AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 13 Dia Terluka


__ADS_3

Suara keras seperti ledakan terdengar dari bagian belakang gudang penyimpanan berbagai macam peralatan kantor, stock barang, dan terdapat juga beberapa mesin alat operasional perusahaan di sana


Ternyata, sebuah bangunan setinggi sepuluh meter di sebelah kantor Hadian, yang tengah di renovasi itu runtuh menimpa gudang. Meskipun penyebab suara gaduh itu bukan berasal dari perusahaan di mana Nadia bekerja, tetapi, tetap saja perusahaan ikut mengalami kerugian.


Kebetulan, Nadia dan Dodi yang hendak bertugas membersihkan kaca, tengah berada tepat di sisi gudang yang terkena reruntuhan! Kedua orang itu terjebak di dalamnya dan tidak bisa keluar kecuali, beberapa matrial yang ada di atas tubuh mereka diangkut terlebih dahulu dari atas.


Mereka terluka parah, untung saja waktu itu Nadia dan Dodi sudah memakai helm pengaman. Sehingga bagian penting dalam tubuh manusia itu tidak mengalami luka yang berarti.


Saat ledakan terjadi, mereka sudah selesai memakai perlengkapan keamanan standar pekerja, dan posisi mereka tengah berjongkok di dalam gondola karena tengah mengambil cairan pembersih dan memakai sarung tangan.


Ada kayu dan sebongkah pecahan tembok yang cukup besar ada di atas mereka, gondola tempat mereka berada pun penyok dan hampir gepeng akibat tertimpa dua matrial itu. Kaki dan badan Dodi terjepit sementara Nadia bagian punggung dan pundaknya.


“Tolong! Tolong!” teriak kedua orang itu dengan suara parau, sambil meringis menahan sakit yang amat sangat.


Keringat meluncur deras baik dari dahi Nadia dan juga Dodi, wajah mereka sudah pucat sepasi mayat, bibir sama-sama merintih menahan rasa nyeri luar biasa tertimpa benda berat di atas bagian tubuh mereka.


“Nad, kamu nggak papa?” tanya Dodi sambil meringis, dia melihat kayu besar itu melintang di atas gondola dari arah pundak Nadia dan berakhir di kakinya yang dalam keadaan tertekuk. Karena saat itu tengah berjongkok.


“Kamu sendiri ... Sshh...” tanya Nadia sambil berusaha bergerak tapi tidak bisa. Badannya dalam kondisi tertekuk karena bongkahan benda besar menindih pundaknya. Sementara banyak sekali bongkahan kecil dan sepihan benda-benda tak berbentuk lainnya memenuhi ruang dalam gondola.


“Sepertinya kakiku patah!”


“Kalau aku mungkin pundak sebelah kiri ku, ah ....”


“Jangan bergerak, biar nggak tambah parah!”

__ADS_1


Satu jam menunggu, akhirnya suara-suara mesin alat berat mulai bekerja mengeruk reruntuhan dan beberapa orang ikut serta membantu mengambil reruntuhan.


Salah satu di antara tim penyelamat dan pihak kepolisian itu, terlihat Fauzan. Pria itu terlihat begitu panik dan tanpa khawatir memindahkan sedikit demi sedikit bongkahan bata, kayu, besi dan benda lain yang saling bertumpuk di hadapannya.


Tadi, Fauzan sempat melihat Nadia tengah bekerja saat dia melintas dinding kaca, sebelum naik melalui lift menuju ruangan ayahnya. Dia tersenyum lucu memperhatikan Nadia dari dalam, tapi gadis itu tidak bisa melihatnya dari luar.


Setelah sampai di ruangan kantor ayahnya, baru saja dia duduk, sudah mendengar suara keras berdebum di belakang gedung. Tentu saja dia terkejut dan segera berlari menggunakan lift untuk sampai ke arah kejadian dengan panik.


Bukan hanya Fauzan, seisi gedung pun panik dan berhamburan keluar. Mereka melihat pemandangan yang mengerikan, di mana gedung tinggi yang sedang dibangun kini sudah hampir rata dengan tanah. Itu kesalahan kontruksi!


Betapa gusarnya Fauzan melihat tempat di mana Nadia tadi tengah memakai peralatannya, sudah tertutup beberapa matrial besar. Dia segera menghubungi polisi, pihak penanggung jawab gedung sebelah, pemadam kebakaran, rescue, dan beberapa pihak terkait lainnya.


