AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 41 Sebuah Permintaan


__ADS_3

 


 


Sebuah Permintaan


 


Fauzan mengernyitkan dahi lalu, dia berkata setengah berteriak, “Apa maksud Bude?”


Seketika suasana menjadi canggung dan hening. Fatima dan Imma saling melempar pandangan seolah mencari kesepakatan.


Arkan masih diam, menatap Nadia dengan lembut lalu beralih menatap Fauzan dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


Nadia tetap menunduk menghindari tatapan beberapa orang yang ada di sekitarnya. Dia bingung karena tidak tahu dengan apa yang dia hadapi saat ini.


Berawal dari kecelakaan waktu itu, lalu, kejadian demi kejadian yang dialaminya, membuatnya terlibat dengan orang -orang kaya yang baru saja dikenal dan entah kenapa mereka  suka sekali memaksakan kehendak seperti saat ini?


Menjodohkan dirinya tanpa sebab apa pun juga dengan Arfan, padahal dia memiliki kekasih, semua anggota keluarga mengetahuinya, dia juga baru saja sadar setelah koma berbulan-bulan. Lalu, tiba-tiba saja dia harus menikah? Nadia heran di buatnya.


“Maksud, Bude?” tanya Fatima setelah melirik Imma dan Fauzan secara bergantian. Wanita itu tidak lagi duduk di sisi pembaringan tapi, berdiri berhadapan dengan Fauzan.

__ADS_1


“Ya.” Kata Fauzan.


“Kalau kamu ingat dulu Bude pernah buat nazar, kan, kalau mau menikahkan perempuan mana pun yang berhasil membuat Arfan sadar?” kata Fatima. Hanya dua orang itu yang bercakap-cakap sedangkan yang lain hanya jadi penonton.


“Tapi, Bude, Nadia itu wanitaku, lagi pula Arfan punya pacar yang dia cintai, kan? Ella sebentar lagi juga datang.” Fauzan berkata sambil menarik tangan kanan Nadia lembut dan mereka kemudian duduk di sofa.


“Fauzan, kenapa kamu tidak mau mengalah dengan Kakakmu, dia sudah sangat baik dan menyayangi kamu seperti adiknya sendiri!” kata Fatima lagi.


“Aku tahu, Buda nggak perlu ingetin aku, tapi, kenapa juga harus Nadia, sih? Memangnya Nadia yang sudah bikin Arfan sadar?” kata Fauzan sambil menatap Fatima dan Imma dengan penuh percaya diri.


“Ya. Coba lihat ini!” kata Fatima sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya. Lalu, dia menunjukkan dua rekaman video  dari ponsel itu dengan apa yang sudah dilakukan Nadia dan bagaimana respons Arfan padanya.


‘Apa orang kaya selalu seperti itu, ya, mereka bebas berbuat sesuka hati dan tidak mempunyai batasan, asalkan apa yang mereka inginkan terwujud tidak perduli apakah akan menyinggung orang lain atau tidak? Enak sekali punya harta dan kedudukan seperti itu, ya!’ batin Nadia masih diam.


Dia terus mendengar perbincangan orang di sekitarnya, apa pun yang dilakukan mereka, baik nazar, sumpahnya Fatima, perjodohan atau pernikahan Arfan, sadar atau tidak sadarnya seorang pasien, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Nadia masih berpikir bagaima mungkin mereka menjodohkan dirinya, ini pemaksaan, sedangkan Fatima dan juga Imma, bukanlah orang tua Nadia yang punya hak penuh atas diri anaknya. Jika kedua orang tua menjodohkan anak-anak mereka, itu wajar. Akan tetapi, keluarga Hadian sama sekali tidak punya hak untuk melakukan hal itu pada dirinya.


Setelah melihat rekaman video dalam ponsel Budenya, Fauzan menjadi lemas, dia menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam, sedangkan kedua tangannya terkepal. Dia tidak mengharapkan kebetulan seperti ini.


Fauzan sudah menyatakan cinta pada Nadia, tapi, gadis itu belum juga menyetujuinya lalu, sekarang dia justru akan dijodohkan dengan saudara laki-lakinya yang sudah beberapa bulan lalu mengalami koma. Hanya satu harapan lainnya yaitu Arfan tidak setuju dengan keputusan ibunya itu dan Nadia bisa kembali menjadi miliknya.

__ADS_1


Fatima kembali mengulangi permintaannya pada Nadia setelah mengatakan alasan dan sumpahnya. Wanita itu berharap Nadia mau memenuhi janjinya sebab ini adalah sumpah. Akan tetapi sumpah yang aneh.


Tiba-tiba Fauzan merasa menyesal meninggalkan Nadia sendiri di kamar perawatan Arfan, hanya karena ingin memberi wanita itu kejutan. Seharusnya dia mengajaknya ikut serta, setidak-tidaknya urusannya mudah karena dia bisa memilih sendiri pakaiannya.


Seandainya Nadia kemarin malam  ikut bersamanya, maka dia tidak akan membuat Arfan siuman karena perbuatan baiknya. Bahkan, pria yang masih sakit itu menyukai Nadia. Hal itu terlihat jelas dari cara Arfan menatapnya.


Fauzan ingin memberontak, dia tidak setuju, dia tidak mau jika gadis itu menjadi kakak iparnya,ini Sama sekali tidak lucu.


“Nadia, selamat ya, kamu sudah membuat Kakakku siuman. Sekarang kamu langsung dapat hadiah seorang calon suami, Arfan. Dia baik, Nad! Nggak kayak aku.” Fauzan berkata dengan nada yang putus asa.


“Apa maksud kamu, Zan?” tanya Nadia kesal, menurutnya, apa yang dilakukannya bukanlah prestasi sehingga tidak layak untuk mendapatkan ucapan selamat. “Siapa yang menganggap Arfan itu calon suamiku? Masih ada Ella, dia kekasihnya, kan? Aku nggak mau dijodohkan sembarangan! Kalian bukan , orang tuaku.  Kasian mbak  Ella.


“Nadia, Sayang ...kamu bisa bantu saya, kan?” Fatima berkata dengan penuh harap. Dia pikir Nadia adalah orang yang tepat untuk jadi istri bagi Arfan dan akan menikah secepatnya. Arfan sudah cukup usia dan matang untuk menjadi kepala keluarga.


“Tapi, Bude ... Ini pemaksaan namanya, sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya!” sahut Fauzan.


“Zan, diam kamu. Kamu tidak berhak ikut campur urusan kami! Kamu harus tahu di mana posiimu!” sahut Fatima lagi.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2