
Berubah Ketus
Nadia mengerut alisnya sambil menghembuskan perlahan, lalu, menyimpan letak kaca mata seperti semula. Setelah itu dengan gerakan perlahan dia membenarkan kerudung yang hanya menempel secara asal di atas kepalanya. Lukanya masih belum kering hingga masih sakit saat kein itu melekat di mukanya, tapi tetap dia tahan karena lama-lama jadi terbiasa.
Tepat di saat itu pria itu terbangun dan langsung mengedarkan pandangannya dan berhenti pada gadis yang masih tertidur dengan tenang.
Akan tetapi dia heran melihat Nadia yang memejamkan mata sambil mengerutkan alis hingga dia berpikir bahwa, Gadis itu tengah bermimpi buruk dan sakit di tubuhnya sangat parah. Dia dengan perlahan mengusap kepala dan keningnya dan dirasakan belaian tangan itu hangat menyentuh kulitnya.
“Apa itu, sakit? Seandainya saja rasa sakitmu bisa kugantikan.” Gumam Fauzan lirih, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Nadia yang hanya pura-pura tidur saja, membuat gadis itu kembali menarik napas dalam.
Melihat dada Nadia yang turun naik itu membuat Fauzan semakin yakin bila wanita itu tengah bermimpi buruk. Lalu, dia membangunkan Nadia dengan menggoyangkan kakinya yang tertutup selimut, berharap bisa melenyapkan mimpi itu dalam sekejap.
“Nadia bangun! Kamu mimpi buruk, ya?” kata Fauzan masih sambil menggoyangkan kaki dengan pelan.
“Nadia! Bangun! Sudah siang, ayo sarapan dan minum obat!” kata pria itu lagi.
Nadia membuka matanya perlahan lalu menatap pria berkacamata itu dengan tatapan yang rumit, banyak emosi dan berbagai macam pertanyaan dikepala membuat alisnya tetap berkerut ditambah dengan rasa sakit yang masih tersisa menyiksa di sekujur tubuh.
“Hmm ....” gumamnya lirih.
“Ahk, syukurlah ... apa kamu baik-baik saja, apa kamu mimpi buruk tadi?” tanya Fauzan gusar. Nadia menanggapinya dengan gelengan kepala.
“kenapa kamu masih di sini? Pulang sana!” kata Nadia terdengar ketus, sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela yang masih tertutup. Dia tahu di luar sana siang mulai menjelang, terlihat bila sinar matahari mulai memanas dan bisa dipastikan bahwa benda pijar di langit itu sudah bergerak cukup tinggi dari peraduannya.
Fauzan menangkap nada bicara Nadia yang sedikit berbeda hingga dia menarik kesimpulan jika mungkin gadis itu bosan. Dia menawarkan jasa meneminnya dengan Cuma-Cuma tanpa imbalan karena dia menyukai gadis itu. Apalagi dialah satu-satunya wanita yang tahu rahasia ruangan kantor sang pimpinan. Oleh karena itu dia harus dijaga baik-baik, tapi, lihat tingkah Gadis itu seolah membencinya. Menyebalkan!
“Kamu mau telepon orang tuamu? Nih, pakai hp-ku.” Fauzan menawarkan sebuah keinginan yang sudah ingin dilaksanakan Nadia sejak kemarin.
“Ya. Terima kasih.”
__ADS_1
Nadia memang ingin menghubungi ibunya, dia menunda keinginan itu karena merasa tidak berdaya. Ponsel dan semua benda pribadinya hancur dilokasi kejadian, dia tidak tahu pula benda itu ada di mana saat ini, mungkin sudah dibuang bersama dengan material reruntuhan lainnya.
Saat dia hendak bekerja, dia harus meletakkan tas dan semua barang pribadi karena dia wajib mengenakan pengaman standar, berupa sabuk yang terpasang secara melingkar di pinggang, sampai pundak dan paha atas dan tersambung pada tepian gondola. Dia dan Dodi pun melakukan hal yang sama, meletakkan barang pribadi di lantai dekat kaca.
Tiba-tiba Nadia teringat bagaimana nasib rekannya itu, kemungkinan dia jauh lebih parah sebab, saat itu dia melihat kakinya yang tertekuk tertimpa material jauh lebih banyak dibandingkan dirinya, darah mengalir deras, suasana pengap, debu demikian pekat melingkupi mereka dan keadaan sempit serta sesak membuat sepuluh menit setelah bicara, mereka sudah tidak sadarkan diri.
