
Bukan Rencana Siapa-siapa Tapi Ibunya
Jadi, selama ini yang dia dengar apabila Fauzan sangat tergantung kepada Hadian dan, juga hanya datang ke kantor ketika memerlukan uang, semuanya adalah berita bohong belaka.
Dia jarang terlihat di kantor utama karena sedang merintis usaha barunya sekarang, dan dia hanya datang sewaktu-waktu ke kantor ayahnya itu, ketika dia memerlukan bimbingan. Terkadang dia datang hanya untuk menyerahkan sebuah laporan penting yang memang harus diketahui oleh pimpinan perusahaan.
Namun Ahsan tidak mengetahui secara detail tentang penyamaran, uji coba Imma pada Fauzan, serta penyaringannya kepada beberapa wanita dengan identitasnya sebagai pengangguran. Hanya Nadia yang bisa menaklukkan hatinya, serta tidak memandang sebelah mata walaupun, dirinya tidak memiliki uang dan juga terlihat miskin.
“Oh, Ibu yang telepon!” kata Nadia sambil tersenyum girang, lalu, dia meminta izin pada Fauzan untuk mengobrol dengan ibunya melalui telepon selulernya.
“Terima kasih, Pak!” kata Nadia setelah Fauzan mengizinkan.
“Halo, Bu, Assalamualaikum!” kata Nadia lembut, suaranya jelas terdengar oleh Fauzan karena mereka masih berada dalam ruangan yang sama.
Setelah suara Nadia berhenti terdengar, suasana mendadak hening. Bahkan, sampai beberapa waktu terlewat pun tetap hening hingga saat Nadia berdiri dengan panik, lalu berteriak cukup keras.
“Apa? Nggak, Bu! Nadia nggak mau!” katanya.
Sementara Fauzan tetap tekun melihat layar laptopnya meski telinganya sedikit mencuri dengar ke arah pembicaraan Nadia. Namun, tak lama kemudian pria itu terlihat sedikit mengerutkan alis, saat membaca dan memeriksa beberapa grafik dalam penjualan saham serta tradding milik perusahaannya.
Sebenarnya tradding saham perusahaan dalam zona seimbang dan fluktuasinya bagus, tapi perusahaan lain terlihat lebih bagus. Untuk sesaat Fauzan mengalihkan pendengarannya dari pembicaraan Nadia. Lalu, dia fokus kepada layar laptopnya. Pria itu mengirimkan beberapa pesan kepada ayahnya untuk segera melihat situs trading pada penjualan saham mereka.
Ponsel Fauzan kemudia berbunyi, lalu, Fauzan menerima panggilan itu tanpa mengalihkan tatapan dari laptopnya. Hadian yang menghubunginya.
“Ya, Ayah.” Kata Fauzan begitu menempelkan ponselnya ke telinga dan mendengar ucapan Hadian.
“Baik, baik aku mengerti, ya, masih kisaran aman, naik kurang dari dua persen tiap jam itu masih bagus.” Katanya lagi.
Di saat yang bersamaan, Nadia menjawab dengan pasrah pada Salima yang terdengar sangat marah di telepon.
“Ya, Bu, baiklah kalau Ibu mau datang ke sini, tapi, tolong, Bu ... jangan bicara apa-apa dulu sama Zan. Aku, kan malu, Bu!”
Diam lagi.
“Iya ... iya ... Kapan Ibu mau ke sini?”
Diam lagi.
“Baik, iya, wa’alkumussalam!”
Dua orang berlawanan jenis itu mengakhiri panggilan dalam waktu yang bersamaan. Jadi, Fauzan pada akhirnya tidak tahu apa yang dibicarakan Nadia dan ibunya, sedang Nadia juga, jadi penasaran dengan siapa tadi Fauzan bicara.
__ADS_1
Entah dorongan dari mana hingga Nadia menjadi sangat penasaran, dengan segala sesuatu pada Fauzan. Banyak cerita dari Ahsan, membuat Nadia berpikir berbeda tapi, tiba-tiba saja dia memiliki rasa ingin tahu lebih dalam tentang pria ini.
Sementara itu, semua yang dibicarakan ibunya membuatnya sangat malu pada Fauzan. Gadis itu mendekat pada Fauzan yang, sendirinya tidak menyadari kedatangan Nadia di sana.
“Pak!” panggil Nadia dengan lembut dan malu-malu.
Seketika Fauzan mengalihkan tatapan matanya dari layar laptopnya dan dia menatap Nadia dengan lembut
“Hmm ....ada apa? Duduklah!”
Nafia duduk dengan salah tingkah.
“Apa benar, ya pak tadi ada siaran televisi meliput berita di sini?”
Pertanyaan Nadia, secara spontan membuat Fauzan menegakkan Punggungnya dan otaknya berpikir cukup keras.
“Ya!” kata Fauzan ragu, karena dia tidak tahu pasti arah pembicaraan dan maksud gadis itu. “Ada apa, gitu? Apa ada masalah?” Fauzan balik bertanya untuk mengalihkan kegugupannya.
