
Calon Istri Bos
Jali masih saja menahan tawa sekuat tenaga, saat mereka sudah sampai di lokasi proyek, yang masih dalam pengejaan, pagi itu.
Dia memang sudah lama bekerja dengan Fauzan, sudah banyak tingkah laki-laki itu yang menurutnya aneh atau lucu. Terkadang juga nyeleneh tapi, hari ini yang paling lucu. Bagaimana tidak, majikan pria nya itu menunjukkan wajah lugu yang malu-malu, dan ini bukan hanya aneh atau absurd, tapi norak.
“Hati-hati, Tuan. Jaga calon istri Bos baik-baik!” kata Jali saat membukakan pintu mobil, untuk Fauzan dan Nadia yang keluar dari pintu yang sama, karena Fauzan menarik tangan Nadia, saat dia keluar dari sana.
“Pasti, dong, kamu nggak usah bilang juga!” Kata Fauzan, sambil merapikan pakaiannya tanpa melepaskan pegangannya dari tangan Nadia.
“Wah, wah, berarti benar ya, Nona Nadia sekarang bakalan jadi istri Anda, Tuan?”
“Kalau iya, kenapa, memangnya?” sahut Fauzan sambil melirik Nadia, yang berusaha melepaskan pegangan tangannya.
Saat berbincang-bincang, mereka sudah berjalan beriringan, masuk ke sebuah pembangunan gedung yang kelak akan dijadikan graha sebagai pusat pelatihan oleh raga bagi para penyandang desabilitas. Jadi, di sanalah nanti, lain difabel akan unjuk kebolehan.
Selain itu, bila suatu saat pemerintah hendak menjadikan kawasan itu sebagai pusat pertandingan antar kota dan propinsi, maka, pihak pemerintah akan lebih siap. Bangunan itu diperuntukkan sebagai tambahan di Gedung olah raga pusat kota yang selama ini sudah ada. Dan, jika mengadakan pertandingan untuk kaum difabel maka, bisa lebih fokus.
Di lokasi itu mereka bertemu dengan penanggung jawab harian konstruksi dan material proyek, membuat beberapa dokumentasi, dan mengecek ketersediaan bahan baku.
Setelah semua selesai dan data tersinkronisasi dengan benar, mereka kembali ke mobil dan menempati posisi seperti sebelumnya. Mereka saat ini berencana untuk langsung menemui Hadian di kantor pusatnya.
Selama di perjalanan suasana dalam mobil tidak seperti sebelumnya, Nadia dan Fauzan terlibat obrolan untuk membicarakan proyek yang baru saja mereka tinjau. Nadia pun sudah bicara secara formil seperti biasanya pada Fauzan sebagai atasannya. Sepertinya masalah pribadi kasmaran mereka mulai mencair.
Sampai di kantor Hadian, Nadia dan Fauzan langsung masuk ke ruangan, setelah menghubungi ayahnya itu.
Saat melintas di lobi dan beberapa ruang tadi ada seorang teman Nadia yang masih mengenalnya dengan baik, mereka dulu pernah bekerja dalam satu profesi di sana.
Teman itu terlihat bingung karena melihat Nadia berjalan di antara Jali, orang kepercayaan Hadian untuk mengelola kantor cabang, dan seorang pria lagi yang sangat tampan, kebetulan dia belum pernah melihat Fauzan kecuali dengan masker di wajahnya.
Sebelumnya, saat pertama kali Nadia berkunjung ke kantor itu, dia sedikit heran, dengan Fauzan yang tidak lagi memakai maskernya. Kini, Nadia telah mengetahui alasan dan tujuan dibalik penyamaran identitas Fauzan, hingga dia menjadi maklum karena semua sudah terlaksana. Oleh karena itu pula, Fauzan tidak lagi memakai masker saat ke kantor ayahnya.
Selama satu bulan ini Nadia bekerja, dia jarang ikut berkunjung ke kantor pusat karena mereka lebih sering berbagi tugas dan, kali ini Nadia berkunjung lagi bersama Fauzan lalu, bertemu dengan temannya itu.
“Eh, siapa tuh yang bareng sama, Pak Fauzan. Kamu kenal nggak?”
__ADS_1
“Itu, kan ... Nadia, kan pernah kerja dulu di sini bareng kita!”
“Ah masa yang bener itu Nadia, kok, dia beda, ya?”
“Lihatin, lihatin tuh, kayaknya Pak Fauzan suka tuh, sama dia!”
“Masa sih suka sama cleaning service nggak level amat!”
“Sebenarnya Nadia itu lulusan sarjana cuman dia salah penempatan kerja aja waktu itu.
