
Melamar Fauzan (Dunia Terbalik)
Fauzan terkekeh cukup keras, kalau dalam agama hanya laki-laki yang melamar wanita, tapi, di jaman modern ini orang tua dari si wanita yang datang untuk melamar pria. Apa dunia ini sudah terbalik?
“Jadi, karena berita itu!” kata Nadia, “Ayah dan Ibu nggak mau kalau namaku juga tercemar karena ada orang kampung yang lihat berita dan mereka tahu ada aku sama seorang pria tersorot kamera, masih asyik ngobrol cukup dekat. Sebenarnya, kami Cuma bicara soal perusahaan, tapi, kan nggak tahu pikiran orang seperti apa?”
“Ya, syukurlah kalau kamu sudah tahu. Ayo! Kita pulang, sudah sore. Kerjaan kamu sudah selesai, kan?”
Fauzan berkata sambil berdiri, lalu, dia mengamasi beberapa barang pribadi yang akan dibawa pulang, lalu, memasukkannya dalam satu tas D&G warna hitam.
“Selesai dan cukup untuk hari ini, besok, ada lagi, Pak. Kalau mau nuruti selesai, kan, gak akan pernah ada habisnya selama perusahaan ini masih berdiri!”
“Wah, pandai sekali istriku ini!” kata Fauzan sambil menepuk kepala Nadia.
“Jangan macam-macam Zan! Baru calon istri!” kata Nadia sambil meraih handphone serta tas kerjanya yang dia selempang kan begitu saja.
“Oh! Jadi, kamu setuju, ya, kamu mau jadi calon istriku?”
Nadia mengangguk malu-malu. Kini mereka berjalan beriringan.
__ADS_1
“Baiklah, calon istri, aku akan mengantarmu pulang!”
“Zan, jangan norak, malu, tahu?”
“Nggak ada orang di sini, semua sudah pulang!”
“Ya, kan tetap saja malu!”
Dalam hati, Fauzan bersyukur karena rencana baiklah yang berhasil, dan bukan rencana jahat dengan menjebak dalam kasus keuangan.
Pagi harinya Nadia terbangun dengan perasaan penuh semangat karena hari ini Ibu dan Ayahnya, akan datang berkunjung ke Jakarta. Dua orang tuanya itu akan datang menggunakan mobil travel yang sudah dipesannya dari sana. Nadia sudah mengirimkan alamat apartemennya dengan lengkap, juga sudah berbagi, melalui aplikasi yang bisa dilihat dengan jelas. Kemungkinan kecil akan terjadi kesalahan, apabila orang tuanya itu tersesat.
Lagi pula dahulu mereka sudah pernah pergi ke rumah sakit tempat Arfan dirawat, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari apartemennya sekarang. Dengan begitu Nadia tidak perlu repot-repot menjemput kedatangan mereka. Nadia hanya akan menemui kedua orang tuanya itu setelah mereka tiba di sana dan, dan dia akan pergi jauh dari kantornya, setelah mendapatkan berita kedatangan Salima serta Maulana.
Sudah dari sejak selesai melakukan salat subuh, Nadia sudah sibuk melakukannya, berulang kali dia mencoba pakaiannya di depan cermin. Dalu sebelum dia memiliki perasaan apapun pada Fauzan, dia tidak pernah memikirkan penampilannya.
“Ya, Allah! Susah sekali ternyata menjadi seorang wanita.”
Namun, sekarang ketika muncul bunga-bunga kecil di hatinya pada pria itu, dia jadi ingin tampil cantik dan sempurna di hadapan Fauzan, calon suaminya.
Hal yang sama juga terjadi pada Fauzan penampilan pria itu sedikit berbeda. Bahkan, dia memangkas rambutnya yang dia lakukan tadi malam, setelah selesai mengantar Nadia pulang. Namun dua orang yang sepertinya sedang kasmaran itu, tidak banyak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
Mereka tetap diam sampai tiba di kantor pun, suasana di dalam mobil tetap beku.
Jali, yang melihat kebekuan itu dengan perasaan sangat biasa, tapi, ada yang berbeda sedikit dari dua orang yang duduk di belakangnya itu. Namun, dia susah menebak apa yang sebenarnya telah terjadi hingga dia melihat senyum simpul yang sangat manis terukir begitu saja di sudut bibi dua insan itu, saat secara tidak sengaja mobil berbelok tajam kemudian tubuh keduanya saling berhimpitan.
“Tuan, saya pikir hari ini akan hujan, apa Anda mau membeli payung untuk Nona Nadia?” Jali berkata sambil mendongak ke langit.
“Ya!” sahut Fauzan tenang.
“Apalagi yang akan Anda beli untuk Nona Nadia?” tanya Jali lagi, masih menahan tawa.
“Apa saja, beli saja!” kata Fauzan
“Baik!” sahut Jali sambil tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.
“Pak Jali, jangan macam-macam, apa yang mau di beli untuk saya, semua saya sudah punya!” kata Nadia saat melihat Fauzan menimpali sopirnya tanpa beban.
“Belum, Nona ... Nona belum punya suami!”
Suara tawa Jali meledak begitu saja setelah selesai berkata-kata, dia hanya memancing seberapa kasmaran majikan mudanya itu, tapi, yang dia lihat bukan hanya kasmaran, melainkan tidak sadarkan diri.
“Jali! Diam kamu!”
__ADS_1
Bersambung