
“Ya, saya memang merasa banyak virus di sini, seperti kamu, misalnya. Itu mengganggu sekali.” Fauzan menjawab dengan jawaban yang menohok di hati Naina, membuat gadis itu cemberut. Lalu, melengos cuek, dalam hati dia berkata, jika atasan Nadia orang yang aneh.
“Jangan-jangan kamu pulang karena nggak bisa kerja, terus Pak Fauzan ini nengok, atau penasaran saja, Pak?”
Ucapan Naina membuat semua orang yang ada di sana mengerutkan alisnya heran, betapa tidak tahu malunya perempuan satu ini.
“Ya, memang aku lagi sakit, nggak salah, kan, kalau ada orang yang nengok?” Jawab Nadia tenang.
“Kamu kecelakaan ya, Nad? Terus Bos mini merasa bersalah gitu, sama kamu?” Naina kembali mengatakan hal yang menyebalkan.
Akan tetapi Nadia menjawab dengan tetap tenang, “Ya, aku memang kecelakaan, tapi, dia nggak ngerasa bersalah, kok, karena memang bukan kesalahan dia.”
“Ya, sudah, Nai. Terima kasih ya, atas undangannya, kami akan berusaha untuk datang.” Salima menyela dengan maksud agar Naina segera menghentikan sikapnya yang menyebalkan.
Naina beranjak berdiri sambil melirik Fauzan dan juga Nadia, langkah kakinya di ikuti oleh Salima dengan tergesa-gesa, hingga sampai di depan pintu.
“Bu, kenapa sih tamunya aneh, pake ditutupi segala mukanya, apa giginya tonggos atau punya bibir sumbing, gitu?” Naina kembali bertanya dengan pertanyaan yang usil, sambil menoleh ke belakang sekilas, dia merasa dari balik kaca mata hitamnya, pria itu tengah menatap tajam ke arahnya.
Salima tidak menjawab dan hanya menarik napas dalam sambil melirik Fauzan, sebeb memang tampak aneh di kampung seperti ini ada orang yang memakai masker wajah disiang hari.
Ucapan Naina yang terakhir kali lebih menohok, “Akun kasih tahu ya, Bu. Mendingan jangan diterima daripada nanti dia nyesel orang jelek itu udah jadi suami.”
Suara Naina memang cukup pelan tapi terdengar oleh Nadia dan juga Fauzan. Kemudian pria itu berjalan mendekatinya, membuat Naina mundur dan segera melangkah menuju motor, tapi, Fauzan terus mendekatinya.
Di depan Naina, Fauzan membuka masker yang menutupi wajahnya sambil berkata, “Kamu boleh foto saya terus bisa sebarkan ke semua orang bahwa, aku ini calon suami Nadia!”
Melihat wajah yang terpampang di dekatnya, seketika Naina tercengang sampai dia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya. Dia melihat ukiran wajah yang sangat disukai Tuhan karena keindahannya, Fauzan tampak manis dan gagah secara bersamaan, fitur mukanya tegas dan halus namun menunjukkan keramahan serta kelembutan sekaligus.
“Ini .... benar-benar ganteng!” pekik Naina sambil menelan ludahnya dan segera pergi, dengan menggunakan motornya karena malu juga takut.
Semua orang yang ada di dalam ruang tamu, melihat semua yang dilakukan Fauzan. Hingga kedua orang tua Nadia tersenyum puas dengan melihat betapa sempurnanya wajah lelaki yang ingin menikahi anak mereka, Nadia.
__ADS_1
Fauzan terdiam sejenak sebelum kembali membalikkan badan tanpa memakai penutup wajah. Dia melangkah kembali ke dalam ruang tamu dan duduk lalu menyimpan masker dan kacamata di atas meja. Dia melihat ke arah wajah semua orang yang di hadapannya, sambil bersandar dan menyisir rambut dengan jari tangannya.
Kedua orang tua Nadia begitu takjub melihat ketampanan wajah Fauzan. Akan tetapi, berbeda dengan Nadia yang terlihat biasa-biasa saja seolah apa yang dilihat pada diri Fauzan bukanlah apa-apa sebab, dia sudah pernah menebak identitas pria itu sebelumnya.
Melihat ekspresi Nadia yang datar, Fauzan tersenyum miring sambil memalingkan muka, seolah menertawakan dirinya sendiri. Dia sudah menduga bahwa, memang benar Nadia sudah mengetahui siapa dirinya.
