
Pertemuan tak terduga
Sebelum pulang ke kampung halaman Nadia meminta kedua orang tuanya, untuk singgah ke rumah sewa lamanya karena di sana masih ada beberapa barang-barang miliknya yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Apalagi kunci rumah sewa itu masih ada pada dirinya, tapi, waktu itu ia simpan ke dalam tas dan sekarang sudah tidak tahu ada di mana, mungkin sudah hancur bersama material reruntuhan gedung.
Nadia harus mengatakan kepada pemilik rumah secara terus terang, tentang kejadian yang menimpanya sebagai pertanggungjawaban, sekaligus meminta maaf karena sudah menghilangkan kunci rumah, lalu, membayar uang sewa secara penuh sebelum meninggalkannya.
Keluarga kecil itu menyewa taksi untuk pergi ke sana, sesudah mereka memaatikan tidak ada yang tertinggal dari semua barang di pagi buta. Mereka harus menyewa kendaraan seperti itu sampai tiba di kampung halaman. Disebabkan oleh, Nadia yang tetap harus dijaga dan tidak bisa menaiki kendaraan umum karena kondisinya.
Dia tidak boleh bersentuhan dan berdesakkan, dengan banyak orang dia masih membutuhkan banyak perlindungan. Luka di bagian pundak dan punggungnya masih belum pulih benar. Perjalanan yang mereka lakukan pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
“Wah, jadi banyak juga ya barang-barang yang harus kita bawa?” kata Salimah saat sudah membereskan semua barang Nadia ke dalam tas dan kopernya.
“Ya kita bawa saja Bu kalau banyak barang berarti banyak rezeki kita.”
Nadia hanya menanggapi ucapan ibu dan Ayahnya dengan tersenyum, dia memaklumi komentar itu, sebab selama beberapa waktu berada di sana memang dia sudah sempat membeli, beberapa barang sehingga wajar apabila bawaan mereka bertambah.
Karena sibuk membereskan dan membersihkan ruangan, tanpa melihat waktu yang terus bergulir bahkan tidak peduli untuk memberi manusia kesempatan, ternyata hari sudah bergerak lebih siang, membuat ketiga orang itu merasa lapar. Mereka tidak sengaja tidak masak apa pun agar rumah tetap bersih. Juga tidak sempat membeli makanan untuk mengganjal perut.
Oleh karena itu, Nadia berinisiatif untuk membeli makanan yang bisa mereka menikmati dari warung makan yang tidak jauh dari sana tempat kost-nya. Hal itu disetui kedua orang tuanya sementara, sambil menunggu pemilik rumah yang datang. Tadi, gadis itu meminta bantuan salah seorang tetangga untuk menghubungi pemilik kos karena dia tidak tahu nomor ponsel juga alamat pemilik rumah, sekedar memberitahu jika dirinya berniat untuk pindah.
Nadia bersama ibunya sudah membeli makanan dan dalam perjalanan pulang, ketika mereka tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang kemudian menyapa.
“Nadia?” kata orang itu, menunjukkan rasa tidak percaya.
Suara itu membuat Nadia yang berjalan sambil menunduk, mendongak dan terkejut.
__ADS_1
“Antoni?” katanya cukup keras, hampir saja tubuhnya melorot karena tiba-tiba saja lemas demi melihat pria ini.
Dia orang yang telah mematahkan hatinya hingga menjadi beberapa keping, mengubahnya menjadi serpihan tak berbentuk. Susah payah dia mengembalikan keping demi keping, ke dalam bentuk semula sambil mengeringkan darahnya. Lalu, berusaha menjauh dan melupakan rasa sakit dengan menyibukkan diri pada pekerjaan hingga mengalami hal mengerikan, yang hampir saja nyawanya melayang.
Akan tetapi, sekarang dia ada di hadapannya, Nadia tidak menduga pertemuan ini begitu nyata dan kembali mengingatkannya, akan kenangan lama yang butuh usaha cukup keras untuk membuangnya.
‘Kenapa dia ada di sini?’ batin Nadia.
Bukan hanya Nadia yang terkejut dan membuat hatinya kembali karam, tapi Salima juga. Wanita yang mulai beranjak tua itu mengeratkan genggaman tangan pada anaknya sambil mendengus.
Dia bertanya, “Kenapa kamu ada dia sini?”
“Saya ....” belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya, Salima sudah kembali menarik tangan kanan Nadia yang tidak terbungkus gips.
