AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 19 Sebuah surat


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh hari Nadia dirawat di rumah sakit itu hingga akhirnya dia diperbolehkan pulang. Kini hanya tinggal luka di pundak dan tulang rusuknya yang memang retak cukup parah dan membuat tangannya harus terus diberi penyangga, untuk mencegah pergerakan dan pergeseran tulang. Keadaan dan posisi tangan, tidak boleh melakukan gerakan agar sel tulang tetap utuh, dan bisa cepat pulih.


Sebenarnya pelarangan dokter juga karena permintaan Fauzan, laki-laki itu yang menginginkan agar kondisi Nadia benar-benar bisa ditolerir hingga kemudian baru diizinkan pulang. Itu pun bukan pulang ke tempat kostnya yang semula, melainkan di tempat kost yang baru yang disewa oleh Fauzan agar  lebih mudah melakukan pengobatan secara berjalan.


Jadi, begitulah selama beberapa hari ini Nadia tinggal di rumah sewa yang sudah sangat nyaman untuk ditinggali mereka bertiga. Percuma saja Salimah dan Maulana menolak kebaikan Fauzan dan ingin kembali ke kampung halaman. Kedua orang tua itu bersikeras untuk melakukan pengobatan di sana dan melarang Nadia kembali bekerja.


Akan tetapi, penolakan Fauzan lebih keras lagi untuk mempertahankan Nadia. Dia mengancam tidak akan menerima pemberian imbalan dari kedua orang tua itu apabila mereka pulang ke kampung saat itu juga, tanpa memikirkan pemulihan luka Nadia..


Suatu saat ketika Nadia sedang berjalan-jalan di sekitar tempat kontrakan dan, berjemur sambil menikmati udara pagi di halaman rumah sewa, secara tidak sengaja dia melihat seorang lelaki yang berpenampilan aneh.


Dia laki-laki yang sama yang pernah Nadia temui saat berada di kosannya dulu. Pria paruh baya itu, kini memakai baju olahraga, dis tampak keluar dari sebuah mobil sedan hitam sambil membawa beberapa barang dan, tatapan mereka sempat beradu. Ya, mereka saling melihat dengan alis yang berkerut.


Setelah itu dia tampak terkejut lalu, mengurungkan kegiatannya karena melihat Nadia di halaman, dia kembali memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil pergi begitu saja membuat gadis itu heran.


Biasanya, pagi-pagi seperti ini memang ada seseorang yang mengantarkan beberapa bahan makanan dalam jumlah banyak dan bisa disimpan di dalam lemari es. Ada juga beberapa perlengkapan sehari-hari yang bisa digunakan oleh Nadia dan kedua orang tuanya. Selama ada di sana, mereka benar-benar tidak pernah kekurangan, semua kebutuhan mereka terpenuhi. Ada seseorang yang setiap pagi secara rutin menyimpan beberapa bahan makanan itu di depan pintu rumah sewa mereka.


Saat melihat kejadian itu, membuat Nadia pun berpikir, mungkin orang itu enggan ketahuan ataupun memang diperintahkan demikian oleh Fauzan. Sebenarnya tidak masalah apabila orang itu menunjukkan diri karena Nadia justru ingin sekali berterima kasih. Dia tidak akan marah ataupun kecewa dia hanya ingin memastikan saja bahwa Fauzan adalah orang yang selama ini dikenalnya.


“Ibu, Ayah, apa selama ada di sini pernah melihat orang yang nganterin makanan juga sayuran di depan pintu?” tanya Nadia ketika dia sudah masuk ke dalam rumah dan duduk dengan perlahan di sofa yang empuk dan terlihat masih baru.


Kedua orang tuanya itu menggeleng perlahan, memang selama ini mereka selalu didatangi seorang laki-laki paruh baya yang memberikan perlengkapan dan bahan makanan yang cukup bahkan lebih. Mereka tidak pernah menanyakan siapa laki-laki itu yang mereka tahu, bahwa kemungkinan laki-laki itu adalah asisten pribadi dari Fauzan.

__ADS_1


“Tadi, Nadia lihat orang yang bawa kantong belanjaan banyak tapi, kenapa dia balik lagi, pas lihat Nadia?”


“Ya mana Ibu tahu,” jawab Salimah sambil menghentikan bahunya.