Waktu itu mereka sangat bersyukur masih hidup, helm dan benda kotak yang terbuat dari baja itu seolah melindungi dan sangat membantu menyelamatkan mereka.
Nadia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang dia tahu bahwa, dirinya sudah berada di kamar perawatan VIP ini bersama dengan Fauzan. Gadis itu pikir bahwa dia mendapatkan keistimewaan yang berbeda dari rekan kerjanya karena dialah orang, yang mengetahui tentang kamar rahasia. Itu saja dan tidak lebih.
“Assalamu’alaikum, Bu. Halo ...!” kata Nadia bicara melalui ponsel milik Fauzan, itu adalah ponsel yang sama yang pernah digunakan seseorang. Dia menerima tawaran Fauzan karena dia kangen dengan Salima-ibunya, sudah lebih dari tiga hari dia tidak menelepon wanita yang telah melahirkannya itu.
Meskipun sebenarnya Nadia kesal pada Fauzan tapi, biar bagaimana pun pria itu juga berjasa dan dirinya sendiri tidak berdaya kini. Musibah yang terjadi padanya telah menguak semua misteri tapi dengan terkuaknya misteri ini, justru membuat gadis ini kesal setengah mati.
“Iya, Bu. Aku baik-baik saja, Ibu sama Bapak gimana?” tanya Nadia sambil memegang ponsel itu dengan tangan kanannya yang bebas.
Saat bicara, pandangannya tertuju pada Fauzan yang duduk di sebelahnya sambil menopang dagu, dengan tangannya bertumpu pada tempat tidur wajahnya terarah pada Nadia, sedangkan matanya yang tertutup kaca mata itu menatap lebih lembut.
“Ya, Ibu sama Bapak baik-baik ya di sana, jaga kesehatan.” Nadia berkata di akhir, lalu menutup ponsel dan memberikannya pada Fauzan kembali.
“Kenapa kamu nggak bilang saja semua yang kamu alami?”
“Jangan. Nanti mereka kuatir. Lagi pula, apa urusanmu?”
“Mamangnya apa yang salah denganku?”
“Ya, nggak ada yang salah ... dan jangan pikirin aku. Sana pulang, aku bisa sendirian!”
“Apa hak kamu ngusir aku?”
__ADS_1
Nadia kembali diam dia memang tidak berdaya sekarang karena tidak bisa apa-apa. Sakit di sekujur tubuhnyalah yang menyebabkan dia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan segala sesuatu. Saat ini dia ingin bangkit saja tidak bisa karena nyeri di punggung seolah ribuan pedang sedang tertancap di sana.
“Ya, baiklah. Terserah!”
Tanpa sepengetahuan Nadia, Fauzan mengirimkan seseorang untuk menjemput kedua orang tua Nadia. Namun, orang itu juga di larang mengatakan sesuatu tentang yang terjadi pada Nadia agar mereka tidak kuatir.
“Kamu mau apa sekarang, ngomong aja,” Kata Fauzan. Pertanyaan ini justru membuat Nadia menangis, kalau bisa dia ingin ibunya ada bersamanya, bisa memeluk dan berkeluh kesah padanya hingga ada yang membantu jika ingin sesuatu, dia tidak merasa malu bila haus pergi ke kamar mandi.
Melihat air mata Nadia meleleh di pipi, sontak Fauzan menghapusnya dengan jari tangan, lembut, membuat Nadia salah tingkah. Dengan cepat Gadis itu menepis tangan Fauzan sambil mendesah kasar. Rasa kesalnya bertambah, pria itu seenaknya saja menyentuh tanpa aba-aba padahal dia sangat menjaga dirinya.
“Hai, aku tidak akan melukai pipimu!” kata Fauzan lemah lembut.
“Jangan pura-pura baik segala!” Nadia berkata dengan nada ketus, rasa rindu akan kehadiran ibunya hilang sudah berganti ketidak sukaan yang hakiki.
Nadia bosan dengan para pria yang begitu baik dan perhatian selama ini, namun hanya pengikhianatan yang dia dapatkan.
“Aku nggak pura-pura, apa aku salah, coba bilang. Atau kamu bosan?” tanya Fauzan serius.
“Ya. Jadi, pergi sana!”
“Kenapa aku harus pergi, nanti kamu kesepian kalau nggak ada teman.”
“Buat apa teman kayak kamu, orang yang nggak punya hati!”
“Aku ...? Nggak punya hati?”
“Ya.”
“Kenapa?” Fauzan benar-benar heran dengan perubahan sikap Nadia.
__ADS_1
Bersambung