
Pilih Pulang Atau Menikah
Ella tergelak dengan tingkah Nadia dia yang dinilainya sebagai anak kampung, tapi baik dan pemalu.
Beberapa waktu yang lalu dia memang berusaha mencari perhatian dan ingin mendapatkan hati Fauzan. Namun, dia sepenuhnya tidak sungguh-sungguh untuk mencintai pria itu karena dia tahu bahwa, Fauzan sudah jatuh cinta pada Nadia.
Ella waktu itu menjadikan Fauzan sebagai pelarian karena dia tidak ingin terpisah dari keluarga Hadian, yang sudah sangat baik dengan keluarganya. Dan juga kedua orang tua mereka sudah dekat, apabila dia harus beradaptasi dengan laki-laki yang lain lagi, maka dia akan menghadapi keluarga yang lain pula.
Dia pikir untuk melakukan pendekatan seperti ini tidaklah mudah. Cukup lama gadis itu melakukan pendekatan, bahkan selama bertahun-tahun hingga bisa menjadi ikatan dalam keluarga mereka begitu dekat.
Setelah pembicaraan itu, Nadia kembali berpamitan, perjalanannya pulang ke kampung halaman sempat tertunda karena kejadian yang tidak diduga-duga sebelumnya.
Jali, memaklumi apabila Nona mudanya itu terlambat pulang hingga dia memberikan laporan yang berbeda kepada tuan mudanya.
Saat itu Fauzan bertanya, “Jali, gimana apa Nadia sudah di rumah atau belum?”
Pembicaraan mereka itu mereka lakukan melalui sambungan telepon.
Sopir pribadinya itu pun menjawab, memberikan alasan, “Maaf, Tuan. Jalan ke arah Sukabumi macet parah, maklum dong, Tuan kalau saya terlambat, maaf, perjalanan ke kampung halaman Non Nadia tertunda.”
Atas permintaan Nadia, Jali tidak mengatakan hal yang sesungguhnya, bila dia terjebak bersama Ela dan Arkan di rumah temannya. Walaupun Fauzan tidak marah, tapi, Nadia tetap merasa bersalah. Entah dari mana datangnya rasa gelisah seperti ini hingga dia benar-benar bingung sendiri.
“Nanti saja, Nad, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!” kata Arfan pada Nadia saat gadis itu akan keluar dari rumah Teo, diikuti Jali di belakangnya.
“Mau ngomong apa? Cepetan, ini sudah siang aku bisa kemalaman sampai sana, nanti!” kata Nadia setelah menghentikan langkahnya.
“Ah, kemalaman juga kan, ada Pak Jali, tenang aja, dia orangnya profesional, kok!”
Jali mengangguk sopan pada Arfan.
__ADS_1
“Ya, kalau nggak, gimana kalau kamu ikut anterin aku pulang. Kita ngobrol di mobil saja!” Nadia berkata seperti itu bukan tanpa alasan karena perjalanan panjang bisa berpengaruh pada suasana membosankan bila tidak ada kawan bicara. Seandainya dia bisa serius bicara dengan pria itu selama perjalanan, itu akan menghemat waktu.
“Tidak bisa, Nad. Kamu harus di sini, terus, kamu bisa pilih mau pulang, atau menikah!” kata Arfan tegas.
“Apa maksudmu, Fan! Kamu mau nikahin, Nadia? Hah!” kata Ella yang masih setia menunggu kekasihnya. Dia dalam rasa bimbang, apakah akan pulang mengambil mobilnya yang dia titipkan di kafe atau tetap di sana bersama Arfan.
“Bukan, kamu tenang aja, dulu.” Arfan berkata sambil memegang tangan Ella, lalu merengkuh bahu mungil gadis itu dalam pelukannya.
“Baiklah!” Nadia berkata setelah melihat keseriusan pria itu, dia berpikir jika yang akan Arfan bicarakan adalah soal ayahnya dan juga ruang rahasia kantor. Dia siap sebelumnya apa pun yang akan di tanyakan padanya, sebab dia tidak akan mengatakan sesuatu selain kebenaran saja, apa pun risikonya!
Setelah Nadia menyanggupi untuk berbicara serius dengan Arfan, mereka berempat berpamitan pada Teo dan pergi mencari sebuah restoran, sekalian menikmati makan siang.
Sementara itu Jali sang sopir pribadi, mengantarkan ke mana tujuan mereka pergi dengan sabar.
Arfan menunjuk sebuah cafe yang biasa dia kunjungi bersama teman-teman kolega bisnisnya, dia menyewa sebuah ruang privat, tetapi Jali tidak ikut serta hanya mereka bertiga saja yang masuk ke dalam ruangan itu.
