
Aku Menyukaimu
Nadia diam tidak menanggapi karena baginya ucapan Fauzan hanyalah basa-basi.
“Nadia ... Aku suka sama kamu.” kata Fauzan lagi dengan lembut, dia tersenyum lucu pada Nadia yang tengah meliriknya sambil cemberut.
“Terus?” tanya Nadia dengan ekspresi wajah datar seperti biasanya.
“Terus ya, aku ingin kamu terima perasaan aku, dan kita bisa menjalin hubungan yang lebih serius.”
Nadia terdiam, baginya, rasa suka antara lelaki dan wanita itu bisa berubah, hal itu seperti jalan berkelok dan naik turun. Kadang suka tapi, bisa berubah jadi benci. Ada perasaan cinta tapi, di lain waktu berubah menyakiti.
Ada yang bilang juga cinta jangan terlalu, benci juga jangan terlalu. Kalau begitu, apa sih maksud sebenarnya dari seseorang menyatakan cinta? Benarkah setiap manusia membutuhkan pengakuan itu untuk membina sebuah hubungan lebih dari sekedar teman?
Akan tetapi banyak juga pasangan suami istri yang tetap langgeng hubungannya walaupun, sebelumnya mereka tidak pernah saling cinta karena mereka di jodohkan, atau menikah karena terpaksa. Jadi, apakah benar sebuah pengakuan itu perlu untuk membina sebuah hubungan yang dinamakan pernikahan?
Nadia memalingkan muka saat mendecak pelan, seraya mengusap hidung dengan punggung tangan.
“Nanti, aku pikir lagi.”
“Bagus, aku nggak butuh jawabanmu sekarang.” Fauzan berkata sambil terus mengemudi, pandangannya lurus jauh ke depan.
__ADS_1
Nadia kembali menoleh, lalu, dia berkata, “Pak, kita ini belum lama kenal. Saya nggak mau nanti Bapak menyesal. Lagian, saya belum siap membina hubungan lagi sama laki-laki.”
“Nanti saja kita ngobrol, sekarang udah sampai.”
Nadia melihat ke sekeliling di luar jendela, saat Fauzan menghentikan mobilnya. Sementara mobil yang ada di depan mereka juga berhenti dan saat ini mereka sudah berada di sebuah pelataran parkir sebuah rumah besar yang di gunakan sebagai tempat pesta pernikahan sepupu Naina.
Nadia keluar dari mobil setelah seorang pengawal membukakan pintu untuknya, sedang Fauzan pun sama, dia keluar setelah pengawal membukakan pintunya.
Suara hingar musik dangdut yang memekakkan telinga dan keramaian seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Benar saja, kemunculan dua orang yang itu sangat menyita perhatian. Semua mata tertuju pada mereka, bahkan pesona pengantin pun kalah gaya. Bagaimana tidak, setelan jas yang dikenakan Fauzan lebih berkelas dari
Bukan karena Nadia yang hanya memakai baju sederhana, tapi karena pria menawan yang ada di samping sedang menggandeng tangannya. Gadis itu tidak bisa menolak apalagi dia memang membutuhkan dukungan, dia gemetar dan berkeringat dan genggaman tangan Fauzan memberinya kekuatan.
“Nadia! Kamu akhirnya datang juga?” tanya Naina yang berjalan dengan cepat ke arah mereka. Disusul beberapa teman lain yang juga menghambur di sekitar Nadia. Akan tetapi, para pengawal menghalau mereka yang ingin menyalaminya.
“Wah, rupanya Pak Fauzan ini menepati janjinya ya!” kata Naina lagi sambil mencuri pandang pada Fauzan.
“Alhamdulillah,” seru Nadia, kembali melirik Fauzan di sampingnya.
Setelah itu Fauzan mengerti isyarat ini dan meminta pengawal untuk memberikan sedikit kelonggaran hingga beberapa teman Nadia itu bisa bercipika-cipiki dengan akrab. Sedangkan Nadia hanya tersenyum dan menyambut hangat keakraban mereka.
Fauzan kembali bersikap tenang seperti saat dia menghadapi beberapa anak buah di kantor, semua orang yang ada di sana seolah bawahan dan pegawai yang harus menghormatinya. Tatapan matanya hanya fokus pada Nadia. Hal ini sangat berbeda saat dia hanya berdua dengannya, Fauzan akan bersikap apa adanya dan tidak kaku atau menakutkan.
Setelah selesai berbasa-basi, empat pengawal menghalau teman-teman Nadia dan mempersilahkan kedua majikan mereka melanjutkan langkah untuk menyalami pengantin.
__ADS_1
Dua orang itu disambut hangat oleh pengantin dan keluarganya. Mereka masih mengingat dengan baik siapa Nadia yang pernah menjadi guru dan dikenal banyak orang. Apalagi setelah Nadia memberikan hadiah pernikahan pada mempelai, mereka sangat berterima kasih padanya dan mendoakan agar Nadia segera menyusul.
Ketika beberapa orang menanyakan tentang pria yang memegang tangannya, tentu saja Nadia memperkenalkan sebagai calon suaminya seperti yang diinginkan Fauzan. Tingkah Nadia itu, membuat pria di sampingnya begitu senang dan, terlihat jelas dari raut wajah Fauzan yang ceria.
Setelah selesai menyalami pengantin, Nadia dan rombongan kecil menuju tempat di mana berbagai macam hidangan dalam beberapa gubuk yang di hias demikian cantik. Fauzan membimbing Nadia menuju satu buah kursi kosong yang ada, sementara empat pengawal masih berada di sekitar mereka.
“Duduk di sini, aku yang akan mengambil makanan!” pinta Fauzan setelah Nadia duduk.
Gadis itu mengangguk, dia terpaksa menyetujui perintah Fauzan mengingat dia tidak mungkin mengambil makanan sendiri, karena selama ini ibunya yang selalu melayaninya makan seperti anak kecil. Setelah hidangan tersaji di meja, barulah dia bisa makan sendiri.
Apa yang dilakukan oleh Fauzan, menjadi perhatian lain bagi orang yang ada di sekitarnya, sebab pelayanan dari seorang pria yang terlihat berpenampilan seperti Fauzan adalah hal yang luar biasa romantis.
Tiba-tiba Naina datang mendekat dan ingin duduk di samping Nadia tapi, dengan cepat seorang pengawal yang ada di dekat Nadia menahan dengan tangannya. Pengawal itu melihat sebuah bahaya karena gerakan Naina terbilang sembrono, dia berjalan dengan cepat padahal di tempat cukup ramai.
Namun, tidak di sangka, minuman jus jambu yang dipegang Naina tumpah di atas paha Nadia, membuat wanita itu secara refleks berdiri dan membersihkan pakaiannya yang basah.
“Maaf, Nadia! Aku nggak sengaja, soalnya kaget sih sama om ini!” kata Naina dengan sedikit mengeraskan suaranya. Nadia bertanya dalam hati, apakah benar Naina sengaja atau tidak, padahal temannya itu tahu sebelumnya jika ada pengawal yang menemaninya.
“Kamu?”
Bersambung
__ADS_1