AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 46 Bicara Jujur


__ADS_3

Bicara Jujur


 


Arfan mengangguk dan menatap Nadia lembut, lalu memegang tangan Nadia erat. Melihat hal itu, Imma dan Fatima merasa puas.


Mereka tidak salah pilih, jika gadis itu adalah malaikat tanpa sayap yang di kirim Tuhan pada Arfan dan keluarganya. Kalau bukan kerena aksinya, entah kapan Arfan akan sadar.


Dengan penuh semangat, dua wanita paruh baya itu menjelaskan apa yang sudah dilakukan Nadia dan menunjukkan rekaman video yang pernah dibuat Fatima dan Imma. Seketika Nadia heran, sebab dia tidak menyangka akan dimanfaatkan oleh keluarga ini sedemikian rupa.


Apalagi merekam video tanpa izin, harga diri Nadia seolah dilecehkan tapi, dia tidak berdaya. Seandainya bisa, gadis itu ingin lari saja atau sembunyi di tempat yang tidak bisa dikenali.


“Bukan, bukan karena saya, tapi semua sudah kehendak-Nya.” Nadia mengomentari pujian dua wanita yang terlalu berlebihan itu.


“Kamu jangan merendah, Nak,” kata Imma.


“Tapi, itu tandanya dia baik, dia memang cocok sama Arfan. Jadi, kamu cepat sembuh, ya?” kata Fatima sambil mengusap kepala Arfan lembut.


“Ya. Bude.” Arfan akhirnya bersuara setelah sekian lama dia hanya memberi isyarat berupa anggukan dan gelengan kepala saja.


“Nah, gitu, dong Ar, kamu ngomong, kan akhirnya, semua karena Nadia!” pekik Imma lagi.


Ella menghela napas dalam dan kembali sibuk dengan ponselnya, dia merasa serba salah karena Fauzan juga tidak berbuat apa-apa, dia pikir pria itu lemah dan mudah dipermainkan dikemudian hari jika mereka bisa saling memiliki.


Sementara Hadian, masih saja mengamati Nadia dengan segenap pikiran yang dimilikinya. Namun, dia membiarkan semua terjadi di hadapannya tanpa pertentangan. Dia akan berbuat sesuatu pada gadis itu jika sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.


“Apa Ayah meragukan gadis itu? Apa Ayah pikir semua bisa terjadi dengan kesengajaan?” tanya Fauzan tiba-tiba membuat Hadian mengalihkan atensinya.


Laki-laki dewasa itu menatap Fauzan sekilas lalu, mengangkat kedua bahunya. Saat itu Fauzan bicara seolah berbisik hingga hanya mereka berdua yang tahu pembicaraan itu.


“Ayah, aku akan menceritakannya nanti. Aku pikir, lebih baik biarkan saja dulu Nadia dengan Ibu dan Bude. Lebih baik kita pergi.”


“Dasar kamu bocah! Pergi ke mana saja kamu, hah? Aku kerepotan waktu kamu pergi, tahu!” sahut Hadian, seperti tersadar akan sesuatu saat Fauzan bicara dengannya.


Sudah dua hari anak itu tidak melakukan laporan apa pun terkait tugasnya dia kantor cabang yang di berikan padanya.

__ADS_1


“Sudah, lah, Ayah, sudah kubilang aku akan menceritakannya!”


“Katakan saja sekarang!”


“Ayo! Kita keluar saja Ayah, lebih baik tidak mengganggu mereka!” kata Fauzan sambil melirik ke arah tiga wanita yang tengah mengobrol dekat tempat tidur Arkan.


Kedua orang ayah dan anak itu beranjak berdiri, saat mereka hendak menuju ke depan pintu, Ella memanggil Fauzan. Dia sadar jika hanya sendiri di sofa hingga dengan cepat menyusul Fauzan. Lalu, bergelayut manja di tangan pria itu dan menahannya.


“Kamu mau ke mana, sayang?” tanya Ella.


“Bukan urusanmu!” sahut Fauzan.


“Baiklah, aku ikut, tunggu, ya?” kata Ella lagi.


“Tidak perlu, nanti kamu bosan, aku hanya mau bicara bisnis dengan Ayah!”


“Pokoknya, aku ikut!” kata Ella.


“Dasar keras kepala. Siapa yang mau jadi pacar orang sepertimu!” kata Fauzan tegas sambil berlalu meninggalkan Ella yang cemberut karena diabaikan.


