AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
SMP Season 2 Part 33 Jujur Atau Tidak Nadia menoleh dan melihat Fauzan yang me


__ADS_3

Jujur Atau Tidak


 


Nadia menoleh dan melihat Fauzan yang memberi isyarat untuk mendukungnya melakukan kebohongan pada ibunya. Tentu saja dia tidak mau. Dia memikirkan jawaban yang jujur tapi tidak melukai kedua belah pihak, tapi, apa yang akan dikatakannya? Dia masih bingung.


“Kamu kenapa Nadia?” tanya Fauzan seolah-olah khawatir padahal, kakinya sendiri yang sudah menginjak sepatu Nadia.


Nadia tidak menyahut dan hanya memutar bola matanya malas.


Sementara Imma masih menunggu jawabannya, bahkan mengabaikan rasa sakit yang baru saja diperlihatkan gadis itu.


“Nadia ... jangan pura-pura mengalihkan pertanyaanku, ya?” kata Imma masih dengan tatapan yang serius.


“Mama sudah, lah, Ma ... itu tidak penting, Mama bisa lihat sendiri, kan? Nadia mau diajak ke sini padahal dia nggak lihat mukaku, masih ditutup seperti ini.” Fauzan berkata tidak kalah serius. Selain itu dia kuatir jika Nadia menjawab tidak sesuai harapan.


Dia sudah mengatakan perasaannya pada Nadia, tapi gadis itu belum memberikan jawaban apa pun padanya.


Sebenarnya Fauzan tidak mengharapkan bertemu dengan Imma di kamar perawatan adiknya. Apalagi saat ini dia bersama Nadia, yang dia bawa secara paksa. Dia heran mengapa Ella tidak ada? Pikirnya.


 Namun sekarang, dia terpaksa harus berurusan dengan ibu sambungnya walaupun, tidak akan mudah. Wanita itu memang terlihat tenang dan elegan, tapi sangat penuntut. Bahkan, dia akan sangat marah jika apa yang dia inginkan tidak terwujud dengan sempurna.


“Mama .... Please deh, Ma!” rengek Fauzan lagi.


Imma tidak mendengar permohonan Fauzan, dan tetap menatap Nadia seolah meminta penjelasan pendapatnya tentang anak tirinya itu.


“Nadia, kamu dengar aku, kan? Aku ini Mamanya Fauzan, aku ingin punya menantu yang tidak matre dan mementingkan dirinya sendiri dari pada keluarga.”

__ADS_1


“Oh, Maaf. Nyonya, saya ....” Nadia menyela ucapan Imma sambil menatap Fauzan yang juga menatap ke arahnya.


Namun, ucapannya pun disela oleh Fauzan, “Ma ... kasihan Nadia capek, belum makan dari tadi. Jadi, Zan mohon, jangan di tanya-tanya lagi, ya?”


Imma melirik Fauzan dan mendengus dingin karena kesal dengan permintaan anaknya padahal, dia sangat penasaran, apakah Nadia benar-benar  perempuan yang rela mencintai Fauzan meskipun, dia pengangguran dan tidak punya identitas.


Wanita itu memang meminta syarat pada Fauzan agar dia memilih calon menantu dari kalangan wanita yang sudah mapan sehingga tidak lagi membutuhkan harta mengingat warisan Hadian harus di bagi dua dan dia menginginkan anak-anaknya memiliki jodoh yang tepat.


Semua keputusannya itu bukan tanpa alasan, melainkan karena Fauzan selalu bergonta-ganti pasangan dan semua adalah wanita materialistis yang tidak realistis. Apabila wanita materialistis yang wajar dan tidak memanfaatkan kekayaan semata, maka tidak masalah. Akan tetapi, sifat matre yang sembrono dalam menggunakan harta, tidak dia sukai meskipun itu anaknya sendiri.


Oleh karena itulah, selama setahun terakhir, dia menguji anaknya sekaligus mencari wanita yang benar-benar tulus mencintai meski tidak memiliki apa-apa. Bukan hanya pada Fauzan tapi, kepada Arfan pun, dia akan melakukannya jika anak itu sadar suatu saat nanti.


