
Nadia menoleh membatalkan langkah dan melihat Zan yang berjalan ke arahnya.
“Benar, kamu punya makanan?” Tanya laki-laki itu dan Nadia mengangguk.
“Makanlah, siapa tahu kamu suka.” Nadia berkata sambil duduk lesehan di atas karpet di mana semua masakannya dia hamparkan di sana.
Masakan Nadia tidak banyak memang, tapi dia pikir cukup untuk berdua. Dia awalnya berniat ingin menikmati masakannya sendiri dengan istimewa dan berencana bahwa makanan itu akan cukup sampai malam hari tapi, karena Zan memutuskan untuk bergabung maka, tidak masalah bila dia harus berbagi.
“Ini, masakanmu, kok kayaknya aneh? Aku belum pernah makan sayur macam ini, apa namanya? Apa ini enak?” tanya Zan sambil duduk di hadapan Nadia, makanan sederhana ada di antara mereka berdua.
Gadis itu melihat Zan sekilas, lalu menyodorkan piring kosong padanya tanpa berkata untuk menjawab pertanyaan Zan, yang dia pikir terlalu tidak sopan bagi orang yang mau menumpang makan.
Apa pantas mengomentari masakan orang yang memberinya makan padahal orang itu ada di sana? Laki-laki itu memang menyebalkan. Namun, Nadia sedikit memahaminya walau mereka baru saja menjadi tetangga.
Nadia mendahului mengambil nasi dan sayur dan lainnya begitu pula Zan yang melakukan hal yang sama setelahnya. Lalu, pria itu makan dengan lahap, seolah menjilat ludah sendiri. Baru saja tadi mengomentari masakan Nadia dengan ucapan sarkasme merendahkan tapi, kenyataannya dia begitu menikmati.
“Ini, namanya sayur laksa, dari taoge, aku masak sendiri.” Nadia berkata sambil menyodorkan air meneral di hadapan Zan.
“Memang, kamu bisa masak?”
“Lah, ini buktinya apa?”
“Hmm ....” Zan mengangguk tanpa melihat Nadia, hanya menatap makanan di piringnya.
Nasi yang dimasak Nadia pun habis tak bersisa, tanpa malu Zan menambah porsi makannya sampai dua kali, membuat Gadis itu menghela napas panjang. Bukan karena tidak ikhlas atau karena makanannya habis, tapi karena komentar Zan yang tidak baik, meragukan masakannya.
“Giman, enak, kan?” tanya Nadia setelah Zan menghabiskan suapan terakhirnya. Pria itu meringis malu-malu, sambil mengunyah. Sikapnya mirip orang yang belum makan nasi selama dua hari.
Zan mengangguk sambil menenggak air mineral di gelasnya sampai habis lalu, mengusap mulut dengan punggung tangan. Mirip seperti orang jalanan kalau makan hampir tanpa etika. Bahkan mengeluarkan sendawa dari mulut tanpa canggung, padahal ada seorang gadis di depannya.
Semua tidak lepas dari pandangan Nadia yang tercengang karena baru pertama kali ini melihat laki-laki makan dengan gaya tidak sopan di hadapan seorang wanita. Akan tetapi, dia memaklumi, mungkin Zan memang lahir dari keluarga yang tidak beretika dan tidak punya sopan santun.
“Eh, iya. Ini, aku bayar uang listriknya!” kata Zan sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu dari saku kemeja dengan tangan kanannya.
Nadia mengernyit, sebenarnya lebih dari dua puluh ribu karena ada biaya Admin, bahkan laki-laki ini tidak memberikannya uang lebih.
Nadia menerimanya, sambil berkata, “Baik, terima kasih.”
‘Hei! Seharusnya dia juga bilang terima kasih, kan? Dasar gak punya etika!’ batin Nadia.
“Kamu kerja di mana?” Zan bertanya bermaksud memberi perhatian sekedarnya dan juga membuat alasan agar bisa lebih lama di sana. Sementara di pangkuannya ada stoples isi kerupuk yang terus dia makan sambil bicara. Makanan Nadia benar-benar ludes, gadis itu hanya memandangnya sekilas, lalu tersenyum tipis.
