
“Bukan! Saya hanya kebetulan saja bertugas di sini, Pak!” Jelas Nadia sedikit gugup. Kebiasaannya yang selalu jujur membuatnya sangat tidak bisa dipercaya saat mengatakan, bukan!
Akan tetapi kata, kebetulan sedang bertugas, adalah sebuah kejujuran. Dia seorang wanita yang biasa dilatih untuk bersikap jujur sehingga jika dia berbohong akan sangat terlihat.
“Apa kamu mencoba berbohong padaku?” Fauzan mendekat, menundukkan kepalanya mendekati wajah Nadia membuat gadis itu terkejut dan segera memundurkan lehernya, setelah itu di segera berpaling dan pergi menjauh dari sana, meninggalkan Fauzan seorang diri. Pria itu kesal dengan tingkah Nadia yang menurutnya sangat tidak sopan karena baru kali ini, ada bawahan yang memperlakukannya demikian.
“Hai! tunggu berhenti di situ!” kata Fauzan membuat Nadia menghentikan langkah.
Wanita itu berbalik sambil mengurutkan alisnya dan berkata, “apalagi ya, Pak? Kalau tidak ada yang harus dikerjakan saya akan pulang sekarang, permisi!”
“Siapa bilang tidak ada? Ayo! Bersihkan ruang Pak Hadian sekarang juga!”
Nadia pun mengikuti langkah Fauzan masuk ke ruangan ayahnya, dia menyangka bahwa pria muda itu tidak tahu kode rahasia pintu ruangan rahasia yang harus dia kerjakan karena menurutnya, hanya Direktur utama saja yang tahu tentang ruangan itu.
Ternyata dugaan Nadia salah, Fauzan tahu semuanya dan dia juga mempersilahkan Nadia untuk membersihkan ruangan itu dalam pengawasannya sampai selesai.
Tanpa banyak bertanya airnya Nadia mengeejakan tugasnya dengan baik dan dia menyelesaikannya dengan sempurna dia begitu hati-hati sehingga membuat Fauzan yang memperhatikannya tersenyum puas.
Nadia sudah mendorong box tempat peralatannya di koridor, ketika Fauzan menguji pintu kantor ayahnya. Gadis itu tidak tahu jika Hadian tidak datang sendiri untuk mengawasi dirinya bekerja, dikarenakan ada rapat penting dan tidak bisa dia tinggalkan. Akan tetapi bos perusahaan itu mengutus anaknya, ini sungguh di luar dugaannya.
Tanpa Nadia sadari tahu-tahu, Fauzan sudah berjalan di sisinya. Gadis itu hanya menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya seolah-olah pria itu tidak ada di sana.
“Kau tahu satu pigura yang berwarna kuning itu fotoku, ibuku dan ayah,” kata Fauzan menceritakan perihal foto di ruang rahasia.
Nadia tidak ambil peduli, dengan apa yang dikatakan Fauzan padanya, bukannya dia tidak empati tapi, karena dia memang tidak ingin tahu, dia malas terlibat dalam urusan orang-orang seperti bosnya atau Fauzan ini. Mereka adalah orang-orang kaya yang biasanya mempunyai masalah lebih pelik dari rakyat jelata seperti dirinya. Ya kebanyakan masalah masyarakat bawah biasanya hanya seputar perut atau biaya pendidikan anak-anak saja.
“Hmm ....” gumam Nadia tanpa ekspresi.
“Kalau foto yang satu lagi, itu istri Ayah dan anaknya yang sekarang masih sakit, dia koma di rumah sakit sudah hampir setahun, karena kecelakaan. Istri Ayahku bilang semua itu salahku!”
__ADS_1
Mendengar penuturan Fauzan kali ini, Nadia menoleh pada wajah yang terlihat kusut itu sekilas. Dia mengurutkan alis mulai penasaran. Ternyata benar masalah yang mereka hadapi lebih rumit dari dirinya yang saat ini hanya ingin terbebas dari ingatan rasa malunya saat dikhianati Antoni.
‘’Oh ... jadi Ayahmu itu pelaku poligami, ya? Dasar laki-laki sama saja. Ingin mendapatkan yang lain tapi, enggan melepaskan yang lainnya. Kalian serakah! Lalu, kenapa kamu yang di salahkan, kemana ibumu waktu itu, apa dia tidak membelamu? Ibu mana yang tega membiarkan anaknya di salahkan oleh salah satu istri suaminya. Eh, kenapa aku jadi penasaran begini, sih?’ batin Nadia sambil memasuki lift dan memncet tombol lantai dasar. Fauzan masih mengikutinya.
“Apa kamu dengar aku?”
“Ya. Saya dengar, Pak!”
