
Kedua Mata Yang Kembali Terbuka
Fatima melotot pada adiknya yang mengatakan Nadia gadis kampung sebab, dia tidak suka jika perempuan yang sudah membuat Arfan tersadar, di dihina di hadapannya.
“Dia bukan gadis kampung, dia gadis baik-baik coba lihat ini,” kata Fatimah sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya.
Wanita itu menunjukkan rekaman video yang tadi sengaja diambil ketika dia mengira bahwa Nadia akan berbuat buruk pada Arfan. Fatima sengaja mengambil gambar itu sebagai alat bukti jika nanti, Nadia benar-benar berbuat jahat. Dia mengarahkan kamera ponsel melalui kaca yang ada pada pintu ruang perawatan.
Rahima melihat rekaman video itu dengan saksama, dia awalnya sempat mengernyitkan dahi dan terlihat tidak suka tetapi, di akhir rekaman dia kemudian tercengang dan menoleh kepada kakak perempuannya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Anakku, sadar? Kenapa Mbak nggak bilang dari tadi?” katanya sambil melangkah hendak kembali ke kamar perawatan. Akan tetapi, Fatimah menarik tangannya kembali sehingga mereka saling berhadap-hadapan lagi.
“Dengar, aku mengajakmu ke sini hanya untuk pura-pura pada anak itu, sekarang kita lihat lagi apa dilakukan dia dilakukan tapi, jangan sampai ketahuan, kamu mengerti, kan?”
Rahima mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian dia bertanya, “sebenarnya apa sih maksud Mbak, kok, begini? Kenapa kita nggak terus terang aja minta dia untuk melakukan hal yang tadi dia lakukan saat Mbak merekam video?”
“Jangan terburu-buru, aku mau lihat dulu setulus apa dia. Tapi ... sepertinya dia nggak mau kalau aku jodohkan sama ponakanku itu.”
“Apa, apa Mbak mau jodohkan Nadia sama Arfan, anakku? Nggak ... nggak mungkin, lah, Mbak, terus gimana sama Ella?”
“Ella, perempuan matre itu? Aku kok nggak setuju, ya ... sana kalau kamu mau jodohin dia sama Ella aku tetap nggak setuju, aku tetap setuju kalau ponakanku itu sama Nadia.”
“Tapi, Mbak ... Nadia itu perempuan yang dibawa sama Fauzan dia itu sudah nerima apa adanya, mereka berteman baik-baik walaupun Fauzan jadi pengangguran.”
“Masa? Terus gimana sama janjiku dulu? Aku, kan, pernah sumpah, kamu inget nggak waktu pertama kali Arfan pingsan sampai sebulan nggak siuman?”
Imma tampak berpikir, kemudian mengingat awal-awal kejadian di saat anaknya, tergolek lemah di rumah sakit sehingga membutuhkan perawatan yang intensif di ruang ICU, selama beberapa bulan hingga kemudian dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Namun, tetap didukung dengan beberapa peralatan di tubuhnya. Dia mengingat, memang Fatimah mempunyai sebuah tekad, apabila ada seorang wanita yang berhasil membuat anak itu sadar dari komanya, maka, wanita itu akan menjadikan istrinya walaupun dia seorang janda.
“Tapi, Mbak. Gimana sama Fauzan nanti?”
__ADS_1
“Ya, nanti kita ngomong lagi sama Fauzan, anak itu mau tidak mau anak itu harus nurut sama kita, biar dia cari perempuan lain saja, kalau tidak mau ya ... sudah, suruh saja dia bayar semua balas budi kita selama ini sama dia. Memangnya gampang, ngurusin dia sampai dewasa, gimana?”
“Tapi, Mbak ....”
“Nggak usah pakai tapi-tapi, ayo! kita selidiki lagi anak itu, kita rekam lagi, sekarang pakai hp-mu!” kata Fatima sambil berjalan menuju kamar perawatan.
Akhirnya Imma pun melakukan apa yang diminta oleh kakaknya, merekam semua yang dilakukan oleh Nadia. Wanita paruh baya itu benar-benar tercengang dengan apa yang dilakukan Nadia, gadis itu benar-benar baik menurutnya, bahkan berhati mulia. Bagaimana mungkin dia mau merawat pria itu padahal Arfan bukanlah siapa-siapa baginya.
Sementara Nadia di dalam kamar. Dia terus melakukan hal yang dia anggap bermanfaat sebagai mengisi waktu luang. Dia tahu jika dia berbuat baik sedikit saja maka akan mendapatkan pahala, pada siapa pun juga.
Dia mengerjakan apa yang dilakukannya tadi pagi, seperti memijit telapak kaki Arfan, menggunakan salah satu jarinya yang ditekuk itu adalah cara pijat refleksi seperti yang pernah dilihatnya sambil mengaji, lalu, mengatakan beberapa perkataan positif.
