AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 71 Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan


Sejenak suasana hening.


“Ayo, kalau gitu, kita makan dulu!” kata Hadian memecahkan kecanggungan, seraya beranjak dari duduknya. Dia melangkah mendekati meja makan terlebih dahulu, lalu dari sana dia mempersilahkan tamunya untuk duduk di mana saja yang mereka inginkan.


Fauzan segera menarik kursi makan yang akan di duduki oleh Maulana dan Salima. Setelah itu, mereka kembali duduk dengan pasangannya masing-masing. Secara berhadap-hadapan.


Mereka sama-sama saling mempersilahkan untuk terlebih dahulu mencicipi makanan, yang ada di meja makan besar. Itu adalah meja yang cukup untuk di gunakan enam belas orang. Di atasnya sudah tersedia berbagai hidangan khas kota dan, menu asing yang sengaja di masak oleh koki atas perintah Imma sebagai Nyonya besarnya.


“Coba, Bu Salima, masakan hasil kreasi saya. Suatu saat, saya akan makan hidangan khas kampung di sana, jadi, saya harap Bapak dan Ibu bisa menikmatinya, kalau memang kurang enak, bilang saja, Bu, biar nanti saya perbaiki lain hari.” Imma berkata penuh semangat karena dia sangat yakin jika masakannya sangat enak.


“Wah, ini luar biasa, Bu Imma. Sepertinya semuanya enak.”


“Silakan di coba, Bu!”


“Terima kasih!”


Salima tersenyum sambil mengambil beberapa makanan lalu, mencicipinya satu persatu, walaupun memang sedikit berbeda karena itu makanan hasil kreasi, tapi, dia mengakui  masakan Imma semuanya enak.


Pada akhirnya tidak banyak obrolan yang terjadi di meja makan, selain pujian beberapa makanan oleh dua wanita paruh baya, yang sama-sama pandai memasak itu.


“Apa masih bisa saya lanjutkan obrolan yang tadi?” tanya Maulana setelah dia selesai makan dan, mengusap bibirnya dengan tisu, begitu pula Hadian dan yang lainnya.


“Silakan, Pak!” kata Hadian setelah menghabiskan air mineral dalam gelasnya.


“Jadi, awalnya saya sempat tidak setuju kalau anak saya itu, bekerja dengan Nak Fauzan dalam satu ruang setiap hari. Soalnya, mereka ini sama-sama saling menyukai.” Maulana bicara dengan gaya khas orang tua yang bijaksana dan hati-hati.


“Bapak ....!” Nadia berusaha menyela, tapi, Salima yang duduk di sebelahnya menepuk tangan anaknya, memberi isyarat agar diam dan tidak menyela ucapan orang tua.


“Saya ini sudah tua, tidak tahu lagi sampai kapan saya diberi kesempatan untuk hidup.”


Pria itu diam lagi sambil menarik napas tanpa ada yang berani menyela.


“Sekarang, Nak Fauzan sudah melamar Nadia, dan anak perempuan saya itu sudah menerima lamarannya. Dia memang tidak mau menikah dalam waktu dekat, tapi .... sekali lagi saya ini sudah tua dan, tidak tahu lagi kapan bisa kumpul seperti ini.”

__ADS_1


Maulana mengatakan hal itu bukan tanpa alasan sebab dia memerlukan usaha lebih agar tetap sehat dan bisa datang ke Jakarta pagi itu. Dia harus pergi ke doker dulu untuk mengobati sakit asam uratnya yang kebetulan kambuh. Semua dia lakukan karena dia sangat menyayangi Nadia.


“Semoga Bapak dan Ibu tetap sehat dan panjang umur....!” kata Fauzan dan Arfan hampir bersamaan.


“Aamiin.” Sahut Nadia dan Salima serta Imma.


“Jadi, kalau bisa, saya mau menikahkan anak saya sekarang juga!” kata Maulana pada akhirnya.


“Bapak!” kata Nadia, sambil berdiri, tapi, Salima dan Fauzan yang duduk di sampingnya memintanya duduk kembali.


“Kenapa? Apa kamu tidak suka kalau bapakmu ini memikirkan kebaikanmu? Kamu sama Fauzan sudah saling suka, kamu juga sudah terima lamarannya, kenapa nggak mau nikah sekarang?”


“Ya, kalau nikah sekarang itu kecepatan, Pak. Kan, belum ada persiapan?”


“Jadi, maksud Bapak itu yang penting kalian nikah sah, secara agama, kamu tidak perlu persiapan apa-apa, yang penting ada saksi, ada mas kawinnya!”


“Tapi ....”


“Nah, kalau soal pesta atau mau dibuat akta nikahnya ke kantor KUA, itu bisa nyusul nanti saja, gimana, Pak Hadian?” tanya Maulana terlihat serius.


“Wah, wah ... aku kalah lagi, dong, Zan!” kata Arfan, dengan gaya kesal yang di buat-buat.


“Nah, ini maksud saya, bagaimana dengan Kak Arfan, soalnya kan dia lebih tua dari Fauzan, harus ada pelangkahnya kalau menurut kebiasaan!” kata Nadia, akhirnya, perasaan yang mengganjal dari tadi pun dia lontarkan juga.


