
Sekalian Nikah
Hadian menatap Nadia yang juga menatapnya dengan raut wajah yang serius.
“Apa benar kamu mencintai anakku walaupun dia bukan dari Ibu yang sama?” Tanya pria itu membuat Nadia heran, pertanyaan apa, ini? Batinnya.
“Jujur, saya belum yakin apa perasaan saya ini cinta, tapi tidak masalah soal siapa orang tuanya asalkan dia baik pada saya.” Nadia menjawab dengan lugas. Dia tidak mau berbohong sebab sebuah kebohongan akan menjerat kebohongan lainnya.
Hadian mengangguk.
“Kamu siap menanggung beban, jadi istri sekaligus pegawai?”
“Kenapa tidak? Saya akan mencobanya dan kalau saya tidak mampu di kemudian hari, saya akan memilih salah satunya!”
“Apa yang kamu pilih?”
“Sepertinya saya akan memilih menjadi istri saja.”
“Itu, artinya tidak akan menuntut cerai walau apa pun yang terjadi? Sebeb di keluargaku, tidak ada peceraian sampai saat ini!”
“Baik, tapi saya tidak bisa menjanjikan itu, sebab saya akan melihat seperti apa masalahnya.”
“Ya, aku nilai kamu cukup bijak!” kata Hadian, dia saat yang bersamaan telepon genggam Nadia berdering, itu panggilan dari ibunya.
Nadia meminta ijin pada Hadian untuk menerima panggilan, dan dari seberang telepon Salima mengatakan jika dirinya sudah sampai di depan apartemen Fauzan.
“Pak, maaf, jadi kedatangan saya kemari juga mau minta izin untuk menerima orang tua saya dulu di rumah. Kami akan berkunjung ke rumah Bapak besok.”
“Kenapa tidak malam ini saja, undang orang tuamu makan malam di rumah!” Kata Hadian kembali duduk di kursi kerjanya.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya.” Nadia berkata dengan sopan sambil berdiri dan membungkuk hormat. Seketika Fauzan mencegah dengan mengacungkan satu tangan ke depan Nadia.
Dia berkata, “Kalau kamu jadi istriku, kamu tidak perlu melakukan ini pada Papa. Cukup bilang terima kasih saja, oke?”
Nadia mengangguk.
“Ayo!” kata Fauzan lagi sambil menggamit tangan Nadia dan segera keluar dari sana. Mereka berjalan melintasi beberapa ruang dan koridor kantor dengan perasaan bahagia. Mengabaikan bisik-bisik para pegawai lain yang kebetulan melihat mereka.
Sesampainya di tempat parkir, Fauzan berkata, “Telepon Ibumu, kita akan datang sebentar lagi, setelah mampir beli makanan dulu, ya!”
__ADS_1
“Ah, nggak usah beli makanan ... buat apa?”
“Ya, buat makan siang kita, lah!”
Mereka bercakap-cakap setelah berada di dalam mobil dan Fauzan mulai melarikan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Letak apartemen pribadinya itu lebih dekat dengan kantor ayahnya sehingga waktu tempuh untuk sampai ke sana bisa lebih cepat.
“Biasanya, kalau Ibu datang ke mana-mana itu selalu bawa makanan, kok. Pasti sekarang juga begitu.”
“Masa, sih? Apa nggak repot?”
“Nggak! Itu kebiasaan Ibu.”
“Bawa makanan kampung, ya?”
“Ya. Kamu pernah makan, kan, masakan Ibu?”
“Ya, ya pernah!” Fauzan berkata sambil tersenyum, sesekali dia melirik gadis di sampingnya.
Nadia memilih perasaan yang entah dinamakan apa rasa seperti itu, berbeda dari saat dia dan Antony pernah bertemu dengan Ibu dan Bapaknya di rumah dulu.
Ada rasa gelisah, lebih waspada tapi juga gembira. Tidak ada kesusahan dari hubungannya dengan Fauzan nantinya, tapi, laki-laki ini begitu memberikan rasa manis dan hangat di setiap pertemuan mereka.
“Lihat, itu mereka!” kata Fauzan ketika mereka sampai dan dia menepikan mobilnya dengan cekatan tepat di sisi mobil travel yang digunakan oleh orang tua Nadia.
Nadia turun dengan cepat dari kendaraan itu tanpa menunggu Fauzan membukakan pintunya, membuat laki-laki itu kecewa karena dia ingin menunjukkan betapa perhatian dan sayang padanya di hadapan Salima dan Maulana.
“Ini benar, kan rumahmu, Nak Zan? Besar sekali!” kata Salima setelah berjabat tangan secara takdim dengan Fauzan dan Nadia.
“Oh, ini bukan semua rumah saya, Bu! Apa kabar Bapak dan Ibu, sehat?” ucap Fauzan.
