
Kamu Ketahuan
Arfan seketika berdiri dengan gugup, dia malu dan salah tingkah karena dirinya yang tidak memakai baju. Sementara dia semakin terkejut saat melihat Nadia pun ada di sana, gadis itu berlari mengikuti Ella yang emosi hingga melanggar kesepakatan mereka sendiri.
Semula mereka hendak mengambil barang bukti, menjebak Arfan, lalu, membongkar rahasia pria itu di depan keluarga secara terang-terangan. Barang bukti yang ada, akan mereka menjadikan alasan kuat, bagi Nadia untuk menolak perjodohannya, dan, bagi Ella untuk menyangkal segala tuduhan bahwa, dia wanita murahan.
Namun, saat ini semua menjadi runyam karena Ella tidak bisa menahan emosinya yang dia keluarkan begitu saja hingga semua rencana mereka rusak. Arfan akan dengan mudah berkelit dan menghindari semua tuduhan karena mereka tidak memiliki bukti cuku untuk membongkar kebohongannya di depan keluarga.
Dia selama ini berpura-pura menjadi orang yang sangat baik dan sempurna di depan banyak orang, bahkan memiliki kecerdasan dan ketampanan luar biasa, tetapi, siapa yang menduga jika ternyata Ia mempunyai akhlak yang menyimpang.
“Arfan! Dasar penipu kamu!” kata Ella sambil berkacak pinggang dan melotot ke arah Arfan yang terlihat gusar, wajahnya memerah karena malu dia tertangkap basah dalam keadaan seperti itu.
“Kalian semua Kenapa bisa ada di sini?” tanya Arfan gusar. Dia seperti sedang berada di ujung tanduk sebentar lagi akan tersungkur jatuh.
“Kau pikir kami bodoh selama ini kamu tipu? Jangan pura-pura baik aku sudah lama tahu siapa tahu sebenarnya, Fan!” kata Ella lagi dan dia semakin dekat ke arah Arfan seolah tidak takut dengan pria itu.
“Kamu, Fan. Walaupun gantengnya atau kamu kekarnya kayak apa, tapi, kalau kamu suka sesama lelaki, itu artinya kamu banci, Fan!” kata Ella, tanpa melihat sedikit pun ke arah Jali atau Nadia yang memberinya isyarat agar tenang dan tidak marah-marah.
“Kamu ini ngomong apa sih, Ella!” Arfan masih mencoba menenangkan, dia berjalan bolak-balik gelisah sambil mengusap kepalanya kasar.
Tak lama, teman Arfan yang bernama Teo itu muncul kembali dalam keadaan tercengang dan heran, wajahnya memerah seolah baru saja selesai melakukan lari pagi. Dia tidak menyangka jika Jali kembali bahkan bersama dua orang wanita bersamanya.
“Jali, kamu masih di sini? Siapa mereka?” tanya pria gemulai itu.
Nadia maju ke depan, mencoba melerai agar tidak terjadi kemarahan dan juga salah paham, di antara mereka karena kemarahan Ela yang tidak bisa dikendalikan.
“Jadi, begini, Bang!” kata Nadia sambil meremas tangannya sendiri dia tampak gugup berulang kali melirik Arfan yang terlihat semakin gusar.
“Kenalkan saya Nadia, saya sudah di jodohkan dengan Arfan oleh ibunya.” Kata Nadia memulai pembicaraan, sontak membuat Arfan dan Teo saling bertatapan.
__ADS_1
“Oh, jadi begitu, lalu, apa maksud kedatangan kalian semua ke sini?”
“Aku mau bongkar aibmu, Fan! Aku sudah dicap wanita murahan, sama Tante, Ibumu, padahal aku memilih adikmu, Fauzan itu karena kamu penyuka lelaki! Aku benar, kan? Kamu jujur, Fan!”
Saat itu juga Arfan dan Teo tertawa bersamaan.
“Ayo! Kalian semua, masuk dulu.” Teo berkata setelah berhenti tertawa. Sementara Arfan kembali ke dalam dan keluar menemui tamunya setelah memakai bajunya lagi.
Setelah semua duduk dalam satu ruangan yang besar dan nyaman, Teo menyuguhkan air mineral biasa pada semua tamunya.