Sebagai suami yang sibuk, Hadian mempercayakan soal anak-anak sepenuhnya pada Imma karena dia tahu wanita itu sangat baik. Dia sudah memberikan semua uang setiap bulan juga kartu belanja pada istrinya itu tapi, nyatanya dia tetap bisa membaginya sesuai kebutuhan.


Imma memang memiliki teman-teman sosialita dalam pergaulannya, tapi bukan berarti dia terus berfoya-foya sesuka hati. Awalnya dia memiliki teman seperti mereka setelah berkenalan dengan beberapa istri dari kolega bisnis suaminya.


Tentu saja kabar itu menjadi percakapan hangat kalangan  karyawan perusahaan atau masyarakat di lingkungan mereka. Guna menambah bumbu dari ujian yang di berikan Imma pada Fauzan.


Bukankah rasa ketulusan cinta dan belas kasih tidak akan  begitu jauh berbeda? Di mana ada rasa cinta, maka di situ pula ada belas kasih dan rasa sayang seseorang yang menyertainya.


“Maaf, Bu—“ ucapan Nadia terputus karena di saat yang bersamaan pintu bangsal kembali terbuka.


“Permisi, Nyonya?” kata seorang lelaki yang masuk begitu saja sambil membawa beberapa paperbag di tangannya.


“Jali! Kemana saja kamu?” tanya Fauzan, pada Jali, pria yang menjadi asisten Fauzan cukup lama, dialah orang yang pernah bertemu dengan Nadia waktu itu.


“Saya, dari ....” kata Jali seraya menoleh ke arah sumber suara, tapi,  sesaat kemudian ucapannya berhenti dan dia terkejut melihat wanita yang duduk di samping Fauzan tengah menatap dirinya juga.

__ADS_1


“Nona, Nadia? Kenapa Anda di sini?” tanya Jali heran kenapa gadis itu bisa ada di sana.


‘Sebenarnya apa yang ada di otak Tuan Muda, si?’ pikirnya kesal.


Apabila tahu gadis itu ada di sana, dia tidak akan repot mengirim beberapa hadiah dan juga makanan yang di pesan khusus untuk diberikan pada Nadia ke rumah orang tuanya.


Dia sudah menyewa jasa kurir untuk mengirimkan semua hadiah itu, bahkan mungkin sekarang baru sampai. Semua dia lakukan karena Fauzan mengatakan akan mengungkapkan perasaannya dan ingin memberikan sejumlah hadiah istimewa.


Sementara Nadia tidak bisa menjawab pertanyaan Jali, bagaimana mungkin dia akan mengatakan secara jujur jika Fauzan sudah menculiknya.


Gadis itu tidak salah menduga jika Jali adalah orang yang sudah mengirim makanan setiap pagi di rumah sewa waktu itu. Jali juga orang yang dia temui di tempat kost. Sekarang semua sudah terbongkar, tapi, keanehan lainnya muncul lagi sekarang.


Tanpa Nadia ketahui, Jali sudah pontang-panting memenuhi permintaan Fauzan untuk menyelidiki tentang dirinya, sampai dia kerepotan berhari-hari. Lalu, betapa terkejutnya dia setelah mengetahui jika Nadia adalah mantan pacar dari Antoni, teman tuan mudanya sendiri. Pria itu paham sekali soal Nadia.


“Sudah, kamu nggak perlu tahu urusan Nadia di sini dia bareng sama aku!” kata Fauzan kembali menyela. Sekali lagi pria itu menyela pertanyaan orang karena menutupi kebohongannya.


“Nona ... bagaimana kabar Anda hari ini?” tanya Jali lagi, merubah pertanyaannya.


“Saya, baik. Alhamdulillah,” jawab Nadia, dia bersyukur dengan kedatangan pria yang sudah menyelamatkannya dari pertanyaan Imma yang menyudutkan dirinya.


Tiba-tiba masuk lagi seorang wanita ke ruangan itu, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Lalu, gadis cantik berpenampilan glamor dan elegan itu menatap Fauzan dengan nanar, sambil menjauhkan ponsel dari telinga.


“Zan! Siapa dia!”


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2