Sebenarnya dia berniat akan membuka identitas apabila Nadia mau menerimanya tanpa pamrih tetapi, dia tidak tahan ketika perempuan yang menjadi tamu mereka tadi, begitu meremehkan dirinya bahkan terkesan menghina Nadia. Dia seolah tidak terima dan ingin sekali membela Nadia.
Sekarang sebelum Nadia menjawab akan keinginan Fauzan untuk menikahinya, dia sudah mengetahui terlebih dahulu tentang identitasnya. Bahkan dengan jelas wanita itu menunjukkan ketidaksukaan. Bagaimana mungkin seorang wanita mau menikah dengan seorang pria yang menyebalkan.
Salima menoleh pada Nadia sambil mengernyit memperhatikan wajah anak gadisnya yang sama sekali tidak terkejut. Dia begitu tenang, dan acuh tak acuh.
“Nad, apa kamu sebenarnya sudah kenal sama Nak Fauzan sebelumnya?” tanya Salima mencoba mengurai rasa penasarannya.
“Belum.” Nadia menjawab dengan jujur, bahwa dia memang belum mengenal Fauzan seluruhnya.
Mereka hanya saling tahu nama, adalah perkenalan di permukaan saja dan hal itu sudah biasa. Akan tetapi, apabila menyangkut sebuah keputusan besar dalam kehidupan seperti menikah, maka perkenalan harus jauh lebih dalam.
“Tapi, kok kamu kayak biasa aja gitu?” tanya Salima lagi.
“Aku Cuma nebak aja, Bu!”
“Oh,” sahut Salima kembali menatap Fauzan dan kembali menyodorkan beberapa makanan, yang ada di atas meja agar laki-laki itu segera menikmatinya.
Fauzan tidak menolak dan segera meminum segelas teh yang sudah disediakan untuknya. Dia sudah menahan diri sejak tadi untuk menikmati salah satu makanan yang ada, sebab makanan itu pernah viral.
Makanan kampung yang membuat penasaran karena gaya seseorang yang menikmati seolah-olah itu adalah makanan terlezat di dunia, orang tersebut mengunggahnya di media sosial, sedangkan dia belum pernah mencicipinya.
Satu suapan kue odading berhasil masuk ke dalam mulut Fauzan dan membuat pria itu mengangguk-angguk. Baru kali ini dia mengetahui rasanya yang memang enak, seperti perkataan Nadia. Wajar seorang anak memuji makanan buatan Ibunya.
“Hmm ... ini memang enak, Bu.” Fauzan berkata sambil mengambil selembar tisu untuk mengelap bibirnya juga tangannya.
__ADS_1
“Oh, ya, Nak Fauzan. Apa kamu benar-benar ingin melamar Nadia anak kami?” tanya Maulana dan, Fauzan mengangguk.
“Apa yang membuat Nak Fauzan mau menikahi Nadia?” tanya Maulana lagi.
“Ayah, Ibu. Aku nggak mau nikah sama dia ... jadi, untuk apa nanya soal itu?” Nadia menyela.
“Nad, apa salahnya kita tahu motivasi orang lain, niat orang lain mengambil keputusan. Menikah itu nggak sembarangan, apalagi kamu pernah gagal.” sahut Salima menatap anaknya sejurus.
“Ibu, Ayah ... nggak perlu ngomong soal masa lalu, mending usir dia pulang.”
“Maaf, Nak. Mungkin Nadia masih trauma dengan masa lalunya, dulu. Makanya dia begitu.” Kata Maulana.
“Ayah ... jangan ngomong soal itu lagi ...!” Nadia berkata sambil berdiri, lalu melangkah ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
“Astaghfirullah, maaf ya, Nak. Nadia jadi kurang sopan, pasti karena dia jadi ingat pernikahannya yang dulu.”
Salima berkata dengan wajah yang malu-malu karena dia terpaksa mengatakan hal memalukan itu sebagai alasan, agar tamunya memaklumi tingkah tidak sopannya Nadia di hadapan mereka.
“Apa? Jadi Nadia sudah pernah menikah, jadi, Nadia itu janda?” tanya Fauzan, dia berkata dengan wajah serius.
Sementara Maulana dan Salima saling berpandangan, tatapan mereka seolah berkata, haruskah mereka berterus terang saat ini juga?
Bersambung
__ADS_1