“Sehat, Alhamdulillah.”Maulana dan Salima menjawab hampir bersamaan.
Fauzan berjalan lebih dahulu sambil membawa beberapa tas barang yang dikeluarkan sopir travel dari kampung Nadia.
Mereka secara bersamaan memasuki lift dan ketika Sampai di lantai bilik tempat Nadia tinggal, Fauzan baru menjelaskan bagaimana konsep bangunan apartemen, yang menjadi rumah bagi puluhan warga dalam satu bangunan tersebut.
“Nah, kan Ibu pasti bawa makanan!” kata Nadia begitu mereka sampai di dalam, dia membuka salah satu tas besar yang dia kira berisi makanan dan, itu benar.
“Iya, lah, bawa. Biar nanti kalau kita mau makan kamu nggak usah repot masak, kan, kamu kerja!”
__ADS_1
“Ibuku, terbaik sedunia!” kata Nadia sambil menghambur dalam pelukan ibunya lagi, padahal di halaman tadi, dia sudah memeluk ibunya itu penuh kerinduan setelah beberapa pekan tidak berjumpa.
“Eh, gimana, bajumu, Nad? Udah sembuh?” tanya Maulana. Pria itu yang sering mengantar Nadia kontrol berobat ke rumah sakit saat pundak Nadia masih terluka.
“Alhamdulillah, sudah sembuh, Pak!” kata Nadia tegas, dia tidak ingin melihat bapaknya itu terlalu khawatir padanya.
Nadia kembali menyusun makanan yang di bawa Salima di atas meja, dibantu asisten rumah tangga yang disediakan oleh Fauzan untuk menemani Nadia selama di apartemen itu. Setelah selesai, mereka pun makan siang bersama.
Nadia duduk bersebelahan dengan Ibunya sedangkan Fauzan bersebelahan dengan Maulana. Sesekali mereka berbincang hal-hal yang ringan selama menghabiskan makanan di piring mereka.
“Papa mengundang Ibu sama Bapak nanti makan malam, sekaligus kita kenalan Pak sama Papa, kan belum pernah ketemu?” kata Fauzan setelah menghabiskan makan siang yang sangat istimewa baginya karena dia menyukai masakan ala Salima. Dia pun makan dengan lahap.
“Oh, Cuma kenalan, ya. Bapak kira mau sekalian nikah aja!” kata Maulana menanggapi ucapan Fauzan, sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
“Bapak, apaan sih?” sahut Nadia salah tingkah, dia belum siap untuk itu, apalagi perasaan gembiranya pada Fauzan muncul belum begitu lama, desir aneh di sudut hatinya itu masih baru dan belum bisa dikatakan cinta. Apa itu wajar kalau mereka langsung menikah, rasanya tidak, kan?
“Ya. Dari pada Bapak sama Ibu terus bolak-balik Sukabumi—Jakarta. Nanti kamu minta lagi Bapak datang ke sini, mendingan sekalian. Nanti, kalau kalian mau pesta, baru kita adakan di rumah,” kata Maulana lagi.
“Maaf, Pak. Seharusnya dari pihak kami yang datang ke sana, tapi Nadia yang minta Bapak dan Ibu datang ke sini.” Fauzan menanggapi.
“Ah, Ibu juga memang Dateng ke sini, kok, pengin tahu keadaan Nadia, kalau dia kan nggak bisa bebas datang ke kampung, harus nunggu cuti dulu, iya, kan?” Salima menyahut.
Nadia mengangguk.
“Ya, sudah, nanti malam saya akan menjemput Ibu dan Bapak,” kata Fauzan.
“Nggak usah, kan ada Nadia, Bapak sudah nyewa mobil travel itu untuk dua hari.” Maulana menimpali.
“Dua hari, Pak. Ih kok sebentar, sih, kan Nadia masih kangen!”
“Ya, rencana Cuma nengok kamu sambil itu ... balikin hadiah dari Nyonya, karena Nadia menolak menika dengan Arfan!” Kata Maulana.
“Iya, Nadia, semua ada di mobil travel. Di jok paling belakang, sengaja di simpan di sana biar gak rusak,” sahut Salima.
“Seharusnya Bapak sama Ibu nggak perlu mengembalikan semua itu, kan saya mau melamar Nadia nanti. Anggap saja itu hadiah dari saya,” kata Fauzan.
“Ya nggak bisa, kan beda maksud dan tujuan Nyonya, kecuali kalau Nyonya sendiri yang bilang seperti itu, baru kami, juga Nadia, berhak menerimanya, gitu, baru benar!” kata Maulana.
“Tapi, Pak—“ kata Fauzan, tapi terputus.
__ADS_1
Bersambung