AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 71 Kamar Yang Sama


__ADS_3

Kamar Yang Sama


Setelah acara selesai dan tamu undangan dari tokoh masyarakat sudah diantar pulang, kini giliran kedua orang tua Nadia berpamitan kepada tuan rumah untuk kembali ke apartemen pribadi Fauzan yang disediakan untuk mereka menginap.


Setan itu mereka sekaligus menyampaikan bahwa, keesokan harinya mereka akan segera kembali ke kampung halaman. Tentu saja kedua orang tua Fauzan keberatan karena belum bisa memberi jamuan lain, yang lebih istimewa, juga belum menyiapkan oleh-oleh apa pun untuk bisa dibawa pulang.


“Tidak masalah, Pak, Bu, kami diterima di sini dan setuju, dengan pendapat kami untuk segera menikahkan anak-anak kita ... Itu pun sudah membuat saya bahagia dan bersyukur!” kata Maulana terdengar bijak.


“Nah, jadi, tidak usah diberi oleh-oleh juga nggak masalah karena bawaan dari hadiah yang ada di dalam mobil pun, sudah cukup banyak bagi kami ... jadi sekali lagi terima kasih,” kata Maulana lagi.


“Oh, kalau begitu, saya juga sangat berterima kasih atas kemudahan ini, saya juga bersyukur ada perempuan yang mau dinikahkan tanpa banyak meminta persyaratan seperti pesta dan baju pengantin!” kata Imma sambil berurai air mata dan memeluk Salima erat.


Mereka akhirnya berpisah setelah saling memeluk dan memberikan doa-doa terbaik.


Fauzan ikut mengantar keluarga itu ke apartemen karena Imma yang menyuruhnya, untuk ikut serta. Dengan alasan mereka sudah sah menjadi suami istri hingga sudah bisa tidur bersama malam ini. Baik Fauzan maupun Nadia sebenarnya hendak menolak, tapi, Maulana dan juga Salima ikut mendukung, hingga mau tidak mau, dia ikut juga dalam mobil sederhana yang di sewa Maulana dari desa.


Sementara Ella dan Arfan yang kini berada dalam satu mobil, dalam perjalanan pulang mengantar wanita itu ke rumah orang tuanya.


“Fan! Benarkan, kamu mau cepat lamar aku kalau Mama papa sudah pulang?” kata Ella.


“Ya. Pasti, Sayang ... kapan mereka pulang?” kata Arfan sambil terus mengemudi.


“Katanya pekan depan, tapi, aku nggak tahu pastinya!”


“Ya, sudah, pikirin aja kamu mau apa nanti buat mas kawinnya?” Sambil menoleh sekilas.


“Apa aja deh, kayak Nadia itu, aku nggak minta apa-apa, terserah kamu aja!”


“Ah yang bener?”


“Iya, benar, Arfan, Sayang!”


“Baguslah, aku udah siapin sesuatu, aku pikir kamu pasti suka!”


“Hmm ... Baiklah! Oh, iya, Fan! Kamu benar-benar belum pernah melakukan hal itu sama laki-laki lain, kan?” tanya Ella tiba-tiba, membuat Arfan seketika menghentikan mobilnya. Dia menoleh pada Ella dengan tatapan yang rumit. LaLu, setelah mendengar suara klakson mobil lain di belakangnya, dia menepikan kendaraan roda empat itu secara perlahan.


Setelah mobil berhenti di sisi jalan, dia melepas sabuk pengamannya dan melakukan hal yang sama pada sabuk pengaman Ella, lalu, memeluk tubuh kekasihnya dengan erat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Arfan meneruskan dengan ciuman panjang tanpa memberi kesempatan pada Ella untuk kembali bicara.


Gadis itu menyambut ciuman kuat dari kekasihnya, mereka saling membelit saling menghisap, dengan semangat sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Arfan. Dan, mereka baru berhenti saat suara klakson mobil lain, terdengar begitu kuat di sisi mobil mereka, seolah menyadarkan jika mereka sedang ada di jalanan kota.


“Jangan kuatir, aku tidak pernah melakukannya!” kata Arfan, sambil memasang sabuk pengamannya, dan kembali mengemudi. Mengantarkan Ella pulang kembali.


Sementara itu di dalam apartemen pribadi milik Fauzan, kedua orang tua Nadia langsung berpamitan pada anak dan menantunya, untuk pergi beristirahat karena sudah lelah. Mereka terlalu lama duduk dan berbincang dengan banyak orang dan melakukan banyak kegiatan dalam waktu beberapa jam sampai menjelang malam.


Nadia memberi keleluasaan kepada kedua orang tuanya, yang memang masih membutuhkan banyak istirahat karena keesokan harinya, mereka akan kembali melakukan aktivitas perjalanan yang juga melelahkan.

__ADS_1


Nadia sempat memindahkan beberapa barang pribadinya sebelum Salima dan Maulana tidur.


“Buat apa, itu?” tanya Fauzan yang melihat Nadia membawa perlengkapan perawatan malamnya. Nadia tidak menjawab karena malas sekali menjelaskan hal kecil seperti ini.


Gadis itu sebenarnya merasa kaku dan canggung setengah mati, tapi, dia berusaha tetap tenang dan cuek seperti dirinya biasa bersikap pada Fauzan. Dia dengan cuek masuk kamar mandi dan menunaikan keperluan, dan, ketika keluar, sudah memakai baju piyama yang biasa dia pakai sehari-hari, tanpa melepaskan kerudung.