Tiba-tiba saja Arfan dan Fauzan tertawa lebar, mereka sudah pernah sepakat sejak dulu, Bahkan, janji mereka pernah terucap sebelum kecelakaan di kolam renang bahwa, siapa pun di antara mereka, yang mendapat jodoh lebih dahulu, harus saling merelakan.


“Sudah, Nad, kalau soal yang begitu, kamu nggak usah risau karena kami sudah sepakat untuk saling merelakan!” kata Arfan sambil mengangguk-angguk.


“Nah, jadi, tidak ada Maslah, kan?” kata Maulana lagi. “Nadia, kamu Cuma perlu menyiapkan hati untuk bisa sepenuhnya berbakti pada suami, dan lebih mementingkan keluarga dari pada pekerjaan, itu saja!” kata Maulana lagi, sambil berdiri dan mengusap kepala Nadia lembut penuh kasih sayang.


Hadian berdiri dan meminta Jali untuk mendekat, setelah pria itu datang, Tuan Besar segera memberikan perintah untuk memanggil Pak RT dan Pak Amil yang kebetulan menjadi tetangga serta rumahnya tidak begitu jauh dari kediaman keluarga Hadian.


“Baik, Tuan!” kata Jali semangat, sebab itu berarti, keinginannya terkabul. Fauzan dan Nadia akan nikah malam ini, dengan keadaan dan suasana yang seadanya saja, bahkan tanpa riasan dan mahkota.


Seorang wanita yang berstatus menjadi ratu atau putri raja karena pakaian dan mahkota, tetapi, wanita tidak membutuhkan semua itu jika untuk menjadi ratu dan putri di hati seorang pria.

__ADS_1


Semua tamu dan tuan rumah kini pindah ke ruang keluarga, yang jauh lebih luas dan kursinya lebih banyak walau, tidak semua sama hingga semua orang, termasuk tamu yang baru saja diundang ke kediaman keluarga Hadian itu, bisa duduk untuk menyaksikan acara sakral pernikahan antara Fauzan dan Nadia yang tidak di sangka-sangka.


Jali dengan cekatan, menyiapkan meja dan juga berkas berupa data secara singkat, mengenai siapa yang menikah, saksi juga nama mas kawin, dan tanggal acara dilangsungkan sebagai bukti jika nanti, dirinya harus mengurus soal akta nikah ini demi majikannya.


Fauzan mengambil sebuah kotak kecil berisi sebuah kalung emas istimewa, yang sudah dia pesan jauh-jauh hari sebelum pernikahan mereka, sebab dia memang sudah berniat melamar Nadia sejak lama.


Pria itu mengucapkan janji pernikahan dengan lancar, diiringi nama Allah dan juga doa para orang tua dan juga tokoh masyarakat, yang hadir di sana sebagai saksi pernikahan mereka.


Dua orang itu yang nantinya akan mengabarkan kepada warga sekitar jika sudah terjadi pernikahan di rumah keluarga Hadian yang jadi tetangga mereka. Sungguh sebuah kehormatan bagi mereka yang diundang untuk datang dalam acara yang termasuk langka.


Sementara Nadia yang duduk di samping Fauzan, yang kini sudah sah menjadi suaminya itu menangis terharu. Begitu tiba-tibanya Tuhan mengirimkan jodoh yang benar-benar menyayangi sepenuh jiwa, demikianlah harapannya.


 Hatinya bergetar hebat saat mendengar namanya di sebut dalam ikrar suci oleh sang suami. Pernikahan ini bukan hanya dalam mimpi tapi, sudah ada saksi jika mereka sah menjadi suami istri.


‘’Semoga kalian langgeng dan bahagia sampai ajal menjemput sesuai batas usia, dengan cinta kalian yang akan selalu sama!” demikian banyak doa mengalun untuk kedua mempelai itu.


“Kenapa kamu menangis, Nadia, Sayang?” tanya Fauzan lembut di telinga Nadia yang masih saja sibuk mengusap air mata di pipinya. Pria itu mengangkat dagu Nadia yang tertunduk dengan tangan kiri dan, membantunya mengusap air mata dengan tangan kanan.


Nafia diam, dia hanya menatap Fauzan dari jarak sedekat itu, membuat debaran jantungnya tidak teratur. Lalu, cup! Sebuah kecupan lembut, mendarat di keningnya di sambut deheman para orang tua.


Fauzan mengabaikan suara riuh itu dengan malu-malu. Dan, memberikan kotak kecil kepada pemilik sahnya.


“Ini, buat kamu, pakai ya. Pasti kamu lebih cantik kalau pakai ini di lehermu!” kata Fauzan lagi. Nadia mengangguk dan menerima kotak perhiasan itu lalu, menyimpannya dalam tas.


Setelah itu acara meminta Restu, yang dilakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua mereka secara bergantian. Kedua mempelai meminta Restu bukan dari orang tua saja, melainkan pada semua orang yang hadir di sana termasuk kepada seluruh pelayan rumah tangga keluarga Hadian.


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2