian begitu dia berada di dalam.
Nadia menoleh dan menunduk sebentar, lalu dia berdiri menghadap Hadian menunjukkan kesopanan seperti biasanya, seolah dia masih bekerja menjadi pegawainya.
“Maaf, apa ya, maksud Bapak?” tanya Nadia.
“Di mana Nyonya?”
Nadia menarik napas panjang sambil menggelengkan kepalanya mengetahui maksud pertanyaan Hadian, mantan bosnya yang mencari keberadaan istrinya. Memang Imma dan Fatima, tadi ada di sana dan mereka berbincang tentang banyak hal, dalam rangka mengakrabkan diri dengan Arfan. Akan tetapi, tidak lama setelah kepergian Fauzan dan ayahnya, di susul dengan kepergian Ella, kedua wanita itu pergi juga.
Imma menitipkan anak laki-laki yang baru sadar dari koma dengan penuh kepercayaan pada Nadia. Berulang kali wanita itu meminta kesediaannya untuk menjadi menantu dan bisa merawat Arfan dengan baik.
“Maaf, Pak. Saya tidak tahu, Nyonya ada di mana?”
“Memangnya dia nggak bilang sam kamu mau ke mana, gitu?”
“Tidak.”
Kedua wanita itu memang tidak mengatakan tujuan kepergian mereka tapi, hanya mengatakan jika mereka akan membeli makanan kesukaan Arfan yang sudah lama tidak dia nikmati. Nadia sempat heran dengan tujuan wanita itu pergi berbelanja, padahal di dekat tempat tidur, ada banyak paper bag yang berisi banyak barang, termasuk makanan di dalamnya.
“Oh. Apa Arfan sudah tidur?”
Nadia melirik ke arah Arfan, lalu mengendikan bahu seraya berkata, “Mungkin dia tidur, saya tidak tahu, Pak.”
“Kalau dia tidur, bisa kamu ikut saya, sebentar?”
Nadia kembali memberanikan diri menatap lurus ke arah pria yang usianya sudah menjelang senja itu.
“Untuk?”
__ADS_1
“Ikut saya saja, saya Cuma mau tanya kamu sesuatu, tapi tidak di sini.”
Nadia kuatir jika dirinya menjadi bahan fitnah antara anggota keluarga hingga gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya lagi.
“Tidak, Pak. Bicara saja di sini, saya pikir tidak masalah, saya rasa Arfan memang tidur nyenyak.”
“Apa kamu yakin?”
Nadia diam, sebab dia sendiri tidak yakin jika nanti apa yang akan dibicarakan oleh Hadian di dengar oleh Arfan hingga menambah masalah baginya.
Akhirnya Nadia memilih untuk mengalah dan mengikuti langkah kaki Hadian ke luar kamar. Di saat yang bersamaan, Arfan membuka mata, melihat dengan jelas punggung Nadia dan ayahnya yang menghilang di balik pintu.
“Kamu, masih ingat janji yang kamu buat dan kamu tandatangani di atas materai, kan?”
Nadia mengangguk pelan, bagaimana dia bisa lupa dengan perjanjian yang seperti mengikat lehernya dengan belenggu dan dia harus mempertahankan janji itu sampai tutup usia.
Bukankah nasib dan takdir selamanya akan menjadi rahasia Tuhan sampai akhir dunia tiba, kita harus mengimaninya, semua rukun iman itu berupa wujud benda, bentuknya ada, hanya iman pada tadir dan ketentuan Allah saja yang bersifat abstrak dan tidak nyata.
Siapa yang menyangka jika ternyata nasibnya bekerja di sana tidak lama. Itu takdir atau nasibnya kah, berada dalam posisi seperti ini.
“Ya. Saya ingat.”
“Ya. Bapak tidak perlu khawatir. Saya janji akan pegang rahasia tentang kamar itu baik-baik.”
“Bagus, saya akan tetap memberi kamu kompensasi tiap bulan.”
“Tidak perlu. Sudah jadi kewajiban sesama manusia, kan, Pak ... saling jaga rahasia, harus amanah dan menepati janji.”