Nadia menggantung bajunya yang tadi dipakai, mengolesi wajahnya dengan krim, lalu, mengeluarkan selimut dan mengusap bantal serta kasur dengan selimut, seolah ada sesuatu di atasnya.


Sementara Fauzan, masih duduk di sisi ranjang, dia sibuk dengan ponselnya dan sebentar-sebentar melirik Nadia yang melakukan kegiatannya seolah dirinya tidak ada.


Sejenak suasana hening.


“Hai, Nadia ....!” kata Fauzan pelan seperti berbisik, sambil menyimpan ponselnya.


“Hmm....!” sahut Nadia bergumam dan dia sudah merebahkan diri memunggungi Fauzan.


“Kamu sudah tidur?”


“Sudah!”


“Tidur, kok bisa jawab?”


“Zan! Aku ngantuk! Sekarang tidur!”


Nadia berbalik dan dia melihat Fauzan yang sudah tidak memakai kemeja, membuatnya menarik napas lalu memejamkan mata, “ Zan ... memangnya kenapa, kalao pengantin baru, pokonya, aku mau tidur.”


“Ya, ya, aku juga mau tidur, siapa yang mau kerja malam-malam begini? Aneh!”


Mereka menikah seperti dalam keadaan terpaksa, hingga Fauzan sangat bisa memaklumi jika Nadia mempunyai sikap sekaku ini pada dirinya. Namun, dia pria normal yang bila tidur dengan seorang wanita dalam satu kamar, maka, akan terjadi gelombang dahsyat dihatinya lalu, menjalar ke bagian bawah perutnya yang kelaparan, meminta untuk segera dituntaskan.


Pria itu gelisah, namun dia sabar, sangat sabar, menahan hingga sekuat hati. Sampai akhirnya mereka pun tertidur dalam diam, hingga lewat tengah malam, menjelang waktu subuh, Nadia terbangun dan membuka mata, dia sedikit terkejut saat menyadari tubuhnya tengah dalam pelukan seseorang.


‘Astagfirullah, ini suamiku ... Ah, tampannya dia, sebenarnya kasihan semalam aku mengabaikannya!’ batin Nadia.


Dengan perlahan Nadia turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan Fauzan, lalu pergi melepaskan keperluan. Dan, saat kembali, dia menyempatkan diri untuk membelai pipi Fauzan dengan lembut, ini pertama kalinya dia menyentuh wajah yang sebenarnya sangat memesona dirinya sejak melihatnya untuk pertama kali tanpa masker, di rumah sakit waktu itu, sementara saat dia menjadi anak kos bernama Zan, tasnya dia tidak begitu tampan.


“Ah!” tiba-tiba Nadia menjerit tertahan, karena Fauzan menarik tangannya dan dia terjerembap di atas dada Fauzan.


“Zan ... kau bangun, apa mimpi?” kata Nadia tanpa berinisiatif untuk bangunan dari atas tubuh pria itu, dia justru seperti menikmati, kenyamanan dalam pelukan hangat seorang laki-laki.


“Aku bangun, Nadia!” kata Fauzan lemah, suaranya sedikit serak dan nafasnya memburu seolah baru saja berlari puluhan meter.


“Maaf, sudah membangunkanmu, ya, Zan ...” kata Nadia sambil berusaha berguling ke sping, tapi Fauzan menahannya.


“Hmm ...” Fauzan tidak menjawab, dia justru mendekatkan kepalanya dan mencium seluruh wajah Nadia tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Nadia diam hingga dianggap sudah memberinya  izin untuk melakukan sesuatu yang lain.

__ADS_1


Fauzan merubah posisi Nadia kini berada di bawahnya dan, ciuman pun merambat ke bibirnya, cukup lama bibir mereka saling menyatu di sana, sementara tangannya sudah meraba ke mana-mana, bergerak lincah di beberapa area sensitif, terutama bagian pucuk dada, hingga membuat Nadia mengeluarkan suara khas wanita bila terlena dalam buaian.


 Setelah itu, keduanya saling melepaskan pakaian hingga mereka bisa melihat satu sama lain, dalam suasana keremangan cahaya lampu dari balik jendela. Dari sanalah gejolak naluri antara pria dan wanita, yang akan melepas masa kebebasan pun di mulai.


Bibir saling menumpu, tangan saling membelit, nafas saling memburu dan mata saling terpejam sama-sama saling bertukar kenikmatan.


Penyatuan dua insan dari badan, hati, pikiran dan perasaan, dalam satu gerakan, satu kesatuan. Nadia merasakan betapa kuat dan perkasanya pria yang sudah menjadi suaminya sedangkan dirinya berada dalam kepasrahan yang menyatakan jika dirinya sudah menjadi istri dan milik Fauzan seutuhnya.


“Ah! Zan!” lirih Nadia, saat pria itu selesai melepaskan sesuatu, yang memang harus dilepaskan tapi, rasa yang semula sakit, menjadi lebih sakit bagi Nadia karena Fauzan menghunjamkan miliknya lebih dalam.


“Terima kasih sayang ...!” ujar Fauzan, sambil merebahkan dirinya ke samping, lalu mencium pipi Nadia kembali.


“Aku mencintaimu, Sayang.” Kata Fauzan, berbisik di telinga Nadia.


“Aku juga.” Sahut Nadia sambil menyelimuti tubuh mereka.


“Gak usah pakai selimut, Sayang ....!”


“Kenapa?”


“Aku mau lagi!”


“Apa? Ah ...! Zan!”


 


❤️


 


 


 


 


TAMAT


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2