Saat mereka sudah duduk di sana dan memesan makanan, Arfan berkata dengan serius untuk pertama kalinya kepada Ella, dia meminta gadis itu untuk merahasiakan apa pun yang akan dia bicarakan bersama dengan Nadia.
“Aku ingin dengar semua yang kamu tahu tentang rahasia kamar yang ada di kantor ayahku apa yang kamu lihat di sana?” tanya Arfan pada Nadia, setelah dia yakin Ella akan menepati janjinya.
“Maaf, aku tidak lihat apa-apa.” Nadia berkata dengan tegas.
“Aku harap kamu jujur sebab percuma kamu bohong aku juga tahu, Nad!”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu nanya sama aku? Ya, sudah kalau kamu tahu—kok, repot amat sih?”
Arfan berpikir bahwa Nadia tidak akan mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dia lihat karena dia sudah disumpah oleh ayahnya untuk tidak mengatakan isi kamar rahasia itu ketika dia menjadi cleaning service di sana.
Nadia sudah mendapatkan kompensasi yang cukup besar untuk merahasiakan ruangan tahasia yang sudah dibersihkannya itu. Tiba-tiba saja Nadia menyesali pekerjaan yang dulu sangat disenanginya karena dengan pekerjaan yang sebentar Dia sudah mendapatkan bonus yang cukup besar dalam satu hari.
__ADS_1
“Ya, kalau kamu sudah tahu aku di sumpah untuk tidak mengatakannya, jadi, jangan coba-coba untuk memintaku membicarakan rahasia itu, karena aku akan pegang janjiku!” kata Nadia.
“Aku cuman pengin tahu apa yang kamu lihat ....”
“Aku nggak lihat apa-apa, Fan ... selain foto ayahmu sama kamu waktu masih kecil itu aja!”
“Jangan bohong kamu, di sana pasti ada foto perempuan lain kan?”
“Mana aku tahu di sana fotonya siapa?” Nadia memang tidak tahu foto siapa saja yang ada dalam ruangan itu, kecuali saat Fauzan menjelaskannya, tapi dia bahkan sudah lupa.
“Memangnya ada foto siapa saja, Nad?”
“Ck! Aku nggak tahu, udah dibilang aku nggak tahu itu fotonya siapa?”
Arfan akhirnya menceritakan sedikit tentang masa lalu ayahnya kepada Nadia dan juga Ella tentang bagaimana hadirnya Fauzan adiknya cerita yang sungguh miris. Dia hanya ingin tahu di mana makam wanita itu berada. Dia sama sekali tidak mempunyai maksud buruk saat bertanya seperti itu kepada Nadia.
“Nad, benarkan kamu nggak lihat apa ada tulisan alamat atau gambar atau apa saja yang menunjukkan di mana tempat tinggal ataupun makam wanita itu?” Maksud dari Arfan adalah wanita yang sudah menjadi Ibu dari adiknya.
Kalau saja Hadian memang menyimpan alamat ibunya Fauzan, maka, sudah dari dulu dia tahu keberadaannya karena ruangan itu juga terbuka untuk Fauzan, hanya dia dan Hadian yang tahu tempat rahasia itu.
Nadia begitu tersentuh dengan apa yang dituturkan oleh Arfan, tapi, sama sekali dia tidak bisa menolongnya karena memang dia tidak melihat, apa yang diminta oleh pria itu, yaitu alamat di mana Ibu Fauzan berada.
“Arfan, dengar, bukannya aku mengabaikan kejujuran, tapi ... ada kalanya seorang manusia menyimpan rahasianya sendiri, tetap menjadi sebuah rahasia sampai ajalnya tiba dan tidak perlu ada orang lain yang mengetahuinya.” Kata Nadia terdengar bijak di telinga Arfan dan juga Ella.
“Maksudku itu baik, Nad, aku cuman pengen tahu dan nunjukin di mana ibunya, kalau misalnya dia tahu, siapa tahu dia bisa menemui saudaranya.” Kata Arfan lagi dengan nada kecewa.
Setelah itu Arfan menceritakan sedikit tentang Fauzan, dia pernah menemui adiknya itu menangis dan merindukan Ibunya, saat itu dia hanya berkata pada sebuah boneka kecil dalam lemarinya.
Fauzan kecil saat itu, berkata pada bonekanya, “Seandainya aku tahu di mana Ibuku berada, walaupun itu hanya makamnya saja, maka, aku akan datang, Bu.”
__ADS_1
“Nad, Fauzan berhak tahu tentang Ibunya, sebagai anak!” Kata Arfan antusias.
Bersambung