‘Biarkan saja, Nadia ... kamu harus maklum, walau dia menganggap tempat ini seperti rumahnya sendiri.
__ADS_1
“Di pabrik sepatu Shantouse.” Nadia menyahut sambil membereskan bekas makanan mereka.
“Hmm ... Jadi apa kamu di sana?”
“Cleaning servis.”
“Apa? Cleaning servis? Masa sih? Kamu lulusan apa?”
“Sebenarnya aku lulusan sarjana pendidikan. Aku ngelamar kerja pake ijazah sarjanaku.”
“Kenapa bisa Cuma jadi cleaning servis?”
Nadia tertawa kecil lalu menjawab, “Ada atasanku yang salah kasih aku job, lucu, kan?”
Tiba-tiba Zan tersedak, dia buru-buru mengambil air minum dalam gelas kemasan yang sengaja dibeli Nadia dalam jumlah banyak. Gadis itu tidak punya galon air karena akan repot membawanya ke tempat kos sehingga dia berinisiatif membeli air dalam gelas kemasan saja agar lebih praktis. Jadi, dia tidak perlu membeli gelas.
“Sudah sembuh sakit perutnya?” tanya Nadia setelah Zan berhenti terbatuk.
“Sudah. Alhamdulillah.”
“Dasar! Kamu memang lapar, ya, kan?” saat Nadia berkata, dia sudah selesai membereskan semua peralatan bekas makan mereka.
“Hmm ...” sahut Zan sambil mengangguk, lalu dia kembali berkata, “Dari mana kamu tahu kalau atasanmu salah mengambil keputusan?”
“Oh,” kata Zan, ada rasa penyesalan pada nada bicaranya.
“Tapi aku senang kok, punya pekerjaan itu. Aku bersyukur.”
“Apa yang buat kamu bersyukur punya kerjaan rendah seperti itu?”
Nadia hanya tersenyum menanggapi ucapan Zan. Dia tidak mungkin mengatakan penyebab sebenarnya bisa begitu bersyukur. Ya, karena pekerjaan inilah dia bisa mendapatkan kepercayaan dari sang direktur utama.
Memang sebagai konsekuensinya, dia harus menjaga rahasia dan itu cukup berat tapi, tidak masalah bagi Nadia. Bahkan seorang cleaning servis sebelumnya yang dipercaya Hadian, bisa menjaga rahasia itu dengan baik, sampai akhir hayatnya. Itu luar biasa, tidak sembarang orang bisa dipercaya, direkturnya dan Nadia adalah salah satunya.
Bagaimana tidak menjadi rahasia besar dalam ruangan itu, sebab dia melihat benda pribadi sang bos adalah dua bingkai foto dengan dua wanita yang berbeda, dalam foto itu, Hadian sama-sama sedang menggendong seorang bayi laki-laki. Nadia tidak berani menebak siapa kedua wanita muda berparas manis yang bersama bosnya. Dia tidak ingin terlibat masalah sebab masalahnya sendiri sudah sangat rumit, ditipu dan dikhianati kekasih hati. Miris sekali hingga dia tidak ingin menambah resiko dengan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga rahasia.
Memang pekerjaannya terkenal rendahan tapi, setiap kali membersihkan ruang dia dapatkan bonus sebesar lima ratus ribu rupiah dan itu harus dia lakukan selama dua kali dalam satu pekan. Bayangkan, berapa bonus yang akan Nadia dapatkan dalam sebulan. Dia bisa meraih hampir sepuluh juta sekaligus dengan gaji pokok bulanannya. Itu jumlah yang cukup besar bagi Nadia.
Mungkin gaji sebesar itu belum tentu bisa dia dapatkan bila jadi asisten manajer keuangan. Nadia bukan wanita materialistis yang mementingkan uang, tapi, dia pergi dengan niat akan bersenang-senang demi melupakan masa lalu, melupakan Antoni juga Yogi dan semua hal yang memalukan, bukankah semua itu butuh modal? Sungguh, wanita ingin cantik itu butuh modal, begitu juga untuk bersenang-senang dan, membahagiakan ibunya termasuk salah satu kesenangannya.
Saat itu, tiba-tiba ponsel Zan berbunyi, nada dering telepon khas dari iPhone mahal yang sudah dihalal banyak orang. Pria itu agak terkejut mendapati ponselnya yang berbunyi di waktu yang tidak tepat. Dia terlihat kesal.
