AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 64 Telepon Ibu


__ADS_3

Telepon Ibu


 


 


“Apa yang dia lakukan?” kata Fauzan saat berada di kantor, dia melihat Nadia tengah bercakap-cakap dengan intens berdua bersama Ahsan, seorang pria yang bekerja sebagai salah satu sekertaris Hadian yang kini menjadi bawahannya.


Memang dia meminta Nadia bekerja sama dengan pria itu dalam menyelesaikan beberapa dokumen yang dibutuhkan perusahaan, atau jika Fauzan meminta dokumennya. Namun, bukan dengan mengobrol santai seperti itu juga. Membuat Fauzan kesal.


Bagi Fauzan yang memang mencintainya, tentu saja risi dan cemburu melihat Nadia dekat dengan seorang pria walaupun, itu rekannya sendiri di kantor yang tengah mengerjakan tugas. Dia tetap tidak suka.


Entah apa yang membuat Fauzan kemudian menghubungi Salima dan juga Maulana, orang tua Nadia. Laki-laki itu duduk di kursi kerjanya sambil menempelkan ponsel di telinga, dengan santai dia bicara pada kedua orang tua kekasih hatinya di rumah mereka.


“Hako, Pak, Bu ... apa kabar? Sehat?” kata Fauzan ramah.


“Oh, Nak Fauzan! Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu sendiri gimana?” kata Salima dari seberang sana.


“Saya baik, Bu. Alhamdulillah!”


“Oh, ya, gimana Nadia apa dia juga sehat-sehat, kok tumben telepon ... ada apa ya?”


“Nadia juga sehat Bu, sekarang dia bekerja dengan saya lagi.”


“Oh ya apakah kerja, seperti dulu lagi jadi cleaning service di kantor Nak Fauzan?” kata Salima terdengar penasaran, sebab ketika Nadia menghubungi dirinya, anak gadisnya itu hanya mengatakan jika dirinya sudah kembali bekerja, tapi, tidak mengatakan pekerjaannya secara detail.


“Bukan Bu sekarang dia jadi asisten pribadi saya, jabatan dan gajinya naik juga Bu, jadi lebih bagus.”


“Oh ya, alhamdulillah kalau gitu terima kasih, terus apa sekarang Nak Arfan juga sudah sehat dan bisa bekerja lagi?” tanya Salima dan Maulana terdengar suaranya sedang mengaji di samping istrinya.


Sesaat Fauzan berpikir apakah Nadia mengatakan sejujurnya tentang Arfan saudaranya itu. Seandainya gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya, maka dia akan sangat sangat malu saat ini. Tiba-tiba dia menyesal telah menghubungi Salimah dan Maulana.


Namun, semua sudah terjadi. Dia hanya berharap, Nadia bersikap bijak dan merahasiakan hal memalukan itu dari keluarganya sendiri.


Nadia sudah lebih dari satu bulan bekerja bersama dirinya.   Mereka berdua selalu melakukan aktivitas bersama dan berbagi tugas bila pekerjaan mereka cukup banyak dalam menyelesaikannya.

__ADS_1


Selama ini kerja sama yang mereka lakukan baik-baik saja. Nadia selalu menurut dan bahkan, perkembangan serta keterampilannya sudah lebih pesat kemajuannya. Dia mudah dalam memahami tugas serta pekerjaannya, dia cukup mandiri saat berbagi fungsi, lalu, membuat laporan dengan akurat dan rapi.


Memang tidak mudah untuk sampai ke titik ini, tetapi, Nadia orang yang gampang mengerti ketika diarahkan sehingga Fauzan juga tidak terlalu kerepotan dalam memberinya pengarahan.


“Maaf bu saya mau tanya, apa Nadia sudah menelpon Ibu akhir-akhir ini dan cerita sesuatu tentang pekerjaannya?” tanya Fauzan, dia mencoba mengalihkan pembicaraan Salima tentang Arfan.


“Iya dia telepon kemarin, dia bilang sekarang sudah belajar bekerja dengan Nak Fauzan.” Jawab Salima jujur.


“Iya, Bu. Alhamdulillah dan sekarang Arfan juga sudah kembali bertunangan dengan Ela pacarnya yang dulu, Bu. Sekarang tinggal saya yang belum punya pasangan.”


“Gini, ya Nak ... sebenarnya Ibu  lebih senang dengan anak Fauzan kalau berjodoh dengan anak Ibu!”


“Iya, kah, Bu?”


“Iya!”


“Nah itu maksud saya Bu, tetapi Nadia masih saja mengingat soal masa lalunya. Dan dia sepertinya ragu dengan saya.”


“Sebenarnya, Ibu sudah bilang berulang-ulang sama Nadia, kalau dia tidak boleh menyamakan semua laki-laki seperti Anthony pacarnya yang dulu itu!”


“Oh gitu ya ...duh ... Bikin malu aja anak itu ... kalau soal itu, sekarang Nak Fauzan tenang aja, itu jadi urusan saya!


