AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 36


__ADS_3

fauzan memalingkan pandangannya malas menanggapi permintaan Ella yang tidak sesuai dengan harapan. Dia sudah bicara panjang lebar sejak tadi pada gadis itu, tentang arti menyayangi, arti menghargai orang lain dan diri sendiri. Bahkan orang yang sedang membutuhkan perhatian seperti Arfan pun, tetap butuh sebuah penghargaan, terutama dari orang yang dia cintai.


Tidak sepantasnya orang yang sedang ditimpa kemalangan atau mendapatkan ujian, berarti boleh di tinggalkan begitu saja. Sebab di situlah letak dari rasa cinta yang sebenarnya, di saat seseorang mencintai dengan tulus, maka, dia akan mampu tegar meskipun orang yang dicintainya tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebahagiaan mereka.


Akan tetapi semua yang sudah dia katakan pada Ela, sepertinya sia-sia gadis itu tetap saja mengajaknya untuk menjalin hubungan padahal dia adalah kekasih dari kakaknya.


“Ella, kenapa kamu belum mengerti juga? Aku nggak bisa menghianati kakakku dan aku nggak mau menjadi kekasihmu,” kata Fauzan dengan tegas dan jelas berharap Gadis itu bisa memaklumi dan tidak lagi berharap padanya ataupun menggodanya dengan bersikap manja.


“Memangnya kenapa? Apa aku kurang cantik, tidak seksi? Lihat, semua sudah aku miliki .. jadi, apa kurangnya aku dibandingkan Nadia gadis kampung itu?” dia ng


“Hah! Kalau aku jadi kencan sama kamu, terus apa gunanya Aku selama ini mengasingkan diri hidup di jauh dari kemewahan, bahkan menutup wajahku biar tidak sama dengan Arfan?”


“Aku nggak percaya kalau Nadia itu sesuai dengan targetmu, gak cantik menurutku.”


“Siapa yang mencari jodoh  dengan standar kecantikan? Aku nggak, kok!”


Setelah Fauzan selesai bicara, Ella mencebik dan tertawa padahal di sana sama sekali tidak ada yang lucu.


“Pembohong, kamu nggak akan mau sama perempuan yang jelek!”


“Nah, artinya kamu ngakui kalau Nadia itu cantik, makanya aku mau sama dia, iya, kan?” kata Fauzan, dis tersenyum mengingat bagaimana dahulu perjuangan bertemu dengan Nadia.


Fauzan selalu telaten setiap kali datang ke tempat kos, dengan membuka masker dan memakai pakaian biasa di dalam mobil. Kemudian saat berangkat bekerja ke kantor cabang ayahnya, maka, dia harus mengganti pakaian sederhananya dengan pakaian yang biasa dia pakai saat bekerja, lalu, menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam.


Bayangkan saja dia harus melakukan aktivitas seperti ini setiap hari, bukankah itu perjuangan namanya? Selama ini tidak ada yang menanggapi perbuatannya menutup wajah, dan juga cap pengangguran di tempat kost secara positif.


Semua wanita muda yang dikenalnya di tempat itu memandangnya sebelah mata, tidak ada yang bersikap baik padanya hingga akhirnya dia menemukan wanita seperti Nadia.


Awalnya sempat pria itu meragukan kebaikan Nadia yang akan berubah jika tahu siapa dia sebenarnya. Akan tetapi, baik sikap maupun ucapan gadis itu tetap saja tidak berubah, dia masih acuh tak acuh, tegas dan tidak memanfaatkan kekayaannya, bahkan dia menolak.


Fauzan tahu masa lalu Nadia, oleh karena itu, dia berusaha untuk mengambil hatinya dan berharap bisa menghilangkan trauma terhadap sebuah hubungan cinta antara pria dan wanita dewasa.


Akan tetapi, sikap Ella yang datang tiba-tiba merusak keadaan lalu bersikap sama seperti ibunya yang menyangsikan Nadia.


Fauzan tidak berniat berbohong di depan semua orang jika Nadia belum mengenal dirinya, tapi dia hanya ingin meyakinkan Imma sekaligus mencandainya.


Dia tidak menyangka jika reaksi ibunya berlebihan, bahkan sebelum dia sempat mengatakan sejujurnya, Ella kemudian datang mengacaukannya.


Intinya, semua yang terjadi hari ini, di luar kendalinya.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu ....” Kata Ella sambil beringsut hendak membuka pintu mobil dan mengambil tasnya. “Karena kamu sudah datang ... Jadi, aku pergi. Aku datang hanya untuk menjaga Arfan agar dia tidak sendirian, kan?”


Ella beranjak sambil menghela napas panjang dan dia turun dari mobil tanpa menoleh pada Fauzan lagi.


Sepeninggal Ella, Fauzan pun keluar dari mobil dan membeli minuman bersoda dingin, menenggaknya sampai habis dalam beberapa kali tegukan, seolah ingin menghilangkan panas di hatinya yang tiba-tiba muncul. Dia tidak lagi memakai masker, dia akan kembali tampil apa adanya dan jujur di mulai dari dirinya sendiri.


