AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 5


__ADS_3

‘Ah, terserah!’ batin Nadia sambil melangkah ke dalam biliknya dan menutup pintu rapat-rapat. Dia melanjutkan istirahat untuk bersiap menghadapi hari esok karena pekerjaannya sekarang benar-benar menguras tenaga dan pikiran.


Bukan hanya harus membersihkan seluruh ruangan yang ada, tapi juga, teman-teman yang seperti mengandalkan Nadia hanya karena dia pegawai baru. Selain itu, beberapa orang yang bersikap aneh seperti atasannya, Fauzan Adam, yang begitu menyebalkan setiap bertemu.


Pikirannya berkelana hingga menyamakan antara Fauzan Adam dan Zan, dua pria ini sama-sama menyebalkan. Apakah ini juga hukuman baginya karena menyia-nyiakan laki-laki seperti Yogi? Akan tetapi tidak dia tidak mencintainya lagi pula, dia pun tidak mungkin memilikinya karena sahabatnya Dila, menyukainya.


Dia bukan orang yang mengambil kekasih sahabatnya sehingga dia tidak mungkin menjatuhkan pilihan kepada Yogi walaupun, laki-laki itu dengan sangat jelas memperlihatkan perasaan suka pada dirinya.


Yogi memang baik tapi terus terang laki-laki itu bukanlah tipe Nadia. Apalagi dia berharap bahwa Dila sahabatnya adalah pasangan yang kelak menjadi kekasih terbaik bagi Yogi, kedua orang itu sama-sama teman baiknya.


Saatnya Nadia menutup pintu, sayup-sayup terdengar suara Zan yang sedang menghubungi seseorang. Gadis itu secara sengaja melihat dari jendela, dengan menyebalkan sedikit tirainya.


“Besok, bawa uang kecil ke sini,” kata Zan yang masih berdiri membelakangi pintu rumah Nadia. Dia terlihat menempelkan ponsel merk terkenal keluaran terbaru dengan harga selangit itu di telinganya. Hal ini membuat Nadia kembali terheran-heran.


“Nggak usah banyak tanya, aku nggak mau tahu pokoknya besok harus ada!” kata Zan lagi gayanya, seperti seorang atasan yang memerintah kepada bawahannya.


Setelah berkata seperti itu Zan menoleh sebentar ke arah pintu kamar Nadia dan  dengan cepat Nadia menutup tirai jendelanya, semntara itu Zan kembali masuk ke kamarnya.


 


*****


 


Keesokan harinya Nadia keluar dan mengunci pintu dengan tergesa-gesa, dia sudah terlambat karena sakit perut hingga lama berada di kamar mandinya. Baru saja dia berbalik dari  pintu, langkahnya terhenti karena dikagetkan oleh seorang laki-laki yang berdiri kaku menatapnya.


Penampilan pria itu hampir membuat Nadia tertawa hingga dia menahannya, menutup bibir dengan telapak tangannya. Bagaimana tidak tertawa, laki-laki itu berpenampilan lucu menurutnya.


Dia pria paruh baya, usianya matang terlihat dari wajah dan gestur tubuhnya. Rambut disisir rapi dan sepatunya pun terkesan mahal dan mengkilap. Itu sepatu J&JN, sepatu pantofel pria merk terkenal. Akan tetapi, kaos dan celana olahraga yang melengkapi pakaiannya membuatnya terkesan lucu dan kontras.


‘’Orang Ini salah kostum' batin Nadia, kemudian dia mencoba tenang. Lalu, mengangguk hormat padanya. Menurut penilaian Nadia, apabila pria itu memakai kemeja dan stelan jas rapi maka, dia akan terlihat sangat keren diusianya yang matang.

__ADS_1


“Bapak, mau cari siapa, ya?” tanya Nadia ramah.


“Saya, mencari Pak Zan,” sahut pria itu tidak kalah ramah, bahkan menganggukkan kepala di hadapan Nadia sehingga Nadia membalas dengan menundukkan kepalanya pula.


“Oh. Mungkin dia belum bangun, Pak! Harus digedor dulu pintunya.”


“Baik, terima kasih,” kata laki-laki itu lagi kembali menundukkan kepalanya membuat Nadia salah tingkah.


“Baik, kalau begitu saya permisi.”


“Iya, silakan Nona, eh, Mbak!”


Saat Nadia berjalan melewati orang itu, dia mendengar pintu kamar Zan dibuka lalu, dia pun mendengar suara pria itu meneriaki orang yang ada di depannya.


“Kenapa lama amat, sih, Pak?”


