AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 4 Token listrik 2


__ADS_3

Nadia menatap wajah yang tertutup itu dengan penuh curiga. Dia heran, bagaimana Fauzan mengatakan hal seolah dirinya pernah memiliki kesalahan? Mereka baru saja bertemu, bahkan mukanya pun tidak bisa dilihat karena pria itu menyembunyikannya. Ini benar-benar menyebalkan.


“Gak ada maksud apa-apa!” Sahut Pria itu.


“Oh. Jadi, begitu. Siapa tahu Anda salah paham dengan saya. Maaf ... apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Fauzan memalingkan pandangan sebab melihat Nadia mengamati wajahnya seolah bisa menembus melalui masker dan kaca mata. Diam-diam dia merasa geli, gadis ini sempat mengusiknya dan hampir membuat dirinya tidak berkutik.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Nadia dan memasuki mobil lalu, pergi begitu saja, menjalankan kendaraannya menuju jalanan. Membuat Nadia semakin kesal.


Baru sebulan yang lalu dia didera rasa sakit, benci dan malu pada nasib yang menimpa. Dia hampir tidak berani keluar rumah kecuali untuk memenuhi kewajiban tugas mengajar dan, hari ini dia didera rasa kesal bertubi  bahkan dari kemarin.


Nadia menuju jalan menunggu ojek online yang sudah di pesan, setelah membereskan peralatan kebersihan yang dia pakai. Lalu, pulang ke tempat kost setelah kendaraan pesanannya datang.


Sesampainya di rumah, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur yang sudah di sediakan oleh pemilik kontrakan, itu tempat tidur yang kecil dan hanya cukup untuk dirinya seorang.


Malam semakin larut, waktunya manusia merebahkan diri, untuk membuang rasa lelah, mengganti kepenatan dengan istirahat dan merubah kesibukan dengan santai. Walaupun, ada saja manusia yang tetap menyibukkan diri dan berteman lelah serta sepi malam ini.


Suara berisik dari rumah sebelah tiba-tiba membangunkan Nadia dari tidurnya, dia mendengar suara pintu rumah diketuk berulang kali. Gadis itu segera bangun sambil menyambar jilbabnya, lalu keluar rumah setelah mengenakannya secara asal.


Betapa terkejutnya Nadia begitu dia membuka pintu, ini sudah tengah malam, tapi ada dua ibu-ibu berteriak di depan pintu rumah Zan, dan pria itu tengah menenangkan keduanya dengan panik. Dua ibu itu tampak sedang menggendong anaknya yang kebetulan sakit secara bersamaan dan, tanda token listrik habis dari kediaman Zan membangunkan anak mereka.


Nadia menggelengkan kepala melihat kejadian itu. Lalu, berusaha menenangkan mereka bertiga.


“Dasar kamu pengangguran! Pantas nggak punya uang, buat isi pulsa listrik aja gak punya! Berisik, tahu?”


“Iya! Anakku sakit jadi bangun, kan, dia rewel soalnya berisik, dasar!”


“Baik ibu-ibu saya isi pulsa listrik sekarang ya, ibu tenang ya!” kata Zan.


Dua ibu muda itu terdiam setelah Zan meyakinkan mereka akan segera mengisi pulsa listriknya sehingga tidak menimbulkan suara gaduh. Pria itu terlihat sibuk mengeluarkan isi dompetnya kemudian dia berkata seperti laki-laki bodoh yang tidak tahu apa-apa.


“Oh, maaf kalau malam begini saya bisa mengisi pulsa listrik gimana ya?” tanya Zan seolah tanpa beban. Seketika kedua orang ibu itu pun menghujaninya dengan beberapa pukulan di pundaknya membuat Zan meringis.

__ADS_1


Melihat suasana tidak kondusif lagi, Nadia maju menengahi pertengkaran antara dua ibu muda itu dan tetangganya yang menurutnya tidak tahu diri.


“Memangnya kamu nggak tahu cara gimana ngisi pulsa listrik itu nggak harus bayar langsung sekarang juga di loket PLN!” kata Nadia.


