AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 48 Pengakuan Aneh Ella


__ADS_3

Pengakuan Aneh Ella


Suasana sepi yang datang menyusup ke ruangan itu, seperti nyanyian tanpa suara yang menggelitik hati hingga membuat kebosanan pun tercipta di sekeliling Nadia. Gadis itu masih dalam posisi duduk yang sama, di sofa sambil menatap Arfan yang tergolek di tempat tidurnya, dia tidak bergerak seolah-olah laki-laki itu sedang tidur dengan nyenyak.


Sambil nafas panjang Nadia mengalihkan pandangannya ke jendela, lalu, dia tersenyum sendiri seolah ada sesuatu yang lucu dilihatnya di sana.


Lalu, gadis itu berkata, “Kalau kamu memang nggak tidur terus terang aja, apa kamu tahu apa yang dibicarakan ayahmu denganku? Kalau memang kamu tahu aku akan berterus terang padamu ... tapi, kamu harus percaya aku nggak menyembunyikan apa-apa.”


Arfan tidak merespons dan Nadia percaya jika pria itu memang benar-benar tidur hingga tidak mendengar apa pun yang dibicarakan antara Hadian dan dirinya.


Betapa sulitnya untuk berkata jujur, hingga kebanyakan orang menjadi terbiasa berbohong dalam setiap keadaan. Menyembunyikan kebusukan dalam dirinya dengan kebohongan demi kebohongan.


Melihat hal itu, Nadia tersenyum tipis.


Sedangkan Arfan di tempat tidurnya berusaha diam, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ayahnya dan Nadia. Akan tetapi dia tidak mau berpikir buruk karena akan berimbas pada kesehatannya. Tubuhnya harus segera dipulihkan dan memerlukan ketenangan pikiran sehingga dia, tidak mau berpikir macam-macam tentang apa yang dilihatnya hari ini.


Arfan tadi sempat turun sebentar dengan susah payah dari tempat tidurnya karena tubuhnya, masih kaku dan persendiannya belum bisa digerakkan secara sempurna. Dia belum bisa berdiri terlalu lama hingga kemudian memutuskan untuk kembali ke tempat tidur.


Dia hanya sempat mendengar satu kata yang diucapkan Nadia bahwa, gadis itu berjanji akan tetap menyimpan rahasia. Pria itu pun bertanya, sebenarnya rahasia apa yang disimpan oleh Nadia dari ayahnya? Bukan hanya itu berbagai pertanyaan lain pun bermunculan memenuhi bagian dalam kotaknya.


Arfan yakin suatu saat nanti apa pun yang disembunyikan oleh ayahnya atau Nadia akan terbongkar juga, cepat atau lambat dengan cara takdirnya sendiri. Walaupun begitu, dia berpikir positif sebab gelagat dari ayahnya dan Nadia menunjukkan bahwa, apa yang mereka bicarakan, bukanlah sesuatu yang serius ataupun hal yang memalukan, mungkin seputar hubungan Hadian dengan ibunya Fauzan, pikirnya.


Tak lama kemudian, suasana sepi itu sedikit terusik karena terdengar suara deringan ponsel yang ada di dalam tas kecil Nadia. Dia melihat seseorang yang tidak dikenalnya tengah menghubunginya. Nadia sedikit ragu melihat nomor yang tidak dikenal tapi, dia segera mengangkatnya karena khawatir apabila Arfan terganggu dengan suara telepon itu.


“Halo?” Sapa Nadia pelan, Setelah telepon genggamnya menempel di telinga. Dia bicara sambil berjalan keluar kamar, dia khawatir bila obrolannya kali ini lagi-lagi akan mengganggu Arfan.


“Ini aku,” terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.


“Siapa?” tanya Nadia heran, menghadapi si penelepon asing yang seolah berlagak akrab dengannya.


“Ella,” kata wanita dari balik ponsel.


“Kenapa kamu meneleponku, kamu tahu nomorku dari mana?” Tanya Nadia penuh selidik.


“Fauzan.”

__ADS_1


“Oh. Ada perlu apa, memangnya? Perasaan kita nggak punya urusan apa-apa, deh!”


“Siapa bilang? Kamu punya, kok!”


“Soal apa?”


“Arfan!”


“Kenapa dengan dia?”


Ella menceritakan kecurigaannya tentang Arfan pada Nadia. Dia meminta agar Nadia tidak menilainya sebagai perempuan murahan ataupun gampangan yang mudah sekali jatuh cinta pada pria lain sedangkan, dia masih memiliki status sebagai kekasih dari laki-laki sebelumnya.


Tentu saja permintaan dan ucapan Ella ini membuat Nadia heran, dia mengerutkan kedua alisnya dengan sangat dalam memikirkan bahwa tidak ada keterkaitan hubungan antara Ella dengan penilaian Nadia, itu tidak penting karena memang mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


Ella sekarang sudah memutuskan hubungan antara dirinya dan keluarga Arfan. Dia sudah menjalin hubungan baik, tapi dia sendiri yang memutuskan hubungan dengan kekasihnya itu secara sepihak.


Saat berbincang di telepon itu, Ella meminta agar Nadia mau mendatangi suatu tempat yang spesial bagi Arfan, dia yakin bila laki-laki itu sudah pulih benar, maka dia akan segera pergi ke sana. Lalu, apabila nanti Nadia mengetahui tempat itu dan melihat bagaimana pergaulan Arfan, maka Nadia akan memaklumi tindakan dari Ella memutuskan hubungan dengan sang kekasih.


Ella tidak memiliki alasan yang bisa dia katakan untuk putus dengan Arfan selain karena koma yang dialaminya. Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya, tentang kecurigaannya selama ini.


