AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 51 Tak Berdaya


__ADS_3

Tak Berdaya


“Ya. Aku cemburu, Nad,” kata Fauzan setelah dia menghadapkan badannya ke samping dan melihat Nadia lurus.


Dia kembali berkata, “Kalau aku boleh jujur, Nad. Aku nggak mau kamu dijodohin sama Arfan, aku nggak suka, kalau bisa aku bawa kamu pergi sekarang juga ke tempat yang jauh, atau ke tempat Ibuku, tapi, aku nggak bisa!”


“Aku masih anak Ayah, tapi aku sudah dirawat Ibu Imma dengan sangat baik, aku nggak akan membalas jasa perempuan itu dengan membuatnya sedih, kalau membawa kamu pergi ... emang aku bisa apa, Nad? Aku nggak berdaya, aku nggak mau Ayahku jadi punya dosa karena aku jadi anak durhaka!”


Fauzan menghela napas sambil memejamkan mata, tanpa menunggu jawaban Nadia, dia kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang seperti tengah menunjukkan kesedihan hatinya.


“Maafkan aku, Zan,” kata Nadia sambil melihat profil Fauzan dari samping.


“Kenapa minta maaf, kamu nggak salah, kecuali kamu sudah berprasangka buruk kalau aku nggak sungguh-sungguh lamar kamu, kan? Aku beneran, loh, Nad!”


“Masa?”


“Ck! Kalau kamu jawab jujur mau menerima cintaku, aku mau menentang keputusan Mama Imma sekarang juga!”


“Jangan,” jawab Nadia.


“Kenapa?”


Nadia diam, kalau saja dia mengatakan dengan jujur jika dia, tidak memiliki perasaan apa-apa pada Fauzan, untuk saat ini ... maka, dia khawatir pria itu akan terluka atau marah. Walaupun, memang pribadi  Fauzan selalu menunjukkan keramahan dan tulus, tapi dia sering kali menyebalkan.


Jadi, Nadia menganggap jika diam adalah jawaban terbaiknya. Dia pernah mencintai seseorang terlalu dalam, tapi akhirnya terpaksa kehilangan dengan cara yang paling menyakitkan, yaitu harus mengakui kekalahan tepat di saat kemenangan hampir saja berada dalam genggaman.


Jadi, dia tidak berani lagi untuk mencintai, tak butuh dicintai kalau nanti hanya akan kembali tersakiti.


Kalau memang dia dicap payah atau rendah karena begitu lemah dan tak lagi punya nyali untuk memiliki, maka, biarlah ... Dia pasrah sebab cinta memang bisa begitu indah untuk dinikmati tapi, akan menjadi begitu sakit kalau bukan dari orang yang tepat untuk memiliki.


Masih banyak alasan untuk bertahan dalam kesendirian, masih banyak teman dan saudara yang bisa mengisi hari-hari yang dibilang sebagian orang, sepi tanpa kekasih hati.


 Akan tetapi, hatinya belum siap untuk sekedar membahagiakan atau dibahagiakan seorang laki-laki. Bukan Cuma dia yang pernah salah atau dia yang pernah patah. Lalu, sebagian hati yang terluka itu bisa begitu mudah dibalut dengan mencari hati lain untuk berlabuh. Namun, Nadia berbeda, dia memilih untuk tidak mengeluh dan terus berjalan dalam kesendirian.

__ADS_1


Seandainya memang kakinya masih sakit untuk berjalan, dan sayap kecil di hatinya masih patah untuk terbang, maka, dia butuh waktu untuk sembuh hingga bisa kembali berjalan atau terbang. Air mata dari lukanya yang tak berdarah, kadang masih tumpah. Jadi, dia tidak akan memaksakan diri untuk kembali meraih cinta, yang katanya bisa membuat manusia bahagia.


 


*****


 


Hari ini Nadia diizinkan pulang, lagi-lagi Jali yang mengantarnya sampai ke rumahnya di kampung halaman. Sejak terakhir kali dia bertemu Fauzan adalah hari di mana dia diam, tak menjawab pertanyaan pria itu tentang perasaan yang dengan susah payah dia sembunyikan.


