AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 17 Sampai kapan


__ADS_3

Nadia kembali membuka mata untuk melihat ke arah Fauzan, ingin sekali dia mendengar apa yang dimaksudkan bahwa dirinya berbeda. Pada saat itu dia berpikir jika perbedaan yang dimaksud adalah karena dia cleaning servis yang dipercaya oleh ayahnya untuk menyimpan sebuah rahasia di ruangannya, tentu saja itu, kan?


“Ya. Jelas  beda, lah ... Soalnya, kan, kamu cleaning servis kepercayaan Ayah!” kata Fauzan tanpa beban, padahal dari matanya yang tertutup kaca mata hitam itu terlihat sorotnya memancarkan kerumitan tatapannya pada gadis di hadapannya.


Mendengar ucapan Fauzan, Nadia pun tertawa kecil seolah menertawakan dirinya sendiri karena apa yang diucapkan Fauzan itulah yang ada dalam benaknya saat ini. Akan tetapi, saat dia tertawa, bahu dan leher serta dagunya terasa sakit, membuat Nadia segera menghentikan tawanya.


“Baiklah, kita lihat saja nanti apa yang akan dibutuhkan ayahmu.” Nadia berkata sambil memiringkan badannya perlahan ke samping kanan, dia merasa sangat pegal, sudah selama dua hari, selalu terbaring dalam keadaan tengkurap karena punggung dan pundak sebelah kirinya tidak boleh menyangga beban.


“Ayah akan mendukungmu?”


“Benarkah?”


“Ya. Dia sendiri yang bilang padaku.”


“Kapan?”


“Kemarin, lewat telepon.”


“Hmm ....”


Nadia enggan menanggapi, sebenarnya badannya sangat lemah karena dia tidak nafsu makan, hingga tubuhnya sudah terlihat kurus padahal baru dua hari saja dirawat. Namun demikian, dia optimis bahwa, akan segera sembuh dan keluar dari rumah sakit ini secepatnya. Dan tidak akan tergantung lagi pada Fauzan atau siapa pun setelahnya.


Nadia memejamkan mata mencoba untuk kembali terlelap setelah beberapa jam lamanya terjaga tapi, tidak melakukan aktivitas apa pun di tempat tidur membuatnya jenuh. Selain itu dia juga merasa serba salah dengan pria yang selalu menemani di sebelahnya. Hanya sesekali saja Fauzan keluar atau menjauh darinya, sekedar untuk makan dan menerima panggilan telepon atau saat dia ingin jalan-jalan sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


Sudah berulang kali Nadia memintanya untuk pergi atau bekerja melakukan tugasnya seperti biasanya. Akan tetapi, pria itu bersikukuh dengan alasan tidak tega meninggalkan dirinya sendiri tanpa seorang teman. Hal ini membuat Nadia sangat merasa berhutang budi.


Sampai hari ini, di mana Nadia harus kembali melakukan pemeriksaan, dan alat penyangga lehernya boleh dibuka, pria itu tampak senang karena ada perkembangan yang bagus untuk kesehatannya. Bahkan para perawat yang tidak tahu siapa Fauzan pun mengucapkan selamat padanya atas perkembangan kesehatan istrinya.


Mendengar para perawat menyangka bahwa mereka adalah pasangan suami istri, Fauzan tertawa dan mengangguk saja. Seandainya semua orang bisa melihat raut wajah bahagia dan semringah di balik kaca mata, tentu saja mereka akan benar-benar menganggap bahwa keduanya sudah menikah.


Sebaliknya dengan Nadia, yang hanya cemberut dan mendengus kasar saat para perawat itu mendoakan kebaikan untuk dirinya. Bukannya dia tidak suka dengan doa, tapi, semua doa para perawat itu hanya karena suaminya yang sudah setia menjaga dan mengurus dirinya. Ini menggelikan sekali. Seandainya mereka tahu bahwa dia hanyalah seorang pegawai rendahan, sementara Fauzan adalah anak bos yang tengah dihukum, harus diasingkan dan tidak boleh menunjukkan identitas asli.


“Kamu suka di bilang kita suami istri? Kalo aku, enggak!” kata Nadia setelah para perawat itu pergi.


“Kenapa?”


“Aku kira nggak ada wanita yang mau punya suami aneh, ke mana-mana pake masker sama kaca mata hitam buat nutupi identitas aslinya!”


Fauzan hanya diam sementara Nadia memejamkan mata mencoba untuk kembali terlelap.

__ADS_1


‘Memangnya mau sampai kapan kamu kuat seperti itu?’ batin Nadia.


‘Sebentar lagi, aku akan mengakui semuanya, sepertinya aku sudah menemukan orang yang tepat, aku menyamar untuk nyari perempuan seperti kamu, Nad, yang selalu baik tanpa melihat status, atau perempuan yang nggak manfaatin aku padahal, kamu tahu aku anak pemilik perusahaan, kamu justru nolak kebaikan aku, Nad!’ batin Fauzan.


 


******


 


Menjelang hari ke empat, orang tua Nadia datang dan tentu saja sangat mengagetkannya. Salima dan Maulana, orang tua yang sudah berusia hampir enam puluh tahunan itu tidak menyangka akan di bawa ke rumah sakit dan melihat anak gadisnya terbaring penuh luka di sekujur tubuhnya.


Mereka di bujuk oleh seseorang yang sama sekali tidak mereka kenal, untuk melihat Nadia yang membutuhkan, tanpa mengatakan apa sebenarnya yang dibutuhkan Nadia. Berulang kali orang itu datang tanpa kenal lelah meyakinkan mereka hingga akhirnya mereka berkenan datang demi anak.


