AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 56 Bimbang


__ADS_3

Bimbang


Nadia memahami maksud baik Arfan, tapi, dia tidak tahu harus berbuat apa, sebab rahasia dan keberadaan serat alamat rumah atau makam wanita itu ada di tangan Hadian. Sebenarnya pria itu sengaja tidak memberitahuku pada siapa pun tentang keberadaan atau makam wanita yang telah melahirkan Fauzan, adalah karena dia ingin mengubur semua kenangan tentang wanita itu bersama jasadnya di dalam tanah.


“Kau cukup tahu, siapa wanita yang telah melahirkanmu, tapi yang lebih penting adalah wanita yang sudah membesarkanmu, sampai kamu dewasa,” kata Hadian setiap kali memberi peringatan pada anak-anak bila mereka mulai penasaran dengan siapa ibu kandung Fauzan yang meninggal setelah melahirkan anaknya.


“Kau tidak perlu mencari Ibumu, karena Nyawanya, ada padamu, sebab dia meninggal agar kau tetap hidup.” Itu juga kata-kata Hadian jika Fauzan menangis mencari ibunya sebab Imma sering mengingatkan bahwa dirinya bukanlah anak kandungnya.


Ya, mungkin karena peringatan yang begitu sering dikatakan Imma pada Fauzan inilah yang menyebabkan pria itu begitu hormat pada ibu sambungnya.  Laki-laki itu sangat berterima kasih pada wanita yang sudah melimpahkan kasih sayang dengan tulusnya seolah Fauzan adalah darah dagingnya.


Fauzan tidak pernah membantah pada Imma sedikit pun, dia menurutnya walaupun harus tinggal di tempat kos dan terpisah sekian waktu, menjalankan perusahaan cabang baru yang menyita energi serta pikirannya tanpa banyak bantuan.


Sementara Arfan, hanya menikmati hasilnya. Bahkan, sejak dia terbaring koma, Fauzanlah yang begitu sibuk mengurus kantor cabang yang terus mengalami masalah, pria itu datang ke kantor pusat saat dirinya membutuhkan keputusan langsung dari Hadian atau menyerahkan beberapa dokumen yang berkaitan secara langsung.


Jadi, itulah yang menyebabkannya jarang terlihat, seolah menjadi pengangguran. Dia juga menjaga Arfan disela-sela kesibukan bahkan menani kakaknya itu sambil bekerja menyelesaikan beberapa rumusan rencana dan rancangan proyek dengan saksama.


“Jadi, apa keputusanmu, Nadia?” tanya Ella pada Nadia yang termenung sambil mendengar semua cerita tentang Fauzan dari kakaknya itu.


Tiba-tiba Nadia merasa perlu untuk membantunya, membantu Fauzan yang selama ini bekerja keras demi keluarganya. Akhirnya gadis itu berpikir untuk menerima tawaran Hadian. Pria tua itu menawarkan untuk bekerja di kantor cabang, bersama dengan Fauzan sebagai atasan yang akan membimbing langsung dirinya. Itu tawaran yang menarik, bukan? Jadi, kenapa tidak dilakukan saja.


“Baiklah ... aku akan kembali dan nggak jadi pulang kampung, tapi, bukan mau jadi istrinya Fauzan!” Kata Nadia setelah sekian lama terdiam.


“Terus?” tanya Ella penasaran.


“Sepertinya, aku mau menerima tawaran dari Ayah kalian saja.” Nadia menjawab Ella.

__ADS_1


“Oh, begitu?” kata Ella.


“Memangnya Papa menawarimu pekerjaan apa?” tanya Arfan.


“Kerja di kantor cabang yang selama ini dikelola sama Fauzan, ya ... mungkin aku bisa jadi sekretaris atau asisten pribadinya, gitu!”


“Ah, benarkah kenapa Ayahmu nggak menawariku lebih dulu, bukannya aku yang lebih lama kenal dan sering tinggal bersama dengan kalian dan, Ayah juga tahu kualifikasi—ku!” kata Ella.


