
Undangan Pernikahan
Semua yang ada di hadapan Fauzan, memperhatikan dengan seksama, sedang pria itu melirik mereka dari balik kaca mata hitamnya. Sejenak kemudian dia mengurungkan niat untuk meminum teh yang disediakan oleh Salima, karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Fauzan meraih ponsel yang ada di saku celananya dan melihat layar ponsel. Sejenak kemudian dia matikan lagi dan menyimpan benda pipih itu di atas meja.
Saat itulah, Nadia meraih satu makanan yang terdekat dengannya lalu, menikmati dengan penuh minat seolah-olah itu adalah makanan yang paling enak di dunia.
Sementara raut wajah Fauzan memperlihatkan rasa antara enggan dan ingin secara bersamaan.
“Bu, kenapa nggak bikin odading sering-sering sih? Hmm ... enak banget deh.”
Salima heran dengan ucapan anaknya, sebab Wanita itu merasa dirinya sering memasak makanan itu. Namun, dia sekilas melihat kedipan mata Nadia yang mengisyaratkan sesuatu, membuatnya faham.
“Ayo! Nak, silakan di minum, tehnya.”
Tiba-tiba mendadak suasana seperti drama, di mana Maulana pun ikut serta dalam usaha mencoba segala cara agar tamu mereka membuka penutup wajahnya.
Fauzan tersenyum dari balik maskernya, dia merasa jika keluarga itu tengah menguji kekuatan pendiriannya. Apakah dia akan bertahan atau tergoda begitu saja.
Ada firasatnya menebak jika Nadia sudah mencurigainya sebagai seseorang yang dikenalnya, tapi, dia tidak akan seperti ini selamanya. Dia berniat membuka penutup wajah bila Nadia mau menerima apa adanya. Walaupun dengan wajah yang tertutup sekali pun.
“Ayo! Nak, Fauzan. Jangan malu-malu. Ini teh hasil kebun kami sendiri, loh, sudah di campur dengan ginseng karena sekaligus menjaga kesehatan Nadia.” Maulana berkata seraya menyeruput teh hangat dari gelasnya.
“Ya, memang, sih, gak seperti teh ginseng buatan negara Korea, tapi khasiatnya kurang lebih sama!” Salima menimpali, seolah dia sangat tahu soal teh negeri ginseng itu.
Tiba-tiba obrolan dan sandiwara itu tertunda karena ada sebuah motor yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
“Assalamu’alaikum!” kata sebuah suara yang membuat semua orang yang ada di sana menoleh.
“Naina?” Nadia berkata dengan gugup, dia tidak menyangka jika teman lamanya itu akan datang berkunjung saat itu. Hal serupa juga terjadi pada Naina yang begitu terkejut melihat Nadia.
Dia pernah mendengar informasi dari seseorang yang sangat dia percaya bahwa, Nadia pergi ke kota besar dan mungkin akan menetap dalam waktu lama. Saat itu dia berpikir buruk jika temannya itu pergi karena tidak tahan dengan rasa malunya. Akan tetapi dia melihat saat ini Nadia ada di rumah dengan pundak dan gibs di tangannya.
__ADS_1
“Lho, kamu pulang Nad?” tanya Naina setelah dipersilakan masuk. Sebentar dia melirik Fauzan yang posisinya tidak jauh dari dirinya. Kini mereka duduk secara melingkar di sofa ruang tamu.
Nadia hanya mengangguk masam, dia tidak mungkin mengatakan jika sebenarnya sudah lama ada di rumah dan tidak lagi bekerja. Bahkan tertimpa kemalangan.
“Ada urusan apa, Nai? Tumben nggak biasanya?” tanya Salima.
“Nih, mau nganterin undangan, sepupuku mau, nikah. Kebetulan kamu datang.” Naina berkata sambil meletakkan sebuah kartu undangan pernikahan berwarna emas di atas meja.
“Tadinya undangan ini untuk Ibu, tapi, karena kamu ada di sini, ya aku undang sekalian.”
“Sepupumu, kan, banyak? Jadi, yang mana yang mau nikah?” tanya Nadia sambil meraih kartu undangan dengan tangan yang tidak sakit.
“Rido. Kamu kenal, kan?”
“Oh, dia? Tapi, maaf aku kayaknya nggak bisa, Ibu aja deh yang datang.” Nadia menyahut tanpa melihat ke arah Naina dan terus membaca kartu di tangannya.