Semua itu atas keinginan Fauzan, yang meminta merahasiakan keadaan Nadia yang sebenarnya agar orang tua itu tidak gusar. Mereka hanya tahu jika Nadia baik-baik saja. Akan tetapi yang mereka lihat saat melihat kenyataan yang berbeda, tentu saja mereka kecewa.


Saat mereka datang siang hari itu, Nadia tengah makan sendiri sedangkan Fauzan hanya membantunya menuangkan air minum, membuka bungkus obat atau melakukan hal lainnya. Sebab Nadia menolak saat pria itu ingin menyuapinya.


Risi bagi Nadia menerima perlakuan sedemikian rupa dari Fauzan yang tidak punya ikatan apa pun dengan dirinya.


“Nadia!” pekik Salima begitu dia dipersilakan masuk oleh orang yang mengantarkannya sampai di depan bangsal perawatan Nadia.


Panggilan dari orang yang sangat dia harapkan kehadirannya itu membuatnya terkejut sekaligus terharu, tapi ... ‘bagaimana mereka bisa tahu aku di sini?’ batinnya.


“Ibu!” kata Nadia setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Kedua wanita yang sama-sama saling merindukan itu pun berpelukan disertai tangis yang tidak bisa dielakkan.


“Kenapa kamu nggak bilang, Nak ... kamu sakit begini, sebenarnya kamu kenapa?”


“Nggak apa-apa, Bu ... Alhamdulillah, Nad, di sini selamat, Cuma luka punggung sama bahunya saja, kok!”


“Kamu bilang, Cuma? Ini parah sekali, Nak ....!”


Kedua wanita itu terus menangis, Sementara Maulana dan Fauzan yang menyaksikan pemandangan itu hanya tertegun penuh rasa haru. Sekilas saja Nadia melirik pemuda itu penuh tanda tanya.


Setelah itu gantian Nadia menyalami ayahnya dan mencium punggung tangan pria yang sudah banyak berjasa dalam membesarkannya.


“Alhamdulillah, yang penting kamu baik-baik saja, Nak.” Kata Pria itu. “Gimana, kok, bisa kejadian seperti ini ...?” tanyanya kemudian.


Nadia pun menceritakan bagaimana kejadian yang menimpanya dan bagaimana dia kudian bisa di rawat di tempat itu serta apa yang sudah dilakukan Fauzan setelahnya. Dia hanya mengharapkan kedua orang tuanya itu tidak khawatir apalagi dia tidak bisa terus menerus menghubungi mereka.

__ADS_1


Setelah Nadia selesai bercerita, kini kedua orang tua itu yang bercerita bagaimana mereka bisa ada di sana, mereka tidak segera datang karena menganggap Nadia baik-baik saja hingga mereka menyesal. Saat seseorang yang tidak dikenal datang menjemput, saat itu mereka tengah menghadiri pesta pernikahan tetangganya, ibu dan ayah Nadia menjadi sesepuh yang dihormati hingga tidak bisa sembarangan meninggalkan pesta sebelum acara selesai. Hal itulah yang mengakibatkan mereka baru bisa mengunjungi anaknya.


“Memangnya apa yang orang itu katakan soal aku, Bu?” tanya Nadia sambil sesekali melirik Fauzan.


“Mereka bilang kamu butuh kedua orang tua karena kamu masih repot. Kamu juga mau ketemu sama ibu, tapi nggak bisa telepon soalnya mereka bilang telepon kamu rusak.”


“Memangnya Ibu nggak curiga? Kan, aneh orang itu, Bu?”


“Memang orang itu mencurigakan, Ibu juga takut di culik tapi, masa orang tua kaya kita ini mau di culik, ya, Pak? Kan, nggak mungkin. Akhirnya Ibu ikut saja, pasrah.” Salima berkata sambil melirik suaminya yang duduk di sisi tempat tidur. Pria itu kemudian mengangguk.


“Apa Ibu bawa baju ganti, nggak?”


“Bawa, banyak. Orang itu bilang, kamu butuh bantuan Ibu lebih dari seminggu.”


“Oh.”


“Jadi, selama ini kamu sama siapa di sini, Nad? Sendiri?”


“Sama, Pak Fauzan.” Kata Nadia sambil menunjuk Fauzan yang sebenarnya tengah tersenyum tapi, tak terlihat karena tertutup oleh maskernya.


“Siapa? Fauzan?” tanya Salima tidak percaya, sebab saat di dalam mobil orang yang menjemputnya, orang tak dikenal itu beberapa kali menyebutkan nama Tuan Fauzan.


Salima menoleh ke arah Fauzan yang tengah melihat ke layar ponsel, begitu juga dengan Maulana yang melihat pemuda itu sambil mengernyitkan dahi.


“Jadi, selama ini kalian hanya berdua, di kamar ini dengan Nak Fauzan ini?” kata Maulana dengan suara agak meninggi.


Fauzan bangkit dan menyalami tangan kedua orang tua Nadia dengan sopan sambil memperkenalkan diri sebagai teman Nadia, membuat gadis itu melotot ke arahnya, dia tidak suka.


“Benaf, kamu yang selama ini menolong anakku dan menemaninya sepanjang waktu?” tanya Maulana.


“Ya.” Fauzan menjawab singkat.


“Kalau begitu, nikahkan saja mereka, Pak!” kata Salima.


“Apa?”


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2