“Sudah tidak usah cemburu dengan Nadia, mungkin Papa punya pertimbangan yang berbeda. Apalagi, Nafia berhak mendapatkannya karena rahasia yang dia simpan, dan Papa menghargainya,” kata Arfan.


“Tapi, kan aku juga calon menantunya,” sahut Ella sambil cemberut.


*****


Setelah selesai menghabiskan makanan mereka, ketiga orang itu kembali ke rumah di mana keluarga Hadian berkumpul. Hari sudah mendekati gelap dan lampu-lampu pengganti matahari pun mulai dinyalakan.


 Saat itu Imma sedang berduaan dengan Hadian di ruang tengah sambil menonton televisi. Sementara Fauzan sedang sibuk sendiri di kamarnya, bergelut dengan laptopnya. Beberapa asisten dan penjaga rumah tampak bercanda di sekitar pintu gerbang. Mereka hanya diam dan saling berpandangan saat mobil yang dikendarai Jali masuk secara perlahan langsung ke depan teras rumah. Lalu, keheranan semakin menjadi saat beberapa orang turun dari kendaraan itu secara bersamaan pula.


Nadia, Ella, Arfan dan Jali, melangkah masuk ke dalam, satu persatu, membuat para Asisten rumah tangga dan juga tuan rumah itu merasa heran.


Arfan langsung duduk di sebelah Ibunya dan menyandarkan kepala, dia pasrah dengan laporan juga cerita yang akan dikatakan oleh Ella, Nadia dan juga Jali. Dalam hatinya ingin agar ketiga orang itu lebih baik merahasiakan semuanya dari orang tuanya, karena dia tidak ingin mengecewakan Imma.


“Loh, Nadia! Kenapa kamu balik lagi?” tanya Imma, Hadian pun merasakan keheranan.


“Terus, kenapa kalian bisa pulang bareng begini, sih?” tanya Imma lagi, sambil menatap ketiga orang itu secara bergantian.

__ADS_1


Nadia memilih duduk setelah dipersilakan oleh Imma dan juga Ella. Dia duduk di sebelah Ella.


“Ceritanya panjang, Tante!”


“Ceritanya panjang gimana, kenapa kamu juga ikut ke sini, sih?” tanya Imma lagi, dialah wanita yang paling cerewet di antara wanita lainnya yang ada di sana.


“Sudah, Ma, biarakan saja mereka cerita!” kata Hadian, sambil melirik tajam pada Nadia.


“Ya, kan, aku nggak sabar, Pa!” kata Imma sambil menepis tangan Hadian yang melingkar di pundaknya.


Mendengar sesuatu yang ramai dan tidak biasanya, Fauzan keluar juga dari kamarnya. Semula dia tidak peduli karena dia merasa jika keributan terjadi karena ibu dan ayahnya yang tengah bercanda. Namun, saat dia berada di ruang tengah, dia pun terkejut.


Sementara Nadia tampak memalingkan muka, dia risi saat melihat Fauzan hanya memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek sebatas lutut, yang sama-sama berwarna putih. Pria itu tampak terlihat santai tapi, kesannya lebih gagah karena memperlihatkan otot tangannya yang kekar.


“Nadia? Jadi, kamu nggak jadi pulang? Alhamdulillah!” kata Fauzan penuh semangat ada nada ceria dalam ucapannya.


Saat melihat Nadia ada di antara orang yang ada di sana, Fauzan seperti ingin berteriak girang, atau jika Nadia mengizinkan, maka, dia akan memeluknya dan menyatakan cinta sekali lagi. Kerinduan itu ingin loncat dari hatinya tanpa permisi.


“Sudah, kamu duduk saja! Mereka bertiga punya cerita, katanya!” kata Imma memberi perintah.


“Oh, oke!” sahut Fauzan sambil menghentakkan bokongnya ke salah satu kursi yang ada di sana.


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2