
Sebuah Bentura
“Maksudnya gimana ya, Pak?
“Maksudku, kalau kamu sudah bisa ... kamu bisa nge-handle kerjaan aku di kantor Papa, aku ngerjain kerjaan yang ada di kantor cabang kalau semuanya udah beres, kita kan bisa ketemu makan siang.”
“Oh. Soal itu.”
“Ya. Kalau kamu udah biasa nanti ... kan, kita bisa bagi-bagi tugas, kalau kayak gini kita ke kantor cabang aja dulu, aja!”
“Mau ngapain Kita di sana Pak?”
“Ada satu proposal proyek lagi Yang belum aku teliti sebelum tender!”
“Ya, kan, kalau Cuma soal makan siang, kita juga bisa kalau semua sudah selesai di kantor cabang!”
“Ya. Memang sih, tapi, kan paling selesainya sore atau malam, Nad!”
“Eum.... gitu, ya, Pak!”
“Ya, tapi, sekarang aku lebih semangat kok soalnya kan ada kamu bareng sama aku!”
Mendengar ucapan Fauzan Nadia memalingkan pandangannya melihat keluar jendela. Dia tahu perasaan Fauzan pada dirinya seperti apa. Namun, dia belum siap untuk mendapatkan atau mendengar, sebuah rayuan ataupun kata-kata manis lainnya dari seorang pria. Hatinya justru merasa geli.
“Kenapa? Kok, jadi cemberut!” kata Fauzan sambil memiringkan badannya mendekati Nadia, bahkan duduknya pun bergeser.
Nadia menoleh karena kaget, tapi, dia langsung memundurkan kepalanya menjauhkan tubuhnya dari Fauzan hingga kepalanya menempel pada kaca mobil.
Di saat yang bersamaan, terdengar suara benturan keras dari dua buah benda yang bertabrakan, cukup mengejutkan. Disertai pula suara decitan suara ban mobil yang dikendarai Jali, pertanda pria itu menekan pedal rem dengan begitu dalam. Dia mengerem mobilnya secara mendadak.
__ADS_1
“Aduh!” pekik Nadia.
“Nadia! Kamu nggak apa-apa?” Fauzan terlihat panik.
Nadia tampak memejamkan mata menahan rasa sakit di kepalanya, akibat terbentur dengan keras pada kaca jendela, saat mobil yang dikendarainya berarti secara mendadak. Dia sedikit merasakan kepalanya sakit juga dan tubuhnya pun ini sudah melorot jatuh di lantai mobil.
Fauzan segera mengangkat tubuh Nadia yang tiba-tiba lemas dan gemetar, bahu yang di sebelah kirinya belum sembuh benar kini harus terbentur lagi oleh kursi bagian depan.
Tentu saja rasa sakit yang amat sangat kembali dia rasakan hingga dia pasrah ketika laki-laki itu, mengangkat tubuhnya dan menariknya dalam pelukan, kemudian menenangkannya.
“Jali! Kamu bisa bawa mobil nggak, sih! Memangnya ada apa!” Fauzan marah dan menyalahkan Jali, dia tidak melihat waktu itu ada tabrakan yang terjadi secara mendadak tepat di depan mobil yang mereka kendarai. Dan, demi mengurangi benturan lain akibat dari kecelakaan yang ada di hadapannya, wajar jika Jali pun mengerem secara mendadak.
Untung saja di belakangnya tidak ada kendaraan lain yang menyusul dengan kecepatan tinggi seandainya ada mobil lain yang berada di belakang mobil mereka, mungkin tabrakan beruntun akan terjadi.
Jelly mengatakan kejadian itu sambil menenangkan dirinya sendiri jantungnya juga berdetak keras serta tiba-tiba keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya hampir saja mereka mengalami kecelakaan.
Sementara Nadia tetap terpejam dalam pelukan Fauzan saat laki-laki itu melihat keluar jendela memang sepertinya kecelakaan yang ada di dekat mereka itu cukup parah, sepertinya sebuah truk mengalami remplung hingga menabrak satu mobil yang ada di depannya dan kedua mobil itu sama-sama berhenti dalam keadaan hancur setelah beberapa meter terseret dari tempat kejadian semula.
Melihat Nadia yang lemah dan memejamkan mata, Fauzan semakin panik, tanpa ragu dia membelai wajah Nadia merasakan keringat dingin yang keluar di kulitnya. Seketika pria itu berprasangka buruk bahwa akan terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya.
“Nadia! Bangun Nad! Bangun, kamu nggak papa kan?” Kata Fauzan berulang kali memanggil nama gadis itu tapi Nadia tetap diam dan hanya nafasnya yang sedikit berat.
“Nadia! Kau kau harus bangun dan kau harus baik-baik saja Kita kan belum menikah!”
“Pak! Nona kenapa?”
“Kenapa-kenapa, kamu masih saja nanya udah tahu semua ini gara-gara kamu!”
Jelly memalingkan pandangan karena disalahkan oleh majikannya. Wajar saja hal itu terjadi karena dia yang mengendarai mobil itu. Namun, dia tidak pernah ingin untuk terjadi kecelakaan di depannya. Sementara mereka tidak bisa membawa Nadia ke rumah sakit karena kemacetan parah yang harus mereka alami saat ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Nadia terlihat menggerakkan sedikit pelupuk matanya, menarik nafas dalam-dalam serta terdengar suara gumaman dari bibirnya. Reaksi perempuan itu menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa dan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mungkin, dia hanya syok sebentar saja.
Fauzan dengan gerakan refleks mendekatkan wajahnya dan, mencium pipi wanita itu tanpa disadarinya membuat Jali tercengang, pria paruh baya itu melihat apa yang dilakukan Fauzan secara spontan.
Alih-alih protes dengan perbuatan lancang Fauzan, Jali justru tertawa kecil, lalu, dia berkata dengan nada santai seolah tak ada rasa bersalah.
“Lamar saja Nona, Tuan. Nikahi dia secara paksa!”
Fauzan menoleh pada Jali, dengan kesal, karena menganggapnya tidak pengertian padahal keadaan masih sangat mengkhawatirkannya.
“Diam kamu Jali! Sudah untung bukan kita yang kecelakaan!”
“Iya, iya, Tuan! Maaf ... Alhamdulillah kita selamat, tapi, kita terlambat ke kantor!”
“Bodo amat sama urusan kantor!”
Fauzan kembali melihat pada wanita dalam pelukannya yang kini sudah membuka mata, namun wanita itu masih belum sadar posisi tubuhnya yang berada dalam pelukan seorang pria. Pria itu tersenyum lebar karena Nadia tidak menolak pelukannya.
“Eum ... Zan ... ini di mana?”
Sekali lagi Fauzan tersenyum, karena Nadia tidak memanggil dirinya Pak, padahal Nadia selalu memanggilnya dengan sebutan formal seperti itu, jika dalam kondisi formal pula.
“Ini ... ini jalan menuju rumah penghulu, Nad!”
Bersambung
__ADS_1