AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 11 Hotel


__ADS_3

“Aku bisa mati! Dan kamu akan jadi orang yang sudah membunuhku! Karena sekarang aku ada di mobilmu!” wanita itu bernama Leana, dia berkata pada Hadian sambil mencengkram kuat kerahnya.


Hadian membelalakkan matanya, berpikir keras dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu dan apa yang akan dia lakukan. Pria itu dalam kondisi yang serba salah. Setelah berpikir sejenak, dia pun menghentikan mobilnya, menepi dan meminta wanita itu untuk kembali memakai pakaiannya.


“Kalau begitu, turunlah di sini, dan jangan lakukan hal kotor lagi!”


“Siapa yang melakukan hal kotor? Aku dijebak, untung saja aku bisa lolos dari laki-laki yang tidak kusukai dan jahat!”


“Kamu juga tidak menyukaiku, kan? Kita baru saja bertemu! Kenal saja tidak!”


“Aku Leana. Tapi aku ... Ahk! Tolong ...! Kumohon ... aku sudah tidak kuat lagi, sakit ish ...”


Pada saat bicara, wanita itu meringis dengan alis yang berkerut dalam, tubuhnya seolah menggelepar hal itu terlihat begitu menggiurkan bagi Hadian, di mana matanya terus disuguhi pemandangan tubuh wanita yang bagian atasnya terbuka dan hanya ditutupi oleh penutup dada saja.


“Tolonglah!” teriak wanita itu lagi dengan suara yang serak dan air mata membanjiri pipi.


Hadian bukan pria suci yang mampu menolak godaan sebesar itu meski, dalam hati dia mengingat istrinya di rumah yang hamil besar dan hampir melahirkan. Akan tetapi dia juga harus menolong wanita yang sedang membutuhkan.


“Aku tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan! Terserah kamu mau bilang aku laki-laki tak tahu diri dan pengecut!”

__ADS_1


“Tolonglah! Aku tidak akan memintamu bertanggung jawab atas perbuatanmu, aku yang memintanya, tolong ya ...?” wanita itu berkata sambil merintih penuh permohonan.


Mendengar hal itu, Hadian kembali melajukan kembali mobilnya dan berhenti di sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari sana. Dia menutupi tubuh wanita itu dengan jas dan membopongnya, sambil melakukan cek in.


Wanita yang terpengaruh oleh obat itu masih memiliki rasa malu, hingga dia meminta Hadian menurunkannya saat memasuki lift dan, berjalan menuju kamar sambil terus meringis dan bergerak-gerak seperti tubuhnya terserang penyakit gatal. Rasa panas yang mulai menjalarlah penyebabnya.


Saat keluar lift, ponsel Hadian berdering dan pria itu segera menerima panggilan yang ternyata dari istrinya. Ya, istrinya kini tengah hamil buah cinta mereka yang sudah lama mereka nantikan setelah sekian lamanya.


Sebenarnya hati Hadian sangat tidak enak pada istrinya walaupun, sang istri tidak mengetahui perbuatannya yang pergi bermalam dengan wanita lain selain dirinya.


Pria ituberbicara sambil berjalan.


“Halo, ada apa sayang?” katanya setelah meletakkan telepon genggam itu di telinga. “Maaf, mungkin aku pulang lebih malam. Kamu tidur duluan saja, ya? Tidak perlu menungguku, oke?”


Leana ingat bagaimana kekasihnya memberi minum dan mengajaknya kencan, dia pikir lelaki itu begitu mencintainya, tapi ternyata, dia hanya menginginkan tubuhnya saja. Dia sudah berulang kali menolak ajakan  sang kekasih untuk bercinta setiap kali mereka berdua. Dia tidak menyangka malam ini kekasih yang dicintai itu menjebaknya dengan minuman sialan. Tidak bisa dipercaya setelah dia memuntahkan isi perutnya, reaksi minuman itu masih kuat.


Leana merasa sial sekali saat dia akan pasrah karena bercinta dengan kekasih. ‘Apa salahnya, walau ini bukan murni karena keinginan melainkan karena pengaruh obat?’ pikir Leana waktu itu.


Akan tetapi niatnya urung, karena dia secara tidak sengaja, mendengar sang kekasih berkata dengan seseorang di telepon bahwa, dia hanya akan memanfaatkannya saja.

__ADS_1


“Percayalah Sayang, aku tidak berbuat apa pun dengan Leana, aku hanya makan di restoran ... baik, baik, aku akan segera pulang kalau sudah selesai.” Begitu suara kekasihnya bicara dan Leana mendengar dengan hati terluka.


‘Ah! Sialan!’ pekik Leana dalam hati lalu dia pun pergi begitu saja setelah keluar dari toilet. Akan tetapi pengaruh obat yang sudah menyebar membuatnya tidak tahu harus bagaimana, mengatasi keinginan gila yang seakan mencabik-cabik jiwanya.


Seandainya dia tahu, tentang penghianat ini sebelumnya, maka, dia tidak akan menenggak habis sampai tak bersisa, entah berapa dosis yang sudah di taburkan ke dalam minumannya.


Sesampainya di kamar hotel, tanpa malu-malu wanita itu menyerang Hadian dengan ciuman panas yang memburu, membuat jiwa kelelakiannya yang sedari tadi ditahannya bangkit lebih tinggi. Tentu saja dia menuruti keinginan hati terliarnya saat ini karena ada kesempatan.


‘Kata orang harus membasahi dengan air atau berlari sampai lelah? Persetan dengan semua itu!’ pekik hati Hadian, sebab dia sudah sangat terbawa arus has saratnya sendiri.


Mereka pun melakukan hubungan terlarang itu setelah melucuti pakaian masing-masing secara bersamaan. Tanpa pemanasan lagi karena tubuh mereka sudah cukup terbakar sejak tadi.


Dalam aktivitas ini bukan Hadian yang mendominasi, tapi wanita yang terpengaruh obat, ya, Leana dengan kekuatan tenaga yang ada dia terus menggenjot tanpa ampun di atas tubuh Hadian, penuh minat tak terbantahkan. Bahkan dia tidak perduli rasa sakit akibat terkoyaknya mahkota kehormatan wanita satu-satunya.


Bagi Hadian ini adalah pengalaman luar biasa, berhubungan dengan wanita yang bukan istrinya, di bumbui dengan naluri syahwat durjana karena godaan setan dan wanita. Ahk! Kesempatan ini terlalu nikmat untuk dilewatkan begitu saja, tanpa dia harus berlelah-lelah, bisa mencapai puncak karena wanita yang ada di atas tubuhnya.


Leana tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu, padahal ini adalah pengalaman pertamanya. Mungkin pengaruh obat dan gejolak lautan keinginan yang sudah membimbingnya ... Atau naluri?


Dia hanya tahu saat Hadian mendominasi, dia merasa tidak puas, apalagi saat itu dia sudah terkoyak dan rasa sakit dia abaikan hingga dia membalikkan tubuh Hadian. Lalu, mengikuti langkah dan gerakan pria itu sebelumnya, hingga dia merasakan kepuasan sampai berkali kali. Setelah itu, barulah pengaruh obat berangsur-angsur hilang. Kini yang tersisa hanyalah kelelahan tiada Tara, bahkan seluruh tubuhnya seperti remuk redam.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2