“”Kamu tahu kenapa aku berani ceritain ini semua ke kamu?”
“Yah, yah, mana saya tahu, Pak?”
“Ya, kan, kamu sudah dipercaya sama Ayahku, berarti ... aku juga bisa percaya cerita ini sama kamu, janji ya, jaga rahasia! Sama aja kayak kamu janji untuk jaga rahasia ruangan itu ke Ayah.”
“Kenapa Bapak nggak bilang tadi sebelum cerita, kalau saya harus jaga rahasia? Kalau tahu gitu mah ... saya nggak mau dengerin cerita Bapak.”
“Kamu ini berani ya, ngomong begitu sama atasan?”
Sebelumnya, saat Nadia mengirimkan pesan kepada Hadian tadi, laki-laki itu langsung menelpon anaknya dan meminta Fauza untuk segera pergi ke kantor untuk mengawasi cleaning service yang sudah dipercaya untuk membersihkan ruangan kantornya.
“Terima kasih,” ucap Nadia lirih.
“Sama-sama. Sana cepat pulang dan hati-hati di jalan!”
Nadia tidak menghiraukannya, dia menganggap Fauzan hanya berpura-pura baik saja sekarang, karena merasa rahasianya aman bersamanya. Dia memandang punggung lelaki yang menjauh, dengan perasaan kesal, bahkan pria itu tidak menawarinya tumpangan untuk pulang.
Walaupun Nadia merasa dirinya masih muda dan cukup cantik, tapi apalah arti dirinya yang hanya seorang pegawai rendahan. Barangkali Fauzan sudah memiliki pacar atau istri. Jadi, apa sih yang dia harapkan?
Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Nadia, pria itu memang baik pada orang yang menjadi kepercayaan Hadian. Contohnya, cleaning servis perempuan berumur pilihan ayahnya selama lebih dari satu dekade, wanita tua itu bisa memegang teguh janjinya sampai ajal. Fauzan sudah banyak menceritakan kisah hidup padanya dan tidak ada satu pun yang terbongkar.
__ADS_1
Nadia berjalan menuju trotoar hendak menunggu taxi online yang sudah dipesannya barusan melalui sebuah aplikasi. Di saat yang bersamaan, dia mendengar seseorang yang tak jauh darinya, bicara dengan telepon genggam. Dia menoleh bukan karena kurang kerjaan atau ikut campur urusan orang. Akan tetapi karena dia secara tidak sengaja mendengar pria itu, yang ternyata Fauzan, menyebut nama seseorang.
“Hai, Antoni! Kapan kamu mau ke sini?” katanya sangat jelas terdengar di telinga Nadia.
Beberapa saat kemudian hening.
“Aku baru saja pulang tiga bulan ini, ayo! Datanglah, kita kumpul-kumpul lagi!” kata Fauzan lagi membuat Nadia curiga.
Lalu, terdengar suara laki-laki itu terkekeh keras seperti menertawakan sesuatu yang lucu.
“Makanya, kenapa kamu nggak jujur sama dia dari awal. Baru tahu rasa!” ujar Fauzan lagi setelah usai tertawa.
“Hmm ... Jadi, sekarang kamu mau coba setia? Bagus!”
Apakah nama Antoni yang disebutkan Fauzan itu adalah Antoni yang sama yang dikenalnya? Tidak mungkin .... Nama Antoni bukan Cuma milik laki-laki breng*sek itu.
*****
Di belahan kota yang berbeda. Tampak Antoni tengah makan malam dengan keluarga kecilnya, tanpa di dampingi Novi seperti biasanya. Sejak kejadian gagalnya pernikahan itu, sang istri seperti menjauh seolah menghukumnya.
Pria itu sudah mencoba bersikap ramah pada Novi, tapi perempuan itu masih saja acuh tak acuh padanya. Dia sudah dua kali meminta cerai darinya, tapi jujur saja Antoni tidak bisa melepaskannya. Bukan hanya karena anaknya yang sudah dekat dengan wanita itu tapi, karena dia begitu sadar amanah sang ibu. Niat wanita itu menjodohkannya karena sudah memikirkan bahwa Novi adalah gadis yang baik dan bisa menerima Antoni apa adanya.
Sesal memang tidak ada gunanya, waktu tak bisa kembali, sedangkan cinta pada Nadia pun kandas sia-sia. Hatinya karam. Karma pedih seolah tengah mengurungnya dalam diam. Dia terlalu bodoh, naif dan serakah.
Antoni berniat pergi ke Surabaya beberapa hari lagi, dia belum membicarakannya dengan Novi. Lalu, malam ini mungkin waktu yang tepat
__ADS_1
Bersambung