
Banyak Pertanyaan
Nadia beranjak dari duduknya demi mendengar pembicaraan yang sama sekali tidak menarik baginya. Ini menyebalkan, siapa yang mau dipaksa menikah oleh orang lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan.
Apalagi Nadia merasa lucu dengan ucapan Fatimah yang mengingatkan Fauzan tentang posisi dan kedudukannya sebagai anak tiri dalam keluarga, seolah menunjukkan jika laki-laki itu harus mengalah pada kakaknya, termasuk menyerahkan wanita yang dicintainya.
Ini menunjukkan ketidakikhlasan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sungguh ikhlas itu tetap harus dilakukan walaupun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, sebaiknya seseorang tidak mengungkit-ungkit kebaikan hingga sampai akhir hayat.
“Maaf, saya permisi sebentar, silahkan lanjutkan obrolan kalian.” Nadia berkata sambil melirik kalau hujan yang terlihat murung dan sepertinya menyimpan duka di kedalaman matanya.
Fauzan melirik Nadia juga dan untuk sejenak tatapan mata mereka saling bertemu. Sungguh pria itu tidak memungkiri posisinya, terlahir sebagai seorang anak yang tidak memiliki ibu dan terpaksa dibesarkan dengan keluarga lain bukanlah keinginannya, dan dia selama ini sebenarnya sudah sangat bersyukur, diterima dan dibesarkan dengan baik oleh Ima.
Oleh karena itu, dia menjadi anak yang penurut karena merasa tahu diri dibesarkan oleh orang tua yang bukan ibu kandungnya.
“Iya, Bude. Tidak perlu mengingatkan itu, aku juga tahu kalau aku bukan anak kandung Mama.” Fauzan berkata sambil melangkah keluar mengikuti Nadia, kemudian mereka duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit itu.
Fauzan tentu tidak lupa siapa dirinya karena sejak kecil, sering sekali Imma mengingatkan tentang siapa ibu dan siapa dirinya, mengapa dia bisa berada di rumah itu kemudian dibesarkan olehnya dan Hadian. Apalagi ayahnya juga mengatakan hal yang sama, walaupun laki-laki itu tidak pernah bercerita bagaimana pertemuan antara kedua orang tuanya dahulu. Setiap kali Fauzan bertanya, maka Hadian akan selalu menjawab jika mereka bertemu begitu saja dan ibu Fauzan sangat membutuhkan pertolongan.
“Maaf, aku sudah membawamu dalam masalah seperti ini, sekali lagi maafkan aku.” Fauzan berkata tanpa menoleh pada Nadia.
“Syukurlah kamu sadar, kalau begitu kamu harus ikut bertanggung jawab, aku tidak mau melakukan apa yang mereka inginkan, aku cuma mau pulang,” Nadia berkata dengan lugas dan datar seperti biasanya.
“Ya sudah. Ayo! Aku antar kamu pulang.” Fauzan beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju keluar rumah sakit, diikuti oleh , gadis itu tersenyum senang karena kali ini Fauzan akan mengantarkannya pulang menemui ibunya.
*****
Betapa terkejutnya Nadia ketika Fauzan ternyata mengantarkannya ke apartemen yang baru saja disiapkan dengan sengaja untuk dirinya. Ini bukanlah keinginannya, membuat gadis itu kesal menyadari semua orang kaya itu sama-sama memaksakan kehendak padanya.
Saat di mobil tadi dia sempat tertidur sebentar hingga tidak menyadari ke mana arah mobil itu membawanya pulang dan dia dibangunkan saat sudah menjelang sore, lagi-lagi Fauzan membuatkannya tertidur di dalam kendaraannya.
“Aku nggak tega bangunin kamu tadi,” jawab Fauzan saat Nadia bertanya kenapa dia dibiarkan tertidur di mobil sampai waktu shalat ashar hampir tiba.
“Ayo turun!” kata Fauzan sambil membuka pintu mobil yang dikemudikan oleh Jali.
__ADS_1
“Tidak mau, aku mau pulang!” kata Nadia dengan cemberut.
“Nona Nadia, ini juga rumah Anda ... Tuan Zan sengaja menyiapkan rumah ini untuk Nona, tinggallah di sini sampai sembuh ... kalau tidak, setidak-tidaknya tinggallah di sini untuk mandi dan makan, saya tahu Nona belum mandi dan makan sejak pagi, iya, kan?” kata Jali, dengan lemah lembut dari balik kemudi.
Jali sepertinya tahu benar bagaimana cara membujuk Nadia agar menurut, padahal sebenarnya dia hanya ingin menenangkan hati majikannya saja.
Sepanjang jalan tadi laki-laki paruh baya itu terus mencandai Fauzan yang duduk dengan malas di samping Nadia. Seharusnya dia bahagia karena bisa menjadi tempat sandaran ketika orang yang dicintainya tertidur di pundaknya.
Akan tetapi, karena kejadian sebelumnya, membuat Fauzan seperti tidak berselera, dia bahkan bermuka masam, mengingat permintaan dari Imma dan Fatima untuk membiarkan Nadia menjadi milik kakaknya.
Siapa sih yang rela menyerahkan orang yang disayangi untuk dimiliki oleh orang lain?
Ada sebagian orang yang bilang bahwa mencintai yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu mengikhlaskan orang yang dicintainya itu bahagia. Fauzan menyangkal hal ini karena dia merasa dirinya tidak memiliki hati seluas samudra.