“Eh, kamu aja, Nad! Biar cepat dapet jodoh baru, cari yang lebih baik dari Antoni, biar kamu nggak ditinggalin lagi.”
Ucapan Naina tadi, sempat membuat Nadia melotot, tapi dia kembali menguasai emosi dan meletakkan kartu undangan di meja kembali seraya berkata, dengan suara rendah tapi penuh penekanan, “Apa maksudmu? Kamu sengaja, mengejekku...?”
“Bukan begitu, maaf ... aku nggak bermaksud mengungkap masa lalumu,” kata Naina, terdengar menyebalkan sebab, sengaja atau tidak sengaja, nyatanya dia sudah mengungkapkan semuanya, bahkan di hadapan tamu lainnya di rumah itu.
Nadia sangat terpukul dan sangat malu saat itu di hadapan Fauzan, yang sama sekali tidak berhubungan dengan masa lalunya. Sebab baginya orang asing seperti Fauzan, yang baru saja datang dalam hidupnya tidak harus tahu tentang kejadian yang memalukan itu.
Nadia tidak tahu kalau Fauzan tahu.
“Ya. Biar ibu saja yang datang ke sana. Salam buat Ibumu ya Nai.” Salima berkata dengan maksud menengahi antara anak dan tamunya.
“Nggak papa, Bu. Nadia yang datang ke sana.”
“Tapi, Nad. Gimana kalau nanti pundakmu kesenggol orang, kan, di sana rame!” Maulana ikut bicara, dia menghawatirkan anaknya.
“Kan, ada saya, Pak. Jadi, Bapak sama Ibu nggak usah kuatir.” Fauzan menimpali sambil melambaikan tangan ke arah kedua orang tua Nadia.
Seketika, Naina yang dari tadi hanya mencuri pandang pada pria di dekatnya, kali ini dia menatap penuh selidik.
__ADS_1
“Eh, siapa dia, Nad?”
Saat itu, Nadia, Maulana dan Salima diam, dia tidak tahu harus mengenal kan Fauzan sebagai apa. Saudara, bukan, teman, bukan, pacar juga bukan, pimpinan juga bukan karena Nadia menyatakan jika dia mengundurkan diri dari pekerjaan.
Tanpa diduga, Fauzan merubah posisi duduknya yang semula bersandar sambil menyilangkan kedua kaki, kini menegakkan punggungnya dan berkata sambil mengulurkan tangan, “Kenalkan, saya atasan Nadia.”
Naina gugup menyambut uluran tangan Fauzan sambil menyebut namanya seraya tersenyum. Dia pikir, mana ada pimpinan yang mau repot-repot datang ke rumah anak buahnya sendiri. Pantas saja dia tadi melihat ada mobil mewah di halaman rumah Nadia. Rupanya milik pria itu dan membuat dirinya sedikit keki.
“Beneran, Anda atasan Nadia? Jangan bilang Anda suka sama Nadia?” Naina berkata dengan nada terkesan meremehkan.
Hal ini, dirasakan oleh Fauzan juga, membuat pria itu menarik napas panjang sambil memalingkan pandangan. Dibalik kaca mata hitamnya dia menatap Nadia penuh makna dan kasih sayang.
“Saya memang atasan Nadia, pimpinan perusahaan PT. Tirta Pessindo Jaya. Silakan kamu mau percaya atau tidak. Saya ... memang suka sama Nadia, tapi dia sepertinya nggak suka sama saya.”
Naina mendengar pengakuan itu dengan raut wajah yang takjub, tapi, sesaat kemudian dia tertawa keras.
Perempuan itu berkata setelah berhenti tertawa, “Wajar saja dia tidak suka, mungkin Anda aneh, sih. Masa di dalam rumah pake kaca mata hitam. Itu juga, ngapain pake masker? Apa di sini banyak virus, Pak?”
Semua paham bagaimana sikap Naina yang memang sering bicara blak-blakan. Jadi, keluarga itu mengambil keputusan untuk tidak menjawab ucapannya lagi, agar dia tidak semakin menjadi-jadi.
Melihat semua diam, Naina lbali bicara. “Nad, kamu juga aneh ... memang dia nggak cakep, ya, sampai kamu tolak? Dia atasan kamu loh, Nad?”
Semua masih diam.
“Eh, iya. Ngomong-ngomong, tangan kamu kenapa, Nad?” tanya Naina lagi.
Bersambung
__ADS_1