Malam itu Fauzan hanya mengantarkan sampai depan apartemen dan membiarkan Nadia masuk di bloknya sendirian. Dia tidak memaksa Nadia untuk menjawab pertanyaan karena dia tahu luka hati Nadia belum sembuh benar dan, dia pun salah kalau terlalu memaksakan.


Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak saling bicara karena sama-sama menjaga hati dari luka yang lebih dalam. Nadia pernah terluka oleh cinta.


Pria itu pun sama, saat dia benar-benar jatuh dalam rasa, orang yang dicintainya justru akan dijodohkan dengan orang yang, tidak bisa dia kalahkan meski dengan berbagai cara.


Jadi, dia mengalah saja dari pada melawan sedangkan dia belum tentu bisa menang. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah adalah jalan terindah, yang diambil dari pada harus mengalami penderitaan yang lebih parah.


Hadian memintanya kembali bekerja dengan mengulang kembali seperti awal pertama kali masuk kerja.


“Ini, hanya formalitas, kamu pasti diterima dan saya jamin tidak akan terjadi kesalahan.”


“Baik, Pak.”


“Kamu nggak usah kuatir soal orang lain, ini keputusanku tanpa andil yang lainnya.”


“Apa hanya itu yang harus saya lampirkan, Pak?”


“Ya.”


Waktu itu Hadian meminta secara pribadi tanpa diketahui oleh siapa pun termasuk Fauzan. Hal ini termasuk mendadak, mengingat Hadian menyampaikan setelah Arfan pulih dan Nadia berpamitan untuk pulang.


Lamunan Nadia tiba-tiba buyar oleh penglihatannya pada sebuah papan nama yang menunjukkan Cafe dengan nama seperti yang disebutkan oleh Ella beberapa pekan yang lalu.

__ADS_1


Nadia meminta Jali, asisten Fauzan yang mengantarkannya untuk berhenti di sisi jalan di mana cafe itu berada.


Setelah sampai di dalam, dia memakai sebuah kaca mata hitam dan duduk di antara pengunjung lainnya lalu, memesan satu jenis minuman dingin khas cafe yang cukup popular. Dia sedikit membaur hingga tidak terlihat jelas kecuali orang yang benar-benar mengenalnya.


Dia menghubungi Ella, lalu mereka mengadakan janji di di sana karena Ella akan segera menemuinya. Cafe itu terletak agak jauh dari area kota dan berada di lintas jalan raya yang akan menuju kampung halamannya.


Namun, sebelum Ella datang, Nadia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Arfan, pria itu masuk seorang diri dengan wajah ceria. Beberapa pengunjung di sana adalah orang biasa yang tidak akan memperlihatkan dengan jelas jati diri mereka, tapi, kebanyakan dari mereka adalah pria!


Seseorang yang mirip dengan Arfan itu berjalan memasuki area lain dari tempat di mana Nadia berada. Lalu, terlihat orang lain masuk juga ke sana, yang mirip dengan Dean. Akan tetapi yang aneh dari Dean kali ini adalah, seseorang yang berjalan di sampingnya dengan posisi yang tergolong mesra, bila mereka adalah pasangan pria dan wanita. Namun karena yang melakukannya adalah pria dengan pria, maka hal itu tampak sangat menggelikan dan mengundang rasa muak serta mual.


Nadia menyembunyikan keterkejutannya, dengan menyeruput jus pesanan dari sedotannya, dia harus terlihat natural dan santai, hingga semua bukti yang dia perlukan bisa terkumpul dan memuaskan.


Dia pria di samping Nadia saling berbincang membicarakan Dean.


“Kalau saja dia jadi bee—ku, aku nggak akan lepasin dia demi apa juga!”


“He eh, dia bee paling keren dan pantas deh korbanin diri buat dia termehek-mehek!”


“Ah, kamu bikin aku horn. Ayuk, ahk, cabut!”


“Dih, jijay deh kamu maksa Mulu!”


Setelah pembicaraan itu mereka pergi membuat Nadia sedikit lebih terlihat. Namun, tiba-tiba seseorang mengejutkan Nadia dari belakang.


“Hai!” teriak orang itu.


“Kamu?”


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2