Zan berdiri setelah menyimpan stoples kerupuk yang sudah kosong. Lalu, merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya dan keluar rumah Nadia tanpa permisi. Dia menempelkan benda pipih itu di telinga setelah berada cukup jauh dari bilik Nadia.
__ADS_1
Zan mendengar pembicaraan orang dari balik telepon genggam tanpa banyak berkata, tampak serius. Setelah beberapa saat selesai, dia menuliskan sebuah pesan pada seseorang.
“Selidiki gadis yang jadi tetangga baruku sekarang juga. Akan aku kirimkan fotonya nanti.”
Setelah itu, Zan Kembali ke arah pintu kamar rumah Nadia yang masih terbuka, terlihat gadis itu tengah sibuk dengan ponselnya juga.
“Nadia, namamu Nadia, kan?” tanya Zan dan Nadia pun mengangguk sambil mendongak menatap ke arahnya, saat itulah Zan sempat mengambil Fotonya dan mengirimkannya pada seseorang.
“Kamu cantik ....” kata Zan sedikit bergumam, bahkan nyaris tak terdengar.
“Apa, kamu ngomong apa barusan?”
“Nggak ada. Cuma terima kasih.”
Setelah itu, Zan pun pergi meninggalkan area kost dengan berjalan kaki. Sementara Nadia sibuk dengan ponselnya sambil merebahkan diri di karpet barunya.
*****
Nadia tergesa-gesa mencuci tangan setelah selesai melakukan tugas biasanya, dia tidak mengganti pakaian seperti teman seprofesinya karena dia harus melakukan tugas tambahannya malam ini di ruang kerja direktur utama.
Melihat suasana kantor sudah sepi, dia segera mengirim pesan pada Hadian bahwa dia akan membersihkan ruang sesuai jadwal yang sudah mereka sepakati, yaitu setiap hari Selasa san Jumat malam.
Selesai mengirim tombol kirim pada ponselnya Nadia memasukkan beberapa alat kebersihan dan juga berbagai macam cairan pembersih dalam box peralatan dengan roda-roda kecil di bawahnya lalu, dengan hati-hati dia mendorongnya, menggunakan lift hingga sampai di lantai tiga.
Sampai di sana, suasana sepi di koridor dan ruangan lain, lebih sepi dari biasanya membuat bulu kuduk Nadia tiba-tiba meremang. Dia sabar menunggu balasan sambil pura-pura mengepel area sekitar.
Cukup lama dia menunggu namun tidak ada jawaban. Hingga dia berpikir akan mengurungkan tugasnya. Namun, baru saja dia akan berbalik kembali membenahi peralatannya, Nadia dikejutkan oleh sebuah kaki panjang yang mencoba menghalangi jalannya di koridor.
Nadia yang sedari tadi konsentrasi mengepel lantai sambil melamun, tidak menyadari langkah kaki seorang pria yang mendekat. Dia mendongak melihat si pemilik yang mengangkat sebelah kakinya bertumpu pada dinding.
“Kamu? Kenapa kamu belum pulang?” tanya Fauzan, sambil menurunkan kakinya dan kembali berdiri tegak . Dia masih mengenakan kaca mata hitam dan maskernya padahal ini sudah malam.
“Maaf. Saya lembur malam ini, Pak.” Jawab Nadia setelah berhasil melepaskan rasa terkejutnya.
“Lembur, di ruangan ini? Hmm ... Sangat mencurigakan.”
“Maaf, saya permisi.” Kata Nadia sambil berlalu melewati Fauzan. Dia kembali melihat layar ponsel dan menarik napas panjang setelah tahu bila tidak ada jawaban.
“Tunggu!” kata Fauzan dengan suara tegas, membuat telinga Nadia berdenging, seolah pernah mendengar suara yang sama tapi sedikit samar karena saat ini mulut orang itu ditutupi masker.
Nadia berbalik, lalu bertanya, “Ada apa y, Pak?”
“Jangan bilang kalau kamu orang yang dipercaya Ayahku menggantikan cleaning servis yang dulu!”
__ADS_1
Bersambung