“Ayo! Nad, jangan pedulikan orang ini.” Tampaknya Salima sangat kesal, terdengar dari kata-kata yang terlontar pada Nadia. Hati seorang ibu akan lebih terluka bila melihat anaknya yang terluka... Sebab sakit yang dirasakan seorang anak, sama saja menyakiti dirinya.
Sementara Antoni masih tertegun dengan perasaan tidak percaya bagaimana mungkin dia benar-benar bertemu dengan Nadia seperti yang diduga oleh Novi--istrinya. Saat ini Novi bersama anaknya ada di hotel tempat mereka menginap dan dia sedang mencari lokasi, yang di-share oleh seorang temannya. Dia tidak menduga kalau temannya itu membagikan lokasi tempat tinggal, yang sederhana bahkan terkesan biasa saja, tidak mencerminkan diri temannya itu. Dia sempat berpikir bahwa lokasi yang di-share, salah.
Antoni masih berusaha memastikan tempat pertemuan mereka tidak salah, dengan berkeliling sambil menghubungi temannya. Akan tetapi, teleponnya tidak juga diangkat.
‘Sebenarnya apa yang terjadi atau dia memang belum bangun sehingga tidak mengangkat teleponku? Dasar!’ batin Antoni mengumpat.
Siapa yang menduga bila dia justru bertemu dengan Nadia suatu hal yang tidak disangka, bahkan Gadis yang dulu pernah dicintainya itu bersama ibunya. Ada yang lebih membuatnya heran adalah gif yang membalut sebelah tangan walaupun, dia menutupi dengan kerudung tapi, sebagian masih terlihat. Pria itu sudah berusaha melupakannya tapi rasa penasaran dengan apa yang terjadi pada wanita itu masih mengusiknya.
Dia sendiri heran mungkin karena rasa sayang yang ada di hatinya belum juga sirna. Ditambah lagi dengan rasa bersalah karena dia menghancurkan pernikahan yang akan sangat memalukan bagi keluarga Nadia.
__ADS_1
Sungguh yang terjadi beberapa waktu lalu tidak bisa ditebus oleh apa pun kecuali mungkin dengan rasa malu yang Sama. Ya itulah yang disebut sebagian orang sebagai karma. Antoni masih berpikir, apakah dia akan mendapatkannya? Mungkin saja tetapi, tidak ada yang tahu kapan, di mana dan bagaimana hal yang memalukan itu padanya sebagai karma.
Antoni kembali melangkahkan kaki guna mengelilingi tempat itu dan mencoba menghubungi temannya.
Perjanjian yang dulu dibatalkan secara sepihak padahal, dia begitu semangat ingin pergi sambil mengajak Novi berlibur. Akan tetapi karena perjanjian batal, dia pun membatalkan acara berlibur bersama keluarganya.
Temannya tidak mengatakan padanya saat itu, mengapa dia menggagalkan rencana pertemuan reuni mereka, bersama beberapa teman lainnya. Lalu, saat ini dia ingin bertemu secara terpisah di lokasi tempat tinggalnya, untuk membicarakan masalah penting. Ternyata tempat tinggal sahabat lamanya itu sungguh di luar dugaan.
“Halo, Zan!” Antoni tiba-tiba berteriak karena teleponnya berhasil tersambung. “Dasar, kau, Bro! Aku sudah menunggu dia lokasi yang kamu kasih kemarin!”
Antoni terus bercakap-cakap dengan suara keras karena dia kesal tanpa memedulikan beberapa orang yang lewat dan perhatikan tingkahnya dengan tatapan aneh.
“Ya! Aku sudah di sini bodoh, cepat kemari jangan sampai batalkan lagi, ya!”
Pria itu diam sejenak karena mendengar orang yang di seberang telepon bicara.
“Hmm ... jadi kau ada masalah lagi dengan gadis yang kamu bicarakan dulu?”
Diam lagi.
“Kau sudah di jalan, baiklah aku tunggu di sini?”
Antoni menutup panggilan begitu orang yang bicara dengannya di telepon, menyanggupi pertemuan mereka yang sempat tertunda. Di saat yang sama, rombongan kecil keluarga Nadia melintas dengan membawa banyak barang. Setengah mati dia penasaran dengan apa yang terjadi, tapi dia tidak berani bertanya. Apalagi melihat tatapan sinis kedua orang tua Nadia.
“Nadia ...!”
__ADS_1
Bersambung