Rahima mendengarkan beberapa perkataannya dengan baik. Ucapan Nadia memang terkesan seperti orang yang sedang marah dan memancing emosi. Akan tetapi, semua yang dikatakan Nadia bersifat positif, hanya saja dia menyampaikannya dengan cara seolah-olah menentang Arfan agar segera terbangun dari komanya.
Lama-kelamaan sifat Nadia menjadi absurd sehingga membuat Imah lama-kelamaan terkekeh, dengan sekuat tenaga wanita itu menutupi mulut agar suara tawanya tidak keluar. Bagaimana perempuan itu tidak tertawa, apabila Nadia mengatakan hal-hal yang lucu seperti akan membelikan boneka Barbie sebagai hadiah, apabila Arfan tidak segera bangun. Dia menganggap Arfan seperti putri yang tertidur sehingga pantas kalau dia memberinya boneka Barbie.
Seandainya orang yang berpikiran waras mendengar hal ituz maka, dia akan merasa direndahkan sehingga membuat orang itu marah.
Seketika, Nadia menghentikan aksi marah-marah dan menghampiri Arfan, dia menggamit tangan pria itu sambil berkata, “Alhamdulillaah, Tuan Arfan, Anda sudah sadar?”
Nadia melepaskan genggaman tangannya dan melakukan sujud syukur, lalu, kembali duduk di sisi tempat tidur pasien, seraya tersenyum.
“Tuan Arfan, itu nama Anda, kan? Kenalkan, saya Nadia dan saya minta maaf, kalau ....” Nadia berhenti bicara karena melihat pria itu kembali terpejam.
Sementara dua wanita di luar sana, sebenarnya sudah tidak tahan ingin menghampiri anak lelaki itu, tapi, mereka memilih untuk diam karena mereka sudah menyaksikan semuanya. Apalagi, kehadiran mereka sama sekali tidak akan bisa membuat Arfan berubah lebih baik.
“Mbak! Aku mau anakku saat sadar itu aku yang pertama kali dia lihat!”
“Sabar, anakmu itu belum bisa bicara. Jadi, kamu masuk tapi, aku nanti, mau beli makan siang dulu buat Nadia.” Kata Fatima, kemudian dia pun pergi.
Sementara Imma memanggil dokter agar memberikan pemeriksaan lanjutan, dia melaporkan jika anaknya itu sudah sadar dan membuka mata.
__ADS_1
Dua orang dokter dan seorang perawat perempuan masuk di susul oleh Imma di belakangnya. Melihat rombongan itu, Nadia mundur dan kembali duduk di sofa sambil memegangi perutnya yang perih, dia lapar sekali.
Imma melihat beberapa tes dasar medik yang dilakukan dokter pada anaknya, yang kembali membuka mata dengan perlahan.
Setelah itu, dokter pun mengatakan pada Imma, jika semua organ vital seperti jantung, pernapasan, pendengaran, mata, lidah serta otak pada tubuh Arfan dalam kondisi baik. Hanya persendian dan motorik kasar yang belum bisa digerakkan, mengingat dia tertidur dalam posisi yang sama selama berbulan-bulan.
Setelah rombongan dokter itu pergi, Imma menghubungi suaminya, Fauzan, juga Ella serta beberapa keluarga yang lain atas sadarnya kembali Arfan.
“Kenapa kamu?” tanya Imma masih acuh tak acuh, padahal, dalam hati dia ingin sekali memeluk gadis dihadapannya itu. “Apa kamu lapar?”
“Oh iya, nyonya, boleh tidak saya keluar, mau cari warung makan dulu.”
Nadia sudah melihat isi dompetnya, kira-kira cukup kalau hanya untuk membeli sepiring atau dua piring nasi di kota besar seperti Surabaya ini.
“Kamu di sini saja, jangan ke mana-mana! Nanti kamu kabur, Fauzan sudah bilang, kalau aku harus jaga kamu, katanya kamu hobi kabur? Apa iya?”
“Tidak. Bukan seperti itu Nyonya ... memangnya di mana Pak Fauzan, sekarang?”
“Mana aku tahu, mungkin dia pergi sama pacar-pacarnya!”
Nadia mengangguk-angguk tanda mengerti jika, Fauzan memang seorang pemain wanita seperti yang dikatakan Ella waktu itu.
‘Terus, apa gunanya aku di sini? Aku sudah kecewa sedalam ini dengan lelaki, lukaku bahkan belum sembuh dan sekarang, aku diperalat oleh orang seperti Fauzan? Ya Allah ... Tolong aku, aku mau kabur!’ batin Nadia.
“Selamat, Nyonya ... Putra Anda sudah sadar, itu artinya tidak lama lagi dia akan pulih. Kalau begitu, saya mau cari angin sebentar, tidak jauh, kok, Cuma di depan sini saja ....”
Bersambung
__ADS_1