
Mau Sering Datang
Kedua orang tua Nadia pasrah dengan nasib anaknya, jika mereka berkata jujur pada Fauzan. Bukankah rezeki, umur dan jodoh ada di tangan Tuhan.
Jadi, kalau memang dua orang muda yang sudah saling mengenal dan saling suka, akan menjadi jodoh atau tidak itu bukanlah urusan mereka.
Mungkin apa yang terjadi hari ini, dengan kedatangan Naina adalah salah satu bagian dari takdir, yang harus dijalani mereka agar Fauzan mengetahui segalanya tentang Nadia.
Dikarenakan apa yang akan di dengar oleh pria itu nantinya, akan menjadi keputusan akhir apakah dia akan terus melanjutkan hubungannya dengan Nadia atau tidak.
Salima dan Maulana berpikir jika memang Fauzan tulus mencintai, maka dia akan melanjutkan dan apabila dia hanya mencari seorang gadis atau perawan yang belum menikah, maka, mungkin dia akan meninggalkan.
Bagi kedua orang tua itu tidak masalah, sebab Maulana dan Salima tidak kekurangan kasih sayang untuk dicurahkan kepada Nadia—anaknya.
“Ya, sebenarnya Nadia memang sudah pernah menikah tapi kemudian dia gagal?”
“Apa itu artinya dia masih perawan dia belum disentuh sama suaminya, kan?”
Entahlah mendengar ucapan Fauzan kali ini Maulana dan Salima merasa riskan laki-laki itu terdengar begitu vulgar di hadapan orang tua seperti mereka bahkan kemudian penilaian dua orang tua itu menjadi sedikit berbeda bahwa laki-laki yang ada di hadapannya ini hanya mementingkan fisik belaka.
“Apa cuma itu yang kamu pikirkan kalau kamu mau menikahi seorang wanita? Apa karena ini juga tujuanmu menutupi muka dan menyembunyikan identitas siapa dirimu yang sebenarnya?” tanya Maulana, ucapannya terdengar bijak sebab, sebuah pertimbangan untuk menikah, bukanlah tentang fisik semata yang bisa berubah di setiap waktunya dan keadaan.
Seseorang yang cantik wajahnya bisa cacat saat pipinya tergores, wanita yang tubuhnya indah bisa cacat karena terjatuh atau kecelakaan, rambut yang menghitam bisa memutih karena usia, kulit yang kencang bisa mengendur karena bertambahnya umur. Bukankah semua adalah ujian dan keindahan fisik itu hanya sementara?
“Bukan begitu, Pak. Tapi, saya hanya memastikan saja, apa tidak boleh?” jawab Fauzan dengan wajah tanpa rasa bersalah.
“Boleh saja.” Salima menjawab ketus.
“Setelah kamu tahu kalau Nadia itu janda, apa kamu tidak jadi menikahinya? Setelah tahu kalau ternyata Nadia tidak perawan lagi, apa kamu akan menceraikannya kemudian?” Kembali Maulana bertanya dengan pertanyaan bijak, yang sekaligus mengajarkan tentang kehidupan bahwa, manusia bukanlah sebuah barang yang bisa dibuang jika tidak lagi diperlukan.
“Tidak juga,” jawab Fauzan tenang.
Pria itu tahu apabila dia terus menuruti rasa penasarannya untuk mengetahui seluk beluk tentang Nadia, maka akan berimbas pada penilaian yang tidak baik, dari kedua orang tuanya.
Fauzan kemudian menjelaskan bahwa Nadia adalah satu-satunya perempuan, yang memperlakukannya secara berbeda.
Gadis itu tidak mencari perhatian ataupun menggoda, setelah mengetahui kedudukannya sebagai anak seorang pimpinan. Padahal banyak wanita lainnya yang mencari perhatian bahkan tidak segan-segan menggoda menggunakan tubuh mereka.
__ADS_1
Setelah mendengar penuturan Fauzan, Salima pun mengatakan dengan jujur kepada Fauzan tentang pikirannya. Bahwa sikap Nadia yang demikian dikarenakan rasa trauma pada hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Wajar jika Nadia begitu menjaga diri dan tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan lawan jenisnya, termasuk kepada Fauzan.
Dia tidak peduli apakah Fauzan itu seorang yang memiliki jabatan atau mempunyai harta berlimpah dia akan memperlakukan sama, seperti orang yang biasa saja, bahkan orang miskin sekalipun kecuali, orang yang berbuat jahat padanya.
Fauzan menganggukkan kepala mendengar penuturan Salima, yang panjang lebar tentang anaknya. Dia semakin mengerti tentang Nadia dan berharap Nadia mau menerimanya walaupun, membutuhkan waktu lama, mengingat Gadis itu sekarang terlihat kesal padanya.
“Jadi, Pak, Bu, saya mohon izin ... untuk sering-sering ke sini, menengok Nadia atau kalau bisa biar Nadia saya rawat di sana?” kata Fauzan seraya menghabiskan teh dalam gelasnya.