“Mungkin orang itu takut sama kamu Nad.” kata Maulana laki-laki itu justru bercanda dia berkata sambil tertawa.


“CK! Bapak! Nadia serius.”


“Ya, Bapak juga serius mungkin memang laki-laki itu takut sama kamu.”


“Wah masa sih ... tapi, kan, Nadia  nggak nakutin orang, apa Nadia kayak hantu gitu?”


“Ya, kalau kamu penasaran kenapa kamu nggak tanya sama Fauzan.”


Hari itu berlalu hingga malam pun tiba dan, kiriman bahan makanan yang biasanya mereka terima pagi itu tidak datang. Akan tetapi karena sudah banyak bahan makanan yang mereka simpan di dalam kulkas, membuat Salima berinisiatif untuk mengolah saja bahan yang ada. Mereka sudah sangat bersyukur dengan keadaan yang sekarang.


Hidup tergantung dengan orang lain memang tidak menyenangkan sehingga Maulana, orang yang biasa menjadi pekerja keras pun menjadi tidak enak. Dia seolah menjadi seorang pengangguran saja.


Mereka baru saja selesai makan malam, saat Maulana bicara dengan penuh penekanan, “Kalau kita seperti ini terus ... jadi ngerepotin orang ya, Bu. Repot sekali orang itu kalau harus nganterin makanan tiap hai dan nggak pengen ketahuan sama Nadia.”


Apa yang dikatakan Maulana terpikir juga oleh Salimah dan Nadia kemungkinan orang itu memang sengaja sembunyi-sembunyi memberikan makanan selama ini karena tidak ingin ketahuan oleh Nadia. Terbukti selama Nadia berada di rumah sewa, orang suruhan itu hanya menyimpan makanan di depan pintu. Bahkan setelah melihat Nadia pagi ini, bahan makanan pun tidak dia antarkan sehingga mereka merasa sangat merepotkan.

__ADS_1


“Ya sudah Pak kalau gitu kita sekarang beres-beres, kita pulang!” sahut Salima.


“Ya, Bu. Nadia istirahat di rumah saja.”


“Ya sudah, jadi kita pulang besok, sebelum orang itu datang ngasih makanan, gimana, Pak?”


“Tapi, Bu, gimana kita bisa ngasih imbalan kalau kita nggak nurut sama Nak Fauzan?”


“Ya, biarin saja, kan, kita sudah mau memberi imbalan tapi dia menolak, kita nggak salah, Pak!”


“Iya, ya, Bu! Kita juga nggak minta disewakan rumah, semua atas kemauan dia sendiri.”


“Ya, Pak, Bu. Nadia juga sejak awal nggak minta dikasih perawatan dan kamar inap yang bagus kayak gitu, Nadia nggak enak merasa berhutang Budi sama Pak Fauzan!”


Apa yang ada dalam pikiran Nadia pun sama seperti kedua orang tuanya, mereka tidak pernah meminta semuanya ini dari Fauzan. Bahkan dia menolaknya jauh-jauh hari sehingga apabila sekarang mereka pergi begitu saja tidak akan jadi masalah.


Apalagi Fauzan sudah tahu di mana mereka tinggal, kalaupun pria itu hendak menyusul pun tidak masalah, sekalian saja kedua orang tuanya bisa memberikan surat tanah yang akan dihibahkan kepadanya sebagai imbalan. Itu pun apabila memang benar-benar laki-laki itu ingin menyusul Nadia ke kampung halamannya.


Setelah selesai berbincang-bincang, dan membereskan sisa makan malam, Salima dan Maulana berkemas. Mereka membersihkan keadaan rumah hingga benar-benar rapi. Dan jangan sampai meninggalkan hal yang kotor. Mereka memasukkan semua sisa makanan yang masih bisa diolah ke dalam lemari es hingga rumah itu benar-benar terlihat bersih.


Mereka ingin menjadi orang yang bertanggung jawab, bahkan Maulana menuliskan sebuah surat sebagai ucapan terima kasih. Pria berumur itu tidak mengetahui nomor ponsel Fauzan, hingga hanya menulis surat saja yang dia bisa. Mereka tidak berniat untuk menipu ataupun mencurangi orang yang sudah berbuat baik. Dalam surat itu Maulana menulis apabila Fauzan Ingin menyusul mereka maka, dia bisa melakukannya kapan saja.

__ADS_1


 


 


__ADS_2