Selesai menyajikan minum, laki-laki gemulai itu bercerita bagaimana awal pertemuannya dengan Arfan. Dia memang menyukainya, tapi, Arfan terus terang menolak dan dia bukan tipe laki-laki seperti itu. Justru dia diajak ke jalan yang benar dan diperkenalkan dengan beberapa ustaz yang bisa membantunya sembuh.
Sekarang dia masih proses, dia sadar perbuatan dosa selamanya adalah dosa, apa pun alasannya. Namun, dia masihlah manusia biasa dan belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk itu sebelumnya.
Seorang teman dari luar negeri sana kemudian memberinya sebuah hadiah besar. Dia tidak menyangka ternyata isinya adalah boneka yang terbuat dari silikon dan bisa dipermainkan. Itu benda berbentuk setengah manusia bisa jadi pemuas minat jika sedang dalam gejolak tinggi dan tidak bisa disalurkan. Dia kemudian berinisiatif mencoba seperti apa rasanya, dan Arfan pun menyetujuinya.
Rupanya nasib mereka apes hingga belum juga mencoba ternyata sudah ketahuan seperti ini. Bahkan, Jali sudah membuat videonya tanpa mereka sadari.
“Jadi, kamu bukan seperti itu, Fan!” kata Ella.
“Nggak!” sahut Arfan tegas.
“Kalo teman yang lain, masih begitu, aku udah mau kembali setelah ketemu, Arfan. Apalagi bapakku sakit sekarang, dia minta aku tobat, aku insyaf. Tapi, aku belum bisa jadi laki-laki tulen, semua butuh proses, aku kadang masih kebawa-bawa sama teman lainnya!” Teo mulai menangis saat bicara.
“Yang Yang penting kan kamu tidak mengulangi kesalahan itu lagi Teo, kalaupun kamu memang punya keinginan dan napsu yang salah, kamu bisa mengalihkannya dengan hal yang positif, kamu bisa berpuasa seperti yang diajarkan agama kita!” kata Nadia.
“Iya, kamu benar, Nad, tapi, tapi semua itu tidak mudah seperti semudah omongan orang!
Nadia dan semua orang diam, memang pada dasarnya menjalankan sebuah kebenaran, merupakan tantangan karena tidak mudah untuk tetap menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Arfan, aku minta maaf, ya kalau aku salah sudah nilai kamu selama ini!”
“Ya, nggak apa-apa karena semua orang pasti punya kesalahan, kan? Aku maklum kok, kalau kamu punya prasangka buruk seperti itu karena memang aku bergaul dengan orang-orang seperti Teo!” kata Arfan sambil menghela nafas panjang.
“Kalau begitu, gimana, Fan? Apa kamu mau meneruskan perjodohan yang disarankan Ibumu dengan Nadia?” tanya Ella sambil melihat pada keduanya secara bergantian.
Kedua orang itu menggeleng secara bersamaan sambil mengangkat bahu mereka menjawab secara bersamaan pula, “Mana kutahu, terserah dia saja!”
Seketika semua orang yang ada dalam ruangan itu pun tertawa.
“Wah, wah, kalian kompak sekali, ya!” kata Jali, sejak tadi tadi pria itu diam karena merasa pembicaraan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di hadapannya, bukanlah urusannya.
“Giman, Nad?” tanya Arfan kemudian, sepertinya dia memang penasaran dengan jawaban Nadia, yang tidak pernah disampaikan secara lugas kepada ibunya, apakah dia menerima atau menolak perjodohan dirinya.
“Terus terang sebenarnya aku menolak tapi, aku nggak tega pada Ibumu, Fan!” kata Nadia tegas, dia merasa lega bisa mengatakan semua ini pada orang yang bersangkutan.
“Fan, kalau kamu nggak jadi, sama Nadia, berarti kita jadi nikah, ya? Bulan depan!” kata Ella
“Apa?” kata Nadia dan Arfan kembali bersama.
“Dih, kalian ini!” sela Kali sambil menahan tawa.
“Atau ... gimana kalau kita bareng aja, aku sama Arkan dan Nadia sama Fauzan ... kalau kamu setuju aku telepon Ibu sekarang juga!
“Jangan!” tata Nadia sambil menyambar tangan Ella yang hendak mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Ella, please... jangan buru-buru, aku juga belum setuju kalau harus nikah secepat itu dengan Fauzan. Aku pengin pulang, nggak pengin ke mana-mana, apalagi nikah sama dia!”
__ADS_1
Bersambung