
Asisten pribadi 2
Walaupun kesal tapi Fauzan membiarkan Nadia memanggilnya demikian. Bahkan dia hanya memperhatikan ketika gadis itu mulai duduk dan menyalakan komputernya tanpa tahu apa yang akan dia kerjakan. Dia tidak bertanya apa pun tentang pekerjaannya pada bos-nya.
Nadia memeriksa beberapa file yang muncul pada layar monitornya, dia menemukan beberapa dokumen yang tersimpan dan berhubungan dengan perusahaan. Dia membaca dan memahami semua dokumen di dalamnya lalu, mencatat beberapa poin yang dia anggap penting.
Fauzan mendekat dan berdid di sisi sebelah kanan Nadia lalu membungkuk hingga kepala mereka sejajar karena begitu seriusnya gadis itu sampai tidak menyadari sepenuhnya kelakukan atasannya.
“Hmm... Nggak kusangka kamu pinter juga!” ucapan Fauzan ini sontak membuat Nadia terkejut dan menoleh, saat itu wajah mereka sangat dekat bahkan embusan nafas pria itu pun terasa di pipinya.
Gadis itu segera memundurkan kepala, lalu, berdiri dengan gugup. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar dan salah tingkah sedangkan rona di pipinya. Fauzan pun terkekeh, melihat hal itu, baginya tingkah Nadia sangat lucu dan menggemaskan.
“Kenapa kamu gugup begitu?” Fauzan bertanya karena heran, selama ini dia tidak pernah melihat Nadia begitu gugup. Dia selalu tampak tenang bahkan acuh tak acuh bila berhadapan dengannya. Beberapa kali mereka pernah sedekat ini tapi, dia tidak pernah sedikit pun melihat Nadia bereaksi berlebihan, bahkan gadis itu terkesan dingin dan tidak tergoyahkan.
Nadia sendiri berusaha dengan keras menenangkan diri dan, mencoba berdamai dengan jantung serta hatinya sendiri. Walaupun, dia memberi kesempatan pada perasaannya untuk jatuh cinta lagi, tapi tidak secepat ini.
“Ah, nggak. Aku nggak papa. Cuma kaget aja, dasar! Awas kamu Zan!”
“Awas kenapa, awas nanti kamu dilamar?”
“Dih! Kamu ini ngomong apa? Udahlah, terserah. Aku mau kerja lagi!”
“Memangnya, kamu kerja apaan?”
“Aku baca dokumen ini!” Nadia berkata dengan serius, wajahnya sudah seperti biasanya dan dia tidak lagi peduli pada pria, yang masih menatap wajahnya dengan instans.
Gadis itu menjelaskan tentang semua dokumen yang dibacanya tentang anggaran dasar perusahaan kemudian dia mencatat hal-hal penting yang nanti akan menjadi modal pengetahuannya, apabila dia harus berhadapan dengan orang lain atau masalah yang kemungkinan muncul.
“Jadi, sekarang kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?”
__ADS_1
“Melakukan apa maksud Anda, Pak?”
“Ya kalau kamu mau jadi asistenku!”
“Maaf, kalau soal itu belum tahu Pak.”
Fauzan mulai mengerti perubahan yang terjadi pada Nadia setiap kali mereka berada dalam kondisi formal ataupun santai. Dalam kondisi formal, ternyata, selalu dimulai dari dirinya sendiri. Apabila dia menanyakan tentang hal pekerjaan maka gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan Formil, tapi, apabila di saat santai dan dia hanya membicarakan masalah pribadi, maka, Nadia akan langsung memanggilnya dengan sebutan nama.
“Pelajari ini!” Fauzan berjalan ke mejanya dan kemudian mengambil sebuah tab, lalu, memberikannya kepada Nadia.
Nadia melihat isi dari tab itu dan dia mengangguk-angguk tanda mengerti. Semua yang tertera di sana adalah jadwal dari kegiatan Fauzan sehari-hari, selama satu pekan ke depan bahkan, untuk satu bulan berikutnya.
Ada beberapa agenda penting dan juga agenda pribadi, termasuk segala hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan tersebut, seperti dokumen yang harus dibawa dan dipersiapkannya. Sebab, ketika menemui seseorang atau mengadakan rapat, termasuk ketika harus menghadap ayahnya sendiri. Bos-nya itu tidak datang begitu saja melainkan harus membawa dokumen bersamanya.
“Coba, apa saja yang ada di sana?” tanya Fauzan, dia duduk di sisi meja sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ini semua jadwal Anda, Pak?”
Fauzan berhenti sejenak, sedang Nadia memperhatikan dengan saksama.
“Sekretaris Bapak, Pak Jaya ya, yang tadi itu?”
Fauzan mengangguk. Nadia sudah diperkenalkan dengan semua pegawai, yang bekerja di kantor cabang Fauzan itu dan, semua adalah laki-laki.
“Ya! Pokoknya kalian harus bekerja sama, jadi, aku nggak harus lagi mengurusi dokumen rapat, aku tinggal terima beres, termasuk revisi. Jadi, semua yang ada di mejaku, sudah kamu pastikan tidak ada lagi kesalahan, oke?”
Nadia diam karena berpikir bila itu artinya dia akan lebih sering bersama dengan Fauzan dan beberapa laki-laki.
“Nadia ... kamu dengar aku, tidak?”
“Eum ... Ya!”
__ADS_1
“Bagus! Jadi, karena sekarang agenda utama kita untuk meninjau lokasi sudah lewat, kita pending dulu sampai besok!”
Setelah itu Fauzan menunjukkan pada Nadia bila hendak mengubah jadwal, maka siapa saja yang harus dia hubungi, atau bagaimana merubah draft notulen rapat yang sudah disepakati.
Semua Fauzan ajarkan sendiri sebab sebelumnya dia mengerjakan bersama Jali. Namun, setelah ada Nadia, maka gadis itu yang akan bersamanya.
Fauzan terlihat bahagia sekali, yang terlukis secara jelas di wajahnya. Itu artinya hari-hari selanjutnya akan penuh dengan warna, ya wanita itu yang akan mewarnai hidupnya.
Seperti itulah hari berjalan mengikuti menit demi menit, jam demi jam berlalu hingga mengantarkan mereka, pada ujung waktu yang melelahkan. Di mana saatnya tubuh meminta untuk diistirahatkan.
Agenda hari itu mereka lalui, dengan mengurus satu kantor saja karena sudah banyak waktu habis di jalanan, saat terjadi kemacetan.
“Terima kasih, Nadia ....” kata Fauzan saat mengantar Nadia ke apartemen pribadi, yang dulu pernah dia tinggali saat menunggu Arfan di rumah sakit.
“Untuk apa?” tanya Nadia.
“Untuk semuanya, kamu mau bekerja di kantorku.”
“Oh, soal itu ... kamu nggak perlu bilang terima kasih, kok!”
“Hmm... Ngomong-ngomong, kapan Papaku nawarin kerjaan ini ke kamu?”
“Waktu ... aku izin mau pulang karena Arfan sembuh, waktu itu kamu pergi, nggak tahu ke mana. Pak Hadian khawatir kalo aku bakal bocorin rahasianya.”
“Oh, waktu itu, ya. Terus kalo tawaran aku, kapan kamu sanggupi, Nadia?”
“Tawaran apa?”
“Lamaranku, Nadia ... masa kamu lupa, sih, kalo aku pernah bilang aku cinta sama kamu dan, aku siap buat nikah sama kamu kapan saja kamu mau?”
__ADS_1
Bersambung