Akan tetapi, yang terjadi antara dirinya dan Nadia berbeda sebab Nadia tidak menginginkan perjodohan dengan kakaknya. Dia pun menjadi serba salah, dia tidak bisa mengikhlaskan Nadia, tapi juga tidak ingin menyakiti keluarganya.
Fauzan hanya berharap jika keputusan yang akan diambil oleh Nadia nanti tidak akan menyakiti kedu belah pihak, baik dirinya atau pun keluarga yang telah membesarkannya.
Akhirnya di sinilah Nadia sekarang berada, dia tinggal di apartemen yang nyaman, bahkan Fauzan sedah hampir memenuhi semua kebutuhan standar seorang wanita sehari-harinya. Entah bagaimana laki-laki itu bisa tahu beberapa hal sensitif perempuan seperti pembalut pun sudah tersedia.
Fauzan mengerti perasaan Nadia, yang mungkin tidak kesal pada dirinya hingga dia memberinya kebebasan untuk sendiri. Dia hanya mengantarkannya sampai di depan pintu lalu, pergi lagi
Setelah Nadia selesai mandi dan mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh asisten itu di kamarnya, dia menikmati makan malam berdua. Wanita itu mengaku bahwa dirinyalah yang sudah bertanggung jawab mengurus dan membesarkan Fauzan selama ini, sejak bayi kecil dibawa ke rumah besar oleh Hadian, ayahnya sendiri.
Kedua wanita itu bercakap-cakap membicarakan tentang Fauzan. Dengan penuh semangat Sati menceritakan kebaikan-kebaikan pria itu, dia bersyukur menerima tanggung jawab untuk menjaga Fauzan sampai saat ini.
“Apa Bibi tahu kenapa Ibu Pak Zan meninggal?” tanya Nadia penasaran.
“Tidak, Non! Kata Tuan Besar, Ibu Den Zan sakit, Tuan Besar Cuma menolong perempuan itu.”
“Tapi, kan, Pak Fauzan itu anaknya sendiri? Ini aneh sekali, kan, Bi?”
“Saya tidak tahu Non, kalau soal itu, kami para pembantu di rumah itu tidak boleh banyak tahu soal para majikan. Itu rahasia perusahaan.”
Nadia hanya bisa mengangguk karena tidak bisa mendapatkan informasi tentang orang tua, ibu Fauzan yang sebenarnya, dari bibi pengasuhnya ini.
Semua masa lalu tentang keluarga itu bukan urusan Nadia tetapi, dia hanya penasaran dan timbul banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.
__ADS_1
Bukankah anak yang terlahir itu adalah konsekuensi dari sebuah hubungan, bukankah biasanya hubungan percintaan antar dua oranglah yang akan melahirkan anak-anak, lalu, apabila dia hanya menolong wanita itu bagaimana ceritanya hingga bisa melahirkan Fauzan?
Lalu, yang lebih mengherankan lagi seluruh pihak keluarga mempercayainya begitu saja, apakah benar-benar pengaruh seorang Hadian begitu kuat dalam keluarganya?
Di mana pria itu? Apakah begitu pentingnya perusahaan hingga saat mendengar anaknya yang sadar dari komanya setelah berbulan-bulan pun dia tidak datang?
Nadia menepiskan banyak sekali pertanyaan itu dengan menggelengkan kepala, seolah-oleh pertanyaan itu bisa hilang dari otaknya jika dia menggelengkannya.
“ Apa Non Nadia pegawainya Dan Zan? kenapa memanggilnya Pak?” Tanya Sati setelah beberapa saat lamanya diam, sedangkan makanan di piring mereka sudah habis.
Nadia menggelengkan kepalanya lagi sambil mengunyah makanannya. Wanita itu sudah menambah porsi makannya sampai dua kali. Dia terlalu lapar,.dari pagi sampai sore baru saat ini menyantap makanan.
Saat siang tadi di rumah sakit, memang Fatimah mengajaknya makan siang, tetapi setelah sampai di dalam ruangan perawatan Arfan, wanita itu tidak mengajaknya makan, melainkan justru membicarakan tentang perjodohan.
“Saya sudah nggak bekerja lagi di kantor Pak Zan beberapa bulan yang lalu, kemarin kami kebetulan bertemu dan saya justru di suruh nunggu Kakaknya dia rumah sakit, padahal saya mau pulang, saya juga nggak tahu kenapa sekarang saya dibawa ke sini.”
Nadia diam sejenak memberi jeda pada napasnya saat bicara, sekaligus dia ingin melihat reaksi yang diperlihatkan wanita paruh baya itu dengan ceritanya.
“Sekarang, saya kemalaman kalau mau pulang, saya juga tidak bawa pakaian ganti, Alhamdulillah di sini ada banyak baju ganti yang bisa saya pinjam.”
“Oh,” jawab Sati tenang, setelah itu dia menghabiskan minuman di gelasnya lalu, kembali berkata, “Saya pikir Nona calon istri Den Zan!”
“Uhuk!” Nadia tersedak makananya dan segera meneguk air putih dari gelasnya, lalu bicara lagi setelah batuknya reda. “Kenapa Bibi ngomong begitu?”
“Ya, soalnya kan, Den Zan nggak pernah seperti ini sebelumnya sama perempuan, Non.”
“Masa? Katanya dia play boy?”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Ada, deh.”
Nadia tidak mungkin membicarakan aib orang lain atau berterus terang jika Ibu Fauzan sendiri yang sudah mengatakan jika Fauzan adalah seorang pemain wanita.
“Lalu, baju-baju siapa yang saya pakai ini, Bi?”
__ADS_1
Bersambung