“Mamangnya, apa yang akan Ibu lakukan?”


“Ah pokoknya tenang aja, ya, Nak Fauzan ... nanti Ibu mau nelpon Nadia dulu, Nak Fauzan tenang saja ya!”


Fauzan pun tersenyum puas. Setelah dia mengakhiri sambungan telepon dengan Salima dan sesudah mengucapkan salam serta, berterima kasih, pada calon ibu mertuanya yang sangat mendukungnya itu.


 Fauzan tetap mengawasi Nadia dan Ahsan yang tetap berbicara empat mata dalam satu meja, dari kejauhan. Dia duduk di salah satu ruangan yang tembus pandang karena dari tempatnya duduk itu, Fauzan bisa mengawasi seluruh karyawannya.


Apa pun aktivitas mereka yang berada dalam ruangan dari sekat-sekat kecil, bisa dengan jelas diperhatikan oleh atasan mereka. Jadi, mereka tidak bisa bersantai-santai atau berleha-leha seadanya Fauzan ataupun Hadian ada di sana.


Sekarang sudah lewat satu bulan Fauzan dan Nadia bekerja sama, sementara rencana Hadian untuk mendekatkan mereka berdua masih dalam proses.


Pemikiran Hadian yang pernah diucapkan kepada Fauzan, tentang bagaimana cara membuat Nadia bisa bertekuk lutut dan, mau menikah dengannya, membuat pria itu merasa riskan. Bagaimana tidak riskan bila, Hadian membuat sebuah rencana unik.

__ADS_1


Ayah Fauzan itu akan menjebak Nadia dalam pusaran keuangan, yang sama sekali tidak diketahuinya hingga kemudian memaksa Nadia, untuk membayar seolah-olah dia memiliki sejumlah hutang. Tentu saja Nadia tidak memiliki uang dalam jumlah miliaran, sehingga mau tidak mau Hadian akan meminta gadis itu untuk menikahi Fauzan sebagai bayarannya.


Sebenarnya rencana itu termasuk brilian karena itu hal yang tidak biasa, untuk menjebak seseorang menjadi istrinya tetapi sebuah tuduhan yang tidak benar, menjadikan orang itu berbuat fitnah kepada orang lainnya dan Fauzan tidak menyetujui rencana ayahnya demi cintanya pada Nadia. Dia tidak tega.


Namun, kini Fauzan secara tidak sengaja menemukan sebuah cara yang berbeda, ketika dia melihat Nadia begitu akrab mengobrol dengan Ahsan hari ini. Baginya, ini cara yang lebih baik dari pada menjebak. Rencana yang akan membuat Nadia menuruti perintah orang tua karena ingin menjaga harga dirinya.


Tidak lama setelah itu, Fauzan melihat telepon genggam Nadia yang ada di meja, menyala dan bergetar. Ini kebiasaan Nadia, ponselnya, dia tinggalkan begitu saja. Sekarang benda itu berbunyi cukup nyaring di ruangannya yang tertutup. Pria itu melangkah mendekati benda pipih yang berdering lalu, melihat nama yang tertera di layar adalah Ibuku, pastinya panggilan itu dari Salima, ibunya Nadia.


Fauzan keluar dari ruangannya dan hanya memunculkan kepala, sambil berseru lantang.


“Nadia! Telepon!”


Gadis itu sontak saja menoleh dan segera beranjak dari meja Ahsan sambil membawa beberapa berkas yang sudah dia selesaikan baru saja, bersama dengan sekertaris Fauzan itu.


Dengan cepat Nadia menyimpan berkasnya di atas mejanya sendiri, lalu meraih ponselnya yang sudah padam.


“Ya, Pak! Telepon dari siapa, ya, Pak?” tanya gadis itu, sambil melihat ponsel dan ke arah Fauzan secara bergantian.


“Mana saya tahu, makanya kalo punya hp, itu, di bawa. Jangan di tinggalkan sembarangan!” sahut Fauzan sambil mengedipkan bahu dan dia kembali asik menatap layar laptopnya.


Sebenarnya pekerjaannya sedikit ringan hari ini, tapi, ketika melihat gadis itu bersantai dan mengobrol dengan bawahannya, tiba-tiba pekerjaannya menjadi sangat berat bahkan lebih berat dari hari biasanya


“Baik, Pak!” kata Nadia sambil menundukkan kepala, dia malu karena telepon pribadinya sudah mengganggu sang bos.


Sebenarnya yang dibicarakan Nadia dengan Ahsan juga, bukan sesuatu yang bersifat pribadi melainkan pengalaman Ahsan, ketika pertama kali menjalankan kantor cabang ini bersama dengan Fauzan. Pria itu justru mengatakan beberapa hal positif tentang bosnya dan juga, semua cerita sekretaris itu mengundang decak kagum dari Nadia kepada Fauzan tanpa dia sadari.


 


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2