Sementara Ella pergi juga entah ke mana tanpa pamit kepada Imma, Fatimah dan juga Nadia. Dia sangat malu, sudah berani mengatakan putus secara sepihak di depan semua orang dengan Arkan, tapi ditolak mentah-mentah oleh Fauzan, orang yang menjadi alasannya memutuskan hubungan.


Untuk sesaat gadis itu menjadi tidak yakin tentang hubungannya dengan Fauzan hingga langgeng menuju ke pelaminan.


Sementara itu, Nadia menatap kepergian semua orang dengan bibir berkedut, antara ingin menangis atau tertawa. Karena dua laki-laki itulah dia sekarang terjebak dengan para wanita yang sulit sekali dia pahami jalan pikirannya. Lalu, harus mengurus pria yang baru saja sadar dari koma.


 


*****


 


Hadian duduk berhadapan dengan Fauzan—anaknya, untuk menyimak apa yang harus dijelaskan, mendengar sesuatu yang memang harusnya di dengar, serta membicarakan masalah yang memang harus segera diselesaikan.


 Sejak seharian kemarin ia membersihkan sendiri ruangan yang ada di kantornya, juga menyembunyikan beberapa dokumen tentang ibu kandung Fauzan dan beberapa foto seorang wanita, dalam sebuah brankas yang ia buat secara mendadak.

__ADS_1


Saat istrinya mengabarkan tentang anaknya yang sudah siuman, dia tidak menanggapinya karena terpaksa. Semua yang tengah dilakukannya harus selesai saat itu juga tidak bisa ditunda.


Pria itu menerima kemarahan Ima dengan lapang dada dan juga menerima dengan pasrah ketika Imma mengatakan akan menjodohkan Arfan dengan Nadia.


 Semula dia berpikir apabila nama Nadia yang dikatakan oleh Imma, adalah orang yang berbeda dan bukanlah Nadia yang pernah menjadi cleaning service di kantornya.


Namun setelah hari ini dia melihat sendiri bahwa Nadia adalah orang yang sama, dia hanya bisa diam.  Gadis itu cukup bagus dengan berpenampilan berbeda, sedikit lebih bersih dan juga rapi tidak terkesan sederhana seperti sebelumnya.


Akan tetapi ia tetap tidak bisa menerima apabila Nadia menjadi bagian dari keluarganya. Keluarga Hadian adalah orang terhormat dan semuanya memiliki gelar sarjana, tidak mungkin dia akan menikahkan anaknya dengan orang yang hanya menjadi pegawai cleaning service di kantornya.


Dia tahu ijazah yang dimiliki para pekerja di bagian lini paling bawah di kantornya itu adalah yang biasanya hanya tamatan SMP dan juga paling tinggi adalah SMA atau sederajat.


Saat ini Fauzan tengah menceritakan kejadian awal, bagaimana Nadia yang seorang sarjana bisa jadi pegawai rendahan di kantornya. Lalu, secara tidak sengaja mereka bisa bertemu di tempat kost, hingga kejadian kecelakaan dan dia merawatnya dengan sepenuh hati.


Pada saat kejadian di pesta, dia datang hanya disebabkan oleh perasaan tidak ingin jika Nadia terluka. Lalu, dia sama sekali tidak berniat untuk menculik wanita itu saat pulang.


Waktu itu ia memang tidak izin kepada Imma untuk pergi ke rumah di kampung Nadia yang jarak antara kota bisa mencapai tiga atau empat  jam dilalui dengan kendaraan seperti miliknya.


Tanpa disangka, Imma memintanya untuk cepat pulang ke rumah sakit, oleh karena itu ia terpaksa tidak mengembalikan Nadia pulang dan melalui jalan pintas langsung masuk jalan tol hingga sampai di sana tidak terlalu lama.


Fauzan mengatakan secara jujur pada ayahnya tentang bagaimana perasaannya terhadap Nadia. Dia sudah jatuh cinta sejak gadis itu memberinya makan sedankan dia tengah kelaparan dan sakit perut di tempat kost waktu itu!


“Kalau memang kamu suka gadis itu, kenapa kamu merelakan dia dinikahkan oleh Mamamu dengan kakakmu?”


“Apa Ayah pikir aku tega menolak Mama?”


“Ya, aku tahu.”


Hadian mengerti bagaimana perasaan Fauzan yang bagai makan buah simalakama. Antara memendam perasaan atau memaksakan kehendaknya pada Imma.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2