“Maaf, Pak. Saya mungkin sudah membuat nama baik perusahaan Bapak tidak baik di mata orang!” Kata Nadia dengan suara terbata-bata. Kepalanya menunduk.
“Jadi, kamu sudah tahu apa kesalahanmu, sekarang?” tanya Fauzan dengan sedikit keraguan dalam nada bicaranya, dia khawatir salah arah
“Maaf, Pak. Sekali lagi, saya minta maaf.”
“Pak, saya tadi sama Pak Ahsan, tidak sedang berbuat sesuatu atau membicarakan masalah pribadi, kami hanya bicara urusan perusahaan!”
“Benarkah, aku melihatnya tidak seperti itu, apalagi orang lain!”
“Pak, saya berani di sumpah! Saya tidak berniat membuat nama Bapak dan perusahaan tercoreng, karena secara tidak sengaja tertangkap kamera berita di televisi, yang sedang meliput perusahaan baru ini, saya kelihatan sedang mengobrol dengan karyawan laki-laki!”
Setelah Nadia mengatakan alasannya, Fauzan pun memaklumi dan mengerti arah dari pembicaraan gadis itu padanya. Sebenarnya memang ada peliputan berita tapi, bukan di sini, melainkan di proyek barunya bersama dengan pemerintah kota. Itu pun bukan sekarang tapi, dua hari lagi.
Dia kemudian berpikir jika ide berita ini adalah dari Salimah ibunya Nadia, yang berpikir jika dengan cara itulah dia bisa membuat mereka terikat satu sama lain, dengan alasan untuk menepis semua berita dan isu yang tersebar di kemudian hari.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk meredam berita atau isu, yang mungkin saja muncul jika ada berita tidak sedap. Kamu, kan, satu-satunya pegawai wanita di sini?”
“Maaf, Pak ...!”
“Hanya minta maaf?” kata Fauzan lembut, padahal dalam hati dia sudah gemas sekali. Seandainya wanita ini puding susu atau kue talam lezat buatan Mamanya, pasti sudah habis dia santap saat itu juga.
“Tadi Ibu telepon, katanya salam buat Pak Zan.”
__ADS_1
“Oh, Alhamdulillah, wa’alkumussalam. Bilang pada Ibu, kalau butuh sesuatu yang ada di kota, tinggal bilang saja!”
“Iya, Pak.”
“Apa Ibumu, sehat?” tanya Fauzan membuat Nedia terharu karena laki-laki itu menanyakan tentang kesehatan ibunya, menunjukkan perhatian yang begitu besar kepada keluarganya. Nadia mengangguk.
“Ya. Sehat.” Nadia sudah berhenti bicara dan Fauzan pun sudah kembali menatap ke layar laptopnya tetapi, gadis itu masih tetap setia duduk di depannya.
Fauzan memperhatikan kegugupan dari raut wajah gadis itu hingga dengan terpaksa, dia mematikan laptop yang ada di atas meja. LaLu, menutupnya. Kini dia menegakkan punggung serta menumpukan kedua tangannya di atas meja, dengan tatapannya lurus ke arah Nadia.
“Nadia, Aku mencintaimu!” kata Fauzan buat Nadia terperangah sambil mendongak, ke arah pria di depannya hingga tatapan mereka saling beradu.
Gadis itu diam.
“Nadia ini sudah berbulan-bulan, dan kamu masih belum memberi aku jawaban? Ah! Yang benar saja Nadia ... kalau kamu tidak mau, ya, bilang saja tidak, kalau kamu mau ayo kita menikah!”
“Tapi, Pak!”
“Nadia, maukah kamu menikah denganku? Sebagai alasan apabila nanti ada sebuah isu yang mengatakan kamu sudah berbuat yang tidak-tidak dengan sesama rekan kerjamu!”
Fauzan bicara dengan yakin, dia menduga kalau Salima sudah meminta Nadia untuk menikah saja dengan dirinya, tapi, berhubung dia seorang wanita, maka gadis itu pasti malu untuk mengatakannya terlebih dahulu.
“Jadi, kalau kamu mempunyai hubungan khusus denganku, maka, isu itu bisa ditepis dengan mudah ... karena untuk apa kamu menjalin hubungan dengan karyawan biasa padahal, kamu mempunyai cinta dari orang sepertiku, gimana? Kamu setuju, kan?”
“Tapi, Pak. Saya tidak mau menjalani pernikahan hanya karena untuk menepi sebuah isu ataupun fitnah!”
“Nadia! Siapa juga yang, mau menikahi kamu hanya karena menepis sebuah isu? Aku benar-benar mencintaimu!”
“Zan ...!”
“Ya, aku! Fauzan, benar-benar mencintaimu dari dulu, Nad. Apa kamu masih ragu, aku janji, aku nggak akan seperti Anthoni, aku bukan dia!”
“Zan ...aku ... Eumm, besok Ibu mau ke Jakarta.”
“Itu, bagus! Jadi, aku bisa langsung melamarmu, Nadia ...!”
“Sebenarnya, Ayah sama Ibu yang mau melamarmu, Zan!”
“Apa? Kok bisa, sih?”
__ADS_1
Bersambung