Setelah itu dia kembali berjalan dengan santai, meninggalkan mobilnya,memasuki lobby rumah sakit, menaiki lift dan kembali berjalan menyusuri koridor sampai ke bangsal kakaknya di rawat.


Alangkah terkejutnya Fauzan saat tiba di depan kamar perawatan itu, dilihatnya beberapa dokter tampak berdiri di sekitar tempat tidur, sementara Nadia duduk di salah satu sofa dengan memeluk lengannya sendiri. Dia tampak ketakutan, wajahnya pun pucat pasi.


Dia segera masuk mendekati para dokter dan perawat. Tiba-tiba dia  menyesal tadi meninggalkan Nadia seorang diri karena ingin menenangkan Ella. Seharusnya dia tetap ada di sana guna menjalankan amanah kedua orang tuanya.


“Ada apa ini? Apa yang terjadi pada Kakakku!” tiba-tiba Fauzan berteriak panik, tatapannya bergantian antara melihat penanganan yang dilakukan oleh dokter dan Nadia yang duduk di sofa.


Nadia seperti terkejut dan menatap Fauzan sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tadi sempat tertidur sebentar, tapi kemudian seorang perawat membangunkannya.


Perawat itu bilang sekarang sudah waktunya pasien di periksa, biasanya pemantauan perkembangan, memang di lakukan  Setiap tujuh jam sekali dan saat inilah waktunya.


Saat Nadia berdiri, dia tanpa sadar sedang menggenggam tangan Arfan dan dia melepaskannya begitu saja, bersamaan dengan suara alat radiografi mengeluarkan bunyi yang berbeda, membuat perawat tadi berlari keluar begitu saja dan kembali lagi bersama dua orang dokter.


“Sejak kapan hal ini terjadi?” tanya dokter itu dan, perawat tadi menceritakan kejadiannya. Dokter itu menoleh pada Nadia, dan kembali menanyakan hal yang sama.


“Anda sebagai orang yang nunggu, seharusnya sudah tahu hal ini, kan?” dokter itu kembali berkata seolah menyalahkan Nadia.


“Maaf ....” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Nadia walaupun ia tidak bersalah sama sekali karena ia memang tidak tahu apa-apa.


Dokter itu kemudian menyuntikkan sesuatu pada cairan infus yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar perkembangannya lebih baik. Dari waktu ke waktu dosis dan juga jenis obat tentu akan diberikan secara berbeda pada cairan Saline kristaloid itu, dan pemberian vititamin c yang disuntikkan di dalamnya karena saat ini pasien sangat membutuhkannya.


Saat itulah Fauzan datang dan melihat seperti keadaan lebih kacau, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.


“Oh, Pak Fauzan. Ini perkembangan yang bagus, mudah-mudahan akan seperti ini selanjutnya.” Salah satu dokter itu bicara saat membalikkan tubuhnya dan melihat Fauzan ada di sana, lalu, menceritakan apa yang terjadi.


Setelah mendengar semua penuturan dokter dan rombongan mereka pergi, Fauzan menoleh pada Nadia, lalu, menghampirinya.


Dia duduk di dekat Nadia, meraih salah satu tangan dan menciumnya. Gadis itu secara reflek menariknya kembali.


“Terima kasih,” kata Fauzan.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Sudah menggantikan tugasku.”


“Itu bukan apa-apa, Cuma sebentar.”


“Ya, tapi tetap saja aku harus berterima kasih kepadamu.”


Nafia diam, dia justru merasa bersalah, karena mengabaikan suara aneh itu, yang ternyata menunjukkan kabar baik. Sekarang, suara dari alat itu tetap stabil dan tidak naik turun seperti sebelumnya.


 Tiba-tiba dia menatap Fauzan lekat-lekat, pria itu sudah tidak lagi memakai maskernya lagi.


“Ke mana masker Anda, Pak? Kenapa tidak berbohong terus sampai tua?”


Fauzan tersenyum mendengar pertanyaan Nadia dia tahu apa maksudnya tapi laki-laki itu tetap saja menjawab, “Apa maksudmu berbohong? Aku nggak bohong, tahu?”


“Kalau nggak bohong apa maksudnya tadi bilang ke Ibu Anda juga ke wanita itu, kalau saya nggak kenal bahkan Anda bilang aku belum pernah melihat wajah Anda? Apa itu namanya kalau bukan bohong?”


“Sebenarnya aku Cuma mau bercanda sama Mama, eh, jadi keterusan gara-gara ada di Ella.”


“Kenapa aku harus selalu bertemu pria seperti Anda Pak Fauzan?”


“Memangnya, aku orang seperti apa?”


“Menghianati cinta seorang wanita!”


“Aku tak mengkhianati siapa pun aku nggak punya pacar, nggak punya istri!”


“Ella mencintai Anda, kan? Saya nggak mau dituduh sebagai pelakor, Pak! Jadi, Beri saya uang, saya akan pulang. Saya nggak bawa uang, Pak!”


 


Bersambung


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2