“Heh! Pengangguran! Kan, bisa pakai HP-mu! Kalau mau ngisi di loket PLN, mana ada yang buka jam segini, dasar!” sahut salah seorang ibu muda.


“Memang bisa?” tanya Zan polos.


Wajah pria itu menunjukkan kejujuran bahwa dia memang tidak tahu menahu bagaimana cara mengisi pulsa listrik itu agar tidak lagi berbunyi nyaring. Hal itu membuat Nadia begitu heran tapi, dia tidak ingin kejadian malam ini menjadi urusan lebih panjang.


Akhirnya Nadia mengambil ponselnya sendiri di kamar, setelah itu dia menghubungkan dengan layanan online shop, lalu, membeli pulsa sesuai keinginannya untuk listrik Zan.


Semua Nadia yang melakukan sampai selesai termasuk memasukkan kodenya. Dua ibu muda yang melihat hal itu, sama-sama menggelengkan kepala.


“Dasar pengangguran tidak berguna!” umpat keduanya sambil berlalu pergi memasuki rumah mereka masing-masing.


Begitu juga Nadia, dengan langkah tenang meninggalkan Zan yang diam menjadi penonton, tanpa sepatah kata pun. Namun, sebelum dia sempat masuk, pria itu memanggilnya.


“Heh! Tunggu!” kata Zan.


“Iya, Nad. Makasih ya?”


“Hmm ....” gumam Nadia seolah enggan menanggapi Zan lebih jauh lagi.


“Berapa tadi kamu isi listriknya?”


“Dua puluh ribu.”


“Cuma segitu?” Zan berkata sambil mencebik.


“Memangnya mau berapa?”


“Segitu mana cukup buat satu bulan.”

__ADS_1


“Siapa juga yang mau bayarin listrik kamu satu bulan? Segitu juga cukup seminggu kalau kamu hemat! Aku belum gajian ... Itu juga aku anggap ngasih kamu, bukan hutang, itu sedekah!”


Zan terperangah mendengar ucapan sedekah yang keluar dari mulut Nadia. Dia tersinggung sebab dia merasa mampu membayarnya walau lebih dari 20 ribu. Pria itu tidak senang mendapatkan perlakuan Nadia. Akan tetapi dia juga tidak mempunyai uang pecahan 20 ribu rupiah.


“Kamu kira aku semiskin itu, apa? Nggak mampu bayar listrik 20 ribu?”


Kini Nadia yang terperangah, dia menangkap gelagat ketersinggungan dari nada bicara Zan padanya. Dia tiba-tiba khawatir, akan terjadi masalah dengan tetangganya. Sadar dia hidup di perantauan apalagi sebagai seorang wanita maka, dia tidak ingin mendapatkan masalah baru dalam hidupnya. Sudah cukup masalah harga diri yang hancur karena pernikahannya.


“Maaf, bukan begitu. Anggap saja itu hadiah perkenalan sebagai warga baru di sini tapi, kalau kamu bisa membayarnya, itu nggak masalah. Aku akan menunggu.”


“Nanti ya, aku bayar kalau aku sudah punya kerjaan baru!”


“Terserah ... tapi, ngomong-ngomong, kamu memang nggak bisa beli atau isi kode token listrik?”


Zan menggelengkan kepalanya.


“Terus, selama ini, siapa yang isikan pulsa listriknya?” tanya Nadia heran. Rasanya aneh bila ada orang yang sudah lama hidup malang melintang di dunia kos-kosan dan hidup sebagai rakyat biasa, pasti tahu bagaimana cara mengisinya. Akan tetapi, bagaimana Zan tidak tahu dan tidak bisa?


“Oh, soal itu, kakakku yang isi waktu pertama aku ngotrak di sini.” Zan menjawab sambil mengusap belakang tengkuknya yang tidak gatal.


Jawaban Zan semakin membuat Nadia heran, bila ada kakak yang sangat baik hati mengisi pulsa listrik selam tiga bulan dia tinggal di sana, kenapa dia tidak tinggal dengan kakaknya saja?


Akh ... Nadia semakin pusing memikirkan keanehan pada Zan.


 


Bersambung


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2