“Di, mana? Apa kamu mau mengajak Nadia tinggal serumah denganmu di sana? Kami tidak akan mengizinkannya.” Maulana berkata dengan tegas
“Iya, bukan itu maksud saya. Saya tahu kalau Bapak tidak ingin kami berdua seperti orang kumpul kebo yang tinggal satu rumah tanpa sebuah ikatan, kan? Tentu saya akan menyewakan sebuah rumah sendiri dan saya tinggal dengan orang tua saya.”
“Tidak, tdak perlu ... kami masih sanggup pengurusnya. Kalau kamu mau datang ke sini silakan saja, kami tidak pernah menolak orang lain selama dia orang yang baik.”
“Kalau begitu ... saya akan datang seperti janji saya.” kata Fauzan sambil melihat kartu undangan pernikahan yang ada di atas meja.
Sementara itu, Nadia di dalam kamar sibuk membalas pesan dari beberapa teman lamanya, bahkan dirinya di masukkan dalam sebuah grup alumni SMA-nya.
“Apa-apaan, ini?” gumamnya seorang diri.
Ingin sekali Nadia saat itu membanting ponselnya akan tetapi dia mengurungkan niatnya padahal, tangannya sudah terangkat ke atas.
Nadia pikir ponsel yang dimilikinya berharga mahal yang dibelikan oleh Fauzan saat mereka masih berada di rumah sakit. Waktu itu Fauzan tahu ponsel Nadia hancur dan dia membelikan ponsel baru hanya dengan tujuan agar dia mudah menghubungi wanita itu.
Tiba-tiba dia berharap jika Fauzan benar-benar ada saat menghadiri pernikahan temannya nanti, bukan karena dia menyukai Fauzan melainkan demi membungkam mulut yang selalu ingin membicarakan orang lain.
Oleh karena inilah Nadia ingin mengasingkan diri, ingin tidak terlihat, bahkan dia ingin menjadi udara yang berguna bagi manusia walau tidak bisa dilihat atau disentuh.
Sebenarnya tidak ada seorang wanita pun yang ingin gagal dalam pernikahannya, tidak ada orang yang ingin sakit hati karena sebuah pengkhianatan, serta tidak ada seorang pun yang ingin hatinya terluka. Sebab luka hati akan terasa lebih menyakitkan daripada saat tersayat kulit ditubuhnya.
Seseorang hanya butuh satu mulut untuk menghancurkan orang lain, tapi orang yang dihancurkan butuh banyak usaha untuk membungkamnya.
“Wah, Sayang ya, baru saja kemarin sakit hatinya sekarang sakit juga tangannya patah.”
“Eh, dia pergi trauma tuh.”
__ADS_1
“Iya, kali aja trauma ... kali aja malu ... kali aja cari yang lain, kan?”
“Ya, kalau dia dapet kalau nggak percuma deh, pergi-pergi jauh juga.”
“Cari yang lain mau dapat yang lebih baik nggak taunya dapatnya bangkotan hahaha.”
“Eh, jangan begitu gimana kalau dia benar-benar dapat yang lebih baik lebih tajir lagi.”
“Ah, gak jaminlah, tinggal di kota besar terus dapat orang kaya.”
“Tapi beneran loh, calon suaminya yang sekarang orang kaya.”
“Emang beneran, Nai? Tapi kok dia baru sebentar udah dapat calon suami lagi? Ngebet banget ya, dia?”
Tulisan-tulisan dalam grup itu benar-benar menyindir Nadia dan membuatnya sangat kesal hingga dia mematikan ponsel begitu saja.
*****
“Nad, pake kerudung yang model ini aja, jadi tangannya kelihatan.” Salima berkata sambil membawa sebuah kerudung yang cantik dengan model belahan di pinggirnya kerudung itu juga sesuai dengan pakaian yang akan dikenakan Nadia kali ini mereka berdua berniat ingin pergi ke undangan pernikahan yang diberikan oleh Naina saat ini.
“Kenapa justru yang kelihatan, Bu? Kan, malu.”
“Justru harus kelihatan biar orang-orang tahu tanganmu sakit. Jadi, mereka tidak akan sembarangan deketin kamu atau pegang pundak kamu ....”
Nadia menatap Ibunya dan meraih kerudung itu dari tangan Salimah. Wanita paruh baya itu kembali berkata pada anaknya.
“Nad, kalau nggak kelihatan dikirain kamu sehat terus mereka pegang-pegang itu lebih berbahaya, siapa mau melindungi tubuhmu kalau bukan dirimu sendiri.”
“Iya, iya, Bu ....”
Nadia mengangguk mendengar ucapan Ibunya dan segera memakai kerudung menggunakan satu tangan kemudian dibantu oleh Salima. Terakhir setelah semuanya rapi dia menyematkan sebuah Bros di dekat gips yang menahan pundaknya.
Sebenarnya dokter sudah melepas perban serta alat bantu penahan bahu sehari yang lalu tetapi, Nadia tetap menggunakannya kali ini, untuk keamanan karena dia akan pergi ke tempat yang ramai. Kalau bukan karena janji, dia dan ibunya tidak akan pergi ke tempat itu.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang cukup keras dari arah halaman rumah mereka.
“Siapa yang datang, siang-siang begini?”
__ADS_1
Bersambung