“Baik, kalau kamu maunya begitu aku tidak akan membayarmu, tapi bukan berarti aku akan berbaik hati kalau kamu tiba-tiba berkhianat, masuk penjara itu pasti.”
“Baik, saya kan berjanji, dan saya akan berusaha membuat nyaman baik di posisi saya dan Bapak saat ini,” Nadia menggunakan bahasa formal yang tidak berubah dari dulu.
Dalam hati Nadia punya alasan yang sangat kuat untuk meninggalkan keluarga itu, lepas dari mereka semua dan tidak memiliki apa pun, adalah hal yang terbaik untuk saat ini.
Sementara dalam otak Hadian berpikir mungkin, ada baiknya tetap melibatkan Nadia dalam keluarga dan kehidupannya, sebab akan membuatnya lebih mudah mengawasi gadis itu. Jadi, tidak salah kalau menjadikan Nadia sebagai menantu, wanita di hadapannya itu, baik.
“Jadi, aku mau dengar jawabanmu soal perjodohan dengan Arfan?”
“Maaf, Pak. Saya belum bisa memberikan jawabannya sekarang, sebab Ibu dan Bapak saya belum memberikan pandangan apa-apa soal Arfan, dan bagaimana pendapat mereka.”
__ADS_1
“Kamu sudah cukup dewasa, mengapa harus meminta pendapat mereka?”
“Karena saya seorang perempuan, Pak. Mereka adalah wali saya, jadi saya membutuhkan pendapat mereka walaupun keputusan tetap berada di tangan saya.”
“Hmm ... gimana kalau soal Fauzan, apa mereka sudah tahu?”
“Sudah.”
“Apa pendapat mereka? Fauzan sudah saling kenal?”
“Ya. Ayah dan Ibu tidak ada masalah dengan Pak Fauzan.”
“Hmm ....”
“Pak, boleh saya memberi pendapat?”
“Soal apa?”
“Buat jaga-jaga aja sih, Pak. Lebih baik barang-barang pribadi bapak itu di simpan dalam brankas yang berbeda. Di lemari besi khusus misalnya.”
“Aku sudah melakukan itu!”
“Kalau begitu, Bapak tidak kuatir. Kalau saya akan tetap jaga rahasia, kecuali Allah berkehendak lain,” kata Nadia.
Setelah berkata demikian, Nadia permisi untuk masuk kembali. Dia sudah berjanji dalam hati akan menjadikan rahasia Hadian tetap menjadi rahasia sepanjang hidupnya. Gadis itu terus beristigfar sambil berlalu ke ruangan, meninggalkan Hadian yang kemudian pergi juga. Pria itu puas dengan jawaban dan kebijaksanaannya.
Dalam kehidupan berumah tangga, memang ada baiknya saling terbuka dan jujur sebab dengan kejujuran hidup jauh lebih tenang ketimbang menutup kesalahan dengan kebohongan dan biasanya dusta akan selalu menyulut dusta lainnya.
Walaupun begitu, ada satu hal yang boleh untuk ditutupi, yaitu berkaitan dengan aib diri dan orang lain yang akan lebih bagus jika ditutupi.
Akan jauh lebih baik aib menjadi rahasia sepanjang hayat seseorang karena apabila membukanya, akan mengakibatkan kehidupan orang lainnya hancur berantakan. Kecuali takdir Allah berkehendak lain.
Nadia melihat posisi tidur Arfan yang berubah membuatnya curiga jika pria itu baru saja bangun dari tempat tidurnya. Gadis itu mengerutkan dahinya seraya berpikir apakah Arfan terbangun dan mendengar semua obrolannya dengan Hadian.
Nadia menggelengkan kepala mencoba mengusir semua ke prasangka yang muncul secara tiba-tiba. Akan tetapi dia kembali menenangkan diri sebab apa pun yang terjadi dikemudian hari, dia tidak bersalah karena yang dia lakukan sudah benar. Seandainya saja nanti semua rahasia Hadian terbongkar, bukan dirinya yang melakukannya.
Bersambung
__ADS_1