Gadis itu juga sangat riskan saat Nadia menatapnya dengan pandangan aneh dan seolah merendahkan dirinya. Lalu, menilainya sebagai wanita gampangan. Tidak, dia tidak terima.


“Baikalah, aku akan ke tempat itu kalau memang suatu saat nanti, Arfan pulih dan pergi ke sana,” kata Nadia.


“Aku kira, dia pasti semangat kok untuk sembuh.”


“Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu soal tempat itu?”


“Aku sempat curiga sebelum dia jatuh terus koma, aku lihat sendiri dia sama laki-laki itu.”


“Oh, Cuma itu saja ... kamu nggak harus menilainya negatif, kan?”


“Memang, tapi pas dia koma, aku menyaksikan sesuatu—“ ucapan Ella terputus, karena dia tiba-tiba tertawa keras.


“Hai, Ella ... Aapanya yang lucu?”

__ADS_1


Setelah berhenti tertawa, Ella bercerita jika saat dia menunggu Arfan di rumah sakit, dia pernah melihat tubuh Arfan tiba-tiba menegang dan menggigil serta mengeluarkan erangan dari dalam tenggorokannya karena mulutnya tertutup rapat.


Ella sempat ketakutan dan mengatakannya pada dokter, tapi, para dokter mengatakan kalau hal seperti itu terkadang memang dialami oleh orang yang dalam keadaan koma. Itu artinya tubuh pasien tengah mengalami reaksi tertentu yang menunjukkan gejala normal dan masih bisa sadar suatu saat nanti.


Akan tetapi, waktu itu Ella melihat kejantanan Arfan yang ukurannya tidak normal bahkan terlalu kecil dibandingkan tubuhnya yang atletis dan kekar. Gadis itu menjelaskan semuanya tanpa malu-malu pada Nadia dan saat bicara pun dia sering kali tertawa.


Panggilan telepon segera diakhiri oleh Nadia secara sepihak saat dia melihat Imma dan Fatima berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa beberapa bingkisan yang banyak di tangan mereka, membuat Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Seperti itulah yang selalu dilakukan dari hari ke hari, oleh dua wanita paruh baya itu untuk menyenangkan hati Nadia, dengan memberikan banyak hadiah dan makanan enak. Mereka seolah biasa memberikan hal-hal tersebut padahal bagi Nadia, semua itu tidak perlu.


******


Setelah kejadian hari itu, Nadia di daulat oleh pihak keluarga Hadian untuk menjadi penjaga Arfan dengan beberapa imbalan. Semua disebabkan oleh Fauzan yang mulai sibuk di lokasi baru hingga dia tak sempat untuk n Kantor cabang perusahaan Hadian mulai berjalan normal dan stabil hingga membutuhkan seorang pemimpin.


Fauzan tidak bisa lagi menjadi orang yang selalu berada di tempat itu kesibukannya. Kejadian ini seperti takdir yang mengikuti kesembuhan Arfan sebab jika dia pulih nanti, pria itulah yang akan menggantikan Hadian di kantor pusat.


Nadia menolak dengan halus kemauan keluarga itu, tapi, kemudian Fauzan berinisiatif untuk memperkerjakan kembali Nadia sebagai asisten Hadian dan ditugaskan untuk menjaga Arfan. Hingga Imma dan Fatima bisa tenang menjalani aktivitas mereka tanpa rasa kuatir pada anak lelakinya.


Dengan demikian, Nadia mau menerima dan menjalankan aktivitas sesuai perjanjian. Dia berjaga menemani Arfan dari pagi sebelum Fauzan berangkat bekerja dan pulang setelah Fauzan datang ke sana. Aktivitas seperti itu terus Nadia lakoni dengan sabar, atas seizin ibu dan ayahnya juga.


Nadia selalu menghubungi ibunya jika dia sedang bosan karena sendirian, dan Arfan tengah tertidur atau saat dia membutuhkan semangat agar tidak putus asa dalam menjalani hidupnya.


Salima selalu mengingatkan anaknya bahwa takdir juga yang membawa seorang manusia berputar dalam pusaran yang sama hingga kemudian, kembali di titik awal, seolah mengulang lagi segala sesuatu yang pernah mereka lalui sebelumnya.


“Jadi, Nad ... lakukan saja semua yang kamu hadapi sekarang. Nanti, kalau kamu sudah mendapatkan gaji, kamu bisa pulang, kamu sekarang dianggap sebagai pekerja biasa, kan?” Salima berkata dengan lembut.


“Iya, Bu ... Tapi Ibu janji, ya, jangan pakai barang apa pun dari pemberian keluarga Hadian waktu itu. Soalnya aku bakalan tolak semua itu!” sahut Nadia saat ibu dan anak itu berbincang melalui sambungan telepon waktu itu.


“Jangan kuatir, Ibu simpan semuanya dengan baik, kalau kamu memang sudah mantap dan punya alasan jelas menolak anak itu, Ibu siap kirimkan semuanya.”


“Iya, Bu. Terima kasih.”


Nadia meminta Ibunya untuk tidak memakai semua barang yang dikirimkan oleh Rahima kepada kedua orang tuanya. Dia berniat mengembalikan semua barang mewah yang diberikan atas tujuan membujuk agar Nadia bersedia menjadi istri Arfan.


Semula memang Nadia berniat untuk mempertimbangkan, mengingat Arfan adalah pria yang lembut dan berwajah teduh, senyumnya manis dan selama bersama Nadia di sana, pria itu tidak pernah mengeluh sedikit pun dengan semua yang di deritanya.

__ADS_1


Akan tetapi setelah mendengar penjelasan dan kecurigaan Ella, wanita itu membatalkan pertimbangannya.


Bersambung


__ADS_2