“Wah apa jangan-jangan dia Sekarang jadi pacar, Pak Fauzan ya?”
“Kalau bener begitu beruntung sekali dia ya, nggak taunya, Pak Fauzan itu ganteng banget nggak kalah ganteng sama, Pak Arfan!”
“Ya tetap aja kalah sama Pak Arfan, kan, bakal jadi pewaris kantor pusat sedangkan Pak Fauzan, kan, Cuma jadi wakilnya aja di kantor cabang!”
“Ya. Tapi tetap saja Nadia beruntung kok kayak kita!”
Percakapan antara teman Nadia terdengar saat mereka saling bergosip.
Teman Nadia pun sempat heran, kenapa wanita itu bisa bersama dengan Fauzan, salah satu anak Bos yang tidak lagi memakai masker untuk menutupi wajahnya. Bahkan, Nadya tampak begitu anggun memakai pakaian yang sangat bagus dan elegan, membuat temannya dan beberapa pegawai lain merasa iri.
Nadia dan Fauzan duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu sedangkan hadiah duduk di hadapan mereka berdua di salah satu sofa tunggal yang ada. Pria yang berusia lebih dari paruh baya itu menyandarkan punggungnya, sambil menyilangkan kaki, saat mereka mulai bercakap-cakap.
Sementara Jali, duduk bersama beberapa sekertaris di luar ruangan, sambil menunggu majikannya menyelesaikan urusan.
“Kenapa kalian datang ke sini mendadak begini?” tanya Hadian sambil mengangkat cangkir kopinya.
“Kami baru pulang dari proyek di Cinere, sengaja memang langsung ke sini, Pah!”
“Ada apa, apa proyek itu bermasalah?”
“Bukan yang bermasalah itu kami aku dan Nadia!”
“Memangnya ada masalah apa dengan kalian berdua, bukannya selama ini kalian bekerja sama sudah saling cocok, kan?”
“Ya. Memang kalau soal itu kami saling cocok Cuma belum tentu kami cocok kalau menjadi suami istri!”
__ADS_1
Bener ucapan Fauzan itu Hadian pun terkekeh.
“Kalau bekerja sama di kantor aja bisa cocok, kenapa dalam rumah tangga enggak? Harusnya lebih cocok dong! Kan, sudah timbul chemistry nih, Di Antara kalian, iya, kan?”
“Makanya, kami mau mencoba menjalani biduk rumah tangga, Pah!”
“Ah, yang bener ... bukannya baru Minggu kemarin kamu bilang Nadia masih susah untuk ditaklukan, emangnya ombak kali, kamu mau berselancar?” Hadian menimpali ucapan anaknya sambil kembali tertawa.
“Tidak, Pah, sekarang beneran kok, Nadia sudah mau jadi istriku!” Fauzan menoleh pada Nadia yang masih menunduk dengan tersenyum lalu kembali berkata, “iya, kan ... Nadia?”
Keberhasilan menaklukkan Nadia adalah hal yang cukup rumit bagi Fauzan. Walaupun, akhirnya berhasil dengan bantuan Salima, yang hari ini mau berkunjung ke apartemennya.
Fauzan sebenarnya menunggu izin ayahnya untuk menerima calon mertua karena dia tidak akan bekerja setelah jam makan siang. Dia akan menyambut kedatangan kedua orang tua Nadia yang diperkirakan sudah tiba di sana siang nanti.
Hadian pun mengalihkan pandangannya ke arah Nadia lekat-lekat ia menegakkan punggung dan melepaskan silangan di kakinya wajahnya berubah serius.
“Nadia! Bener kamu sudah mau jadi istri anakku itu artinya kamu menjadi mantu sekaligus menjadi bawahanku? Apa kamu sudah siap dengan semua tugas itu?” kata Hadian tenang tapi serius.
Nadia pun menatap Hadian dengan tatapan yang sama, wajahnya menunjukkan keseriusan. Dia tidak akan mencabut ucapannya lagi, setelah mengatakan karena dia bukan orang yang, gampang mempermainkan sebuah hubungan ataupun janji, seperti seorang pria di masa lalunya.
“Ya!” jawab gadis itu dengan mantap sambil menganggukkan kepalanya.
“Nadia, apa kamu bersungguh-sungguh tidak mudah menjadi seorang menantu bagi keluarga Hadian!” kata Hadian lagi.
“Kesulitan seperti apa yang Bapak maksudkan?” sahut Nadia percaya diri, dia yakin Fauzan tidak akan membiarkan dirinya dalam kesulitan.
“Kau harus melalui beberapa ujian dariku dulu!” ucap Hadian.
“Papah!” pekik Fauzan.
“Diam kamu, Zan!”
__ADS_1
Bersambung