“Maaf, anu ... Pak, eh, Mas!”


Sesampainya di kantor Nadia langsung menuju markas tempatnya bekerja. Dia melakukan kewajibannya seperti hari kemarin. Semua pegawai sudah mendapatkan tugas sesuai bagian masing-masing.


Gadis itu bersyukur karena dia bekerja tanpa mengalami banyak hambatan hari ini, bahkan dia tidak bertemu dengan anak pimpinan perusahaan yang menyebalkan. Dia tahu kalau pria itu hanya akan datang bila ada maunya, atau ada keperluan saja sehingga mana mungkin bila, tiap hari bisa bertemu dengannya di tempat kerja.


Saat Nadia baru mencuci tangan dan membereskan semua peralatan kebersihan yang sudah dipakainya seseorang memanggil dirinya dia  Pak Abu, pimpinan dari bagian cleaning service dan OB.


“Ada apa, ya, Pak?” tanya Nadia setelah mendekat pada pria tua itu.


“Kamu orang baru kan belum pernah lembur ya?”


“Belum ...” jawab Nadia sambil menggelengkan kepalanya, “Memang cleaning service ada lemburnya juga, ya, Pak?”


“Ada, kamu ini gimana, sih. Kalau gitu malam ini bagian kamu lembur, ya? Kamu harus membersihkan lantai paling atas di bagian ruangan bos.”

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Pak Abu memerintahkan Nadia, untuk kembali memakai pakaian seragam cleaning servicenya dan segera menuju lantai atas, tempat yang ditugaskan untuknya.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Nadia selain menuruti perintah atasannya. Sebenarnya dia bingung, bagaimana dia harus pulang nanti, sebab selama dia bekerja baik dulu maupun sekarang, dia belum pernah pulang malam. Akan tetapi, dia tidak bisa menolak sebuah tugas bukan?


Suasana di luar mulai temaram karena matahari sudah tenggelam, menunjukkan keadaan yang disebut dengan senja, merupakan pergantian selisih waktu antara siang dan malam di mana senja adalah salah satu waktu yang di rindukan sebagian orang.


Begitu pula dengan keadaan di kantor, sama temaramnya karena beberapa lampu penting saja yang dinyalakan. Sementara Nadia berjalan ke lantai tiga, posisi paling atas gedung, sambil membawa peralatan kebersihannya.


Ternyata dia tidak seorang diri di sana, ada beberapa pegawai yang juga tengah melakukan lembur dalam pekerjaan seperti dirinya. Dengan langkah hati-hati Nadia melakukan tugasnya karena itu adalah ruangan di mana para pimpinannya bekerja.


Nadia masih memeras kain pelnya ketika seseorang menepuk bahunya dengan lembut dari belakang. Seketika dia menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada orang yang sudah menyapanya. Dia melihat orang itu dengan mengerutkan alis.


Di hadapannya sudah berdiri tegap seorang laki-laki dewasa yang sepertinya berumur lebih dari setengah baya. Namun, yang membuat Nadia heran adalah wajah laki-laki itu mengingatkan pada tetangganya yang menyebalkan, siapa lagi kalau bukan Zan.


‘Tapi, Bagaimana bisa mereka mirip sekali , sih?' Nadia membatin sambil menggelengkan kepalanya.


“Kenapa kamu geleng-geleng kepala?” tanya pria itu yang rupanya heran dengan tingkah laku Nadia.


Nadia segera membenarkan posisi berdirinya kemudian menunduk hormat karena dia mengetahui apabila pria ini adalah seorang atasan juga. Dia baru dua hari berada di sana, tentu saja dia belum banya mengenal pegawai atau pun para pimpinannya.


“Maafkah, saya, Pak. Kalau saya berbuat salah.” Kata Nadia gugup.


 Biar bagaimanapun juga, dia hanya seorang cleaning servis, kedudukannya sangat rendah di kantor itu hingga dia harus hormat kepada siapa pun juga. Termasuk apabila dia tidak bersalah tentu saja dia harus mengaku bahwa dirinyalah yang bersalah.


Banyak sekali hal terjadi seperti ini, di mana orang yang salah tidak akan dianggap bersalah hanya karena dia seorang pejabat, atasan ataupun orang yang berkuasa. Akan berbeda halnya bila ada kejadian yang melibatkan seorang bawahan atau manusia, yang berkasta rendah di masyarakat atau rakyat jelata maka, dia akan dianggap bersalah walaupun sebenarnya tidak.


Pria itu tidak menggubris ucapan Nadia, dia menjadikan jari telunjuknya sambil berkata, “Ayo ikut!”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2