Dia berusaha sendiri mengeruk reruntuhan dengan tangannya sampai terluka, tapi dia tak peduli, sambil berteriak memanggil nama Nadia. Dia mengacak rambutnya karena tidak bisa! Jalan menuju ke tempat Nadia terhalang oleh tumpukan tembok yang terjal. Susah payah dia mendaki karena kekhawatiran menyelimuti benaknya.


“Nadia!” pekiknya tanpa berpikir panjang bila teriakannya akan di dengar orang-orang yang berkerumun dan akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Tanpa ada yang menyadari, airmata mengalir di pipi Fauzan, tidak ada yang melihat karena pria itu tidak melepas kacamata hitam dan maskernya. Tangannya pun terluka karena membantu mencari keberadaan gadis ini.


Dalam insiden itu, empat orang dinyatakan tewas dan dua puluh orang dinyatakan luka-luka yang terdiri dari para pekerja bangunan dan termasuk di antara mereka adalah Nadia.


Para pekerja yang sudah berhasil selamat dari kejadian itu, dirawat di rumah sakit terdekat. Sementara Nadia sendiri yang sudah dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP. Dialah satu-satunya korban selamat yang paling cepat ditangani dan mendapatkan kamar  perawatan yang special karena permintaan Fauzan.


Pria itu dengan sabar menunggu di kamar, setelah Nadia selesai mendapatkan perawatan. Gadis itu kini memakai gips di pundaknya, dan baju rumah sakit, tentu tanpa hijab yang biasa dia kenakan dan dia tidak tahu karena dalam keadaan pingsan.


Fauzan benar-benar terpesona dibuatnya, dia merasa bila dirinya tidak masuk akal karena sudah menikmati pemandangan ini. Nadia terlihat sangat menawan dengan wajahnya yang tanpa penutup kepala padahal, dia dalam keadaan tidak baik, dia sakit. Baik pipi, leher, dagu, pundak dan tangannya pun penuh luka, tidak bisa dikatakan menarik. Akan tetapi kepolosan gadis inilah yang sudah membuat Fauzan jatuh cinta tanpa disadarinya.

__ADS_1


‘Pantaslah selama ini dia menyembunyikan keindahan ini hanya untuk dinikmati sang suami’ pikir Fauzan sambil membelai kepala Nadia, bahkan dia melepas kaca mata dan maskernya.


Tiba-tiba Fauzan merasa berdosa, dia melihat Nadia seperti orang yang belum pernah melihat wanita sebelumnya. Banyak wanita di luar sana yang bila tahu tentang kebenaran, maka akan berlomba-lomba mendapatkan cintanya.


 Akan tetapi, gadis ini berbeda, dia terlihat sama sekali tidak tertarik. Walaupun, dia jelas-jelas tahu bahwa Fauzan anak dari pemilik perusahaan. Hanya Nadia yang dia anggap tulus dan baik secara murni, tidak ada embel-embel mencari perhatian dan semacamnya.


Saat itu Fauzan memerintahkan seseorang melalui telepon, untuk membeli beberapa kerudung instan yang bisa digunakan Nadia selama berada di rumah sakit yang tentu saja tidak menyediakan kerudung bagi para pasiennya.


Saat itu seseorang masuk, bertepatan dengan saat mata Nadia yang terbuka secara perlahan, bersamaan dengan gerakan beberapa jari. Lenguhan lembut juga keluar dari mulutnya yang kering pucat. Ada bekas luka di salah satu sudutnya.


“Uh ....” gumam Nadia sambil mengumpulkan segenap kesadaran di otaknya, lalu, pandangan matanya berputar ke sekeliling.


Fauzan dengan cepat memakai kaca mata hitam dan maskernya.


“Nadia, kamu sudah sadar?” tanya Fauzan sambil menggenggam tangan Nadia yang terbebas dari belitan kain kasa.


Wanita itu diam saja, dia masih mencoba mengingat apa yang terjadi setelah lebih dari lima jam dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Tuan muda, ini pesanan Anda,” kata seseorang yang tadi masuk bangsal tanpa permisi sambil mengulurkan sebuah bungkusan dari tangannya.


Saat pria itu masuk, secara tidak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Nadia yang tampak berpikir keras hingga kedua alisnya berkerut.


“Dia ....” kata Nadia lirih, sambil melihat ke arah Fauzan dan pria yang berdiri di dekat pintu dengan tatapan heran, secara bergantian.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2