AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 63 Dia Dan Kasih Sayangnya


__ADS_3

Dia Dan Kasih Sayangnya


Fauzan mendekati Nadia sambil membasahi bibirnya dan dia menatap Nadia seperti mengalirkan kasih sayang yang tulus di hatinya sejak lama.


“Maaf, Pak. Kalau soal itu saya belum bisa menjawabnya sekarang.”


Nadia berkata sambil membuka pintu apartemen yang kartu aksesnya masih berada di tangannya, lalu meninggalkan Fauzan begitu saja di luar. Sementara itu dia segera memasuki kamarnya yang biasa dia tempati dan, membersihkan tubuhnya sebab keesokan harinya dia harus kembali bekerja.


Dilain tempat, tampak Fauzan melangkah dengan gontai meninggalkan apartemen menuju mobilnya, dia meneriaki Jali sebagai pelampiasan kekesalan. Dia memaklumi Nadia lebih dari dirinya sendiri hingga tidak marah walau, wanita itu sangat menyebalkan setiap menanggapi urusan pribadi.


Usia mereka sudah sangat mapan untuk menuju jenjang pernikahan. Sudah sangat siap menjadi sepasang pengantin dan memiliki keturunan. Apalagi perasaannya tidak untuk mainan. Belum pernah dia memiliki cinta sebesar ini pada seorang wanita, seperti sebelumnya.


Dia berjanji dalam hati untuk tidak menyakiti Nadia, seperti yang pernah dilakukan Antoni, tapi, dia tidak tahu harus bagaimana lagi, meyakinkan Nadia agar mau membuka hati.


Biasanya anugerah cinta tidak turun begitu saja, karena cinta akan tumbuh, dengan baik dalam hati jika manusia membiasakan diri merawat benih cinta mereka.


Apalagi cinta yang harus tumbuh dari celah, patahan luka hati seorang wanita, maka, kuncupnya akan sangat lama untuk bisa mekar. Dia butuh kehangatan yang lebih lama, dia butuh cahaya yang lebih terang, dan, dia butuh tanah yang lebih subur untuk bisa bertahan.


“Jali! Jali! Jali!” teriak Fauzan sambil masuk ke dalam mobil. Saat berbincang, mereka berdua sudah duduk di kursinya masing-masing dan mobil mulai melaju kencang.


“Iya, Tuan. Mau di antar ke mana? Apa saya harus mencari seorang dukun untuk menarik hati Nona Nadia?”


“Gila apa?”


“Tidak!”


“Kamu pikir aku mau nuruti nasehatmu, dasar aneh.”


“Tidak!”


“Nah, itu tahu?”


“Tuan!”


“Hmm ...!”


“Besok saya harus jemput siapa dulu ... Nona , atau Tuan?”


“Terserah!”


“Baik, kalau begitu saya jemput Nona dulu ke sini!”

__ADS_1


“Jangan!”


“Lho, katanya terserah? Gimana sih, Tuan?”


“Jemput aku dulu, aku mau jemput dia di depan pintu!”


“Ciee... Ciee...!”


“Diam, kamu, Jali. Ayo cepat, kita harus pulang sebelum ayah tidur, aku mau bilang terima kasih sama dia, karena sudah menawarkan Nadia kerjaan ini!”


“Baik!”


Malam itu, di ruang kerja rumah keluarga Hadian.


Fauzan, Hadian dan Arfan bicara antara lelaki sesama lelaki saling terbuka dengan segala yang ada. Sekuat hati Hadian tidak mengatakan apa yang terjadi malam itu karena dia, akan membawa rahasianya sampai nyawa lepas dari raga..


Itu adalah aibnya sendiri yang seandainya dibuka, maka bukan hanya kehancuran rumah tangganya, melainkan nama baik dan juga usaha yang, dengan susah payah dia rintis hingga besar dan maju pasti akan terkena imbasnya.


Arkan menceritakan secara jujur bagaimana dia bisa terlibat, dengan para penyuka sesama lelaki itu karena dia sering bertemu dengan Dean, mereka memiliki hobi yang sama lalu, dia tidak bisa menolak ajakannya untuk bergabung dengan komunitas itu.


Setelah menyadari betapa menyenangkannya berada di komunitas, di mana dia diakui secara lebih karena keelokan fisik hingga Arfan lupa diri. Bahkan dia menyambut ajakan untuk menjalin hubungan dekat dengan Teo, dengan satu syarat jika  Arfan tidak akan melakukan hubungan badan secara langsung. Mereka hanya dekat saja.


Namun, setelah ketahuan, dia bertekad akan menjauh dari komunitas itu dan melakukan hubungan secara normal seperti biasa.


Dia ingin agar Hadian mengakui hubungannya dengan Nadia, karena Cuma dia lah yang mau menerimanya dengan baik, walaupun dia dahulu menjadi seorang pria pengangguran.


“Tapi, sepertinya Nadia nggak suka sama kamu, deh?” kata Arfan saat Fauzan mengakhiri kisanya.


“Nah, itulah, Kak. Aku pikir juga begitu, karena masa lalunya. Jadi, wajar kalau dia jaga jarak dari semua pria, bukan Cuma aku, termasuk Kakak!” kata Fauzan sambil merubah posisi duduknya.


“Ya. Waktu Mama jodohin dia aja nggak merespon apa-apa.”


Fauzan kembali menyinggung masa lalu Nadia, yang pernah menjalin hubungan dengan Antoni yang secara kebetulan teman mereka juga.


“Oh, gitu ...” kata Arfan sambil mengangguk.


“Makanya, sekarang dia kerja sama aku, mudah-mudahan bisa jadi jembatan buat biar bisa buat dia jatuh cinta!” kata Fauzan dengan penuh keyakinan.


“Kalau dia tetap nggak mau, gimana?” tanya Arfan.


“Entahlah!” sahut Fauzan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Ya, Papa punya cara biar dia bisa nikah sama kamu, nanti, tenang aja!” kata Hadian menyela ucapan anak-anaknya.


“Kalian bisa lihat dalam sebulan ini dia ada reaksi apa nggak sama Fauzan. Kalo nggak kita jalankan rencana Papa!” Kata Hadian lagi.


“Papa mau ngapain, dia? Dijebak, gitu?” tanya Fauzan.


“Ya. Bisa jadi, begitu!” kata Hadian.


“Wah, wah, Papa, aku mau lihat rencana seperti apa yang Papa punya!” sahut Arfan sambil tertawa.


“Oh, ya. Waktu masih di rumah sakit, sebenarnya aku dengar Papa bicara tentang kamar rahasia pada Nadia, aku tahu apa yang Papa sembunyikan, pasti soal Ibunya Fauzan, kan?” kata Arfan.


Saat Arfan kemudian menanyakan tentang apa yang di dengarnya itu, Hadian menjadi gusar, wajahnya tiba-tiba pias, tapi, mau tidak mau dia harus berkata apa adanya.


Pria tua itu masih diam saat Arfan kembali mendesaknya, hingga dia kemudian mengatakan secara terpaksa.


“Berjanjilah pada Papa kalau kalian tidak akan mengatakan apa pun pada Mama!”


”Ya,” kata Arfan dan Fauzan. Walaupun Fauzan sudah tahu lebih dahulu, tapi, dia tidak akan mengatakan pada Arfan sebab akan menjadi masalah suatu saat nanti.


“Ya, sebenarnya aku masih menyimpan satu foto ibunya Fauzan tepat sebelum dia meninggal saat melahirkan!” kata Hadian.


“Tapi, kenapa selama ini Papa selalu bilang tidak tahu soal itu.”


“Kalau soal keberadaan makam atau rumahnya aku tidak bohong, aku tidak tahu soal itu.”


Hadian pun menceritakan jika dia hanya bertemu dengan wanita itu sekali, saat di kabarkan akan melahirkan sedangkan dia, tidak bisa bertahan hidup lebih lama karena penyakitnya. Setelah itu dia tidak pernah kembali ke desa itu bahkan setelah ibunya Fauzan dimakamkan.


“Aku terlalu kejam untuk menceritakannya di depan Fauzan. Sungguh aku hanya sekali pergi ke tempat itu sehingga aku lupa tempat itu. Maafkan aku, sungguh aku tidak tahu kalau gadis itu hamil! Maafkan Ayah, Fauzan!” kata Hadian sambil menitikkan air mata.


Fauzan diam saja, tidak menanggapi walaupun tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya, adalah kesalahan besar. Dia bersalah pada ibu dan juga dirinya. Namun, mengingat memang nasib ibunya yang buruk serta Hadian sudah membesarkannya dengan baik, dia tidak begitu peduli. Dia sudah tahu sosok ibunya dalam selembar foto, itu sudah cukup.


“Aku sengaja merahasiakannya karena jujur aku sangat merasa berdosa dan malu, aku benar-benar ingin mengubur semuanya bersama dengan jasadnya. Dan aku menyimpan foto itu hanya untuk menunjukkan pada Fauzan, bahwa itulah ibu yang telah melahirkannya. Itu saja!”


Malam yang semakin kelam memaksa semua orang untuk mengistirahatkan diri mereka kecuali, beberapa orang yang punya kepentingan pada malam karena hanya di malam hari,  mereka bisa hidup. Mereka mirip binatang mokturnau walau mereka manusia.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2